Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Aku Akan Mencintaimu Lagi
Nara memandang wajah suaminya.
Pertanyaan Raka tidak meminta pembelaan. Ia ingin tahu apakah cinta mereka dahulu pernah menjadi rumah atau hanya alasan untuk bertahan.
“Kamu mencintaiku,” jawab Nara. “Aku tidak pernah meragukan itu.”
“Tapi tidak dengan baik.”
“Kadang dengan baik. Kadang kita terlalu lelah untuk mengetahui apa yang dibutuhkan orang lain.”
Raka tetap duduk di lantai. “Ceritakan.”
Nara menarik napas. “Kamu bekerja setiap kali takut. Kalau ada uang kurang, kamu mengambil jam tambahan. Kalau anak-anak bermasalah, kamu mencari orang yang harus bertanggung jawab. Kamu pulang membawa solusi, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa kamu juga takut.”
“Dan kamu?”
“Aku menyebut diamku sebagai kekuatan. Aku menyelesaikan semuanya sendiri, lalu marah karena kamu tidak melihat.”
“Apakah aku menyakitimu?”
“Bukan dengan tangan atau kata-kata kasar. Kamu menyakitiku dengan ketidakhadiran yang selalu punya alasan benar.”
Raka menerima kalimat itu tanpa menjelaskan pekerjaan, tugas, atau kewajiban.
Nara melanjutkan. “Saat rahasia pertukaran terbuka, kita sudah lama berhenti berbicara sebagai pasangan. Kita hanya menjadi dua orang tua yang memadamkan kebakaran berbeda.”
“Aku gagal melindungi Kirana.”
“Kita semua gagal melihat apa yang dilakukan orang dewasa kepada kedua anak. Jangan ambil seluruh kesalahan hanya supaya kamu bisa menjadi orang paling bersalah.”
Raka menatapnya. “Aku tidak tahu cara menghadapi dosa seseorang yang memakai wajahku.”
“Dia bukan orang lain. Dia adalah kemungkinan dirimu.”
“Itulah yang menakutkan.”
Nara turun dari ranjang dan duduk di lantai di depannya. Lutut mereka bersentuhan.
“Aku juga kemungkinan dari perempuan yang dulu,” katanya. “Aku masih bisa kembali pada diam, dendam, dan keinginan mengendalikan semua orang. Hidup kedua tidak membuatku suci.”
“Lalu apa gunanya kesempatan kedua?”
“Memberi kita pilihan sebelum kebiasaan menjadi nasib.”
Raka menutup tangannya di sekitar jemari Nara. “Aku tidak bisa meminta maaf atas setiap tindakan yang tidak kuingat.”
“Aku tidak meminta.”
“Aku juga tidak bisa menebus hidup pertama seolah satu janji malam ini menghapus semuanya.”
“Aku tahu.”
“Yang bisa kulakukan hanya memilih dari hari ini.”
Nara menunggu.
Raka mengangkat tangan mereka di antara keduanya. “Kalau dulu aku mencintaimu dengan diam, sekarang aku akan belajar mencintaimu dengan hadir. Bukan karena aku berutang kepada perempuan yang pernah mati, tapi karena aku memilih perempuan di depanku.”
Air mata Nara kembali memenuhi mata.
“Jangan berjanji selalu ada,” katanya. “Pekerjaanmu bisa memanggil. Anak-anak bisa sakit. Kita tetap bisa gagal.”
“Baik. Aku berjanji memberi kabar ketika harus pergi, mengatakan saat takut, dan tidak menyebut diam sebagai perlindungan.”
“Aku berjanji tidak menyusun rencana berbahaya sendiri.”
“Semua rencana yang menyangkut Bu Rini, Siska, bukti, atau keselamatan anak dibicarakan.”
“Termasuk kalau aku takut kamu tidak setuju.”
“Terutama itu.”
Mereka mengambil kertas kosong dan menulis kesepakatan bukan sebagai kontrak hukum, melainkan pengingat rumah.
Setiap minggu, satu malam tanpa ponsel kecuali untuk keadaan darurat. Mereka membicarakan keuangan, anak, pekerjaan, tubuh, dan rasa takut sebelum masalah berubah menjadi rahasia.
Jika salah satu meminta waktu, batas waktunya ditentukan. Tidak ada kata nanti tanpa tanggal.
