NovelToon NovelToon
BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.

Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."

"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."

Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.

Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"

Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.

Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"

Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Suara mesin mobil Askar perlahan menghilang di ujung jalan, membawa serta satu-satunya perlindungan yang Miska miliki di rumah ini. Detik itu juga, senyum manis Bu Surya yang tadi seolah tak luntur sedikit pun, kini luruh seketika, digantikan oleh tatapan tajam yang menusuk hingga ke tulang. Ia meletakkan cangkir teh di meja dengan kasar, menimbulkan bunyi denting yang keras di ruang makan yang tadi masih hangat itu.

"Lihat ,sekarang dia sudah pergi, jadi nggak perlu lagi kamu berpura-pura menjadi menantu yang baik!" Bu Surya berdiri, menatap Miska dengan tatapan merendahkan, seolah wanita muda di hadapannya hanyalah debu yang tak pantas bersembunyi di lantai rumahnya.

"Kamu pikir dengan senyum manis dan pujian yang kuucap di depan anakku, kamu sudah menang? Jangan bermimpi, Miska. Selama kamu tinggal di rumah ini, kamu takkan pernah menjadi bagian dari keluarga kami. Kamu hanyalah beban yang harus kutanggung karena kebodohan anakku yang jatuh cinta pada orang sepertimu."

Miska menelan ludah, berusaha menahan agar suaranya tak bergetar. Ia berdiri perlahan, merapikan kursi yang tadi ia duduki.

"Saya tidak berpikir begitu, Bu. Saya hanya ingin berbuat baik, untuk Mas Askar dan untuk Ibu. Saya sudah melakukan semua pekerjaan rumah seperti biasa, memasak, membersihkan, menyapu..."

"Cukup dengan alasanmu itu!" potong Bu Surya tajam, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal. Aroma parfum mahal yang dipakai wanita itu kini terasa menyengat, membuat Miska ingin mundur.

"Pekerjaan rumah itu memang sudah kewajibanmu! Kamu pikir kamu tamu di sini? Kamu itu istri yang nggak punya apa-apa, nggak punya harta, nggak punya jabatan, nggak punya keturunan yang terhormat. Kalau bukan karena kebaikan anakku, mungkin sekarang kamu masih tinggal di gubuk reyot yang kotor itu!"

Kata-kata itu menghantam dada Miska lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia teringat rumah kecilnya yang sederhana, namun penuh kasih sayang, tempat orang tuanya bekerja keras dengan jujur dan kepala tegak. Ia ingin membela diri, ingin berkata bahwa kemiskinan bukanlah aib, bahwa kehormatan seseorang tak diukur dari harta yang dimilikinya. Tapi ia tahu, kata-kata itu hanya akan menjadi bahan bakar bagi kemarahan ibu mertuanya.

"Maaf, Bu," ucapnya pelan, memilih menunduk daripada membalas. "Saya mengerti. Saya akan bekerja lebih keras lagi agar Ibu puas."

"Puas? Kamu tanya kapan aku akan puas?" Bu Surya tertawa sinis, suara itu bergema di ruangan yang luas itu. "Selama kamu ada di sini, aku nggak akan pernah puas. Karena setiap kali melihat wajahmu, aku teringat bahwa anakku yang berdarah murni, cerdas, dan sukses itu justru memilih wanita rendahan sepertimu. Itu adalah aib bagiku, aib bagi keluarga kita!"

Ia berbalik, berjalan menuju ruang tengah sambil melemparkan perintah tanpa menoleh sedikit pun. "Sekarang jangan berdiri mematung seperti patung. Pergi ke dapur, cuci semua piring yang kotor Lalu sapu halaman, lap lantai hingga mengkilap, dan pastikan tidak ada satu pun sudut yang berdebu. Sebelum jam dua belas siang, semua harus selesai. Dan jangan lupa siapkan makan siang yang layak, bukan makanan sampah yang hambar seperti tadi pagi!"

"Baik, Bu," jawab Miska lirih, meskipun ia tahu bahwa makan pagi itu rasanya sudah sempurna, bahwa Askar pun memujinya. Namun ia tak berani membantah. Ia berjalan pelan menuju dapur, punggungnya terasa berat seolah memikul beban yang tak terlihat. Di dapur, ia berdiri sejenak di depan jendela yang menghadap ke halaman belakang, membiarkan udara pagi yang sejuk menyentuh wajahnya yang mulai terasa panas karena menahan tangis.

