NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Evaluasi Tur Perdana

​Dua hari berturut-turut dikeroyok masalah—mulai dari keteledoran Pak Tejo soal kunci brankas hingga amukan Hantu Dengki di Gedung Teater Tua—akhirnya terbayar tuntas.

Bus nomor 666 melaju tenang menembus kabut tipis dini hari menuju terminal akhir transit gaib, menyisakan keheningan yang dipenuhi aura kepuasan.

​Di barisan kursi penumpang, rombongan arwah yang tersisa duduk dengan raut wajah jauh lebih segar. Pendar kebiruan yang dulunya kelam kini berganti menjadi pendar hangat keemasan.

Satu per satu dari mereka telah menyelesaikan Napak Tilas, menyampaikan penyesalan terpendam, hingga akhirnya melebur menjadi pendar cahaya menuju Ascension.

​Saat bus resmi berhenti di pelataran parkir belakang kantor Last Trip Express, seluruh penumpang telah usai menyeberang ke alam sana dengan tenang.

Termasuk kakek-kakek yang selalu menenteng kepalanya sendiri. Ia ternyata memiliki keresahan yang tak biasa, yakni ingin memindahkan rumah terakhirnya ke dekat sang istri yang telah lebih dulu berpulang.

Cukup tubuh dan kepalaku saja yang terpisah. Jangan dengan istriku. Aku ingin selalu berdampingan dengannya.

​Damar menyandarkan punggungnya di pintu bus, menghela napas panjang sampai dadanya kempis. Kemejanya kotor, rambutnya berantakan, dan baunya merupakan perpaduan ajaib antara bunga kantil, debu teater tua, dan minyak kayu putih.

Namun, untuk pertama kalinya sejak ia terikat kontrak misterius ini, ada kebanggaan meluap yang tak bisa ia jelaskan.

​"Tur Pertama, selesai tanpa ada arwah mengamuk atau menjadi Arwah Anarki," gumam Damar, menatap clipboard-nya yang kini bercentang hijau penuh. "Gue ... gue beneran bertahan hidup."

​"Jangan senang dulu, Damar." Suara datar Madam Helga memotong lamunannya. Wanita itu melangkah turun dari bus dengan keanggunan yang tak berkurang sedikit pun.

Gaun hitamnya tetap rapi tanpa selipit debu pun, seolah pertempuran sengit di teater tadi malam hanyalah tarian sore biasa.

"Itu baru satu rombongan standar. Ujian sebernarnya baru akan dimulai saat jenis arwah yang kamu hadapi bukan lagi sekadar arwah sedih, melainkan arwah penuh dendam."

​Damar merinding tipis, tapi ia hanya terkekeh canggung seraya mengikutinya masuk ke dalam kantor agen travel yang beraroma teh chamomile dan kayu cendana.

​"Tapi tetep aja, Madam," ujar Damar sambil melepas tas selempangnya ke atas meja kayu tebal. "Setidaknya saya gak bikin reputasi Last Trip Express hancur, 'kan? Bahkan Mbak Nadia tadi move on sambil senyum bahagia."

​Madam Helga melayang santai menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja. Kipas sutranya terkumpul rapi di sudut meja, sementara jari-jarinya yang dipoles kuku merah menyala mengambil sebuah cangkir porselen berisi teh hangat.

​"Performa pelayananmu ...." Madam Helga menggantung ucapannya, menyeruput tehnya lambat-lambat seraya menatap Damar dari atas cangkir. "... cukup memuaskan untuk ukuran manusia amatir yang hobi menjerit histeris."

​Damar menyengir lebar. "Artinya ada insentif, dong?"

​Madam Helga menyipitkan mata, lalu mengetukkan ujung jarinya ke permukaan meja porselen.

Klak!

​Laci meja paling bawah terbuka sendiri dengan suara berderit pelan. Dari dalamnya, melayang keluar sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah kotak kayu berukir rumit. Kedua benda itu mendarat mulus di hadapan Damar.

​"Sesuai kontrak kerja pasal empat," kata Madam Helga tenang. "Gaji pokokmu untuk tur pertama. Uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah di dalam amplop cokelat untuk melunasi tunggakan kontrakan dan kebutuhan hidupmu di dunia manusia."

