Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20. Setiap hari harus menyembunyikan perasaan
Pagi itu, seperti biasa, aku berdiri di depan cermin kamarku sebelum berangkat ke kampus. Menatap pantulan diriku sendiri, aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Di dalam hati, aku menyusun kembali perjanjian yang sama setiap harinya: di kampus, ia adalah dosenku, dan aku adalah mahasiswinya. Tak boleh ada yang tahu. Tak boleh ada yang curiga.
Setiap pagi terasa seperti memakai topeng baru. Aku harus menyembunyikan perasaan yang sebenarnya tumbuh semakin dalam setiap harinya. Saat melangkah masuk ke gerbang kampus, aku seakan harus meninggalkan bagian terpenting dari hatiku di luar sana—bagian yang tahu siapa Arga sebenarnya, bagian yang tahu bahwa ia adalah calon suamiku, bagian yang setiap kali melihatnya ingin tersenyum dan menyapanya dengan penuh kasih sayang. Namun di dalam sini, di antara dinding gedung fakultas, aku harus menjadi orang lain. Aku harus menjadi mahasiswi biasa yang hanya melihatnya sebagai dosen, bukan sebagai pria yang kucintai.
Saat bel berbunyi dan ia melangkah masuk ke kelas, jantungku selalu berdebar kencang—bukan karena takut, melainkan karena rindu yang tak boleh kusampaikan. Setiap kali ia berbicara, suaranya terdengar begitu tenang dan tegas, namun bagiku suaranya adalah hal yang paling kutunggu-tunggu setiap harinya. Aku ingin menatapnya lekat-lekat, menikmati setiap detik kehadirannya, namun aku harus menunduk. Aku harus pura-pura sibuk mencatat, seakan tak ada hal lain yang lebih penting selain tulisan di kertas itu. Padahal setiap kata yang keluar dari bibirnya, setiap gerak-geriknya, setiap senyum tipis yang sesekali muncul di wajahnya—semuanya tersimpan rapi di dalam ingatanku.
Saat ia berjalan melewati bangkuku, aroma wanginya yang khas sesekali tercium, membuatku ingin berhenti waktu di detik itu juga. Namun aku harus tetap diam, tak boleh menoleh, tak boleh menunjukkan bahwa kehadirannya di sampingku membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku harus bersikap seakan ia hanyalah dosen lain yang berjalan lewat, bukan pria yang memegang hatiku dan masa depanku.
Di kantin, saat teman-teman membicarakannya—mengagumi ketampanannya, kecerdasannya, sikapnya yang dingin namun sopan—aku hanya bisa diam mendengarkan. Aku tak boleh ikut berbicara terlalu banyak, tak boleh memuji secara berlebihan, tak boleh mempertahankan namanya saat ada yang berkomentar kurang baik. Aku harus menahan semua kata yang ingin keluar dari mulutku, menahan keinginan untuk berkata: "Kalian tak tahu siapa dia sebenarnya. Dia bukan sekadar dosen yang kalian kagumi. Dia milikku." Namun kata-kata itu harus tetap terkunci rapat di dalam dadaku, menjadi rahasia yang hanya aku dan dia yang tahu.
Saat berpapasan di lorong yang sepi, saat kami berdua sendirian dan tak ada orang lain yang melihat, aku ingin sekali berhenti dan berbicara dengannya bukan sebagai mahasiswi kepada dosen, melainkan sebagai wanita kepada pria yang dicintainya. Aku ingin bertanya kabarnya, ingin tahu apakah ia sempat memikirkanku juga hari ini. Namun yang kulakukan hanyalah menunduk sedikit, menyapa dengan sopan dan singkat, lalu melangkah pergi begitu saja—seakan tak ada hal yang lebih penting daripada melanjutkan perjalananku. Padahal di dalam hatiku, aku berteriak memintanya berhenti, memintanya berbicara lebih lama, memintanya menunjukkan bahwa ia juga merasakan hal yang sama beratnya seperti yang kurasakan.
Dan setiap kali ada orang lain di dekat kami, perubahan itu terjadi seketika. Tatapannya berubah menjadi dingin dan profesional, senyumnya hilang, nada bicaranya menjadi tegas dan formal. Aku tahu itu demi kebaikan kami berdua, demi menjaga rahasia itu tetap aman. Namun tetap saja, rasanya seperti ditampar pelan setiap kali ia bersikap seakan aku hanyalah mahasiswi biasa di matanya. Aku harus menelan rasa itu, menahannya, dan berpura-pura tak peduli. Padahal hatiku merasakan setiap perubahan kecil itu dengan sangat jelas.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama: bangun, pergi ke kampus, menyembunyikan rasa, pulang, dan baru di dalam kamar sendiri aku boleh melepaskan topeng itu. Baru di tempat yang sepi, aku boleh memejamkan mata dan membayangkan wajahnya, boleh tersenyum sendiri membayangkan momen-momen kecil yang kami lalui bersama, boleh merasakan bahwa ia memang ada di sana, dekat namun tak boleh kusentuh. Baru di sini, aku boleh menjadi diriku sendiri—wanita yang mencintainya tanpa harus menyembunyikannya dari siapa pun.
Rina semakin sering menatapku dengan tatapan penuh selidik. Ia sesekali berbisik, "Kamu makin sering melamun ya, Lisna. Dan setiap kali Pak Arga muncul, wajahmu berubah. Kamu yakin tidak ada apa-apa?" Aku hanya bisa tersenyum tipis dan menggeleng, menyembunyikan rasa yang semakin dalam setiap harinya. Menyembunyikan perasaan itu ternyata bukan hal yang semakin lama semakin mudah. Justru semakin berat. Karena setiap hari rasa itu tumbuh lebih kuat, lebih dalam, dan semakin sulit untuk ditahan sendirian.
Namun aku tahu, ini adalah bagian dari perjuangan kami. Ini adalah harga yang harus kubayar untuk menjaga kehormatan hubungan kami, menjaga nama baiknya sebagai dosen, dan menjaga janji yang telah kami buat bersama. Setiap hari menyembunyikan perasaan itu memang melelahkan, namun setiap kali ia menatapku sekilas dengan tatapan yang berbeda dari pada orang lain—tatapan yang penuh arti, penuh perhatian, dan penuh kasih sayang yang tak boleh dikatakan—aku tahu bahwa semua rasa lelah ini terbayar lunas. Karena di balik semua penyembunyian itu, ada satu hal yang tetap nyata: perasaan itu ada, ia merasakannya juga, dan suatu hari nanti... kami tak perlu lagi menyembunyikannya dari siapa pun.
Sampai hari itu tiba, aku akan terus melakukannya. Setiap hari, aku akan menyembunyikan perasaan ini di balik senyum sopan dan sikap tenang, sambil menunggu saat di mana kami bisa berdiri berdampingan tanpa perlu takut, tanpa perlu menyembunyikan apa pun, dan berkata kepada dunia: "Kami saling mencintai, dan ini adalah takdir yang kami jaga dengan kesabaran."
bersambung....