NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Gak Boleh Ada yang Tau!

Kemudian.

Di kelas, Moiro dan yang lainnya sedang mengikuti pelajaran.

Moiro yang mencoba fokus sempat melirik pada Mika yang terus terlihat bertingkah aneh di depannya, bahkan dari jam pelajaran pertama.

Pundak Mika terus bergerak kecil tanpa henti.

Moiro bingung mengapa dia seperti itu. Itu terlihat aneh baginya.

Sementara itu, yang sebenarnya terjadi adalah, Mika sedang membayangkan dirinya berkencan dengan Moiro.

Dia memegang kedua pipinya dengan lembut. Tubuhnya digerakkan pelan sambil terus membayangkan momen-momen romantis bersama Moiro.

"Aku kencan dengan Asahi? Aku gak nyangka bakal kayak gini...!" jeritnya dalam hati kegirangan. Rahangnya sampai terasa keram karena terlalu tersenyum.

"Meski Yamaguchi kadang bikin kesal, tapi kali ini aku maafin, deh," lanjutnya sambil terus tersenyum senang. Pipinya tampak merah samar.

Di belakangnya, Moiro berusaha tak menghiraukannya. Ia mencoba untuk kembali fokus ke pelajaran yanh sedang berlangsung.

Beberapa kata ia tulis di buku, sampai dirinya kembali terganggu dengan suara aneh dari sampingnya.

Moiro melirik, dan menemukan Ryuji sedang memainkan ponsel.

Tatapan Moiro semakin datar. Ia tak menyangka kalau Ryuji seberani itu.

Alumni ruang BK itu, makanya berani.

Sekolahnya memang memperbolehkan para muridnya untuk membawa ponsel, tetapi benda itu tak boleh digunakan saat pelajaran, kecuali mendapat izin dari guru. Tapi setan itu malah menggunakannya saat pelajaran berlangsung.

.........

Bel berbunyi, menandakan pelajaran selesai, sekaligus berakhirnya waktu sekolah.

Guru di depan langsung berdiri dan berkata, "Baiklah, anak-anak. Pelajaran sudah selesai, dan kalian diperbolehkan pulang. Tapi yang piket hari ini bisa tinggal dulu, kerjakan kewajiban kalian."

"Baik!" jawab para murid serempak.

Moiro terdiam saat itu. Ia belum selesai mencatat semua yang ada di papan tulis.

Ia sempat menatap hampa ke bukunya...

Hening sejenak.

Tatapannya tiba-tiba menajam dan serius.

Ia langsung mencatat semuanya secepat kilat. Tulisan seperti cakar ayam atau cacing terpenggal pun tak masalah.

Ini mah lebih ngebut dari mode SKS (sistem kebut semalam)!

Akhirnya selesai.

Moiro menatap bukunya, dan melihat corat-coret yang sedikit rapi. Ia merasa cukup bangga dengan itu.

Ia menatap ke depan, sudah tak melihat guru yang mengajar dan sebagian murid yang lain. Kelas mulai kosong dan menyisakan beberapa murid saja.

Moiro mulai membereskan mejanya. Buku, pulpen, dan alat lainnya ia masukkan ke dalam tas.

Namun dirinya tiba-tiba dipanggil oleh Ryuji saat masih bebereskannya.

"Oy, Moiro."

Moiro menoleh, wajahnya masih ia paksa agar terlihat datar meski sebenarnya sangat malas.

Ryuji mengarahkan layar ponsel yang dipegang padanya, "Liat nih! Aku nemu kafe bertema maid di sekitar sini!"

Moiro terkejut. Matanya membelalak seketika.

Ryuji melanjutkan sambil tersenyum canggung, "Yaaa... Gimana kalo kapan-kapan kita pergi—"

Wus!

Ponselnya segera diambil Moiro.

"Woi, jangan ambil sembarangan! Kalo jatuh gimana?!" teriak Ryuji yang terkaget.

