Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : SENANDUNG DIBAWAH TIRAI HUJAN
Pagi di Desa Teluk Mutiara selalu datang membawa aroma tanah yang dibasahi embun, beradu dengan desir angin laut yang dingin menyengat kulit. Namun, bagi Azahra Aletta—gadis yang kini bersembunyi di balik nama Alya—pagi hari ini terasa berbeda. Ada kegelisahan yang menyusup ke dalam celah-celah dadanya, sebuah perasaan asing yang tak pernah ia rasakan selama tiga tahun bermukim di pesisir sunyi ini.
Azahra berdiri di teras rumah panggung kayunya, memegang cangkir seng berisi teh hangat yang belum sempat disesapnya. Matanya yang jernih tertuju pada rumah kayu bernomor 12 yang terletak hanya lima puluh meter dari tempatnya berdiri.
Rumah kayu itu dulu kosong dan terbengkalai, namun kini terlihat rapi. Pagar bambunya yang patah telah diperbaiki, dan beberapa terpal penutup atap telah terpasang rapi. Di halaman depan rumah tersebut, sesosok pria berpostur tegap sedang menimba air dari sumur tua.
Ethan Austin.
Pria yang dulunya dipuja-puja di lembaran majalah korporasi sebagai salah satu CEO paling berpengaruh di ibu kota, kini hanya mengenakan celana kain bahan yang bagian bawahnya tergulung hingga betis dan kemeja linen tipis berwarna abu-abu yang lengannya tersingkap kasar. Otot-otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis tiap kali ia menarik tali timba kayu yang berat. Keringat membasahi leher dan punggung kemejanya, memantulkan sinar matahari pagi yang baru muncul dari ufuk timur.
Azahra menggigit bibir bawahnya. Kejadian tadi malam di teras sekolah—saat Ethan berdiri menggigil menahan hujan demi melindungi papan tulis kelasnya, dan pengakuan jujur yang pria itu bisikkan di tengah kepungan dingin—masih bergaung nyaring di dalam kepalanya.
‘Aku hanya ingin berada di sini... di dekatmu. Memastikan kamu aman, melihatmu tersenvum, dan membuktikan padamu bahwa pria yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah pria yang benar-benar mencintaimu tanpa syarat.’
"Bual propaganda orang kaya..." bisik Azahra pada dirinya sendiri, mencoba mematikan desiran hangat yang mendadak membakar pipinya.
Ia membalikkan badan dengan cepat, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kayu rapat-rapat. Ia bertekad untuk tidak membiarkan pertahanannya goyah. Ethan Austin adalah masa lalu. Pria itu adalah simbol dari masa-masa paling berdarah dalam hidupnya, di mana harga dirinya ditawar dengan lembaran cek dan hidupnya dijadikan ajang persaingan gengsi antara dua serigala.
Namun, membatasi diri dari keberadaan Ethan ternyata jauh lebih sulit daripada yang Azahra bayangkan. Ethan seolah-olah telah menyatu dengan denyut nadi Desa Teluk Mutiara.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika Azahra melangkah keluar dari rumah untuk menuju ke sekolah desa. Jalur setapak yang biasa ia lalui tampak ramai oleh anak-anak sekolah yang berlarian. Dan tepat di gerbang kayu sekolah, Ethan sudah berdiri di sana.
Pria itu tidak bertingkah seperti seorang pengawas yang mengintimidasi. Ia duduk di atas bale-bale kayu di samping gerbang, sedang membantulkan bola rotan bersama tiga orang anak nelayan lokal. Tawa renyah anak-anak membahana ketika Ethan—yang tampak sangat canggung memainkan permainan tradisional tersebut—terpeleset pelan namun berhasil menangkap bola rotan dengan kepala tangannya.
"Pak Ethan jago juga!" seru Budi, salah satu murid Azahra yang paling aktif.
"Tentu saja," sahut Ethan sambil menyapu rambut bagian depannya yang basah oleh keringat. "Dulu Pak Ethan pernah belajar sepak bola di Eropa. Tapi permainan kalian jauh lebih sulit."
Saat pandangan Ethan tak sengaja memotong jalan Azahra yang baru tiba di depan gerbang, tawa pria itu perlahan mereda. Ethan berdiri dari bale-bale kayu, menepuk-nepuk celananya yang berdebu, lalu merogoh sesuatu dari balik keranjang anyaman di sampingnya.
