Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Singkat
Lampu di lantai eksekutif sudah mati semua kecuali satu ruangan, dan Madoc tahu persis siapa yang masih di sana sebelum dia sempat melihat ke dalam.
Dia baru selesai rapat dengan investor asing yang molor sampai jam sembilan malam, dan alih-alih langsung pulang seperti biasa, kakinya membawanya turun ke lantai dua puluh tiga—alasan yang dia siapkan sepanjang perjalanan di lift sudah dia hafal: mau cek progress Meridian sekalian, mumpung masih di kantor.
Alasan itu masuk akal. Cukup masuk akal untuk membuatnya sendiri tidak mempertanyakan kenapa dia repot-repot turun delapan lantai untuk sesuatu yang bisa ditanyakan lewat email besok pagi.
Pintu kubikel Gwen setengah terbuka. Dia duduk membungkuk ke arah layar, kacamata baca yang jarang dia pakai di rapat formal bertengger di hidungnya, satu tangan memegang pulpen biru yang mencoret-coret sesuatu di kertas print-out, sementara tangan lain mengetik cepat di keyboard. Cangkir kopi di sampingnya sudah kosong sejak lama, terlihat dari bekas cincin kering di pinggirnya.
Madoc berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum mengetuk sekat kubikelnya.
Gwen mendongak, agak kaget. "Pak Kane?"
"Masih di sini?"
"Iya." Dia melepas kacamatanya, meletakkannya di meja. "Lagi nyusun laporan progress buat rapat board minggu depan. Datanya lebih ribet dari yang saya kira."
"Saya juga baru selesai rapat sama investor." Madoc melangkah masuk, berdiri di dekat meja tanpa duduk. "Mau cek progress juga, mumpung masih di sini."
Alasan itu keluar lebih lancar dari yang dia duga sendiri, sampai dia hampir percaya itu memang niat aslinya.
---
Gwen mengangguk, tidak curiga sedikit pun, dan langsung membuka file di layarnya untuk menunjukkan progress terbaru.
"Vendor lokasi kedua udah dikonfirmasi minggu lalu," katanya, langsung ke inti, tanpa pengantar berlebihan. "Konstruksi mulai Senin depan. Lokasi ketiga masih nunggu approval izin, estimasi selesai akhir bulan. Budget total masih di bawah proyeksi awal sekitar tiga persen, jadi ada ruang buat kontingensi kalau ada masalah mendadak lagi."
Madoc mendengarkan, memperhatikan cara dia bicara—tidak ada kata pengisi, tidak ada "jadi gini, Pak" atau basa-basi yang biasanya menghiasi laporan dari orang lain. Setiap kalimat langsung berisi informasi, seolah dia sudah menyaring semua yang tidak perlu sebelum kata itu keluar dari mulutnya.
"Ada risiko yang perlu diwaspadai?" tanyanya.
"Ada dua." Gwen mengangkat dua jari. "Satu, cuaca. Musim hujan mulai bulan depan, bisa ganggu konstruksi lokasi kedua kalau curah hujannya di atas normal. Dua, supplier material buat lokasi ketiga sempat telat kirim minggu lalu, saya udah follow up tapi belum ada kepastian kapan normal lagi."
"Mitigasinya?"
"Untuk cuaca, saya udah minta tim konstruksi siapin buffer waktu dua minggu di timeline, jadi kalau molor gak langsung ganggu target akhir. Untuk supplier, saya lagi cari alternatif kedua, jaga-jaga kalau yang sekarang gak bisa diandalkan."
Madoc diam sebentar, mencerna semua yang barusan dia dengar. Empat kalimat. Dua risiko, dua mitigasi, semuanya jelas tanpa perlu ditanya lebih lanjut.
Dia pernah duduk di rapat yang isinya orang menghabiskan lima belas menit menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bisa disampaikan dalam satu paragraf. Bukan karena informasinya kompleks, tapi karena orang cenderung ingin terdengar sibuk, terdengar berjuang, seolah durasi penjelasan itu sendiri jadi bukti seberapa keras mereka bekerja.
Gwen tidak melakukan itu. Dia bicara seolah waktunya sendiri berharga, dan dia tidak mau membuang-buang waktu orang lain juga.