Air mata itu menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha menahannya agar tak jatuh. Menangis di sini hanya akan membuatnya terlihat lemah, dan Bu Surya pasti akan mengejeknya lebih tajam lagi. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, berusaha mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Sabar, Miska. Semua ini hanya sementara. Mas Askar mencintaimu, dan suatu hari nanti, Ibu pasti akan mengerti bahwa kau bukan orang jahat. Pikirannya berusaha menenangkan diri, meski jauh di lubuk hati, ia mulai meragukan kebenaran itu.

Ia mulai bekerja. Piring-piring dicuci hingga bersih mengkilap, lalu ia menyapu seluruh ruangan, melap lantai hingga pantulan cahaya tampak jelas di atasnya. Setiap kali melewati ruang tengah, ia selalu melihat Bu Surya duduk di kursi empuk sambil membaca majalah, sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan pengawas, seolah menunggu kesalahan sekecil apa pun untuk kembali memakinya.

Saat jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Miska berhenti sejenak untuk mengatur napas. Keringat mulai menetes di pelipisnya, punggungnya terasa pegal karena terus membungkuk. Namun sebelum ia sempat duduk sebentar, suara Bu Surya kembali terdengar dari ruang tengah, memanggilnya dengan nada tak sabar.

"Miska! Ke sini sekarang!"

Miska segera berjalan mendekat, menyembunyikan rasa lelahnya. "Ada apa, Bu?"

Bu Surya meletakkan majalahnya, menunjuk ke arah vas bunga di meja. "kamu nggak lihat bunga-bunga ini! Sudah layu dan jelek. cepat Ganti dengan yang baru dari taman belakang. Dan pastikan air di dalam vas tidak terlalu penuh, tak tumpah, dan kelopaknya sempurna. Aku tidak suka bunga yang terlihat tidak terawat."

"Baik, Bu, saya akan ganti sekarang juga."

"Dan satu hal lagi," tambah Bu Surya, menatapnya tajam. "Jangan ambil bunga yang biasa kusediakan untuk tamu penting. Ambil saja yang tumbuh di sudut belakang, yang nggak terlalu bagus. Karena bagimu, bunga yang biasa saja sudah lebih dari pantas, bukan?"

Kalimat itu seperti jarum yang menusuk jantungnya. Namun Miska hanya mengangguk patuh, berjalan menuju halaman belakang untuk mengambil gunting dan vas bunga tua. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, ia memilih bunga yang paling indah di sudut belakang itu, merangkainya dengan hati-hati agar terlihat cantik, meskipun ia tahu ibu mertuanya pasti akan mencari kesalahan di sana pula.

Saat ia kembali ke ruang tengah dan meletakkan vas bunga itu di meja, Bu Surya hanya melirik sekilas, lalu mendengus pelan.

"Hm, lumayanlah. Setidaknya kamu berguna sedikit . Sekarang siapkan bahan masakan untuk makan siang. Aku mau makan sayur bening dan ikan bakar. Pastikan ikannya segar, tidak ada bau amis, dan bumbunya meresap sempurna. Kalau sampai kurang sedikit kamu tahu sendiri akibatnya."

"Saya pastikan semuanya baik, Bu," jawab Miska lembut. Ia berbalik kembali menuju dapur, langkahnya tetap tegap meski hatinya terasa perih. Di dapur, ia bekerja dengan ketelitian penuh, memotong sayuran dengan rapi, membersihkan ikan hingga bersih, dan meracik bumbu dengan perasaan campur aduk—antara harapan agar kali ini diterima, dan kepasrahan bahwa tak peduli seberapa baik ia berusaha, pujian yang tulus dari ibu mertuanya hanyalah hal yang mustahil.

Sambil menunggu masakan matang, ia berdiri sejenak menatap pantulan dirinya di cermin lemari dapur. Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih memancarkan keteguhan. Aku akan bertahan, batinnya. Demi Askar, demi janji yang pernah kita ucapkan di depan penghulu. Aku bukan istri yang lemah, dan aku takkan menyerah begitu saja.

