Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ling Qi berdiri mematung di tengah genangan darah yang terus melebar, napasnya memburu, matanya yang tersembunyi di balik perban menyapu ke segala arah, mencoba mencerna apa yang baru saja dia saksikan.
Di sekelilingnya, jeritan masih terus bersahutan. Seorang pria terjatuh sambil mencengkram tenggorokannya sendiri, suaranya tercekat sebelum darah menyembur dari mulutnya. Seorang wanita muda yang tadi berlari menjauh dari kejaran goblin tiba-tiba berhenti di tengah langkahnya, tubuhnya kaku sesaat, lalu ambruk dengan darah mengalir dari kedua telinganya.
'Ini gila. Ini benar-benar gila. Bukan monster yang membunuh mereka.' Matanya melotot melihat kejadian-kejadian tersebut.
Namun di tengah kekacauan itu, Ling Qi menangkap sesuatu yang berbeda. Beberapa orang yang tadi juga jatuh terduduk sambil mencengkeram kepala mereka, meronta seperti kesakitan luar biasa—justru bangkit kembali beberapa detik kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berdiri, terhuyung sebentar, dan langsung berlari menjauh dari area itu tanpa menoleh ke belakang.
'Kenapa mereka selamat? Apa bedanya mereka dengan yang lain?'
Matanya menangkap salah satu dari mereka—seorang gadis muda dengan rambut dikuncir kembar, masih mengenakan seragam sekolah, berlari terhuyung-huyung ke arah pintu keluar terdekat, wajahnya pucat pasi dan matanya membelalak lebar seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
Ling Qi tidak berpikir panjang. Dia berlari mengejar gadis itu, melompati reruntuhan meja kafe yang berserakan, menghindari genangan darah yang masih segar di lantai marmer.
"Tunggu!" panggilnya, memperpendek jarak dengan cepat.
Gadis itu tidak mendengarnya, atau mungkin terlalu panik untuk peduli. Ling Qi akhirnya berhasil menyusulnya, tangannya terulur, mencengkeram bahu gadis itu untuk menghentikannya. "Hei, kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya—"
Gadis itu membeku seketika begitu tangan asing menyentuh bahunya.
Di dalam benaknya, bayangan yang terekam bukanlah sosok pemuda berambut putih dengan perban di mata. Yang dia lihat, yang dia rasakan mencengkeram bahunya, adalah wajah hijau tua dengan taring tajam dan mata menyala—wajah goblin yang baru saja hampir merenggut nyawanya beberapa menit lalu.
"TIDAK!!"
Gadis itu berbalik dengan kecepatan yang tidak sepadan dengan tubuh kecilnya, kepalan tangannya melesat lurus ke wajah Ling Qi tanpa peringatan.
BUAGH!!
Pukulan itu menghantam telak, tenaganya jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki seorang gadis remaja biasa. Tubuh Ling Qi terangkat dari lantai, melayang beberapa meter sebelum membentur dinding kaca etalase toko terdekat dengan bunyi keras yang menggetarkan kaca di sekitarnya.
"Ukh—!" Ling Qi merosot ke lantai, tangannya refleks memegangi punggungnya yang berdenyut ngilu. Dia mengerjapkan mata di balik perban, mencoba menormalkan penglihatannya yang sempat berkunang-kunang.
'Pukulan macam apa itu tadi? Rasanya seperti dihantam Zhao Dahai memakai beliung, lalu kali sepuluh.'
Gadis itu, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, langsung berlari menjauh sekuat tenaga, suaranya melengking penuh ketakutan. "GOBLIN JELEK, JANGAN DEKATI AKU!!"
Suara itu bergema di sepanjang lorong mall yang kini nyaris kosong, bercampur dengan isak tangis dan langkah kaki gadis itu yang menghilang di balik tikungan menuju pintu darurat.
Ling Qi masih terduduk di antara pecahan kaca, menatap arah kepergian gadis itu dengan tatapan tidak percaya.
"Goblin...?" gumamnya pelan, mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan tadi. "Aku bahkan tidak mirip goblin sedikit pun."
Dia bangkit perlahan, punggungnya masih terasa nyeri, tetapi pikirannya sudah melompat jauh dari rasa sakit itu, tertuju pada pertanyaan yang lebih besar.
'Tenaga sebesar itu tidak mungkin dimiliki manusia biasa. Dan cara dia bereaksi—seolah dia benar-benar melihatku sebagai goblin, bukan sekadar takut karena panik.'
Ling Qi menoleh ke sekeliling, menyaksikan pemandangan yang semakin membingungkan. Di satu sisi, tubuh-tubuh yang bermandikan darah tergeletak diam selamanya. Di sisi lain, beberapa orang yang tadinya juga tersungkur kesakitan kini justru bangkit dengan mata yang menyala aneh, bergerak dengan kecepatan dan tenaga yang jauh melampaui manusia normal, lalu menghilang begitu saja dari area itu.
'Kenapa sebagian orang mati dengan cara yang tidak masuk akal... sementara sebagian lain justru mendapatkan kekuatan yang sama tidak masuk akalnya?'
Ling Qi berdiri di tengah kesunyian yang perlahan menyelimuti mall yang beberapa menit lalu masih ramai oleh pengunjung akhir pekan, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak satu pun bisa dia jawab sendiri.