Moiro diam, tak membalas. Ia menatap dalam-dalam ke arah layar ponselnya Ryuji, sampai matanya membelalak lebar. Tangannya mulai gemetar ringan.

"Ini..." tatapan Moiro mulai kosong, "Gak mungkin..."

Melihat ekspresi ketakutan darinya membuat Ryuji bingung dan seketika bertanya, "Moiro? Kau kenapa?"

Moiro mengeraskan rahangnya, menatap penuh rasa cemas dan takut pada gambar kafe yang ada di layar ponsel Ryuji.

"INI KAN KAFE TEMPATKU KERJA!" teriaknya dalam hati.

Nah loh! Mampu-s, wkwkk.

Moiro menoleh tajam pada Ryuji.

Layar ponselnya diarahkan cepat padanya, lalu berseru dengan nada yang dibuat berat, "Kau ngapain nyari beginian...?"

Suara Moiro terdengar penuh intimidasi dan amarah yang mulai meluap.

"Eh? Kenapa dia tiba-tiba jadi gini?" pikir Ryuji yang merasa disudutkan dan ditekan oleh Moiro. Dirinya mulai berkeringat dingin.

Ryuji segera batuk ringan yang disengaja—sambil menutup mulut dengan satu tangan yang dikepal—kemudian menjawab, "Aku cuma bantu nyariin tempat kalian ken— maksudku, tempat kalian berdua jalan-jalan."

Tangannya diturunkan perlahan, memperlihatkan senyum miring yang dipaksakan di tengah rasa takut, "Aku tau kalo Mika belum nentuin mau pergi ke mana, soalnya abis ngasih wacana, teman-temannya langsung berhalangan. Jadi, aku ambil inisiatif..."

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ryuji kembali terdiam. Bola matanya mulai melebar dipenuhi rasa takut.

"Jadi kamu benar-benar membaca pesan di ponselku, ya...?" ucap Mika yang tiba-tiba datang dengan nada yang rendah. Aura mencekam keluar darinya.

Mika mendekat dan berdiri menghadap Ryuji, bertepatan di samping Moiro. Keduanya memberi intimidasi yang kuat padanya.

Ryuji menelan ludah, lalu menoleh ke samping, "I-Itu..."

"Yamaguchi...!" suara seorang perempuan terdengar memanggil nama itu, memotong rasa takut yang mengikat Ryuji.

Ryuji langsung menoleh ke asal suara, begitu juga dengan Moiro dan Mika.

Di sana, mereka melihat si Ketua kelas berkacamata sedang berkacak pinggang. Tatapannya terlihat tajam di belakang kacamata bulatnya.

Dia mendekat, lalu menjewer telinga Ryuji tiba-tiba, "Bukannya kamu piket hari ini? Kenapa kamu malah diam di sini? Untung hari ini kamu gak kabur kayak sebelum-sebelumnya!"

Ryuji hanya bisa merengek sambil meminta maaf padanya, sambil berusaha melepas cubitan di telinganya.

Ketua kelas melepaskan cubitan di telinga Ryuji yang kini menjadi merah. Sementara Ryuji memegangi telinganya sambil bersedih.

Ketua kelas menghadap pada Moiro dan Mika, lalu membungkuk singkat, "Terima kasih sudah menahannya."

Mika membalas sambil tersenyum, "Tidak apa-apa... Sejujurnya, aku sempat lupa kalau hari ini dia piket."

Ketua kelas hanya tersenyum, membalas senyuman yang diberikan Mika padanya.

Dia menoleh, pada Moiro yang masih memasang wajah datar, lalu kembali membungkuk, "A-Asahi juga, terima kasih."

Moiro menjadi bingung. Ini pertama kalinya ketua kelas bicara dengannya.

Ketua kelas kembali menatap Ryuji, dan menemukan dia sedang berjinjit menjauh dengan perlahan.

Bahkan setelah ketahuan oleh Ketua kelas, dia malah tersenyum.

Ketua kelas diam sambil berkacak pinggang, lalu mendekat dan menggenggam pergelangannya, menyeretnya untuk segera melakukan tugas piket.

