Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konseksuensi sebuah kegagalan
Kegagalan Reza dalam menjalankan misinya untuk menjebak Zein tersebut segera dilaporkan kepada Piku, sebuah kabar yang membuat pria tersebut kembali merasakan kemarahan yang begitu besar mengingat betapa dekatnya rencana tersebut dengan kegagalan yang sama seperti operasi-operasi sebelumnya. "Bagaimana bisa gagal lagi?!" bentak Piku ketika Reza melaporkan kejadian tersebut di sebuah lokasi pertemuan rahasia yang jauh dari pengawasan pihak sekolah maupun keluarga Lidar.
"Maaf, Bang. Temannya, si Baing itu, ternyata udah curiga duluan. Dia yang cegah sebelum saya sempat kasih barangnya," jelas Reza dengan nada yang menunjukkan ketakutan, khawatir akan menerima hukuman yang sama seperti yang dialami Piku sebelumnya akibat kegagalan operasi tersebut.
Mendengar nama Baing disebutkan kembali, Piku mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa putra Jecko tersebut mungkin telah mengetahui lebih banyak mengenai operasi BlackSystem dibandingkan yang mereka perkirakan sebelumnya, sebuah kemungkinan yang bisa membahayakan seluruh rencana mereka jika sampai informasi tersebut bocor kepada pihak yang salah.
"Kita perlu waspada soal Baing. Kalau dia mulai curiga soal keterlibatan bapaknya, bisa bahaya buat seluruh operasi kita," ujar Piku kepada Rangga yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mempertimbangkan langkah selanjutnya yang harus mereka ambil mengingat risiko yang semakin besar tersebut.
"Menurut saya, kita harus laporin ini ke Bos Tiger, biar dia yang putuskan langkah selanjutnya soal Jecko dan anaknya," usul Rangga, meski di balik usulan tersebut, tersimpan maksud tersembunyi untuk semakin menjatuhkan posisi Jecko yang selama ini dianggap terlalu berpengaruh dalam struktur organisasi tersebut, sebuah kesempatan yang bisa dia manfaatkan untuk kepentingan ambisinya sendiri.
Mereka berdua kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Bos Tiger, yang mendengarkan laporan tersebut dengan ekspresi yang semakin serius, menyadari bahwa berbagai kegagalan yang terus terjadi tersebut mulai menunjukkan pola yang mengkhawatirkan mengenai kebocoran informasi dari dalam organisasi mereka sendiri.
"Jecko," gumam Bos Tiger pelan, mempertimbangkan kemungkinan bahwa tangan kanannya tersebut mungkin mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaksetiaan, meski dia belum sepenuhnya yakin mengenai kebenaran kecurigaan tersebut. "Panggil Jecko ke sini, saya perlu bicara langsung dengannya."
Ketika Jecko tiba di hadapan Bos Tiger, dia segera merasakan ketegangan yang begitu berbeda dari biasanya, menyadari bahwa sesuatu yang serius sedang dibicarakan mengenai dirinya. "Ada apa, Bos?" tanya Jecko dengan nada yang berusaha terdengar tenang, meski dalam hatinya dia mulai merasakan kekhawatiran yang begitu mendalam.
"Anak kamu, Baing, ternyata berhasil gagalkan rencana kita buat jebak adiknya Kwila di sekolah. Apakah dia tau sesuatu tentang operasi kita?" tanya Bos Tiger dengan tatapan yang begitu tajam, mencoba membaca reaksi Jecko terhadap pertanyaan tersebut.
Mendengar pertanyaan tersebut, Jecko merasakan campuran antara kekhawatiran mengenai keselamatan putranya dan kelegaan menyadari bahwa Baing telah bertindak tepat untuk melindungi sahabatnya tersebut, meski dia harus menyembunyikan perasaan tersebut dengan sangat hati-hati di hadapan bosnya yang begitu berbahaya tersebut. "Saya yakin dia nggak tau apa-apa soal operasi kita, Bos. Mungkin dia cuma kebetulan aja curiga soal narkoba itu, anak muda sekarang kan emang lebih waspada soal hal-hal kayak gitu."
Bos Tiger mempertimbangkan penjelasan tersebut dengan seksama, meski kecurigaannya belum sepenuhnya hilang. "Saya harap begitu, Jecko. Tapi kalau sampai terbukti anak kamu tau lebih banyak dari yang seharusnya, kamu paham konsekuensinya kan?"
