"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN TIBA-TIBA
Isma menatap tumpukan dokumen legal dan sertifikat di atas meja kayu tersebut. Akta Jual Beli, kuitansi pelunasan, hingga berkas balik nama—semuanya tercetak sah atas nama Isma Zetri. Namun, akal sehatnya langsung bekerja cepat. Membawa map tebal berisi bukti kepemilikan aset miliaran rupiah ini ke rumah mertuanya adalah tindakan konyol yang sangat berisiko. Ibu Lestari atau Aini yang gemar menggeledah barang-barangnya bisa saja menemukan berkas ini dan merusak semua skenario rahasianya.
Isma menatap Pak Danu dengan raut tenang namun penuh penekanan.
"Pak Danu, karena proses pindahan saya baru akan dilakukan beberapa minggu ke depan, saya ingin meminta bantuan. Bisakah seluruh dokumen asli dan sertifikat rumah ini disimpan di deposit box kantor agen Bapak terlebih dahulu?" tanya Isma diplomatis.
Pak Danu tersenyum paham, mengangguk tanpa ragu. "Tentu saja, Mbak Isma. Itu sudah menjadi bagian dari layanan keamanan kami. Seluruh dokumen asli akan kami simpan di brankas terproteksi kantor sampai Mbak Isma sendiri yang datang mengambilnya saat hari kepindahan nanti."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya hanya akan membawa satu set kunci cadangan ini," sahut Isma seraya memasukkan gantungan kunci kecil itu ke dalam bagian terdalam tas bahunya, tersembunyi rapat di balik celah dompet.
Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi dan berpamitan dengan pihak legal serta agen properti, Isma melangkah keluar menuntun motor matic-nya.
Matahari sore mulai tenggelam, memancarkan warna jingga di langit kota. Isma mengenakan helmnya dengan gerakan perlahan. Di balik kaca helm yang gelap, bibirnya menyunggingkan senyum dingin.
Segala persiapan fisiknya kini sudah seratus persen rampung: rumah mewah atas nama pribadi telah lunas, investasi emas tersimpan aman, dan bukti-bukti perselingkuhan Yoga terus menumpuk secara real-time di ponsel sekunder miliknya.
Hitungan mundur telah dimulai. Hanya tinggal menunggu beberapa minggu lagi sampai momen paling tepat itu tiba—saat di mana Isma akan melangkah keluar dari pintu rumah Yoga, membawa seluruh keberhasilannya, dan meninggalkan suaminya jatuh tersungkur dalam penyesalan yang tak berguna.
Denting nada dering ponsel utama Isma memecah kesunyian di pelataran Cluster Green Valley. Isma menghentikan jemarinya yang hendak menyalakan mesin motor, lalu merogoh saku jaketnya. Nama "Mas Yoga" terpampang jelas di layar yang menyala.
Isma menarik napas panjang, menetralkan intonasi suaranya agar terdengar wajar, lalu menggeser tombol hijau. Sebelum ia sempat menyapa, suara Yoga sudah menyambar dari seberang telepon dengan nada tegas, sedikit tinggi, dan tergesa-gesa.
"Isma, kamu di mana?! Cepat pulang sekarang, ada hal penting yang harus kita bicarakan!" ucap Yoga tanpa basa-basi.
Suara di seberang sana terdengar riuh dengan latar belakang nada bicaranya yang tertahan, seolah-olah ia sedang menahan emosi di hadapan orang lain. Isma tidak mendeteksi nada kemesraan seperti saat pria itu mengobrol dengan Gladis; kali ini yang terdengar adalah nada ketegangan.
Isma tidak panik. Wajahnya tetap datar, matanya menatap lurus ke arah gerbang perumahan mewahnya yang baru.
"Iya, Mas. Ini aku sedang di jalan mau pulang," sahut Isma tenang, sengaja menjaga suaranya tetap halus tanpa menunjukkan gestur bersalah atau gugup.
"Jangan pakai lama. Aku tunggu di rumah sekarang," potong Yoga sebelum secara sepihak mematikan sambungan telepon. Tut... tut... tut...
Isma menurunkan ponselnya perlahan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan teka-teki. Apa yang membuat Yoga pulang lebih cepat dari kantornya hari ini? Apakah Ibu Lestari dan Aini yang memprovokasinya karena melihat Isma keluar rumah dua hari berturut-turut? Atau apakah ada kepura-puraan baru yang sedang disiapkan suaminya?
Apapun itu, Isma tahu bahwa dirinya yang sekarang berada di posisi yang jauh lebih unggul. Kunci rumah baru sudah aman di dalam tasnya, bukti perselingkuhan tersimpan rapi di awan, dan kesiapan finansialnya sudah tak tergoyahkan.
Isma merapikan tali helmnya, memasukkan ponsel ke saku, lalu memutar gas motor matic-nya membelah jalanan sore menuju rumah mertuanya. Saatnya menghadapi drama kecil mereka dengan kepala dingin.