Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 12
Pagi hari yang mungkin begitu cerah bagi Tranaka Rudolf, karena setelah kejadian semalam dia langsung bisa tidur nyenyak di Apartemennya, bahkan Daddy nya tak mencari ataupun menanyakan keberadaan nya.
Namun berbeda bagi Alensky yang masih kesal akan nasib nya saat ini, bahkan sekarang harus berada dalam mobil yang sama dan hanya beberapa Centi dari laki-laki yang ingin sekali di hindari.
"Ingat, sebentar lagi kita langsung menuju ke ruang Dekan" ucap Tranaka sambil mengemudi kan mobil Alensky yang disita.
"Iya, dan semuanya gara-gara kamu, awas saja kalau hal ini sampai ke telinga Oma ku, habis kau Tranaka" sahut Alensky dengan semua kekesalannya.
Bukannya ikut prihatin, Tranaka justru menunjukkan senyuman, manis memang jika tidak se brengsek itu kelakuannya, batin Alensky.
"Memangnya apa yang terjadi jika Oma mu tau?" Penasaran juga Tranaka.
"Kita langsung kawin" jawab Alensky cepat.
"Sepertinya menarik"
"What?!, jangan macam-macam!" Teriak Alensky lalu melayangkan pukulan ke lengan Tranaka berkali.
"Hei, hentikan, kita bisa celaka!" Teriak Tranaka yang tak menyangka jika kata-katanya memberi efek mengerikan pada wanita di sebelahnya, "Kau ini seperti singa" lanjut Tranaka.
"Dan kau seperti kambing congek yang pengen aku terkam kapan saja, dasar brengsek"
"Apa sih, siapa yang brengsek, enak saja kalau ngomong" Tranaka membela dirinya.
"Oh, lalu apa kalau bukan brengsek, seenaknya saja menyita mobilku, memberikan persyaratan satu milyar yang gak masuk akal, lalu menjebak ku dalam drama perjodohan sialan kalian, apa itu namanya?!" Teriak Alensky melampiaskan kemarahan yang sempat terpendam.
"Sudah diam, kita sampai di Kampus, dan jangan banyak tingkah karena kita akan jadi sorotan, bersikap wajar saja"
"Wajar kepala mu!"
"Alensky?!" Tranaka memperingatkan dengan tatapan tajam.
"Mau aku colok matamu?" Alensky tidak suka sama sekali.
"Dengar, kau ingin lulus dari sini tanpa kesulitan apapun kan?, jadi mulai saat ini kita jadi sepasang kekasih dan mereka tak akan berani menyentuh mu, mengerti?"
"Sinting!"
"Mengerti Alensky?" Sekali lagi Tranaka menekan kan kata-katanya.
"Kalau aku tidak mau?"
"Kau harus mau, atau akan terjadi hal-hal buruk di luar nalarmu jika sampai kau tidak menuruti perkataan ku"
"Kau mengancam ku?"
Ini memang tidak akan mudah, berbicara dengan gadis satu ini memang harus banyak sabar nya, dan Tranaka menghela nafas pelan berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Begini, dengar kan aku baik-baik, kalau kau tak mengikuti kata-kata ku, musuh mu bukan hanya Meriya dan kelompoknya yang hampir setengah dari siswi di kampus ini, tapi juga aku, dan kau tau apa artinya itu?"
"KAU _!"
"Diam, dan keluarlah" Tranaka sudah tak sabar lagi dan segera membuka pintu mobilnya
Persis seperti yang di katakan, semua mata kini menatap ke arahnya, Alensky yang merasa risih mulai mengurangi langkahnya untuk berada di belakang Tranaka, tapi sayang, tangan itu segera menariknya.
"Cepatlah, jalan mu seperti keong" ucap Tranaka.
"Kau saja duluan, aku belakangan"
"Aku ingin kita berdua sampai di ruang pak Dekan barengan"
"Ck" Alensky hanya berdecak kesal.
Pintu di ketuk pelan, lalu Alensky masuk di susul oleh Tranaka di belakang nya.
"Maaf, untuk kamu Tranaka, bisa keluar dan mengikuti mata perkuliahan saja, silahkan"
Alensky terkejut tak percaya, ingin sekali rasanya memiting leher pak Dekan saat ini juga, tapi sayang, tak mungkin juga di lakukan nya.
"Tidak, saya disini sampai kalian selesai" jawab Tranaka dengan gaya santai nya, sialan memang, batin Alensky yang melihatnya.
