Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di tempat lain, cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya penerangan yang memenuhi rumah sederhana yang Elang sewa malam itu. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, namun tidak ada tanda-tanda pria itu berniat tidur.
Beberapa file terbuka memenuhi layar. Catatan transaksi, riwayat perubahan kontrak, waktu akses sistem, hingga laporan pengiriman yang sebelumnya ia periksa selama Daneswara menangani Arkatama Industrial.
Elang masih menyimpan salinan kerja dari beberapa data yang pernah menjadi tanggung jawabnya. Bukan seluruh dokumen perusahaan, hanya bagian-bagian yang sejak awal ia gunakan untuk mencocokkan temuan. Dan sudah tiga jam terakhir, ia kembali membacanya satu per satu. Nama yang sama terus muncul.
Bram Mahesa.
Elang menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya bergerak mengusap wajah untuk mengurangi lelah, matanya terasa panas akibat terlalu lama menatap layar, tetapi pikirannya justru semakin penuh.
Ia membuka kembali satu dokumen. Akses Bram, dokumen berikutnya, laporan pengiriman, tanda tangan serta divisi ayahnya, rekening yang menggunakan identitas sang ayah.
Semuanya mengarah ke satu orang dengan keteraturan yang hampir tidak memberi ruang untuk melihat ke tempat lain.
Elang mengetukkan ujung jarinya pelan ke meja sambil bergumam pelan. “Justru itu masalahnya.”
Ia kembali menarik tubuhnya mendekati laptop. Bram bukan orang bodoh. Pria itu mampu menyimpan rahasia pertukaran dua bayi selama dua puluh tiga tahun tanpa membuat siapa pun di keluarga Arkatama mencurigainya.
Bahkan ketika Suster Mirah terbangun setelah puluhan tahun koma, Bram masih mampu berdiri di depan semua orang dan berpura-pura tidak mengenal wanita tersebut.
Licik, pengecut, dan sangat pandai menyembunyikan sesuatu ketika dirinya benar-benar ingin melakukannya.
Lalu sekarang Elang diminta percaya pria yang sama mencuri miliaran rupiah dengan meninggalkan nama, akses, tanda tangan, bahkan rekening atas identitasnya sendiri di hampir setiap jalur?
Elang mengembuskan napas panjang sambil mengusap kasar wajahnya. "Konyol."
Tangannya bergerak membuka data malam ketika salah satu kontrak Sentra Logistik disetujui. Pukul sebelas lewat.
Bram sudah keluar beberapa jam sebelumnya. Ada audit internal malam itu, tiga orang dari kantor pusat berada di gedung, tetapi setelah semua jalur diperiksa, lagi-lagi proses akhirnya kembali pada akun Bram.
Buntu.
Elang menutup satu file lalu membuka yang lain. Hasilnya tetap sama saja, tidak ada satu pun bukti yang cukup untuk membalik keadaan. Yang ia miliki hanya perasaan bahwa semuanya terlalu rapi, dan perasaan tidak akan membersihkan nama seseorang.
Beberapa menit kemudian Elang akhirnya menjauh dari laptop. Ia meraih gelas di samping laptop, dan baru menyadari air di dalamnya sudah habis entah sejak kapan.
Tatapannya kembali pada layar.
Jika memang ada seseorang yang bermain di balik semua bukti yang mengarah pada Bram, ia membutuhkan lebih dari dokumen Arkatama Industrial untuk menemukannya. Jejak itu kemungkinan tidak dimulai dari pabrik, melainkan dari kantor pusat. Tempat di mana orang-orang yang memiliki akses lebih luas daripada Bram berada.
Permasalahannya adalah... pekerjaan Daneswara di Arkatama sudah selesai. Tidak ada lagi alasan baginya untuk berjalan masuk ke gedung Arkatama Group dan meminta data sesuka hati.
Elang menutup laptop perlahan, ia terdiam untuk berpikir. Beberapa detik setelahnya, ia mengeluarkan ponsel dan membuka daftar kontak, hampir melupakan satu hal yang sangat penting.
Dan satu nama membuat ibu jarinya berhenti menggulir layar.
Pak Raksa Arkatama.
Nomor yang diberikan langsung oleh pria tua itu setelah pertemuan mereka beberapa waktu lalu.
Elang menatap nama tersebut cukup lama. Raksa pernah mengatakan jika dirinya membutuhkan sesuatu, ia boleh menghubunginya.
Saat itu ia tidak menginginkan apa pun, sekarang berbeda. Ia tidak membutuhkan uang ataupun jabatan. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah jalan masuk.
Elang berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela.
Kalau Raksa memberikan rekomendasi langsung kepada Daneswara untuk menempatkannya sebagai pendamping eksternal di Arkatama Group, ia tetap bisa menjadi bagian Daneswara tanpa harus berganti perusahaan.
Bukan kembali melakukan audit atau mencampuri penyelidikan hukum. Ia hanya membutuhkan cukup akses untuk melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah sampai ke Arkatama Industrial.
Satu celah, satu kesalahan, atau apa pun yang bisa menjelaskan mengapa seluruh bukti terhadap Bram terlihat begitu mudah ditemukan
Elang kembali menatap ponselnya. Untuk sesaat ibu jarinya hampir menekan tombol panggil, namun urung ia lakukan saat tersadar ini sudah lewat tengah malam. Ia mematikan layar ponsel, lalu kembali memandang laptop yang sudah tertutup.
Ada satu hal yang kini ia yakini. Jika ingin mencari kebenaran, ia tidak bisa terus berdiri di luar Arkatama, dan besok, ia akan menemui satu-satunya orang yang bisa membukakan pintu itu untuknya.
Pak Raksa Arkatama.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????