Dokumen dan bukti tidak dipindahkan sendirian. Informasi kepada Nadia dibagikan kepada keduanya. Raka tetap menjaga batas dari tugas kepolisiannya.
Masalah anak dibicarakan tanpa membuat Bima, Bayu, atau Kirana menjadi pembawa pesan. Maya juga tidak boleh dipakai untuk memancing Siska.
Mereka menguji aturan itu dengan kemungkinan nyata.
Jika Nara mendapat pesan ancaman saat Raka bertugas, ia mengirim salinan kepada Nadia dan memberi tahu Raka tanpa memintanya meninggalkan tugas kecuali ada bahaya langsung. Jika Raka mengetahui kabar melalui pekerjaan, ia tidak membawanya pulang bila tidak berhak membagikan. Ia cukup mengatakan ada batas informasi, bukan menghilang dalam diam.
Jika Siska datang mendadak, mereka menggunakan aturan kunjungan yang sudah ada. Tidak ada keputusan baru ketika emosi tinggi.
Jika salah satu terlalu marah untuk berbicara, ia dapat meminta jeda, tetapi harus menyebut kapan percakapan dilanjutkan.
“Dua jam?” tanya Nara.
“Untuk masalah kecil.”
“Kalau masalah besar?”
“Tidur boleh. Menghilang berhari-hari tidak.”
Nara menuliskan batas maksimal satu hari kecuali keadaan darurat atau tugas yang benar-benar menghalangi. Keduanya tertawa karena mencoba memberi ukuran pada rasa sakit, tetapi ukuran kasar masih lebih baik daripada kata nanti.
Nara membaca daftar itu. “Kedengarannya seperti aturan kantor.”
“Kita berdua gagal hanya dengan mengandalkan perasaan.”
“Benar.”
Raka menambahkan satu baris terakhir: boleh berhenti dan memeluk sebelum menemukan jawaban.
Nara tertawa di antara tangis. “Itu aturanmu?”
“Usulan.”
“Disetujui.”
Kali ini Raka memeluknya. Tidak keras, tidak seperti seseorang takut Nara menghilang jika dilepas. Pelukan itu memberi ruang untuk bernapas.
Nara menempelkan wajah ke bahunya. Tubuh Raka sekarang sama dengan yang ia kenal dalam hidup pertama, tetapi hangatnya terasa berbeda karena tidak dipisahkan oleh tahun-tahun diam.
“Ada hal lain yang harus kamu tahu,” katanya.
“Aku mendengar.”
“Aku pernah membencimu setelah semuanya runtuh.”
Raka tidak melepaskan pelukan. “Karena aku pantas?”
“Karena lebih mudah membencimu daripada mengakui aku masih mencintaimu.”
“Dan sekarang?”
“Kadang aku marah kepada laki-laki yang tidak mengingat kesalahannya.”
“Kamu boleh marah. Tapi katakan kepadaku kesalahan siapa yang sedang kita bicarakan.”
Nara mengangguk di bahunya.
Raka pun mengaku bahwa selama setahun ia beberapa kali mempertimbangkan mencari isi buku Nara tanpa izin. Ia pernah berdiri di depan kotak dokumen saat Nara tidur dan hampir membukanya.
“Kenapa tidak?”
“Kalau aku mengambil rahasiamu dengan diam-diam, aku mungkin mendapat jawaban tetapi kehilangan cara kamu melihatku.”
“Kamu marah kepadaku?”
“Sangat.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
Raka tersenyum tipis. “Karena aku juga punya kebiasaan buruk yang sedang kita bicarakan.”
Kejujuran itu tidak romantis, tetapi membuat Nara merasa lebih aman daripada janji sempurna. Raka dapat marah tanpa menghukum, ragu tanpa pergi, dan mencintai tanpa berpura-pura memahami semuanya.
“Ada satu hal yang membuatku iri,” kata Raka.
“Kepada siapa?”
“Kepada diriku yang hidup lebih lama bersamamu.”
Nara terkejut.
“Dia gagal dalam banyak hal,” lanjut Raka, “tapi dia mengetahui tahun-tahunmu yang tidak kukenal. Aku hanya menerima kesedihan yang dia tinggalkan.”