"Oh baiklah, silahkan duduk kalau begitu" pakai di persilahkan pula, membuat Alensky makin kesal, kenapa perlakuan nya sangat berbeda, batinnya.
Akhirnya Alensky mendengarkan beberapa peraturan yang di jelaskan, cukup membosankan namun juga membuat kesal di akhir kalimatnya.
"Tunggu, kenapa aku saja yang salah, dia juga kan?" Tanya Alensky yang merasa aneh saat ini.
"Begini, kalian memang melakukan kesalahan, tapi dari bukti-bukti yang di berikan oleh banyak mahasiswi lain, bukan Tranaka, tapi kamu yang menggoda dan menjebaknya"
"APA?!"
Sumpah, ingin sekali Alensky membumi hanguskan kampus ini sekarang juga, seandainya saja dia lepas dari kewarasannya.
"Jadi apa hukumannya?" Tanya Tranaka dan sukses membuat Alensky Ingin mencekiknya, kanapa yang di bahas jenis hukumannya, kenapa tidak masalah yang hanya dirinya saja harus menerima hukumannya.
"Ini tidak adil!" Teriak Alensky.
"Maaf Nona Alensky, tolong jaga sikap anda"
"Apa yang harus aku jaga, kalian seenaknya berbuat tidak adil padaku, dia yang berbuat onar, kenapa justru aku yang disalahkan disini, otak bapak masih waras kan?"
"Nona Alensky!"
"Aku tidak terima pak!"
"Kami sudah melakukan investigasi, tidak asal mengambil bukti"
"Investigasi apa, bukti sialan kalian!"
"Alensky!"
"Aku tidak peduli!" Teriak Alensky makin tak terkendali, hingga akhirnya _
"Dia kekasih ku, kami punya hubungan serius, jadi anggap saja masalah ini tidak pernah ada, apa bapak mengerti?"
"APA?"
"Kami akan keluar dan mengikuti perkuliahan, tolong jangan berani lagi mengganggunya, dia tanggung jawab saya" ucap Tranaka lagi.
"Apa kamu serius Tranaka?" Pak Dekan masih tidak percaya.
Lalu satu anggukan di berikan, dan Tranaka mengambil tangan Alensky untuk di bawa keluar dari ruangan, tak peduli dengan Pak Dekan yang terlihat masih shock di tempatnya.
Tranaka masih memegang tangan Alensky hingga sampai di kelasnya, tidak ada perbincangan apapun setelah kejadian di ruangan pak Dekan, hingga akhirnya terdengar suara yang mempersilahkan mereka berdua masuk ke kelas untuk mengikuti mata kuliah pagi ini.
"Kalian benar-benar jadian?" Bisik Galen pelan setelah Tranaka duduk di sebelahnya.
"Hem"
"What the hell, apa yang terjadi, dia hamil?"
Plak
Tangan Tranaka berhasil mendarat tepat di kepala Vito yang menempatkan pertanyaan gilanya.
"Kalian diam dan jangan banyak bicara" Tranaka memberikan perintah nya, dan kedua temannya itu tau jika Tranaka mungkin cukup lelah hari ini.
Alensky kini terdiam dan berusaha untuk berkonsentrasi, masalah dengan Tranaka sudah cukup menyita kerja otaknya, namun baru saja tenang sesaat, tiba-tiba saja kursinya bergeser pelan mendekat.
"Hentikan Naka!" Bisik Alensky memberi peringatan pada Tranaka yang menarik kursinya untuk lebih dekat lagi.
Vito dan Galen hanya melihat sekilas, walau terkejut tak melakukan apapun, justru ada senyuman tipis keduanya yang terlihat oleh Alensky, dasar!.
Akhirnya Alensky hanya membiarkan saja, yang penting dia bisa mengikuti perkuliahan dengan tenang saat ini, perkara kaki Tranaka yang kini membelit kakinya, nanti saja urusannya, Alensky sudah punya rencana untuk menghajar nya.
Di luar sana, hampir semua mahasiswa membicarakan mereka berdua, kabar mengejutkan dimana banyak mata yang melihat bagaimana Tranaka menggandeng tangan Alensky saat berjalan menuju ke kelasnya.
Sementara itu, ada wanita yang tengah menahan semua amarahnya, meremas kertas yang ada di atas mejanya dan berjalan keluar tiba-tiba.