Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Cinderella
Bilawal membawa Makaila ke lantai gedung sekolah paling atas, di sini tidak ada yang bisa mendengarkan suara mereka jika bertengkar hebat.
Ya, Bilawal dan Makaila bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah menyatu dan akur sampai kapanpun juga.
Dilepaskannya tangan Makaila yang dipegangnya sejak tadi begitu erat, sorot matanya masih sama begitu menakutkan.
Mungkin saat ini waktunya Bilawal untuk memperingati Makaila untuk yang terakhir kalinya.
"Mau ngapain bawa gue ke sini?" tanya Makaila sedikit ketakutan sambil memegang pergelangan tangannya yang sedikit kesakitan karena tangan kekar menggenggamnya begitu erat.
Mereka berdua berdiri berhadapan dan tatapan itu sangat menyeramkan bagi Makaila, tatapan Bilawal yang sangat menggangunya.
"Gue bilang mau bunuh lo!" Gertak Bilawal dengan nada datar menatap Makaila begitu lekat.
Deg, tubuh Makaila sedikit gemetaran melihat wajah asli Bilawal yang sebenarnya. Makaila hanya bisa terdiam sambil menelan ludah memperhatikan sekelilingnya membaca situasi terburuk untuk bisa kabur menemukan jalan.
"Lo nggak bisa kabur, paling loncat dari sini," tambah Bilawal menyindir dan Makaila semakin terlihat tertekan ketakutan.
Wajahnya menjadi pucat pasih karena ancaman Bilawal membuatnya tidak bisa berkutik, apa benar jika Bilawal akan membunuhnya sama seperti yang dilakukan Bilawal kepada temannya.
"Gue nggak pernah menggangu dan mengusik lo, tapi sekarang udah mulai menggangu gue. Sekarang lo makin jauh ikut campur ke dalam kehidupan gue dan akhirnya berada di dalam bahaya." Bilawal mulai bicara dan Makaila hanya terdiam mencoba mencerna setiap ucapannya.
"Apa lo tahu siapa Kelvin? Bagaimana dia sama lawannya? Kejadian kemarin bukan akhir buat lo tapi awal dari semua kegaduhan yang udah lo buat," papar Bilawal mencoba menjelaskan semuanya kepada Makaila dengan nada suara yang begitu tenang dan lembut namun tidak dengan tatapan matanya yang masih menatapnya begitu tajam.
Ucapan Bilawal membuat Makaila sedikit ketakutan dan semakin penasaran, kini Makaila ingat apakah Kelvin sama seperti Artama yang menyerang ke tempat Bilawal waktu itu.
"Kecerobohan dan rasa berani lo yang sok tahu membuat gue dan semua anak sini terancam," sambung Bilawal lagi berhasil membuat Makaila semakin merasa resah dan mendadak bersalah.
Apa benar yang diucapkan oleh Bilawal jika memang benar itu artinya Makaila sudah membuat kesalahan besar.
"Memang lo pikir gue percaya!"
Bilawal sudah menebak apa yang akan diucapkan oleh Makaila, ucapannya membuat Bilawal tertawa ringan dan sedikit kecewa. Rasanya percuma saja ia memberitahukannya karena sampai kapanpun juga Makaila tidak akan pernah mempercayainya.
"Terserah mau percaya apa nggak, yang pasti kalau terjadi sesuatu gue nggak mau nolongin lo kaya kemarin lagi," kata terakhir Bilawal sambil pergi meninggalkan Makaila yang masih terdiam membisu mendengarkan ucapannya.
Langkah kaki Bilawal melewati Makaila yang masih terdiam, sesaat ia melirik saat Bilawal melewatinya. Ada sebuah pertanyaan kenapa kemarin Bilawal menolongnya.
"Kemarin gue nggak minta tolong sama lo!" Makaila membalikan tubuhnya menatap Bilawal yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya.
Deg, langkahnya terhenti mendengar ucapan Makaila. Kenapa perempuan satu ini begitu sangat keras kepala dan tidak pernah takut akan apapun, seolah mempunyai banyak nyawa.