"Bagus," katanya akhirnya. "Itu aja?"
"Itu aja, Pak. Kalau ada perkembangan baru, saya update lewat email."
---
Ada sesuatu tentang kesederhanaan itu yang membuat Madoc berdiri lebih lama dari yang seharusnya perlu, mencari alasan untuk tetap di ruangan itu tanpa terlihat seperti dia sedang mencari alasan.
"Kamu selalu kerja selarut ini?" tanyanya, akhirnya, mengalihkan topik dari laporan resmi ke sesuatu yang lebih personal.
Gwen mengangkat bahu. "Kadang. Kalau lagi banyak yang harus diselesein sebelum deadline, mending saya kelarin sekarang daripada nunda ke besok terus numpuk."
"Gak capek?"
"Capek." Dia tersenyum kecil, jujur tanpa berusaha terdengar tangguh atau sebaliknya mengeluh berlebihan. "Tapi lebih capek lagi kalau kerjaan gak kelar-kelar."
Madoc tertawa pelan, satu suara singkat yang jarang keluar darinya di kantor. "Itu logika yang aneh."
"Logika yang efisien," koreksinya, "kalau menurut saya."
Dia menoleh ke layarnya lagi, mengetik beberapa kalimat lagi untuk menyelesaikan bagian laporan yang tadi sempat terhenti, dan Madoc memperhatikan bagaimana dia bisa langsung kembali fokus tanpa kehilangan momentum percakapan yang barusan mereka jalani—seolah dua hal itu, mengobrol dan bekerja, bisa berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
"Kalau udah kelar," katanya, tiba-tiba, sebelum sempat berpikir ulang, "makan malem dulu, jangan langsung pulang. Kantin masih buka sampai jam sepuluh."
Gwen mendongak lagi, sedikit heran dengan saran itu, tapi tidak menganggapnya aneh lebih dari sekadar perhatian atasan biasa. "Iya, Pak. Nanti saya mampir dulu."
"Bagus." Madoc mengangguk, merasa kalimat itu keluar terlalu cepat dan terlalu tidak perlu untuk sekadar update progress proyek. "Kalau gitu, saya duluan."
"Makasih udah mampir, Pak."
Dia sudah kembali fokus ke layarnya sebelum Madoc benar-benar keluar dari kubikel itu.
---
Di dalam lift menuju basement, Madoc menyadari sesuatu yang aneh: dia sedang tersenyum, sendirian, tanpa alasan yang jelas.
Bukan senyum lebar. Cuma satu sudut bibir yang terangkat tipis, hampir tidak kentara kalau tidak ada pantulan dirinya sendiri di dinding kaca lift yang mengonfirmasi itu benar terjadi.
Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali dia merasa puas cuma karena mendengar laporan kerja yang singkat dan padat. Biasanya laporan seperti itu cuma jadi rutinitas—informasi yang dia proses, dia setujui, lalu dia lupakan begitu topik berikutnya muncul. Tapi barusan, empat kalimat Gwen tentang risiko cuaca dan supplier material terasa lebih memuaskan daripada presentasi setengah jam dari tim finance minggu lalu, lengkap dengan slide berwarna dan grafik yang berlebihan.
Efisien, pikirnya, mencoba mencari kata yang tepat untuk apa yang barusan dia rasakan. Cuma karena dia efisien.
Tapi kata itu terasa tidak cukup untuk menjelaskan kenapa dia masih memikirkan cara Gwen melepas kacamatanya tadi, atau cara dia bilang "logika yang efisien" dengan nada setengah bercanda setengah serius, atau kenapa dia sendiri sampai repot-repot menyarankan makan malam padahal itu bukan urusannya sama sekali.
Pintu lift terbuka di basement. Madoc berjalan ke mobilnya, masih dengan senyum aneh yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya, menyetir pulang malam itu dengan pikiran yang sepenuhnya kosong dari urusan pekerjaan—terisi penuh oleh empat kalimat singkat tentang cuaca dan supplier, dan satu wajah yang tersenyum kecil sambil bilang itu logika yang efisien.
Dia tidak ingat kapan terakhir kali sebuah laporan kerja bisa membuatnya pulang dengan pikiran seringan ini.