"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Terjebak
Saat pulang sekolah Celia janjian bersama dengan Chika dan juga Chaca pulang bersama dengan menaiki motor mereka. 3 gadis remaja itu tampak berjejer dengan kecepatan yang sama seperti jalan lintas itu sudah milik nenek moyang mereka.
"Kita sebaiknya pulang ke rumah dulu, pamitan sama bunda dan setelah itu kita langsung pergi," ucap Celia.
"Tumben amat, Celia mau diajak jalan-jalan, sudah beberapa hari ini lo di rumah mulu belajar mulu nggak mau diajak kemana-mana," sahut Chaca.
"Itu karena gue lagi ngejar target buat belajar, tetapi kalau belajar mulu, yang adanya otak penat dan harus istirahat, jadi dari siang sampai sore otak harus istirahat dengan kita main ke sana kemari," jawab Celia tampak merindukanmu momen-momen bersama teman-temannya.
"Kita pikir, lo sekarang udah nggak mau jalan sama kita karena sudah pindah sekolah," sahut Chaca.
"Sembarangan, tidak ada yang bisa menggantikan dua sahabat gue. Jadi kalian itu tetap adalah sahabat gue yang terus sama gue!" tegas Celia.
"Ini baru temen gue, belajar tetap main juga tetap dan yang paling penting mainnya sama kita," sahut Chika.
Tin-tin-tin -tin-tin.
Lagi-lagi mereka dikagetkan dengan suara klakson yang sangat berisik membuat mereka menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah mobil mewah yang disetir oleh Valery dan di sebelahnya Bagas yang duduk.
"Apaan lo biasa aja," teriak Chika.
"Minggir motor kampung!" Kania mengeluarkan kepalanya tampak mengejek ketika gadis remaja itu.
"Lo yang kampungan berisik!" teriak Chaca.
Valery terus saja membunyikan klakson.
"Nih orang cari gara-gara, kita lihat aja apa yang bisa mereka lakukan!" Chika tiba-tiba saja dengan lihai membelokkan motornya ternyata diikuti Celia dan juga Chaca naik motor mereka bertiga saat ini berhadapan dengan mobil yang dikendarai oleh Valery yang harus merem mendadak karena hampir saja menabrak 3 motor itu.
"Shittt!"
Umpat ketiganya dipenuhi dengan kekesalan dengan tubuh mereka yang tersungkur ke depan dan bahkan dahi Valery harus terbentur setir mobil.
"Apa-apaan sih mereka," umpat Kania.
"Wah nantangi kita ni," sahut Diego semakin kesal dan melihat ketiga wanita yang masih memakai helm itu tampak duduk di atas motor mereka yang mengarah kepada mobil tersebut.
Yogi sudah membuka pintu mobil, merasa ditantang membuat gelora bertengkar menggebu-gebu yang disusul oleh Diego dan juga Kania.
"Heh sudahlah!" Alfian sempat mencegah teman-temannya dan sementara dirinya benar-benar malas untuk ribut.
"Sialan mereka," Valery juga ikut menyusul keluar dari mobil.
"Valery...." Alfian juga tidak bisa mencegah temannya itu.
Tetapi Alfian benar-benar tidak berniat untuk ikut mendengarkan keributan dan apalagi teman-teman Celia, mulutnya benar-benar cempreng, dua temannya Yogi dan Diego juga tidak kalah berisik lah seperti cowok.
Alfian memilih tetap berada di dalam mobil dan melihat bagaimana Celia sama teman-temannya turun dari motor dan saling berhadapan dengan teman-temannya, mulai mereka semua saling adu bacot, tunjuk-nunjuk dan tidak ada yang mau kalah.
"Benar-benar nggak punya kerjaan lain apa, ada-ada saja!" kesal Alfian tidak berniat sama sekali untuk keluar dari mobil.
Tiba-tiba saja pandangan mata Alfian tertuju pada dari kejauhan beberapa meter tampak murid-murid sekolah yang berhamburan berlarian begitu cepat, mereka bahkan memegang kayu dan sepertinya itu adalah tawuran besar-besaran, suara sirene polisi terdengar yang mungkin saja terjadi pengejaran.
