NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah dari Halaman Buku

Wanita itu sempat memperhatikan Amelia yang menatap mangkuk bubur dengan ekspresi tidak percaya.

"Tentu saja harus dimakan. Kamu belum makan sejak kemarin," katanya sambil menarik kursi di dekat meja.

Amelia masih menatap bubur encer itu beberapa saat sebelum akhirnya ia mendekat dan duduk kembalu ke kasurnya, kemudian ia mengambil sendok. Tangannya terasa aneh ketika menggenggam benda kecil tersebut. Dia terbiasa menggunakan tangannya untuk pekerjaan yang jauh lebih rumit, tetapi sekarang gerakan sederhana seperti menyendok makanan saja terasa sedikit menyusahkan. Perbedaan ukuran tubuh benar-benar membuat semuanya berbeda.

'Kayaknya gue harus beradaptasi lagi dengan tubuh sial*n ini!'

Dia memasukkan sesendok bubur ke mulut.

'Hambar.. ini ada masako nya gak sih? boro-boro masako garam aja seperti nya bakal mahal deh.'

Amelia menelan dengan susah payah, kemudian menatap mangkuk di depannya dengan wajah datar.

Sedangkan Lily yang sejak tadi duduk di kasur langsung menahan tawa. Wanita itu hanya tersenyum kecil sebelum mengingatkan Amelia untuk makan perlahan. Amelia akhirnya menurut. Perutnya memang lebih membutuhkan makanan daripada pendapatnya tentang rasa makanan.

Beberapa suapan kemudian, rasa lapar membuatnya berhenti mengeluh. Dia bahkan mulai menyadari bahwa tubuh kecil ini ternyata jauh lebih mudah merasa lapar daripada tubuhnya yang dulu.

"Eve, kamu jangan keluar bermain dulu setelah makan," kata wanita itu.

Amelia mengangkat wajah. "kenapa?"

"Hari ini ada tamu," jawab wanita itu.

"Tamu ciapa?"

"Seorang bangsawan ternama."

Tangan Amelia berhenti di atas mangkuk.

Perempuan itu kemudian menjelaskan bahwa keluarga bangsawan tersebut datang untuk melihat anak-anak di panti. Mereka sedang mencari seorang anak untuk diasuh dan dibawa tinggal bersama keluarga mereka.

Amelia mendengarkan tanpa menyela. Istilah memilih anak terasa sedikit aneh di telinganya, tetapi dia menahannya untuk tidak berkomentar. Dia hanya mengaduk bubur yang sudah hampir habis sambil memikirkan kemungkinan yang ada.

'Jadi ada kemungkinan salah satu anak di panti akan dibawa pergi hari ini.'

Amelia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk. Namun setidaknya, informasi tersebut memberinya alasan untuk tetap berada di tempat ini dan mengamati keadaan. Dia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan satu-satunya cara untuk memahami semuanya adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.

Sebenarnya, Amelia tidak terlalu memikirkan soal bangsawan yang akan datang. Baginya, selama orang itu tidak mengganggunya, tidak ada alasan untuk merasa tertarik. Dia bahkan belum memahami keadaan dirinya sendiri, jadi memikirkan orang asing yang kebetulan datang ke panti terasa seperti membuang tenaga. Di zaman yang bahkan dia tidak tahu kapan, informasi lebih penting dibanding apapun.

Dia kembali menyuapkan bubur ke mulutnya.

Lily yang sejak tadi duduk di atas kasur tampak tidak setenang sebelumnya. Anak itu beberapa kali melirik ke arah pintu, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan setiap kali mendengar suara langkah dari lorong.

Amelia memperhatikannya sebentar.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

Lily meremas ujung selimut di tangannya. Setelah beberapa saat, dia menjawab pelan bahwa dia takut dengan bangsawan yang akan datang.

Amelia mengangkat alis.

"Tatut?"

Lily mengangguk. Menurutnya, orang-orang dari kalangan bangsawan terkenal kejam. Dia pernah mendengar cerita tentang anak-anak yang dibawa ke rumah bangsawan, tetapi tidak pernah kembali ke panti. Ada pula yang mengatakan bahwa bangsawan bisa menghukum pelayan hanya karena kesalahan kecil. Menurut cerita Lily, biasanya anak panti yang di bawa oleh bangsawan hanya akan menjadi pelayan, atau sebuah mainan untuk mereka.

Amelia mendengarkan sambil tetap makan.

