Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Perintah Ajkaro
Ruang kerja bernuansa kayu jati milik Ajkaro terasa sangat menekan dengan aura dominasi yang pekat.
Dinding ruangan ini dilapisi oleh rak buku setinggi langit-langit yang berisi literatur bisnis dan hukum peninggalan generasi terdahulu. Sebuah meja kerja raksasa berukir kepala singa menempati bagian tengah, menjadi simbol kekuasaan yang tidak terbantahkan.
Ajkaro duduk di balik meja tersebut. Matanya menatap lurus ke arahku bak seorang algojo yang siap menjatuhkan vonis mati.
Pria paruh baya ini memerintahkan dua orang pengawalnya menjemputku paksa dari lobi apartemenku tepat pada pukul enam pagi. Sakti sedang berada di kantor pusat, menangani kekacauan media dan rapat dewan komisaris darurat akibat skandal pembatalan pertunangan semalam.
[Memindai Subjek Utama: Ajkaro.]
[Status Emosi: Murka Terkendali, Dominasi Penuh, Kejam.]
[Peringatan: Subjek Memiliki Otoritas Tertinggi. Hindari Konfrontasi Fisik.]
Teks hijau berkedip di sudut mataku. Sistem A.U.R.A memberikan peringatan ancaman level maksimal sejak aku melangkah masuk ke rumah megah ini. Para pengawal berjas hitam yang berdiri di luar pintu ruangan memastikan tidak ada jalan keluar bagiku.
"Duduk," perintah Ajkaro tanpa nada basa-basi sedikit pun.
Aku menarik kursi kulit berlapis emas di hadapannya dan duduk dengan postur tegak. Aku mempertahankan kontak mata dengannya, menolak menunjukkan rasa gentar meskipun lututku terasa lemas menghadapi patriark keluarga Vanguard tersebut.
"Kau pasti mengira kau sudah menang semalam, Tera," buka Ajkaro. Suaranya menggema berat memantul di dinding kayu jati.
Aku tidak menjawab. Aku membiarkan kesunyian menjadi banteng pertahananku.
"Kau berhasil mempermalukan Caremel. Kau berhasil membuat putraku mencampakkan aliansi bisnis yang sudah kubangun selama bertahun-tahun di depan ratusan lensa kamera." Ajkaro mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja. "Sebuah manuver manipulasi yang sangat mengesankan untuk ukuran wanita dari kelas sosial rendahan."
"Saya tidak memanipulasi siapa pun, Pak Ajkaro," balasku lugas. "Fakta dari rekaman kamera keamanan berbicara dengan sendirinya. Nona Caremel menghancurkan dirinya sendiri."
Ajkaro mendengus keras. Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Fakta tidak memiliki nilai di duniaku," desis Ajkaro tajam. "Yang memiliki nilai adalah reputasi dan stabilitas kekuasaan. Kehadiranmu telah menghancurkan keduanya."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Ajkaro membuka laci mejanya dengan gerakan perlahan yang penuh perhitungan.
Pria itu mengeluarkan sebuah buku cek eksklusif berlogo bank internasional. Ia mengambil pena emasnya dan mulai menuliskan rentetan angka nol yang sangat panjang tanpa ragu sedikit pun.
Bunyi goresan pena di atas kertas terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi ini.
Ajkaro merobek lembaran cek itu dan menyodorkannya melewati meja kayu jati, berhenti tepat di depan tanganku.
[Menganalisis Lembar Kertas Finansial.]
[Nominal Tertera: Lima Puluh Miliar Rupiah.]
[Status Dana: Valid. Tersedia Untuk Pencairan Instan.]
Sistem langsung menerjemahkan deretan angka tersebut di retinaku. Nominal di atas kertas itu sanggup membeli seluruh blok tempat tinggalku, membayar lunas seribu kali lipat hutang-hutang lamaku, dan menjamin kehidupan mewah hingga akhir hayatku.
"Ambil itu," titah Ajkaro. "Itu adalah harga untuk kebebasan putraku darimu."
Aku menatap cek itu dalam diam.
"Dokter Hindan sudah menyerahkan laporan latar belakangmu kepadaku," lanjut Ajkaro, membeberkan fakta bahwa ia telah menyelidiki seluruh kelemahanku. "Kau berasal dari lingkungan yang hancur. Mantan kekasihmu adalah seorang penipu kelas teri. Kau terlilit hutang medis ibumu."
Ajkaro menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum merendahkan.
"Kau mendekati Sakti hanya demi bertahan hidup. Uang di depanmu ini lebih dari cukup untuk memenuhi tujuan picikmu itu. Ambil uang itu, dan menghilanglah dari kota ini. Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di gedung Vanguard Corp."