Sebuah tempat makan dari plastik bening disodorkan ke hadapan Azahra. Di dalamnya berisi beberapa potong ubi rebus hangat dan sebuah kue tradisional kelapa yang masih membumbungkan uap manis.
"Selamat pagi, Alya," sapa Ethan. Suaranya rendah, hangat, dan dipenuhi oleh kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di Jakarta dulu. "Ibu Sumi di pasar bilang kamu sering lupa sarapan kalau sudah sibuk menyusun materi kelas. Aku minta dia mengajariku cara merebus ubi ini tadi subuh."
Azahra menghentikan langkahnya. Ia menatap tempat makan plastik itu, lalu beralih menatap jari-jari tangan Ethan. Di sana, di dekat ibu jari dan telunjuk kanan pria itu, terdapat beberapa luka lecet baru dan balutan kain kasa yang agak kotor—bekas terkena seng dan kayu saat memperbaiki terpal sekolah kemarin sore.
Seorang Ethan Austin... bangun subuh untuk belajar merebus ubi dari seorang pedagang pasar tradisional?
Rasa iba dan keheranan bergolak hebat di dalam dada Azahra. Namun, ia memaksakan matanya untuk menatap Ethan dengan dingin.
"Saya sudah sarapan di rumah, Pak Ethan," kata Azahra datar. Ia sama sekali tidak menyentuh tempat makan itu. "Bapak tidak perlu bersusah payah melakukan hal-hal konyol seperti ini. Saya bukan tanggung jawab Bapak, dan Bapak bukan siapa-siapa di desa ini."
Ethan tidak menarik tangannya dengan gusar. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis—senyuman yang sarat akan kesabaran yang tak bertepi.
"Kalau begitu, ini untuk anak-anak di kelas saja," sahut Ethan tenang, lalu menyerahkan wadah plastik itu ke tangan Budi yang berdiri di samping Azahra dengan mata berbinar. "Bagikan pada teman-temanmu di dalam kelas ya, Budi."
"Wah, terima kasih Pak Ethan!" seru Budi girang sebelum berlari masuk ke dalam lorong sekolah.
Azahra menahan napasnya, menatap Ethan dengan pandangan jengkel. "Bapak sengaja menyuap murid-murid saya?"
"Aku hanya berbagi makanan, Alya," jawab Ethan santai, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apakah berbagi makanan hangat di pagi hari sekarang dianggap sebagai tindak kejahatan di sekolahmu?"
Azahra mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. "Bapak benar-benar menyebalkan."
"Aku tahu," terkekeh Ethan pelan, matanya yang berwarna kelabu menatap lurus ke dalam iris mata Azahra. "Tapi setidaknya, pagi ini kamu akhirnya bersedia menatap mataku lebih dari dua detik."
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibir Ethan, membuat dada Azahra mendadak berdesir hebat. Rasa hangat yang menjalar di pipinya makin tak tertahankan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Azahra membalikkan badannya secara kasar dan berjalan cepat masuk ke dalam bangunan sekolah, membiarkan tawa kecil Ethan mengiringi langkah kakinya yang berantakan.
Siang harinya, cuaca pesisir berubah drastis. Langit yang tadinya cerah berawan mendadak tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat yang merayap cepat dari arah laut selatan. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon kelapa hingga meliuk ekstrem.
Pukul dua siang, hujan deras mengguyur Desa Teluk Mutiara dengan keganasan yang luar biasa. Suara gemuruh petir menyambar berulang kali di atas lautan, membuat beberapa kaca jendela sekolah yang longgar bergetar hebat.
Di dalam kelas tiga, Azahra sedang membimbing murid-muridnya merapikan tas mereka.
"Anak-anak, dengarkan Ibu ya," ujar Azahra dengan suara nyaring mencoba mengalahkan gemuruh hujan di luar. "Karena hujan sangat deras dan angin kencang, orang tua kalian pasti akan menjemput di teras depan. Jangan ada yang keluar dari area sekolah sebelum orang tua kalian datang, paham?"
"Paham, Bu Alya!" sahut anak-anak serempak.
Namun, saat Azahra memeriksa barisan muridnya, keningnya mendadak berkerut. Ia menyadari satu kursi di barisan belakang kosong.
"Lho... di mana Nisa?" tanya Azahra cemas.
