Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keesokan paginya, Elena turun untuk sarapan. Ia terkejut melihat ayah dan ibunya sudah duduk di meja makan. Begitu Elena duduk, ibunya langsung bertanya.
"Kemarin bagaimana?"
"Lumayan." jawab Elena.
"Lumayan?" Ibunya tersenyum. "Bukankah kau pergi bersama Sebastian?"
Elena mengangguk. "Iya."
"Kalian memilih cincin?"
"Sudah dong ma.. modelnya bagus sekali tau.. mama mau lihat?"
"Bagaimana?"
Elena tersenyum lalu membuka ponsel dan memperlihatkan foto cincin tersebut.
Ibunya tampak lega. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah sedikit serius.
"Lalu Isabella?"
Tangan Elena yang sedang memegang sendok berhenti.
"Kalian bertemu dengannya?" Ayahnya ikut bertanya. "Kemarin Ayah mendapat kabar dari salah satu kenalan keluarga."
Elena mengangguk. "Iya. Kami bertemu di butik."
Ibunya menghela napas. "Elena, Mama ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Isabella bukan wanita yang mudah menyerah."
Elena diam.
"Dia sudah menyukai Sebastian sejak lama."
"Aku tahu ma.. Dia mengatakannya sendiri."
Ayahnya menatapnya. "Lalu apa yang kau katakan?"
Elena mengambil segelas jus. "Aku bilang itu haknya."
Kedua orang tuanya terdiam. Elena kemudian tersenyum.
"Tapi aku juga punya hak untuk mempertahankan pernikahanku."
Ayahnya tampak puas. "Bagus."
Ibunya mengangguk. "Kau akhirnya mulai berpikir dewasa."
Elena tersenyum kecil. Dalam hatinya ia berpikir 'Bukan dewasa. Aku hanya tidak ingin kehilangan kehidupan mewah ini.'
Setelah sarapan, Elena kembali ke kamar. Baru saja duduk di sofa, ponselnya berdering. Nama Sebastian muncul di layar. Elena langsung mengangkatnya.
"Halo?"
"Sedang apa?"
Elena mengerutkan kening. "Di kamar."
"Bersiaplah."
"Untuk apa?"
"Aku akan menjemputmu."
Elena langsung duduk tegak. "Sekarang?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu."
Elena semakin penasaran. "Apa?"
"Kalau kuberitahu, bukan kejutan lagi."
Elena tersenyum. "Baiklah."
Setelah telepon berakhir, Elena segera berdiri. Ia membuka lemari, lalu berhenti.
"Kenapa aku jadi semangat begini?"
Ia menatap dirinya sendiri di cermin.
"Jangan bilang aku mulai menyukainya."
Elena menggeleng cepat. "Tidak mungkin." Ia hanya ingin menjaga hubungan baik dengan calon suaminya. Itu saja.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Sebastian berhenti di depan rumah keluarga Arvienne. Elena turun. Begitu melihat Sebastian berdiri di samping mobil, ia tersenyum.
"Kenapa menjemputku?"
"Ayo." Sebastian tak menjawab lebih lanjut.
Elena mengerucutkan bibir. "Peliiiiit informasi."
Sebastian menatapnya sekilas. Elena bisa melihat sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Mereka masuk ke mobil. Selama perjalanan, Elena beberapa kali mencoba menebak tujuan mereka.
"Restoran?"
"Bukan."
"Mall?"
"Bukan."
"Rumahmu?"
"Bukan."
Elena mengerutkan kening. "Kalau begitu ke mana?"
Sebastian tetap diam. Akhirnya sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Elena turun, menatap bangunan di hadapannya. Logo besar terpampang di bagian depan: HALE GROUP. Mata Elena membesar.
"Ini kantormu, kan?"
Sebastian mengangguk.
"Kenapa membawaku ke sini?"
"Karena kau akan menjadi istriku."
'Apa mungkin dia mau memperkenalkan aku pada koleganya? Lalu memindahkan sebagian asetnya padaku? Ahh.. indah sekali hidup ini Tuhan..'
Sebastian berjalan masuk diikuti oleh Elena. Begitu melewati pintu utama, hampir semua orang di lobi langsung menunduk hormat.
"Selamat pagi, Tuan Hale."
Sebastian mengangguk, lalu memperkenalkan Elena.
"Ini tunanganku."
Elena terdiam. Tatapan banyak orang langsung tertuju padanya.
"Selamat datang, Nyonya Hale."
Elena tersenyum canggung. 'Belum jadi istri, sudah dipanggil Nyonya Hale. Aneh.. Tapi... aku suka!.'
Sebastian membawa Elena naik ke lantai paling atas. Ruang kerja CEO ternyata jauh lebih luas dari yang dibayangkan Elena. Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Elena berjalan mendekati jendela.
"Wow."
Sebastian meletakkan sebuah map di meja. "Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Elena kembali mendekat. Sebastian membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen dan beberapa gambar desain. Elena mengerutkan kening.
"Apa ini?"
"Rumah."
"Rumah?"
"Rumah yang akan kita tinggali setelah menikah."
Elena menatapnya. "Bukankah kita sudah punya rumah?"
"Itu rumahku." Sebastian menunjuk gambar tersebut. "Yang ini akan menjadi rumah kita."
Elena membeku. "Rumah... kita?"
Sebastian mengangguk. "Aku membelinya beberapa waktu lalu. Tapi belum direnovasi."
Elena melihat gambar rumah itu. Letaknya di kawasan tenang, jauh dari pusat kota. Rumah itu memiliki taman luas dan kolam renang. Elena menatap Sebastian.
'Gila! Untung saja aku nggak batalin pernikahan ini.. aneh sekali si Elena asli.. kalau saja dia tau Sebastian royal sekali..'
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