NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Notif dari lucas

Ting.

Suara notifikasi pendek itu terdengar nyaring di keheningan kamarku. Jantungku langsung melonjak. Aku menoleh cepat ke arah ponsel yang tergeletak di atas kasur. Layarnya menyala, menampilkan nama pengirim yang membuat napasku tercekat: Lucas.

Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel itu. Jari-jariku hampir licin karena keringat dingin saat membuka pesan tersebut.

Lucas: Samudra lagi ada meeting lama ya, kamu kesinilah. Ini pesan dari Lucas. Aku melihat Sherlock yang ia kirim. cafe XX2.

Aku membaca pesan itu dua kali. Otakku bekerja keras mencerna informasinya.

Samudra lagi meeting lama. Konfirmasi bahwa dia aman jauh dari sini.

Kamu kesinilah. Undangan bertemu.

Sherlock... Cafe XX2. Lokasi pertemuan.

Cafe XX2. Itu adalah kafe kecil yang dulu aku pernah kesana bersama Vina dan Bagus. Cafe itu tersembunyi di ujung jalan utama, dekat dengan perbatasan kawasan elit dan permukiman biasa. Tempat itu jarang dikunjungi orang-orang kaya seperti lingkaran Samudra, jadi relatif aman dari mata-mata mereka.

Ini adalah kesempatan emas.

Satu-satunya kesempatan di mana Samudra sibuk, Ibu pergi ke mall, dan rumah sepi. Jika aku tidak mengambilnya sekarang, aku tidak tahu kapan lagi aku bisa keluar tanpa pengawasan ketat.

Rasa takut masih ada, tentu saja. Tapi rasa ingin tahu dan kebutuhan akan dukungan manusia lain jauh lebih besar. Aku butuh teman. Aku butuh sekutu. Dan Lucas... dia satu-satunya orang yang tahu sebagian dari kebenaranku.

"Aku harus cepat," bisikku pada diri sendiri.

Aku segera bersiap-siap. Tidak banyak waktu.

Ganti Pakaian. Aku melepas gaun rumah yang longgar dan menggantinya dengan jeans sederhana dan kaus polos berwarna gelap. Topi baseball hitam kupakai untuk menutupi sebagian wajahku. Kacamata hitam juga kuselipkan di saku. Penampilan yang biasa, tidak mencolok, mudah hilang dalam kerumunan.

Uang Tunai. Aku mengambil dompet kecil dari laci meja rias. Isinya uang tunai cukup untuk transportasi dan jajan di kafe. Aku menghindari menggunakan kartu kredit atau debit yang bisa dilacak oleh Samudra.

Ponsel. Aku memasukkannya ke dalam saku celana. Penting untuk komunikasi, tapi berisiko jika disadap. Aku akan mematikannya setelah sampai di lokasi, hanya menghidupkannya saat benar-benar perlu.

Jalur Keluar. Pintu depan terlalu berisiko. Ada kamera CCTV di gerbang utama yang pasti dipantau oleh tim keamanan Samudra, bahkan jika Om Budi sedang mengantarkan Ibu. Aku harus menggunakan jalur belakang.

Aku mengingat pesan ancaman semalam atau mimpiku? "Kunci cadangan untuk pintu belakang taman."

Apakah itu petunjuk? Atau jebakan?

Aku memutuskan untuk mengambil risiko. Pintu belakang taman biasanya kurang dijaga karena dianggap tidak strategis. Dan jika Samudra memang meninggalkan kunci di sana, artinya dia mengizinkan akses tertentu, atau mungkin itu cara dia menjebakku?

Tidak, aku tidak punya pilihan lain. Pintu depan terlalu terang-terangan.

Aku berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar, memastikan tidak ada suara. Lalu, aku menuruni tangga belakang, tangga servis yang biasanya digunakan pembantu. Lantai kayu tua berderit pelan di bawah kakiku, membuatku menahan napas setiap langkah.

Sampai di lantai dasar, aku mengarah ke dapur. Dapur sepi. Bi Inem sepertinya sedang istirahat atau ada di luar. Aku mengintip melalui jendela dapur ke arah taman belakang.

Taman itu luas, dengan pagar tinggi yang ditumbuhi tanaman merambat. Di sudut paling jauh, dekat dengan gudang alat berkebun, terlihat pintu kayu kecil yang mengarah ke jalan tikus belakang kompleks.