“Kamu juga menerima pengetahuannya. Aku tahu apa yang bisa menghancurkan kita.”
“Dan aku harus hidup dengan fakta bahwa kamu pernah melihatku mati?”
Nara mengangguk. Ia menceritakan bagaimana rasa kehilangan terhadap Raka tidak selalu muncul sebagai tangis. Kadang itu muncul ketika ia mendengar pintu terlambat dibuka, ketika ponsel tidak dijawab, atau ketika seragam kerja tergantung tanpa pemilik.
Raka berjanji tidak akan menyebut reaksi itu berlebihan. Nara berjanji tidak akan mengharapkan Raka menebak pemicunya.
“Kalau aku takut saat kamu terlambat, aku akan mengatakan: ini ingatan lama, bukan tuduhan.”
“Dan aku akan menjawab keadaan sekarang.”
Mereka membahas daftar tanggal sekali lagi. Beberapa kejadian di masa depan tidak boleh digunakan untuk menuduh sebelum terjadi. Namun jika ada risiko yang dapat dicegah, mereka akan membuat langkah aman berdasarkan keadaan sekarang.
Raka mengambil tiga salinan kertas. Satu untuk laci kamar, satu untuk dibaca ulang pada malam tanpa ponsel, dan satu ia sobek kembali.
“Kenapa?”
“Kita tidak perlu membuat janji pernikahan menjadi barang bukti.”
Nara memahami. Tidak semua hal berharga harus masuk map Nadia. Ada kebenaran yang dijaga melalui tindakan berulang, bukan segel dan tanda terima.
“Kalau salah satu tanggal itu lewat tanpa kejadian?” tanya Raka.
“Aku akan bersyukur.”
“Bukan menganggap ingatanmu salah?”
“Mungkin masa depan sudah berubah sejak Kirana kembali ke pelukanku.”
“Berarti daftar ini bukan hukuman.”
“Bukan. Hanya peta dari jalan yang tidak ingin kuambil lagi.”
Raka melipat kertas kesepakatan dan memasukkannya ke laci meja, bukan ke kotak bukti. “Ini untuk kita.”
“Bukan untuk Nadia?”
“Kalau kita melanggar, kita tidak perlu pengacara untuk mengaku.”
Nara tertawa kecil. Suara itu membuat Bu Sari mengetuk dari luar dan bertanya apakah mereka membutuhkan teh.
“Tidak, Bu,” jawab Raka. “Kami baik-baik saja.”
Nara menunggu langkah Bu Sari menjauh. “Aku belum baik-baik saja.”
“Aku juga belum.”
“Tapi kita tidak sendiri.”
“Ya.”
Raka menyentuh pipinya. “Aku tidak akan mencintaimu untuk membayar utang hidup pertama.”
“Lalu?”
“Aku akan mencintaimu lagi karena kita masih punya hari setelah malam ini.”
Nara ingin mengingat laki-laki yang memilih tinggal malam ini, bukan bayangan yang pernah hilang. Pilihan itu cukup untuk memulai hari berikutnya.
“Kalau suatu hari aku kembali menjadi perempuan yang menutup semua pintu?”
“Aku mengetuk dan mengingatkan perjanjian kita.”
“Kalau aku tidak membuka?”
“Aku tetap menjaga anak-anak dan meminta bantuan orang yang kamu percaya. Aku tidak mendobrak hanya supaya terlihat heroik.”
Nara tersenyum melalui air mata. “Itu jawaban yang sangat tidak romantis.”
“Tapi aman.”
“Justru itu romantis.”
Nara mendekat lebih dulu.
Ia mencium Raka pelan, memberi waktu bagi keduanya untuk mundur. Raka membalas setelah Nara menarik kerah kemejanya lebih dekat. Tidak ada kegilaan atau tuntutan. Hanya dua orang yang akhirnya berada dalam rahasia yang sama.
Raka memeluknya ketika ciuman itu berakhir.
Saat mereka berpisah untuk bernapas, pandangan Nara jatuh ke meja.
Gantungan kunci bulan sabit terletak di samping daftar kematian.
Ia teringat Kirana yang pernah tidak dapat diselamatkan, lalu Kirana yang kini tidur aman di luar kamar. Bibir Nara masih menyimpan hangat ciuman ketika tangisnya pecah.