Bilawal memutar kembali tubuhnya menatap Makaila dengan tatapan dingin dari kejauhan, entah kenapa setiap kali ia menatapnya merasakan sesuatu yang aneh.
"Gue juga nggak nolongin lo!" Balas Bilawal tidak kalah tegas dengan nada datar terdengar sinis.
"Terus kalau bukan nolongin gue nolongin siapa, Jericho? Bukannya hubungan lo berdua nggak baik-baik aja?" sindir Makaila membuat Bilawal terdiam hendak bicara apa.
Eskpresi wajah Bilawal masih terlihat datar dan dingin, hanya sorot matanya yang seolah berbicara begitu tajam.
"Memangnya lo pikir gue mau datang ke sana? Deren yang ngajak gue ke sana dan maksa buat nolongin lo berdua, jadi bukan kemauan gue sendiri. Jangan kepedean lo."
Ucapan Bilawal membuat Makaila sedikit malu mengira jika datang untuknya tapi nyatanya Deren yang mengajaknya. Hatinya dongkol karena sikap Bilawal yang begitu cuek dan selalu saja membuatnya kesal.
Sejurus kemudian Bilawal membalikkan tubuhnya dan hendak pergi meninggalkannya, masih merasa sangat kesal akhirnya Makaila melepaskan sepatu sebelah kanannya lalu melemparkannya dengan kencang ke arah Bilawal yang tidak jauh darinya berdiri.
"Bilawal 'RESEK'!" Teriak Makaila Kesal seraya melayangkan sepatu ke arahnya.
Bug....Sepatu berwarna putih bermerek mahal kesukaan Makaila mendarat tepat di punggung yang lebar dan tegap secara proporsional, tidak lama kemudian sepatu dengan logo ceklis hitam ✅ jatuh ke bawah.
Punggung Bilawal merasakan sedikit kesakitan saat sepatu Makala untuk yang kedua kalinya kembali menghantam tubuhnya.
Mengapa Makaila selalu memancing emosinya saja, sesaat Bilawal mencoba menenangkan diri agar tidak terpancing kembali emosinya.
Dibaliknya tubuh atletis dengan tatapan sinis dan tajam Bilawal menatap lagi Makaila yang masih menghardiknya.
"Demen banget sih lo ngelempar gue pake sepatu, memangnya lo pikir gue apa?" nada suara Bilawal masih terdengar sangat lembut namun Makaila masih terlihat sangat kesal dan marah.
Diambilnya sepatu Makaila yang berada dekat dengan sepatunya lalu pergi begitu saja membawanya.
Melihat sepatunya kembali dibawa untuk yang kedua kalinya oleh Bilawal membuat Makaila kaget dan segera berlari menyusul Bilawal.
Meski kaki kanannya hanya berbalut kaos kaki saja ia berlari sedikit berjinjit mencoba mengambil kembali sepatu yang dibawa Bilawal.
Makaila berusaha mengambil sepatunya yang dipegang oleh Bilawal di tangan kanannya dari belakang.
Namun sayang reflek Bilawal sangat cepat dan mengangkat sepatunya begitu tinggi sampai lebih tinggi dari atas kepalanya, sedangkan Makaila mencoba mengambilnya dengan cara berjinjit.
Jarak mereka sangat dekat hanya satu jengkal saja Bilawal bisa melihat dengan jelas setiap sudut lekukan wajah cantik Makaila dan lagi-lagi detak jantung Bilawal kembali berdegup sangat cepat ketika Makaila mencoba mengambilnya.
Tangan Makaila terus berusaha meraih sepatu tapi Bilawal mempunyai trik cerdik agar Makaila kesulitan mengambilnya, ukuran tinggi badan antara mereka begitu jauh membuat Makaila kesulitan mengambilnya.
Kaki Makaila tidak sengaja tersandung sepatu Bilawal membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukannya Bilawal. Secepat kilat lelaki yang mempunyai gummy smile menangkap tubuh mungilnya.
Deg, keduanya terdiam sesaat tubuhnya membeku saat Makaila jatuh ke dalam dekapan Bilawal. Keduanya saling menatap satu sama lain dan suasana mendadak begitu kaku.