Budi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Tadi sebelum hujan turun, Nisa bilang anak kucing yang kemarin ditolong Bu Alya lari ke arah tebing sungai dekat hutan, Bu! Nisa pergi menyusulnya!"
Jantung Azahra serasa berhenti berdetak seketika. Tebing sungai?!
Sungai Bakau di belakang desa adalah area yang sangat berbahaya jika hujan deras turun. Arus air dari atas bukit akan mengalir deras menuju muara, dan tebing tanah di sekitarnya sering kali ambrol terbawa erosi. Apalagi, Azahra tahu betul betapa dalamnya palung sungai itu—tempat yang kemarin hampir mencabut nyawanya sebelum ia ditolong oleh James.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Azahra berlari menuju ruang guru, mengambil sebatang payung kain yang agak rusak, dan berteriak pada kepala sekolah.
"Pak Kepala Sekolah! Nisa menyusul anak kucing ke tebing sungai! Saya akan mencarinya sekarang!"
"Tunggu, Bu Alya! Di luar angin sangat kencang dan tebing sungai licin!" teriak sang kepala sekolah dari balik meja kerja, namun Azahra sudah menembus tirai hujan di luar teras.
Azahra berlari setengah kesetanan menyusuri jalan setapak tanah yang kini telah berubah menjadi genangan lumpur yang licin. Hujan deras yang menghantam tubuhnya membuat pandangannya buram. Payung kain di tangannya terlepas dan terbang terbawa angin kencang beberapa meter dari tempatnya berlari, namun Azahra tak memedulikannya.
"Nisa! Nisa!" jerit Azahra penuh keputusasaan, suaranya parau tergerus gemuruh angin dan hujan.
Sepatunya tergelincir di atas lumpur, membuatnya tersungkur keras di atas tanah kotor. Lututnya menghantam batu tajam hingga tergores dan mengeluarkan darah segar yang langsung terbilas oleh air hujan. Namun, rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan rasa panik yang mencengkeram dadanya. Azahra memaksa tubuhnya untuk bangkit kembali, menyapu air mata dan air hujan dari wajahnya, lalu terus berlari mendekati area tebing sungai.
Di tepi tebing sungai yang berjarak sepuluh meter dari hutan, Azahra melihat tubuh kecil Nisa sedang berdiri menangis ketakutan di atas bongkahan batu besar. Di bawah kaki anak kecil itu, aliran sungai telah membesar tiga kali lipat, berubah menjadi pusaran air cokelat yang sangat pekat dan membahayakan. Tebing tanah di sekitar batu tempat Nisa berdiri mulai retak dan runtuh sedikit demi sedikit terbawa arus.
"Bu Alya! Takut...!" jerit Nisa sambil memeluk anak kucing kecil di dadanya.
"Nisa! Jangan bergerak! Tetap di sana!" teriak Azahra.
Azahra mencoba melangkah mendekati batu tersebut, namun pijakan tanah di tepi tebing itu sangat rapuh. Saat ia memajukan kaki kanannya, tanah di bawahnya mendadak ambrol!
SRRRK!
"AAAH!" Azahra menjerit saat tubuhnya tergelincir menuruni tebing licin menuju pusaran air deras di bawah sana!
Di saat yang paling kritis, di mana ujung kaki Azahra sudah menyentuh permukaan air sungai yang dingin dan buas, sebuah lengan kekar nan kuat menyambar pinggangnya dari atas dengan kekuatan yang luar biasa.
HUP!
Azahra terhentak naik ke atas. Tubuhnya ditarik kasar dan didekap rapat ke dalam sebuah dada yang bidang dan hangat.
"Aku memegangmu! Aku memegangmu, Azahra!" suara bariton yang familiar bergaung kencang tepat di samping telinganya, dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa.
Azahra mendongak di dalam dekapan erat itu. Ethan Austin berdiri di atas pijakan tanah yang lebih kokoh, mencengkeram akar pohon tua dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya merengkuh tubuh Azahra rapat-rapat. Kemeja linen Ethan basah kuyup, napasnya tersengal-sengal kencang, dan matanya yang berwarna kelabu memancarkan rasa takut yang begitu mendalam—bukan takut akan keselamatannya sendiri, melainkan takut kehilangan wanita di dalam pelukannya.
"Pak... Ethan...?" bisik Azahra tersengal-sengal.