Aku mengangkat wajahku. Kutatap mata pria tua itu dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Saya tidak menjual diri saya, Pak Ajkaro," ucapku dengan intonasi mutlak. "Dan perasaan Pak Sakti bukan sesuatu yang bisa Anda beli atau Anda takar dengan cek ini."
Ajkaro tertawa sumbang. Sebuah tawa yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan.
"Perasaan? Kau pikir Sakti mempertahankanmu karena perasaan cinta?" cibir Ajkaro. "Sakti hanya terobsesi pada kemampuan komputasi di kepalamu itu. Dia memanfaatkanmu sebagai perisai dari musuh-musuhnya. Saat otakmu hancur akibat beban kerja, dia akan membuangmu layaknya komputer rongsokan."
"Jika memang begitu, biarkan Pak Sakti sendiri yang membuang saya," tantangku balik. "Bukan Anda."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Raut wajah Ajkaro berubah mengeras seketika. Kesabarannya menghadapi penolakanku benar-benar habis.
Pria tua itu berdiri dari kursinya. Ia menekan telapak tangannya ke atas meja, menatapku dari posisi atas dengan kekejaman murni seorang penguasa tiran.
"Sakti mungkin bisa melindungimu di dalam gedung Vanguard Corp. Tapi dia lupa satu hal penting," geram Ajkaro. "Akulah yang membangun perusahaan itu. Akulah yang memegang kendali penuh atas mayoritas suara dewan komisaris."
Ajkaro menunjuk tepat ke arah wajahku.
"Jika kau bersikeras berada di sisinya, aku akan memastikan dewan komisaris melengserkan Sakti dari jabatan CEO minggu depan. Aku akan menghancurkan karir yang ia bangun dengan darah dan keringatnya. Aku akan mencabut seluruh hak warisnya, dan mengubahnya menjadi pria buangan yang tidak memiliki apa-apa."
[Mengkalkulasi Probabilitas Ancaman Eksternal.]
[Peringatan: Subjek Ajkaro Memiliki Kapasitas Finansial dan Politik Tingkat Ekstrem. Eksekusi Pelengseran Subjek Sakti Memiliki Tingkat Keberhasilan 92%.]
Aku mengatupkan rahangku kuat-kuat. Ajkaro benar-benar siap mengorbankan putranya sendiri demi menjaga ego dan kedudukan keluarga. Pria ini tidak peduli pada kebahagiaan Sakti, ia hanya peduli pada kendali mutlak.
"Anda tidak akan menghancurkan darah daging Anda sendiri," bantahku, berusaha menyembunyikan getaran di suaraku.
"Kau meremehkan ketegasanku, Tera," desis Ajkaro tajam. "Aku menghancurkan banyak orang untuk membangun Vanguard. Satu putra pembangkang bukan masalah bagiku. Dan percayalah, aku belum selesai."
Ajkaro mengambil sebuah remot kecil dari laci mejanya dan menekan satu tombol.
Layar televisi datar berukuran raksasa yang menempel di dinding samping ruangan mendadak menyala.
Tampilan di layar itu bukanlah saluran berita atau grafik saham. Layar tersebut menampilkan rekaman kamera pengawas langsung dari sebuah kamar rawat inap rumah sakit VIP.
Ibuku sedang tertidur pulas di atas ranjang medis. Selang infus terpasang di tangannya. Monitor detak jantung berkedip teratur di sebelah kepalanya.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
[Memindai Umpan Video Langsung.]
[Lokasi: Rumah Sakit Spesialis Vanguard. Kamar VIP 402.]
[Subjek Identifikasi: Ibu Busnah. Status: Ketergantungan Medis Tingkat Tinggi.]
"Rumah sakit itu adalah bagian dari jaringan medis keluargaku," ucap Ajkaro tanpa ampun, memukul titik terlemah dalam seluruh eksistensi hidupku. "Dokter Hindan dan seluruh direktur rumah sakit itu bekerja di bawah perintah mutlakku."
Aku berdiri dari kursiku dengan cepat. Kursi kulit berlapis emas di belakangku terdorong mundur hingga membentur rak buku.
"Sakti memang membayar tagihannya. Tapi aku memiliki kuasa penuh untuk mencabut akses fasilitas medis itu detik ini juga." Ajkaro mengarahkan remotnya ke arah layar. "Aku bisa memerintahkan mereka mencabut seluruh peralatan penopang nyawa ibumu, dan membuangnya ke jalanan dalam waktu kurang dari satu jam."
[Mengkalkulasi Risiko Medis Subjek Ibu Busnah.]
[Peringatan Kritis: Pemutusan Perawatan Intensif Akan Menyebabkan Kegagalan Organ Dalam Kurun Waktu 24 Jam. Risiko Kematian: 99%.]