Deg....Deg.....Deg...Detak jantung Bilawal berdegup semakin kencang tidak beraturan, napasnya mendadak tidak terkendali dan keringat mulai keluar dari telapak tangannya.
Begitu juga dengan Makaila yang wajahnya mulai memerah merona karena tersipu malu, dan jantungnya sedikit berdekat kencang saat melihat tatapan mata Bilawal.
Tubuh mereka berdua begitu dekat dan bersentuhan apalagi untuk yang pertama kalinya Bilawal memeluk Makaila tanpa sengaja.
Suasana romantis terjadi di antara mereka berdua untuk sesaat, sampai Bilawal merusaknya. Ia meniup pelan wajah Makaila yang sedari tadi diam terpaku menatapnya tidak berkedip membuatnya terkesiap.
"Huuuuf......Jangan bengong nanti suka." Bilawal meniup perlahan wajah Makaila seraya menggodanya.
Spontan Makaila tersadar dan pipinya masih merah merona serta sikapnya semakin gugup, ia mencoba bisa saja memalingkan wajahnya karena malu.
"Udah gue bilang nggak akan suka sama lo, dan lo juga nggak akan pernah suka sama gue!" Tampik Makaila membuat Bilawal tertawa ringan dengan senyuman manisnya.
Deg, baru kali ini Makaila melihat senyum Bilawal yang begitu manis dan membuat hatinya meleleh bagaikan coklat lumer.
Senyum yang jarang ditampakkan olehnya dan sudah lama tertutup luka dan kesedihan sehingga lupa bagaimana caranya tersenyum dan tertawa.
Tapi sejak kehadirannya semua sedikit berubah, meskipun Makaila sering membuatnya kesal dan marah tapi setiap ekspresi perubahan sikapnya yang kadang lucu dan menggemaskan membuat Bilawal biasa tertawa.
"Larangan lo perintah buat gue!" Bilawal pergi begitu saja meninggalkan Makaila dan masih membawa sebelah sepatu miliknya.
Melihat kepergian Bilawal yang membawa sepatunya membuatnya semakin kesal, sudah berapa kali Makaila berusaha mengambilnya namun sayang selalu gagal.
_______________
"Sepatu lo kemana, Kai?" tanya Arunika saat melihat Makaila memakai sandal sewaktu jam pelajaran berikutnya.
Raut wajahnya masih terlihat kesal dan amarahnya masih menggulung di hatinya, jika mengingat tentang kejadian tadi ingin rasanya Makaila mencakar wajah Bilawal.
Tapi satu memori indah mendadak melewati pikirannya ketika mengingat kejadian tadi, adegan di mana Makaila tersandung kaki Bilawal dan jatuh ke dalam pelukannya.
Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi gugup dan kikuk, dan pipinya kembali mendadak sedikit merah merona jika mengingatnya.
"Semua karena Bilawal sialan!" Emosi Makaila semakin menjadi saat menyinggung mama Bilawal seolah ia alergi sekali terhadap namanya.
"Lah kok bisa? Demen banget sih kalau sama dia hilang sepatu sebelah udah kaya Cinderella aja yang kehilangan sepatu kaca, hahaha...," sindir Arunika tertawa ringan namun Makaila tidak menghiraukannya.
"Sepatu gue!" Rintuh Makaila hendak menangis menahan rasa kesalnya kepada Bilawal.
Ia hanya membayangkan Bilawal yang sangat menyebalkan membuatnya harus kembali kehilangan sepatu kesayangan miliknya.
_________________
Senyumnya begitu merekah saat mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya, yaitu sebuah sepatu berwarna putih milik Makaila yang tadi dibawa olehnya.
Ini adalah sepatu kedua yang diambil olehnya dari Makaila lalu dibawa dan disimpan di tempat khusus lemari kaca di kamarnya.
Senyum simpul terlukis di bibirnya saat mengingat kejadian tadi, di simpannya sepatu itu di samping sepatu Makaila yang diambil pertama kali olehnya.
Kejahilan Bilawal semakin menjadi ketika melihat Makaila sedang panik dan marah, baginya saat melihatnya seperti itu sangat cantik dan menggemaskan.