"Tetap di belakangku!" perintah Ethan tegas.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga, Ethan menarik Azahra ke area tanah yang lebih aman di dekat pohon tua. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk beristirahat, Ethan berbalik dan melangkah mendekati tebing batu tempat Nisa terjebak.
"Nisa! Ulurkan tanganmu pada Pak Ethan!" teriak Ethan mengalahkan gemuruh hujan.
Ethan merentangkan tubuh tegapnya di atas tanah lumpur, mencondongkan badan ke arah tebing yang retak, dan merentangkan tangannya yang panjang. Nisa yang menangis histeris memberanikan diri mengulurkan tangan kecilnya.
Greb!
Ethan menyambar pergelangan tangan Nisa, menarik tubuh anak kecil itu naik ke atas tebing dengan satu sentakan bertenaga. Bongkahan batu besar tempat Nisa berdiri tadi seketika ambrol dan hancur terhantam arus sungai bergelombang hanya dua detik setelah Ethan menyelamatkannya!
BUM!
Nisa selamat. Anak kecil itu langsung berlutut menangis sambil memeluk anak kucingnya di atas tanah yang aman.
Ethan terduduk di atas lumpur, napasnya memburu hebat. Bahu kirinya—bahu yang kemarin terhantam batu saat ia jatuh dari kuda—tampak terkulai sedikit aneh, dan wajah Ethan memucat menahan nyeri yang luar biasa akibat memaksakan tenaga ototnya. Namun, hal pertama yang Ethan lakukan bukannya memeriksa bahunya sendiri.
Ethan memutar tubuhnya dengan susah payah, merangkak di atas lumpur mendekati Azahra yang sedang terduduk lemas di samping Nisa.
Tangan Ethan yang gemetar terulur menangkup kedua pipi Azahra. Matanya menyapu setiap inci tubuh wanita itu dengan histeria yang belum reda.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Katakan padaku, Azahra... kamu tidak jatuh ke air, kan?!" cecar Ethan dengan suara bergetar parau. Tangannya yang dingin menyapu helai rambut basah dari wajah Azahra, memeriksa leher dan bahu wanita itu dengan rasa cemas yang tak terkendali.
Azahra terpaku. Ia menatap wajah Ethan yang berada hanya sesenti dari wajahnya. Pria ini... pria kaya raya yang biasa duduk di kursi empuk ruang rapat ber-AC... baru saja bertaruh nyawa di atas tebing yang ambrol, menariknya dari maut, menyelamatkan seorang anak desa, dan sekarang menatapnya seolah-olah seluruh alam semesta Ethan hanya berpusat pada keselamatan Azahra semata.
Rasa takut, kemarahan akan masa lalu, dan benteng pertahanan es yang dibangun Azahra selama tiga tahun seketika retak hebat.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menembus pipi Azahra, menyatu dengan deru air hujan yang membasahi mereka.
"Kenapa... kenapa Bapak selalu melakukan hal-hal gila seperti ini?" bisik Azahra dengan suara pecah oleh isak tangis. Tangannya yang gemetar terulur, secara tak sadar menyentuh lengan Ethan yang menangkup pipinya. "Bapak bisa mati! Tebing itu bisa runtuh dan membawa Bapak ke dalam sungai!"
Ethan menatap air mata yang mengalir di pipi Azahra. Sebuah senyuman lembut dan sangat tulus terukir di bibirnya yang memucat.
"Jika aku harus mati demi memastikan kamu tetap bernapas, Azahra..." bisik Ethan pelan, menyapu air mata di pipi Azahra dengan ibu jarinya yang lecet. "...maka aku akan melompat ke sungai itu tanpa ragu sedikit pun."
Kalimat itu terucap bukan dengan nada dramatis atau kepalsuan. Itu adalah deklarasi sederhana yang diucapkan oleh seorang pria yang telah menyerahkan seluruh jiwanya.
Azahra tak sanggup menjawab. Dadanya bergetar hebat dihantam oleh ombak emosi yang tak lagi bisa ia bendung. Tanpa sadar, Azahra membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang Ethan yang basah kuyup, terisak pelan di sana.
Ethan terpaku sejenak saat merasakan sentuhan hangat kepala Azahra di dadanya. Dengan kelembutan yang sangat berhati-hati—seolah-olah ia sedang memegang sebuah kristal yang paling rapuh di dunia—Ethan melingkarkan lengan kanannya yang sehat ke sekeliling bahu Azahra, mendekap wanita itu erat-erat di tengah kepungan hujan deras dan gemuruh angin malam.
