Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Suasana di ruang rawat Keysa terasa sangat sunyi. Hanya terdengar bunyi detak monitor yang stabil dan napas teratur gadis kecil itu yang kembali terlelap setelah menghabiskan makan malamnya. Cahaya lampu tidur yang redup menciptakan bayangan lembut di dinding, membuat ruangan terasa lebih intim dan tenang. Kini tinggal Arya dan Alya yang masih terjaga, duduk bersebelahan di sisi ranjang dengan jarak yang tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu jauh.
Arya menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Keysa sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke Alya. Sudah lama rasa penasaran itu mengganjal di pikirannya. Ia ingin tahu lebih banyak tentang masa lalu perempuan di hadapannya ini, tentang keretakan rumah tangganya yang hanya pernah disinggung sekilas.
“Kenapa kamu bercerai dengan mantan suamimu?” tanya Arya tanpa basa-basi. Suaranya rendah, datar, tapi penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.
Alya sedikit terkejut. Ia menoleh cepat, matanya melebar sesaat. Arya yang biasanya dingin dan tertutup ternyata memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi juga. Pipinya sedikit memanas, tidak menyangka pertanyaan itu dilontarkan begitu langsung di tengah malam yang sepi.
“Karena sudah tidak cocok,” jawab Alya singkat, mencoba menutup topik dengan jawaban yang paling aman.
Arya mengangkat sebelah alisnya. Ia masih belum terima. Jawaban itu terlalu klasik, terlalu dangkal untuk seseorang seperti Alya.
“Hanya itu saja? Lalu kenapa menikah kalau dari awal merasa tidak cocok?” cecarnya lagi, kali ini nada suaranya sedikit lebih dalam.
Alya menghela napas panjang. Ia menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertaut di pangkuan. Sepertinya tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari pria ini. Arya bukan tipe orang yang mudah puas dengan jawaban setengah-setengah.
“Dari awal menikah, dia tidak pernah memberiku nafkah,” jelas Alya pelan, suaranya tenang tapi penuh penyesalan. “Aku yang selama ini menafkahinya. Aku yang bayar sewa rumah, aku yang biayai kebutuhan sehari-hari, bahkan aku yang menanggung semua utang-utangnya. Dan lagi, orang tuanya terlalu ikut campur urusan rumah tanggaku. Setiap keputusan harus melalui mereka. Setiap masalah kecil dibesar-besarkan. Aku merasa seperti tidak punya ruang untuk bernapas.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Aku sudah mencoba bertahan bertahun-tahun. Tapi semakin lama, aku semakin kehilangan diri sendiri. Akhirnya aku memilih pergi. Bukan karena tidak mencintai, tapi karena aku lelah.”
Arya mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela. Matanya menatap Alya dalam diam, seolah sedang memahami setiap kata yang baru saja diucapkan. Suasana di ruangan semakin hening, hanya diisi oleh napas Keysa yang terlelap damai di antara mereka.
Baru kali ini Arya melihat sisi rapuh dari Alya, bukan hanya sebagai bawahan atau perempuan yang dekat dengan putrinya, tapi sebagai seseorang yang pernah terluka dan memilih bangkit.
Arya masih duduk dengan sikap santai, tapi matanya menatap Alya dengan intensitas yang membuat perempuan itu sedikit gelisah.
“Andai suatu hari dia berubah dan memintamu untuk kembali… apa kamu mau?” tanya Arya pelan. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya, rasa ingin tahu yang dalam, hampir seperti sedang menguji.
Alya tidak langsung menjawab. Ia terdiam, menunduk, jari-jarinya memainkan ujung selimut Keysa yang sedikit berantakan. Wajahnya terlihat ragu. Entah karena pertanyaan itu menyentuh luka lama, atau karena ia merasa Arya sedang mengetesnya.
Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka pria itu akan bertanya sejauh itu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Alya akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Arya dengan hati-hati.
“Kenapa bertanya seperti itu?” tanyanya balik, suaranya pelan tapi penuh kewaspadaan.
Arya tersenyum kecil. Senyum itu jarang muncul, tapi kali ini ada di wajahnya tipis, sedikit iseng, dan penuh arti. “Hanya ingin saja. Kenapa kamu tidak bisa jawab?” balasnya, nada suaranya ringan namun tetap menusuk.
Alya menghela napas dalam-dalam. Ia menatap Keysa yang tertidur damai sejenak, seolah mencari keberanian dari kehadiran gadis kecil itu. Lalu ia menoleh kembali ke Arya, matanya kini lebih tegas.
“Aku tidak akan kembali dengannya,” jawab Alya dengan suara yang lebih mantap. “Sudah selesai. Aku sudah melewati fase itu. Aku tidak ingin kembali ke tempat yang membuatku kehilangan diri sendiri. Lagipula…” ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan, “sekarang ada hal-hal lain yang lebih penting bagiku.”
Pandangan Alya sempat melirik ke arah Keysa, lalu kembali ke Arya. Ada ketulusan di matanya, sekaligus sedikit kerapuhan yang ia coba sembunyikan. Arya memperhatikan setiap detail ekspresi itu dalam diam. Senyum kecilnya belum hilang, tapi kali ini lebih lembut.
Arya tidak berhenti menatap. Matanya masih menatap Alya dengan intens, seolah setiap jawaban yang diberikan perempuan itu justru memunculkan lebih banyak rasa ingin tahu.
“Ada hal yang lebih penting? Apa?” tanya Arya lagi, suaranya rendah dan penuh penasaran. Ia tidak henti-hentinya mencaritahu tentang Alya, menggali sedikit demi sedikit seolah takut melewatkan satu pun detail.
Alya menghela napas panjang, kesal. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap dinding ruangan yang kosong, mencoba menghindari tatapan pria itu.
Pipinya sudah memanas sejak tadi. “Kamu kenapa sih? Kenapa tanya terus? Kayak sedang interview aja,” protesnya dengan nada sedikit manja sekaligus jengkel. Suaranya pelan, takut membangunkan Keysa, tapi jelas terdengar kesal.
Arya terkekeh pelan. Tawa rendahnya terdengar jarang, tapi kali ini keluar dengan alami. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan tangan dan menarik bahu Alya dengan lembut namun tegas, memaksa tubuh perempuan itu berbalik hingga wajah mereka berhadapan langsung.
Jarak di antara mereka tiba-tiba menyempit. Alya bisa merasakan napas Arya yang hangat, dan detak jantungnya sendiri yang semakin kencang. Matanya terpaksa bertemu dengan mata Arya yang dalam dan serius.
“Aku ingin mengetahui semua tentangmu,” ucap Arya pelan, suaranya serak dan penuh ketulusan. Tatapannya tidak berkedip, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa penasaran. “Bukan karena aku bosmu. Bukan karena Keysa. Tapi karena aku… ingin tahu. Siapa kamu sebenarnya. Apa yang kamu rasakan. Apa yang kamu takutkan. Semuanya.”
Alya terdiam. Kata-kata itu membuat dadanya sesak. Ia ingin memalingkan wajah lagi, tapi tangan Arya masih menahan bahunya dengan lembut. Suasana di ruang perawatan terasa mencekam bagi Alya.
Alya menelan ludah, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berisik. “Kamu… terlalu banyak ingin tahu,” bisiknya, suaranya hampir hilang.
Arya tidak melepaskan genggamannya. Senyum kecil masih tersisa di sudut bibirnya, tapi matanya tetap serius. Malam itu, di tengah keheningan ruang rawat, tembok yang selama ini dibangun Alya perlahan mulai retak di hadapan pria yang tak pernah lelah ingin mengenalnya lebih dalam.