NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantang Sang Penguasa Kampus

“Mereka itu pada kenapa, sih? Ngeliat orang ganteng aja sampai harus heboh dan desak-desakan kayak gitu,” gumamku pelan sambil menggelengkan kepala, mengalihkan perhatian kembali ke buku pengantar bisnis di hadapanku.

Di koridor utama lantai tiga, suasana mendadak riuh. Tiga pria berjalan berdampingan, memancarkan aura dominasi yang membuat seluruh perhatian tersedot pada mereka.

Di posisi paling depan, melangkah Varro Aldrian Wijaya. Ketua geng motor ‘Starlit’ berpostur 183 sentimeter yang terkenal tanpa ampun. Tubuh atletisnya dibalut jaket kulit hitam berlogo Starlit. Penampilannya selalu modis dan menyesuaikan tren, namun tetap mengintimidasi.

Di sebelah kirinya ada Brandon, pria berkacamata yang cerdas dan teliti. Sebuah tragedi kelam di masa lalu membuatnya memilih setia menjadi lengan kanan Varro. Sementara di sebelah kanan melangkah Marcel, pria misterius berkarisma luar biasa dengan senyum playboy yang sanggup meluluhkan siapa saja. Mereka bertiga adalah penguasa tertinggi di kampus ini.

“Aaaa! Ganteng banget mereka!” teriak para mahasiswi seraya memotret.

“Kak Varro, minta tanda tangannya dong!” puji beberapa gadis yang bergerombol.

Brandon melangkah ke depan. “Varro gak bisa kasih tanda tangan hari ini.”

“Ayolah, sekali aja,” bujuk mereka manja.

Marcel segera menghalangi jemari para mahasiswi yang berusaha menyentuh Varro, tahu betul sahabatnya itu paling benci disentuh sembarangan. “Permisi, ya. Kami mau lewat.” Kerumunan itu pun akhirnya terpaksa menyingkir.

Di dalam kelas, Sasa menghampiriku antusias sambil menunjukkan layar ponselnya. “Gi, liat deh! Dia sama gengnya emang secakep yang dirumorin!”

Aku melirik foto itu sekilas. “Oh, biasa aja kali.”

Sasa mendesah gemas. “Aduh, Gi! Gue tahu lo terbiasa jomblo, tapi kalau dapet cowok secakep dia, masa lo gak mau?”

“Sa, gue mau fokus sendirian sampai wisuda. Gue harus pertahanin beasiswa penuh ini. Kalau nilai gue turun di bawah B, kelar hidup gue,” jawabku tegas.

Sasa tersenyum tipis. “Tapi pacaran sekali-kali gak bakal bikin nilai lo anjlok, Gi.”

Sebelum aku membalas, dosen masuk ke kelas. “Anak-anak, tolong tenang. Kita mulai kuliah pagi ini.”

Siang hari di kantin, aku membuka kotak bekal sederhana buatan Mama. Sasa yang hendak membeli makan menatapku.

“Gi, lo mau makan apa? Biar gue bayarin,” tawar Sasa tulus.

“Gak usah, Sa. Gue bawa bekal,” tolakku halus.

“Minumnya mau apa?”

“Gak usah, gue bawa air putih sendiri,” balasku sambil mengangkat botol minumku.

Sasa mengalah, namun sepuluh menit kemudian ia kembali membawa satu kotak nasi goreng hangat dan menyodorkannya padaku.

“Gi, nanti sore lo ada shift kerja di kafe! Masa lo mau kerja keras tapi cuma makan sedikit?” paksa Sasa.

Aku tersenyum haru atas perhatiannya. “Iya deh, makasih banyak ya, Sa.”

Sore harinya di parkiran, suasana mendadak tegang saat kami hendak mengambil kendaraan masing-masing.

“Siapa yang parkir di sebelah motor gue? Mobil siapa ini?!” bentak sebuah suara berat menggelegar.

Varro berdiri menatap tajam ke arah mobil sedan merah milik Sasa yang terparkir tepat di samping motor besar custom-nya.