Satu jam kemudian, hujan deras mulai mereda menjadi gerimis tipis.
Beberapa warga desa dan kepala sekolah yang datang menyusul akhirnya menemukan mereka. Nisa yang sudah tenang digendong pulang oleh warga, sementara Ethan dan Azahra dibantu berjalan kembali menuju rumah panggung kayu tempat tinggal Azahra.
Di dalam ruangan tengah rumah kayu Azahra yang hangat oleh nyala lampu minyak, suasana terasa begitu sunyi dan intens.
Ethan duduk di atas bale-bale kayu. Kemeja linen basahnya telah diganti dengan kaus katun hitam polos milik warga lokal yang agak ketat di tubuhnya. Bahu kirinya yang terkilir telah diluruskan kembali oleh Pak Basri dengan minyak urut tradisional, meninggalkan rasa nyeri yang membuat dahi Ethan terus berkeringat dingin.
Azahra melangkah mendekat membawa sebuah mangkuk kayu berisi air hangat dan selembar kain bersih, serta botol obat merah.
Ia duduk di samping Ethan di atas bale-bale kayu. Tanpa mengacuhkan tatapan mata kelabu Ethan yang terus memperhatikannya tanpa berkedip, Azahra secara perlahan meraih lutut kanan Ethan yang tergores batu tebing tadi.
"Tahan sebentar... ini akan sedikit perih," gumam Azahra pelan.
Ia menekan kain basah itu ke luka di lutut Ethan, menyapu sisa-sisa tanah lumpur yang menempel di sana dengan kelembutan yang luar biasa. Setiap sentuhan jari Azahra terasa begitu berhati-hati, seolah-olah ia takut menyakiti pria tegap tersebut.
Ethan menahan napasnya, bukan karena rasa perih di lukanya, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang begitu intim. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium kembali wangi alami sabun melati yang terpancar dari kulit Azahra, dan ia bisa melihat bulu mata panjang wanita itu yang masih basah oleh sisa air mata.
"Kenapa kamu tidak lagi menyangkal namamu?" tanya Ethan pelan, suaranya bergaung rendah di ruangan kayu yang sunyi itu.
Jari-jari Azahra yang sedang mengoleskan obat merah di lutut Ethan mendadak terhenti. Ia tidak mendongak, tetap menatap luka di lutut pria itu.
"Karena menyangkalnya di depan pria sekeras kepala Bapak... cuma membuang-buang tenaga," jawab Azahra lirih.
Ethan terkekeh pelan—sebuah tawa hangat yang membuat dadanya naik turun. "Aku memang keras kepala. Terutama kalau menyangkut hal yang paling berharga dalam hidupku."
Azahra perlahan mendongakkan kepalanya. Pandangan matanya bertaut langsung dengan iris mata kelabu Ethan. Tidak ada lagi kebohongan nama Alya di antara mereka. Rahasia itu telah hancur bersama dinding es yang runtuh di tepi tebing sungai tadi.
"Ethan..." panggil Azahra dengan nama aslinya untuk pertama kali dalam tiga tahun. Suaranya bergetar halus. "Aku tetap tidak bisa melupakan apa yang terjadi di Jakarta. Aku tidak bisa melupakan bagaimana aku dijadikan taruhan, bagaimana harga diriku diinjak-injak, dan bagaimana ketakutan malam itu hampir membunuhku."
Wajah Ethan meredup oleh penyesalan yang mendalam saat mendengar penuturan itu. Ia meraih jemari Azahra yang memegang botol obat merah, menggenggamnya dengan lembut di antara kedua telapak tangannya.
"Aku tidak minta kamu melupakannya, Azahra," kata Ethan tulus, menatap mata Azahra dengan kejujuran yang telanjang. "Aku tahu luka yang aku dan James goreskan di hatimu terlalu dalam untuk disembuhkan begitu saja. Aku tidak datang ke sini untuk menghapus masa lalu."
Ethan mengecup punggung tangan Azahra dengan kelembutan yang paling dalam—sebuah kecupan singkat yang sarat akan rasa hormat dan penghambaan jiwa.
"Aku datang ke sini untuk membangun masa depan baru... jika kamu mengizinkanku," sambung Ethan. "Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak akan memaksamu memakai gaun-gaun mahal atau menjadi bagian dari dunia Austin yang beracun. Jika kamu ingin tinggal di desa ini selamanya... maka aku akan membangun rumahku di samping rumahmu, dan hidup sebagai pria biasa di sisimu."