Ancaman tersirat tersebut membuat Jecko merasakan ketakutan yang begitu mendalam, bukan untuk keselamatannya sendiri, melainkan untuk keselamatan putra semata wayangnya yang sama sekali tidak tahu-menahu mengenai bahaya besar yang sebenarnya mengintai kehidupannya tersebut akibat pekerjaan gelap yang telah lama dia jalani. "Saya paham, Bos. Saya akan pastikan Baing tetap jauh dari urusan organisasi ini."
Setelah pertemuan tersebut, Jecko pulang ke rumah dengan pikiran yang begitu berkecamuk, menyadari bahwa situasi telah berkembang menjadi jauh lebih berbahaya dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Keselamatan putranya kini berada dalam ancaman langsung akibat kecurigaan Bos Tiger, sebuah kenyataan yang membuat Jecko semakin mempertimbangkan untuk mengambil langkah drastis demi melindungi Baing dari bahaya yang begitu mengintai tersebut.
Sesampainya di rumah, Jecko mendapati Baing sedang mengerjakan tugas sekolahnya dengan tenang, tidak menyadari sama sekali bahaya besar yang baru saja mengancam keselamatannya akibat tindakan beraninya melindungi Zein tersebut. "Baing, Papa mau ngomong sesuatu penting," ujar Jecko dengan nada yang lebih serius dari biasanya, duduk di samping putranya tersebut dengan hati yang begitu berat.
"Ada apa, Pa?" tanya Baing, sedikit khawatir mendengar nada suara ayahnya yang begitu berbeda tersebut.
Jecko menghela napas panjang, mempertimbangkan apakah sudah waktunya untuk mulai mengungkapkan sedikit kebenaran mengenai pekerjaannya yang sebenarnya, meski dia menyadari betapa berbahayanya informasi tersebut jika sampai bocor ke pihak yang salah. "Baing, Papa cuma mau bilang, kalau ke depannya ada orang asing yang deketin kamu atau Zein dengan cara yang mencurigakan, tolong langsung jauhi dan cerita ke Papa. Jangan ambil risiko apa pun."
Mendengar pesan tersebut, Baing merasakan kekhawatiran yang semakin bertambah, menyadari bahwa ada sesuatu yang begitu serius sedang terjadi di balik peringatan ayahnya tersebut, meski dia masih belum sepenuhnya memahami kompleksitas bahaya yang sebenarnya mengintai kehidupannya tersebut, sebuah bahaya yang akan segera terungkap sepenuhnya dan mengubah seluruh dinamika hubungan antara Baing dengan ayahnya, sekaligus menjadi titik balik penting dalam perjalanan Jecko menuju keputusan besar untuk akhirnya berbalik melawan organisasi kriminal yang telah lama dia layani demi melindungi putra yang begitu dia cintai tersebut.
"Pa, ini ada hubungannya sama kerjaan Papa ya?" tanya Baing dengan berani, akhirnya mengungkapkan kecurigaan yang telah lama dia simpan mengenai keterkaitan antara pekerjaan misterius ayahnya dengan berbagai kejadian mencurigakan yang belakangan ini semakin sering dia perhatikan tersebut.
Jecko terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian putranya yang tiba-tiba mengungkapkan pertanyaan sepersonal itu. "Kenapa kamu nanya begitu, Nak?"
"Papa akhir-akhir ini kelihatan capek dan tegang banget, terus tadi Papa juga ngingetin soal orang asing yang mungkin deketin saya. Itu bukan kekhawatiran biasa, Pa," jelas Baing dengan penuh keberanian, mengungkapkan analisisnya sendiri yang selama ini dia simpan diam-diam.
Mendengar analisis yang begitu tajam dari putranya tersebut, Jecko merasakan campuran antara kebanggaan dan ketakutan yang begitu mendalam, menyadari bahwa dia tidak bisa lagi sepenuhnya menyembunyikan kebenaran dari anak yang telah tumbuh begitu cerdas dan peka tersebut. "Baing, ada saatnya nanti Papa akan cerita semuanya. Tapi untuk sekarang, percaya aja sama Papa, dan tetap jaga jarak dari orang-orang asing yang mencurigakan."
Jawaban yang masih menggantung tersebut, meski belum memberikan kejelasan penuh, cukup untuk membuat Baing semakin yakin bahwa ada rahasia besar yang selama ini disembunyikan ayahnya tersebut, sebuah rahasia yang akan segera terungkap sepenuhnya dan mengubah seluruh arah hidup keluarga tersebut menuju babak baru yang penuh dengan pengorbanan dan keberanian untuk melawan kejahatan yang telah lama menaungi kehidupan mereka tersebut.