Namun di saat yang sama, ia tak menyadari bahwa kesabaran yang ia peluk erat-erat itu perlahan-lahan terkikis, dan rumah yang ia harapkan menjadi tempat pulang ternyata adalah medan perang yang tak pernah benar-benar berakhir. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, berlanjut dengan deretan perintah dan hinaan yang tak putus-putusnya, hingga bayangan matahari mulai condong ke barat, dan Miska bersiap untuk memainkan peran lain—menjadi istri yang tersenyum hangat saat suaminya kembali pulang, seolah tak ada satu pun luka yang baru saja ia terima.

BANTU LIKE DAN KOMENT YA🥺🥺

 

1
Ilfa Yarni
Happy ending aku suka
Ilfa Yarni
asyiiiiiiik miska mau menikah dgn arrangements syukuri kau askar hancur kay skr hahahah
Nuna_Pena: 😭😭😭🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
akhirnya,,,,,,, happy ending 😍😍😍
Nuna_Pena: hehhe.. makasi sudah selalu mampir say.
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
lihat Miska tersenyum sama laki-laki lain kamu marah,apa kabar kamu yg udah tidur dgn Rara di hotel berkali-kali, waras kau Askar??
Ilfa Yarni
semangat miska trus maju menggapai sukses
Nuna_Pena: semangat miska, semangat author smangat para pembaca hihihi..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
Nuna_Pena: aamiin...
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
setuju bu Diti 👍👍
Nuna_Pena: alhamdulillah..
total 7 replies
Ilfa Yarni
bersenang2lah dulu kalian skr sebelum karma menghampiri apa yg kau tanam itu yg akan kalian tuai tunggu aja jika Saat itu dtg aku akan tertawa
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭... setiap perbuatan pasti akan ada hasil mau itu baik atau buruk... di tunggu bab bab berikutnya..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
gk sabar lihat keberhasilan Miska, buat nampar wajah Askar dan ibunya
Nuna_Pena: sabar lah. kalau langsung berhasil cerita nya pendek dong.. 🤭..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
good job Miska 👍👍👍
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Nuna_Pena: aamiin,,, makasi sudah selalu mampir
total 1 replies
Ilfa Yarni
bagus aku Kira km msh terap bertahan drmh neraka itu mulai skr bahagia kan dirimu sendiri giatlah ber usaha Tuhan pasti akan ksh km Jln yg terbaik menuju kesuksesan awali harimu dgn bismillahTuhan tidak tidur apa yg ditanam itu yg akan kita tuai
Nuna_Pena: aamiin.. 🤭🤭..
total 1 replies
Ilfa Yarni
lah KNP msh tinggal Disana sin. KNP ga pergi AJ miska km kan udah. bisa usaha sendiri cari kosan kek.knp jg msh tinggal disitu
Nuna_Pena: balas dendam nya dengan cara lain🤭🤭🤭
total 3 replies
Heni Setiyaningsih
kpn up lg Thor
Nuna_Pena: udah up dua bab say.. hehe makasi sudah bertahan
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
maaf Thor,klo bisa Up nya setiap hari
Ade Chubi
awal cerita yg bagus walaupun tema cerita nya hampir sama dg cerita lain nya yg bertemakan perselingkuhan, tp cerita ini ada sisi yg bikin penasaran
Heny
Nama nya bisa suryati jd ratih
Ilfa Yarni
bagus miska truslah kembangkan dirimu sampe km sukses dari kehidupan askar dan rara di bawahmu buktikan km bis berdiri diatas kakimu sendiri mulai skr jgn lg km kerja kan pekerjaan rmh
Ade Chubi: readers itu lengah bangeut jika tokoh utama perempuan nya tidak menye menye😁
total 2 replies
Ilfa Yarni
wah lega skali Thor puas aku nah gitu dong miskajadilah wanita just Dan hebat aku suka miska yg begini lanjut
Nuna_Pena: kasihan askar bisa2 masa depannya metong
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Nuna_Pena: aamiin... makasi selalu setia mengikuti 😁😁
total 1 replies
Ilfa Yarni
hadeh msh berharap aja semoga dgn kau melihat perbuatan suami km km sadarvtidak lg jadi perempuan bodoh jgn lupa kn foto in a tau videoin apa yg suami km lakukan udah beli hp bars blom km miska itu nanti buat bukti km lho
Ade Chubi: harap maklum readers kebanyakan gak sabaran 😁😂
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!