Azahra menatap mata Ethan, mencari kebohongan atau sisa-sisa manipulasi yang dulu biasa berseliweran di mata pria kaya tersebut. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain ketulusan murni dan kepasrahan yang utuh.
Dada Azahra bergolak hebat. Rasa hangat yang merayap di dalam hatinya kini tak lagi bisa ditolak. Meskipun trauma masa lalu belum sepenuhnya sirna, Azahra sadar bahwa Ethan yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah serigala angkuh yang dulu memburunya di Hotel Grand Velvet.
Pria ini telah melepas mahkotanya, membiarkan tangannya berdarah, dan mempertaruhkan nyawanya demi membuktikan cintanya.
"Bapak... kamu benar-benar pria paling bodoh yang pernah aku temui," bisik Azahra pelan, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman pertama yang sangat tulus yang Ethan lihat setelah tiga tahun berlalu.
Mata Ethan berbinar terang saat melihat senyuman itu. Dada pria tegap itu berdesir oleh kebahagiaan yang begitu dahsyat hingga matanya kembali berkaca-kaca.
"Ya... aku memang bodoh," jawab Ethan sambil tertawa pelan, menggenggam tangan Azahra lebih erat. "Bodoh karena baru menyadari betapa aku mencintaimu setelah hampir kehilanganmu selamanya."
Malam itu, di bawah lindungan atap kayu rumah panggung sederhana dan rinai gerimis yang menenangkan di luar, dua jiwa yang dulu terkoyak oleh kemewahan dan kegilaan ego... perlahan mulai menemukan jalan untuk saling menyembuhkan.
Namun, di tempat yang jauh dari ketenangan pesisir...
Di dalam ruangan kerja lantai empat puluh gedung Daniel Corporation di ibu kota, lampu ruangan masih menyala terang meski jam menunjukkan pukul dua pagi.
James Daniel berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menampakkan kerlip lampu kota Jakarta. Di tangannya, ia memegang seangkringan gelas wiski yang telah kosong. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya yang memerah pekat dipenuhi oleh gelisah yang tak kunjung padam.
Sejak kembali dari Desa Teluk Mutiara dua hari lalu, bayangan wanita bergaun krem di tepi sungai itu tak pernah berhenti mengiang di kepalanya. Intuisi bisnisnya yang tajam—intuisi yang telah membawanya menguasai ratusan proyek triliunan rupiah—terus berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
‘Gadis itu sudah mati tiga tahun lalu, James... Kau hanya berhalusinasi karena rasa bersalahmu.’
Kata-kata Ethan hari itu kembali bergaung di telinga James. James memicingkan matanya tajam. Ia mengingat raut wajah Ethan saat mengucapkan kalimat tersebut—wajah yang terlalu tenang, terlalu sempurna... seolah-olah Ethan sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar di balik topeng dinginnya.
James meletakkan gelas wiskinya di atas meja kerja dengan dentuman keras. Ia merogoh ponselnya, menyentuh tombol panggilan cepat pada nomor kepala tim intelijen pribadinya.
"Halo, Pak James?" suara pria berbariton dingin menyahut dari ujung telepon.
"Bagas," panggil James dengan suara rendah yang dipenuhi ancaman mematikan. "Kirim lima tim penyelidik rahasia terbaikmu ke Desa Teluk Mutiara malam ini juga."
Pria di ujung telepon tertegun sejenak. "Desa tempat proyek yayasan itu, Pak? Apa yang perlu kami selidiki?"
James mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menatap tajam pada papan nama kuningan bertuliskan Azahra Aletta di meja kerjanya.
"Selidiki seluruh latar belakang wanita bernama Alya yang mengajar di sekolah desa itu," perintah James dengan desisan berbahaya. "Dan selidiki keberadaan Ethan Austin. Cari tahu kenapa mobil dan helikopter pribadinya ditinggalkan di bandara daerah... sementara dia tidak pernah kembali ke ibu kota!"
James menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan amarah yang membakar kembali di dalam dadanya.
"Jika Ethan pikir dia bisa membohongiku dan menyembunyikan sesuatu dariku..." bisik James dengan suara dingin yang membekukan darah. "...dia akan sadar bahwa perang di antara kami... belum pernah benar-benar berakhir."