​Mata Damar berbinar tajam. Dengan tangan gemetaran, ia meraba amplop cokelat itu. Sepuluh juta! Angka yang selama berbulan-bulan menjadi mimpi buruknya kini ada di dalam genggamannya. Tagihan dari si pemilik kos yang galak seketika menguap dari pikirannya.

​"Dan ... ini apa, Madam?" tanya Damar, menunjuk kotak kayu berukir yang memancarkan pendar hangat di samping amplop.

​"Itu? Itu bonus kinerja atas inisiatif cerdikmu memanfaatkan minyak kayu putih dan lampu sorot," jawab Madam Helga, tatapannya sedikit melunak walau suaranya tetap formal. "Bukalah."

​Damar memutar kunci kuningan kecil di kotak tersebut. Ketika tutupnya terangkat, tampak sebuah jam saku kuno berbahan perak murni dengan ukiran bunga mawar di permukaannya. Jarum jamnya tidak berputar menggunakan angka, melainkan simbol-simbol elemen gaib.

​"Itu namanya Chrono-Compass, Damar," jelas Madam Helga ketika melihat wajah bingung Damar. "Benda antik dari era Victoria. Di dunia manusia, para kolektor akan berebut membelinya seharga puluhan juta rupiah. Tapi fungsi utamanya adalah mendeteksi fluktuasi aura arwah di sekitarmu. Jika jarumnya menunjuk ke simbol merah, itu artinya ada Arwah Anarki yang mendekat dalam radius seratus meter."

​Damar mengelus permukaan perak jam saku itu dengan rasa takjub. "Benda bertuah begini ... buat saya, Madam?"

​"Tentu saja. Saya tidak ingin pemandu tur saya mati konyol hanya karena tidak tau ada bahaya mendekat," sergah Madam Helga cepat dengan nada ketus yang dibuat-buat. "Lagi pula, barang antik itu jauh lebih berguna daripada tiang mikrofon tua yang kamu ayunkan sembarangan kemarin."

​Damar tertawa pelan. Rasa hormat dan simpati pada bosnya yang angkuh ini semakin dalam. Di balik kata-kata pedas dan tatapan dinginnya, Madam Helga benar-benar memperhatikan keselamatan dirinya.

​"Terima kasih banyak, Madam," kata Damar tulus, menggenggam jam saku itu rapat-rapat bersama amplop gajinya. "Saya janji bakal kerja lebih keras lagi di tur berikutnya."

​Madam Helga tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan jalanan kota manusia yang mulai terbangun oleh fajar dan hiruk pikuk aktivitas yang padat.

​"Pulanglah, Damar," kata Madam Helga pelan. "Istirahatlah. Tubuh manusiamu membutuhkan tidur sebelum gelombang rombongan kedua dijadwalkan tiba besok malam. Beli baju baru, dan buang pakaian gembelmu itu!"

Damar meringis pelan.

​"Siap, Madam! Kalau begitu ... saya permisi dulu!" Damar membungkuk hormat dengan penuh semangat, lalu berbalik melangkah keluar dari kantor agen travel gaib tersebut.

​Langkah kaki Damar terdengar menjauh, menghilang di balik pintu kaca depan. Suasana kantor mendadak kembali hening, menyisakan denting jarum jam dinding tua dan aroma hembusan asap teh milik Madam Helga.

​Di balik mejanya, Madam Helga perlahan meletakkan cangkir porselennya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan mendominasi kini perlahan-lahan melembut, menyisakan kelelahan yang teramat sangat. Senyum tipis yang amat samar pun terukir di bibirnya.

​"Sifat nekadnya ... dan kepeduliannya yang bodoh itu ...," gumam Madam Helga lirih pada ruangan yang kosong. Tangannya terangkat, mengelus permukaan liontin batu hitam yang melingkar di lehernya. "... masih sama persis seperti dulu."

​Wanita itu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, menatap langit-langit kantor yang diselimuti bayang-bayang masa lalu.

Tur pertama memang telah selesai dengan sukses, namun permainan takdir yang sesungguhnya baru saja membentangkan tirainya.

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!