Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: HADIAH TAK DIHARAPKAN UNTUKKU
Dua hari berlalu dalam penantian yang menegangkan. Tak ada kabar resmi soal hasil tender, namun berita tentang sikap tegas Nadia dan Rian yang menolak mengorbankan kualitas demi harga murah justru menyebar lebih luas dari yang diduga. Banyak kalangan pengusaha dan pengamat yang mulai memuji prinsip yang mereka pegang—prinsip yang kini mulai menjadi contoh bahwa persaingan bisnis tidak harus selalu kotor dan saling menjatuhkan.
Sore itu, saat Rian baru saja selesai memeriksa laporan di kantornya, seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya. Bukan stafnya, melainkan kurir yang membawa sebuah kotak kemasan elegan berwarna cokelat keemasan.
“Ini kiriman khusus untuk Bapak Rian,” ucap kurir itu sopan. “Tidak ada nama pengirim, hanya pesan singkat.”
Rian menerimanya dengan ragu. Setelah kurir pergi, ia membuka secarik kertas yang terselip di atas kotak. Tulisan tangan yang indah namun sederhana tertulis di sana: “Bukan sebagai tanda kemenangan, melainkan sebagai pengingat bahwa kejujuran selalu memiliki jalan sendiri.”
Dengan hati-hati Rian membuka kotak itu. Napasnya tercekat seketika. Di dalamnya tergeletak sebuah buku catatan kulit tua yang sudah agak usang—buku harian pertama yang pernah ia berikan pada Nadia saat mereka baru menikah dulu, dengan tulisan di halaman pertama yang ia tulis sendiri: “Untuk wanita yang akan menemani sisa hidupku. Tulislah setiap bahagia dan sedihmu di sini, karena aku akan selalu ada untukmu.”
Air mata perlahan menetes di pipi Rian. Ia pikir benda itu sudah hilang entah ke mana saat perpisahan mereka dulu. Ternyata Nadia menyimpannya dengan sangat baik, merawatnya seolah itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki. Dan kini ia mengembalikannya—bukan untuk mengungkit masa lalu, melainkan sebagai tanda bahwa kenangan itu tidak hilang, hanya berubah wujud menjadi pelajaran yang berharga.
Rian memegang buku itu dengan gemetar, seolah bisa merasakan setiap tetes air mata dan harapan yang pernah tertuang di dalamnya. Ia sadar, hadiah ini bukan sekadar benda mati. Ini adalah pesan bahwa meskipun banyak hal yang sudah berubah, janji setia yang dulu ia ucapkan namun ia ingkari, kini sedang ditawarkan kembali dalam bentuk penghargaan yang jauh lebih dewasa.
Malam itu juga, Rian mengantar kembali buku itu ke kediaman Nadia. Ia tidak meminta izin masuk, hanya menunggunya di beranda depan rumah yang megah itu. Saat Nadia muncul dengan pakaian santai dan wajah yang tampak tenang, Rian menyerahkan kembali kotak itu dengan tangan bergetar.
“Aku tidak berhak menerimanya,” ucapnya parau. “Aku yang menulis janji itu, tapi aku yang merusaknya. Benda ini seharusnya tetap bersamamu, sebagai bukti kesetiaanmu yang tak pernah luntur meski aku yang mengkhianatinya.”
Nadia menatap buku itu sejenak, lalu menatap mata Rian yang basah. “Aku mengembalikannya karena aku ingin kau yang melengkapinya kembali. Bukan dengan janji manis yang tak terucap, melainkan dengan tindakan nyata yang kau buat mulai hari ini. Jika kau benar-benar berubah, maka tuliskanlah perubahan itu di halaman-halaman yang masih kosong. Biarkan buku ini menjadi saksi perjalananmu memperbaiki diri.”
Kata-kata itu menyentuh hati Rian lebih dalam dari apapun. Ia menerima kembali buku itu dengan tekad yang bulat. Malam itu, di bawah langit malam yang tenang, ia berjanji pada dirinya sendiri dan pada wanita yang berdiri di hadapannya: ia akan mengisi sisa halaman buku itu bukan lagi dengan kata-kata kosong, melainkan dengan perbuatan yang membuktikan bahwa ia pantas diberi kesempatan untuk menjadi pria yang dulu pernah diharapkan Nadia.
(Lanjut ke Bab 29?)