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Kepanikan meledak menghancurkan seluruh sisa pertahanan logikaku.
Sistem A.U.R.A tidak memberikan opsi jawaban atau skrip negosiasi. Logika mesin menemui jalan buntu ketika dihadapkan pada ancaman absolut dari pemegang kekuasaan yang memegang kendali atas nyawa manusia.
"Jangan berani-berani menyentuh ibu saya!" suaraku naik satu oktaf, menggema putus asa di dalam ruang kerja tersebut.
Ajkaro tersenyum puas melihat reaksiku. Pria itu menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, menikmati kehancuran mentalku.
"Pilihan ada di tanganmu, Tera. Sangat sederhana," ucap Ajkaro dengan nada tenang yang mematikan. "Ambil cek itu, tinggalkan Sakti, ajukan surat pengunduran dirimu hari ini juga. Sebagai imbalannya, ibumu akan mendapatkan perawatan medis terbaik di negara ini hingga sembuh total."
Ajkaro menatapku dengan kekejaman yang merobek seluruh harapanku.
"Atau kau bisa memilih bersikap keras kepala mempertahankan cinta konyolmu itu. Lalu saksikan sendiri ibumu mati perlahan tanpa pertolongan medis, sementara karir pria yang kau cintai hancur berkeping-keping."
Keheningan mencekam menguasai ruang kerja bernuansa kayu jati tersebut.
Hanya terdengar detak jarum jam dinding berukuran besar yang seolah menghitung mundur sisa kewarasanku.
Aku menatap cek bernilai lima puluh miliar di atas meja. Kemudian aku menatap layar televisi yang menampilkan wajah Ibuku yang pucat namun damai.
Wajah Sakti terlintas di dalam benakku. Sentuhan tangannya yang hangat saat membawaku menembus badai di acara galeri. Cara pria itu melindungiku tanpa peduli pada keselamatannya sendiri.
Aku tidak bisa membiarkan Sakti kehilangan perusahaannya karena diriku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Ibuku mati.
Tanganku gemetar. Aku melangkah maju dan meraih cek di atas meja itu.
Ajkaro tersenyum semakin lebar, mengira ia telah memenangkan pertempuran ini dan berhasil membeliku.
Namun, aku mengangkat kedua tanganku ke udara. Aku mencengkeram kedua sisi kertas berharga tersebut, dan merobek cek itu tepat di depan wajah Ajkaro.
Suara robekan kertas terdengar sangat nyaring. Aku merobeknya berulang kali hingga menjadi serpihan kecil, lalu menjatuhkannya berhamburan ke atas meja kerjanya.
Senyum di wajah Ajkaro menghilang seketika. Raut pria itu berubah menjadi sangat murka.
"Saya menolak uang Anda," ucapku dengan suara yang bergetar hebat, dipenuhi oleh sisa-sisa harga diri yang kutegakkan paksa dari kehancuran batinku.
"Kau berani menantangku?!" bentak Ajkaro marah.
"Saya tidak akan menjual diri saya dengan uang Anda. Saya bukan pengemis," balasku tajam, menatap lurus ke dalam matanya. "Namun, Anda benar. Saya tidak memiliki kekuatan politik atau finansial untuk melawan kekuasaan Anda yang sanggup merenggut nyawa ibu saya."
Aku menekan ujung kukuku ke telapak tangan hingga terasa perih, menahan laju air mataku.
"Saya akan menjauhi Pak Sakti. Saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya. Bukan karena saya tunduk pada uang Anda," ucapku dengan rasa muak yang sangat pekat. "Melainkan karena saya tidak akan membiarkan pria sebaik Sakti hancur di tangan seorang ayah yang sama sekali tidak memiliki hati nurani."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku memutar tubuhku dengan gerakan cepat.
Aku melangkah menuju pintu keluar ruangan berkayu jati tersebut. Aku menolak memberikan kepuasan pada Ajkaro dengan melihatku hancur dan mengemis di hadapannya. Aku menjaga langkah kakiku tetap tegak dan mantap, menahan beban berton-ton yang kini menimpa pundakku.
Para pengawal di luar membuka pintu untukku, membiarkanku melintas pergi meninggalkan kediaman mewah tersebut.
Namun, begitu aku berhasil keluar dari gerbang utama rumah itu dan melangkah ke trotoar jalanan yang sepi, pertahanan batinku runtuh tak bersisa.
Air mataku menetes deras tanpa bisa kutahan lagi. Dadaku terasa diremukkan oleh batu raksasa. Napasku sesak menyadari bahwa aku harus meninggalkan pria yang baru saja mengutarakan cintanya padaku.
Aku menolak uang itu tegas demi harga diriku, meski hatiku hancur meratapi ancaman terhadap karier dan keselamatan Sakti.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?