"Moiro... Mika...! Bantu aku...!" seru Ryuji yang diseret menuju papan tulis. Wajahnya terlihat sedih yang dilebih-lebihkan.

Sempet-sempetnya kayak gitu.

Moiro dan Mika hanya diam melihat Ryuji diseret. Mika sempat melambaikan tangannya sambil tersenyum, tampak sengaja dengan niat mengejek.

Ryuji langsung membalas, "Teganya kau begitu. Nanti kukasih tau rahasia itu pada Moiro...!"

Pipi Mika sontak memerah.

"Diamlah! Jangan macam-macam kamu, dasar Setan!" sahutnya kesal.

Yeah! Dasar setan!

"Rahasia?" tanya Moiro sambil menatap Mika.

Mika menoleh dan segera menjawab dengan panik, "T-Tidak... Tidak ada..."

"Gitu, ya...?" balas Moiro pelan, lalu kembali menatap lurus.

Ia pun menatap tangannya karena ponsel Ryuji masih ia pegang, dan seketika Moiro kembali teringat kalau di ponsel itu masih ada gambar kafe tempatnya bekerja.

Dengan panik, ia segera menyalakan dan menghapus pencarian itu secepat kilat.

Moiro meletakkan ponsel Ryuji di atas meja lalu menghela napas lega.

Mika di sebelahnya menjadi bingung. Ia mendekat dan langsung bertanya dengan polos, "Kenapa itu barusan?"

Moiro terkejut dan langsung menjawab, "B-Bukan apa-apa. Sungguh..."

Mika diam sejenak. Matanya mengerjap cepat.

"Moiro panik?" batinnya, lalu tersenyum tipis, "Baru kali ini aku liat dia begini."

Senyuman tipis memanjang di bibirnya. Lengannya dilipat ke belakang sambil sedikit membungkuk miring, "Eeeh...? Kamu yakin, Asahi? Gak ada yang disembunyiin, kan?"

Moiro semakin panik dan khawatir, "Te-Tentu aaja tidak..."

Matanya melirik ke arah ponsel Ryuji, "Aku hanya..."

"Imutnyaa..." pikir Mika sambil tersenyum manis, "Aku jadi makin penasaran."

"Ayolaaah~" Mika semakin mendekat, mencoba menggodanya.

Ia pun menoleh sekilas pada ponselnya Ryuji, "Kamu abis ngapain ponselnya?"

Moiro dengan cepat mengambil kembali ponsel Ryuji tanpa sadar, pipinya sedikit memerah karena malu, "I-Ini! Bukan..."

Mika malah semakin antusias ingin mengetahui sesuatu itu. Dia semakin mendekat dan memancing Moiro untuk mengatakannya, tapi Moiro tetap menolak dengan panik.

Sementara itu di dekat papan tulis, Ryuji tersenyum menatap mereka, "Mika udah mulai serius nih."

"Dan..." matanya melirik pada Moiro, "Ini pertama kalinya aku liat Moiro kayak gitu."

Tung.

"Aduh!" sentak Ryuji saat kepalanya terkena jurus dari ketua kelas—dipukul pelan menggunakan tangan bagian samping.

Yahaha. Gak fokus sih. Rasain.

"Matamu liat ke mana?" tanya Ketua kelas di sebelahnya, kemudian menunjuk ke arah papan tulis, "Cepat bersihkan itu."

"Iya, iya..." balas Ryuji dengan malas, lalu membersihkan papan tulis.

Ketua kelas kembali bertolak pinggang, lalu menatap ke arah Moiro dan Mika yang terlihat sedang bermain-main. Matanya mengunci pada Moiro dengan tatapan yang tajam dan sedikit menyipit.

Waduh, ada apa ini?

Ryuji melirik pada Ketua kelas dengan bingung, lalu menoleh pada Moiro dan Mika sekilas, kemudian kembali lagi mengarah pada Ketua kelas.

"Apa yang lagi dia pikirkan...?" pikir Ryuji sedikit bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!