Anak-anak seusia Lily mudah sekali memperbesar cerita yang mereka dengar dari orang lain. Bisa saja satu kejadian kecil berubah menjadi cerita mengerikan setelah diceritakan dari satu anak ke anak lainnya.

Namun Amelia tidak mengatakan itu. Dia hanya mengangguk kecil dan kembali memperhatikan makanannya.

"Kalau begitu jangan dekat-dekat meleka," katanya santai.

"Kamu nggak takut?" Lily menatapnya dengan wajah tidak percaya.

"Belum tentu olangnya jahat." Amelia mengangkat bahu kecilnya.

Jawaban itu membuat Lily terdiam. Baginya tingkah Eve hari ini benar-benar aneh, biasanya Eve juga akan ikut ketakutan seperti dirinya.

"Kamu hari ini aneh."

Amelia sendiri tidak terlalu memikirkan perkataan anak kecil itu. Tidak ada gunanya takut pada seseorang yang bahkan belum pernah dia temui. Lagipula, kalau bangsawan tersebut memang sekejam yang dikatakan Lily, dia akan mengetahuinya sendiri ketika dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Amelia menghabiskan suapan terakhirnya dan meletakkan sendok di dalam mangkuk. Wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikannya segera mengambil nampan tersebut. Dia mengangkat mangkuk kosong dan gelas susu yang sudah habis, lalu membawa semuanya keluar dari kamar.

"Eve, istirahat dulu. Jangan terlalu banyak bergerak," pesannya sebelum menutup pintu.

Amelia mengangguk kecil.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali dipenuhi suara anak-anak yang mulai berbicara satu sama lain. Amelia menyandarkan punggungnya pada dinding. Perutnya sudah terasa lebih nyaman.

'Yang penting gue harus cari tahu asal usul anak ini, dan kemungkinan besar Eve mungkin cuma nama panggilan. Dan kalau Eve benar-benar tidak memiliki keluarga, berarti satu-satunya informasi yang bisa gue dapetin tentang Eve hanya dari orang-orang panti ini.' Amelia membuka mata lagi dan melirik Lily.

Anak itu masih memainkan ujung selimut sambil sesekali menatap pintu. Jelas sekali dia benar-benar takut pada bangsawan yang akan datang. Tidak lama setelah perempuan itu meninggalkan kamar, suara lonceng kecil terdengar dari lorong. Disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan beberapa orang dewasa yang mulai memanggil anak-anak dari ruangan lain.

"Semua anak berkumpul di ruang tengah! Cepat, jangan membuat tamu menunggu!"

Suara pengurus panti terdengar beberapa kali. Anak-anak yang sebelumnya bermain mulai berlarian keluar. Beberapa masih membawa mainan seadanya, sementara yang lain hanya mengikuti teman mereka dengan wajah penasaran.

Amelia yang semula duduk di kasur ikut berdiri. Lily segera menghampirinya dan menggenggam tangannya.

"Kita juga harus ke sana."

Ruang tengah panti jauh lebih luas daripada ruangan tempat mereka tidur, tetapi tetap terlihat sempit ketika seluruh anak dikumpulkan di sana. Lantai kayunya sudah tua dan beberapa bagian terlihat menghitam. Dindingnya dipenuhi bekas tambalan, sementara sebuah meja panjang diletakkan di dekat jendela sebagai tempat beberapa pengurus berdiri.

Anak-anak diminta berbaris. Amelia berdiri di samping Lily, menyesuaikan tubuhnya dengan barisan yang semakin rapat. Di depannya ada seorang anak laki-laki yang terus menggigit bibir, sementara di belakangnya terdengar suara beberapa anak berbisik.

"Dia sudah datang?"

"Katanya begitu."

"Jangan lihat matanya."

"Kenapa?"

"Katanya dia kejam."

Bisikan-bisikan itu semakin banyak terdengar.

Lily menggenggam tangan Amelia lebih erat, tangan kecilnya terasa dingin.

Amelia melirik sebentar.

"Jangan tatut."

Kemudian pintu utama terbuka.

Suasana ruang tengah langsung berubah. Beberapa anak yang tadinya berbisik mendadak diam. Seorang anak perempuan di barisan depan mulai menangis bahkan sebelum orang yang mereka tunggu masuk sepenuhnya. Anak laki-laki di sebelahnya mundur beberapa langkah sampai menabrak anak lain.

Dua orang memasuki ruangan.

Yang pertama adalah seorang pria berpakaian serba hitam. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara rambut hitamnya ditata rapi tanpa satu helai pun terlihat berantakan. Wajahnya tampan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.