Aku membuka pintu dapur perlahan, lalu berlari kecil menyeberangi halaman rumput. Rumput basah menyentuh sepatuku, tapi aku tidak peduli. Aku mencapai pintu kayu kecil itu.

Terlocked.

Aku mencoba gagangnya. Terkunci rapat.

Panik mulai merayap. Apakah aku salah? Apakah ini jebakan?

Tiba-tiba, aku teringat pesan Lucas: "Sherlock..."

Sherlock Holmes. Detektif. Mengamati detail kecil.

Aku menunduk, memeriksa area sekitar gagang pintu. Di balik pot bunga besar yang diletakkan sembarangan di samping pintu, terlihat sesuatu yang berkilau sedikit.

Aku mengangkat pot itu.

Di bawahnya, tergeletak sebuah kunci emas kecil dengan gantungan berbentuk ular.

Kunci yang sama persis seperti dalam "mimpi" burukku semalam.

Jadi itu bukan mimpi. Samudra sengaja meletakkannya di sana. Dia mengetahui aku akan mencoba kabur. Dia mengizinkan aku pergi.

Ini adalah permainan kucing-kucingan. Dia memberi aku tali, membiarkanku merasa bebas, hanya untuk menariknya kembali nanti dengan lebih kuat.

Tapi aku sudah terlanjur di titik ini. Jika aku kembali, aku akan terlihat mencurigakan. Jika aku pergi, aku masuk ke dalam perangkapnya.

Namun, bertemu Lucas adalah risikoku sendiri. Mungkin Lucas bisa membantuku memahami maksud semua ini.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil kunci itu. Logamnya dingin. Aku memasukkannya ke lubang kunci.

Pintu terbuka.

Angin segar dari luar menerpa wajahku. Jalan tikus di belakang kompleks sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Aku melangkah keluar, menutup pintu kembali, dan menyembunyikan kunci itu di saku celanaku.

Sekarang, aku bebas. Untuk sementara waktu.

Aku berjalan cepat menuju jalan utama, mencari ojek online yang bisa mengantarku ke Cafe XX2 tanpa bertanya banyak hal.

Cafe XX2 ternyata lebih ramai dari yang kubayangkan. Aroma kopi panggang dan suara obrolan pelan pengunjung lainnya menciptakan suasana yang jauh berbeda dari keheningan mencekam di rumah Samudra. Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, aku melihat sosok itu.

Lucas.

Dia sudah duduk di sana, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang ramping. Wajahnya tetap seperti biasa: dingin, datar, dan sulit dibaca. Matanya yang tajam menatap ke arah luar jendela, seolah tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Tapi saat aku mendekat, dia menoleh. Tatapannya bertemu denganku, dan untuk sesaat, ada kilatan sesuatu di matanya, kelegaan? Kepedulian? Atau hanya ilusiku saja?

Aku segera bergegas menghampirinya, jantungku masih berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena adrenalin setelah berhasil "kabur" dari rumah.

"Aku di sini," ucapku pelan saat mencapai mejanya. Aku langsung duduk di hadapannya, napasku masih sedikit tersengal.

Lucas mengangguk singkat. Dia tidak tersenyum, tapi dia mendorong sebuah gelas es kopi susu ke arahku. "Minum dulu. Kamu terlihat pucat."

Aku meraih gelas itu, rasa dinginnya menyejukkan telapak tanganku yang berkeringat. "Ada apa, Lucas? Kenapa kamu memintaku datang mendadak?" tanyaku, mencoba terdengar tegas meski suaraku bergetar halus. Aku mengharapkan informasi penting. Mungkin dia menemukan sesuatu tentang Samudra. Mungkin dia punya rencana penyelamatan.

Lucas menatapku lekat-lekat. Ekspresinya tetap dingin, tapi nada suaranya melunak sedikit. "Kamu butuh keluar, bukan? Menyejukkan hati dan pikiranmu. Jadi, aku mengajakmu ke sini."

Aku terdiam. Menatapnya dengan bingung.

"Itu saja?" tanyaku, merasa sedikit kecewa sekaligus lega. "Aku kira kamu menyuruhku ke sini untuk hal penting. Ternyata... hanya sekadar mengajak ngopi berdua?"