Sasa melangkah gemetar. “Mo-mobil saya, Kak...”

“Lo tahu gak kalau parkiran ini udah gue booking khusus buat Starlit?!” tatap Varro dingin.

“Maaf Kak, saya gak tahu. Saya pindahin sekarang,” ucap Sasa panik merogoh kunci.

“Apa gunanya? Lo udah terlanjur mengotori area gue!” Varro memberi sinyal pada anak buahnya. “Ancurin mobilnya.”

Melihat kekejaman itu, darahku mendidih. Aku tak bisa tinggal diam saat sahabatku diintimidasi secara sewenang-wenang. Aku langsung pasang badan di depan Sasa.

“Oh, jadi ini cowok yang katanya paling top se-kampus? Ternyata kelakuannya gak ada baik-baiknya sama sekali,” kataku lantang.

Varro menatapku murka. “Hei, mulut lo dijaga! Ngapain ikut campur, bosan hidup lo, hah?!”

“Pertama, walau Kakak udah booking, ini tetap fasilitas umum kampus. Kedua, teman saya udah minta maaf dengan sopan, jadi Kakak gak bisa semena-mena main kasar, apalagi sama cewek!” tegasku.

Varro menyeringai, mendekat hingga jarak kami hanya lima sentimeter. “Jadi, setiap cewek yang cari masalah sama gue harus gue lepasin gitu aja?”

“Bukan gitu! Tapi dia udah minta maaf!”

“Minta maaf doang mana cukup?!” teriak Varro tepat di telingaku.

“Terus harus apa biar cukup?!” raungku, membuang semua kesopanan.

“Kalau teman lo setuju mobilnya gue hancurin, baru gue lepasin dia,” jawab Varro kejam.

Sebelum aku mencegahnya, Sasa berbisik gemetar, “Iya... gak apa-apa, Kak. Hancurin aja mobil saya...”

Varro tertawa puas dan memberi perintah. Anggota Starlit mulai memungut batu. Sasa menahan tanganku yang hendak maju menghentikan mereka. “Percuma, Gi! Kita bukan lawan mereka!”

Melihat keangkuhannya, emosiku meledak. “Dasar psikopat!” teriakku tanpa ragu.

Varro menoleh kaget. “Apa lo bilang?”

“Dasar orang gila!” teriakku lagi.

SRET!

Jemari Varro langsung mencengkeram leherku kuat-kuat, mendorongku hingga membentur tiang beton. “Lo punya hak apa bilang gue gila, hah?!”

Napasku tersumbat hebat, namun aku menatap matanya tanpa rasa takut. “Gue... memang gak punya hak...” ucapku terbata-bata.

“Kalau tahu, kenapa masih bicara?!” bentaknya makin emosi.

“Karena lo... udah terlalu sadis!” seruku pelan seraya terkekeh tipis meremehkannya.

“Kurang ajar!” Cengkeraman Varro makin menguat hingga mataku berkunang-kunang dan tubuhku lemas. Tapi seulas senyum ejekan tetap tertahan di bibirku.

Brandon segera menahan bahu Varro. “Al, tahan! Dia cewek, Al! Lo bisa bikin dia mati!”

Varro menatap wajah pucatku. Melihat mataku yang tak menyiratkan rasa takut sedikit pun, dadanya berdesir aneh. Ada kilat penyesalan dan ketakjuban yang melintas cepat.

Dengan napas memburu, Varro mendadak melepaskan cengkeramannya. Aku terkulai lemas, namun tangan Varro cepat menahan lenganku dan menyerahkan tubuhku ke pelukan Sasa.

Mata Varro menatap lebam kebiruan yang tercetak di leher putihku. “Bawa teman lo ke rumah sakit sekarang!” perintahnya dingin pada Sasa, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Di balik kesadaranku yang menipis, aku bersumpah: Varro Aldrian Wijaya adalah manusia terkejam yang tidak akan pernah kumaafkan.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!