Matanya berwarna merah tua, waranya lebih pekat daripada mata Eve

Amelia yang semula hanya ingin melihat-lihat langsung membeku.

Jantungnya seakan berhenti satu detik.

Kemudian berdetak begitu keras sampai telinganya sendiri terasa berdenging. Dia mengenal wajah itu, meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, ataupun bertemu di dunia nyata. Tapi dia mengenalnya dari halaman novel yang ia baca.

Duke Valois. Kepala keluarga Valois, Lucien Valois.

Salah satu karakter antagonis utama dalam The Rose and Crown. Amelia merasa kepalanya berdenyut. Yang pertama Elarion dan sekarang Duke, kemungkinan yang sejak tadi ia paksa untuk tidak dipikirkan perlahan mulai masuk akal.

Amelia menelan ludah.

"....Tampaknya gue terlalu meremehkan cerita Lily," gumamnya sangat pelan.

Kalau ini benar-benar dunia yang sama dengan novel yang pernah dia baca, maka ada satu masalah besar.

Dia berada tepat di depan salah satu orang paling berbahaya dalam cerita. Dan kalau ingatannya tidak salah, keluarga Valois bukan keluarga yang akan membuat seseorang merasa aman, malah sebaiknya kalau ingin hidup lama sebaiknya menghindari keluarga itu.

Amelia perlahan mundur setengah langkah. Tubuh kecilnya bergerak ke belakang Lily sampai sebagian besar tubuhnya tertutup oleh anak perempuan itu. Lily menoleh bingung, tetapi Amelia hanya memberi isyarat agar diam. Dia tidak peduli kalau tindakannya terlihat aneh. Untuk saat ini, satu hal jauh lebih penting, jangan sampai menarik perhatian Duke Jahat itu.

Kalau dirinya memang berada di dunia novel, maka dia harus menghindari orang-orang yang bisa membunuhnya. Dan pria di depannya adalah salah satu orang yang paling tidak ingin dia dekati.

Duke Valois berdiri beberapa langkah dari barisan anak-anak. Di belakangnya hanya ada seorang pria lain yang mengenakan pakaian formal berwarna gelap. Dari sikap dan posisinya, Amelia menduga dia adalah ajudan sang Duke.

Duke Valois tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapannya menyapu seluruh ruangan. Beberapa anak langsung menangis. Seorang anak laki-laki bahkan tidak mampu menahan ketakutannya dan mulai berteriak. Pengurus panti buru-buru menenangkan mereka, tetapi tangisan justru semakin terdengar.

Amelia memperhatikan Duke itu dari balik bahu Lily.

Dia tampak jelas tidak nyaman berada di tengah begitu banyak anak kecil. Tatapannya beberapa kali beralih dari satu anak ke anak lainnya.

'Cari siapasih dengan mata jahat kayak gitu, bikin was was aja!' pikirnya dalam hati.

Sebelum Amelia sempat memikirkan lebih jauh, seorang lelaki tua yang tampaknya merupakan kepala pengurus panti segera maju dengan senyum yang terlalu lebar. Kedua tangannya digosok-gosokkan di depan dada, jelas berusaha menunjukkan sikap seramah mungkin.

"Selamat datang, Yang Mulia Duke Valois yang terhormat," katanya dengan suara bergetar. "Merupakan kehormatan besar bagi kami menerima kunjungan Anda di panti-"

Duke Valois langsung menoleh, ia menatap tajam sang kepala panti. Lelaki tua itu bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Duke Valois melangkah maju dan mencengkeram kerah bajunya.

Tubuh lelaki tua itu tersentak ke depan, beberapa anak langsung menjerit.

"Di mana anak yang kau bilang?"

Suara Duke Valois rendah, tetapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan mendadak diam.

"A-anak yang mana, Yang Mulia?" Wajah lelaki tua itu perlahan menjadi pucat.

"Jangan bermain-main denganku." Cengkeraman di kerahnya semakin kuat.

Amelia yang masih bersembunyi di balik tubuh Lily langsung menahan napas. Dia menatap Duke Valois dari celah kecil di antara tubuh Lily dan anak di sebelahnya.

'Anak yang dia cari?' Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.

Pria itu masih memegang kerah kepala panti dengan wajah dingin. Amelia tidak tahu siapa yang sedang dia cari. Tetapi melihat reaksinya, jelas orang itu cukup penting sampai membuat seorang Duke datang sendiri ke panti asuhan.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!