Lucas mengangkat satu alisnya, ekspresi khasnya yang sering membuatku kesal sekaligus terpikat. "Apakah 'sekadar ngopi' bukan hal penting bagimu, Angel? Kapan terakhir kali kamu minum kopi tanpa merasa diawasi? Kapan terakhir kali kamu bisa bernapas lega tanpa memikirkan amplop foto atau tatapan menjijikkan?"

Pertanyaannya menohok. Dia benar. Dalam beberapa minggu terakhir, setiap hembusan napasku diwarnai ketakutan. Lupa rasanya menjadi diri sendiri. Lupa rasanya menikmati hal-hal sederhana.

Aku menunduk, menatap cairan cokelat dalam gelasku. "Kamu benar," bisikku. "Terima kasih, Lucas."

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengambil sip kopinya sendiri, lalu kembali menatapku. "Ceritakan padaku. Apa yang terjadi semalam? Kamu terlihat sangat tertekan saat chat terakhir kita."

Aku menarik napas dalam-dalam. Ini saatnya. Aku harus bercerita. Tapi seberapa banyak yang boleh kukatakan? Jika Lucas tahu betapa bahayanya Samudra, dia mungkin akan terlibat lebih dalam. Dan aku tidak ingin membahayakannya.

"Semalam..." aku mulai, suaraku rendah. "Dia... Samudra... dia semakin agresif. Dia tahu aku berkomunikasi dengan seseorang. Dia mengancam akan melakukan sesuatu pada Ibu jika aku tidak patuh."

Mata Lucas menyipit. Dinginnya berubah menjadi tajam. "Mengancam ibumu? Dengan apa?"

"Dengan rahasia masa lalu kami," jawabku gelisah. "Dia bilang dia tahu sesuatu tentang masa laluku di pasar. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya."

Lucas diam sejenak, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme lambat. Pikiran sepertinya bekerja keras di balik wajah dinginnya itu.

"Rahasia masa lalu..." gumamnya. "Angel, apakah ada sesuatu dari masa kecilmu yang belum pernah kamu ceritakan padaku? Sesuatu yang mungkin memalukan, atau berbahaya?"

Aku menggeleng cepat. "Tidak! Tidak ada. Hidup kami dulu susah, tapi biasa saja. Ayah kandungku menghilang, Ibu bekerja serabutan... itu saja."

Lucas menatapku dalam-dalam, seolah mencari kebohongan di mataku. "Yakin?"

"Yakin," jawabku tegas.

Dia menghela napas, lalu bersandar di kursinya. "Kalau begitu, ini bukan tentang masa lalumu, Angel. Ini tentang dia. Samudra sedang mencari celah. Dia sedang mencoba memecah pertahanan mentalmu dengan ketakutan yang tidak jelas. Itu teknik manipulasi klasik."

Aku terdiam. Manipulasi? Jadi ancamannya kosong?

"Tapi... bagaimana kalau dia benar-benar tahu sesuatu?" tanyaku ragu.

"Maka kita akan cari tahu bersama," kata Lucas tiba-tiba. Suaranya rendah, tapi penuh tekad. "Jangan hadapi ini sendirian. Aku akan membantumu menggali informasi tentang Samudra. Siapa dia sebenarnya? Dari mana uangnya? Dan apa hubungannya dengan masa lalumu."

Rasa haru menyelimuti dadaku. Di tengah kegelapan yang mengepungku, Lucas adalah satu-satunya cahaya yang konsisten. Dia tidak menjanjikan keselamatan instan, tapi dia menawarkan kebersamaan.

"Terima kasih, Lucas," ucapku lagi, kali ini dengan air mata yang mulai menggenang.

Lucas mengulurkan tangannya di atas meja. Bukan untuk memegang tanganku, tapi untuk menepuk punggung tanganku sekilas. Sentuhan singkat yang hangat.

"Jangan takut," katanya. "Selama aku ada di sini, dia tidak akan bisa menyentuhmu. Kita akan mainkan permainannya. Tapi kali ini, dengan aturan kita."

Aku mengangguk, merasa sedikit lebih kuat. Kopi di depanku mulai habis, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, rasa pahitnya terasa nikmat.

Tapi di balik ketenangan palsu ini, aku tahu waktu terus berjalan.

Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!