Alfian merasa ada yang tidak beres membuatnya terpaksa keluar dari mobil.
"Woy buruan pergi!" teriak Alfian memberi arahan untuk menghentikan pertengkaran itu tetapi karena suara mereka lebih keras dan tidak mendengarkan suara dari Alfian.
"Valery, Kania, Yogi, Diego!" Alfian terus berteriak menghentikan sampai akhirnya rombongan itu semakin dekat dengan jarak yang beberapa meter saja dan akhirnya mereka menyadari.
Tetapi semuanya terlambat, justru pertengkaran mereka terjebak di antara kericuhan yang terjadi menurut mereka panik sendiri.
"Aaaa...."
"Aaaaa!"
Mereka berteriak histeris, murid-murid sekolah itu tanpa geragas dan bahkan motor-motor yang terparkir itu sudah berjatuhan, tetap saja mereka saling dorong-mendorong, Celia berada diantara situasi itu benar-benar panik tidak tahu harus pergi ke mana.
Valery dan Kania saling bergenggaman tangan, ingin memasuki mobil tetapi ternyata mobil itu bahkan sudah hampir berbalik karena kericuhan yang terjadi.
Suasa semakin mencekam, murid-murid saling sarang satu sama lain dan entahlah berasal dari sekolah mana. Dari seragam mereka sepertinya berasal dari antar sekolah yang berbeda-beda.
****
Kantor Polisi.
Celia bersama dengan teman-temannya dan juga teman-teman Alfian harus menerima nasib ikut diseret ke kantor polisi karena terlibat tawuran dan juga beberapa murid-murid dari sekolah lain yang tertangkap oleh pihak berwajib.
Celia terlihat begitu panik yang duduk diantara kedua teman yang menggenggam tangannya sejak tadi.
Karena ulah mereka, pihak sekolah harus ikut dipanggil dan sejak tadi kepala sekolah dari sekolah yang berbeda itu datang untuk meminta maaf kepada pihak berwajib dengan jaminan bahwa hal itu tidak akan terjadi dan termasuk kepala sekolah dari SMA Cendrawasih dan juga SMA Bintang.
Celia melihat ke arah Alfian yang saat ini bersama dengan teman-temannya, tidak tahu apa yang saat ini mereka pikirkan, dari ekspresi keduanya tampak tidak terbaca dan kemungkinan keduanya juga sama-sama bingung dan bisa-bisa terjebak dalam tawuran yang membuat mereka terjerat di kantor polisi.
*****
"Pa dengarkan Alfian dulu...." Alfian berjalan di belakang kedua orang tuanya yang saat ini memasuki rumah.
Karena urusan di serahkan pada pihak kepolisian telah diselesaikan oleh kepala sekolah dan sebagai gantinya kepala sekolah memanggil orang tua murid yang terlibat dan termasuk Alfian.
"Papa sudah tidak tahu lagi harus berbicara bagaimana lagi kepada kamu, tidak ada masalah yang tidak kamu lakukan dan sekarang kamu bahkan sampai itu tawuran," ucap Angga.
"Alfian tidak ikut tawuran," jawabnya membela diri.
"Selalu mengelak dan tidak pernah mengakui kesalahan, kamu bersama teman-teman kamu sudah jelas-jelas ada di sana dan jangan-jangan kamu juga yang Celia sampai anak baik itu harus terlibat dengan ke bandaran kamu," ucap Angga.
"Papa kenapa jadi belain Celia, justru jika Celia dan teman-temannya tidak menghadap mobil Alfian, maka hari ini tidak akan terjadi dan kami tidak akan terjebak dalam tawuran itu!" tegas Alfian berusaha untuk membuat kedua orang tuanya percaya kepadanya
"Cukup! Papa tidak ingin mendengarkan alasan apapun lagi, ini terakhir kamu membuat kesalahan dan jika kamu membuat kesalahan lagi. Papa benar-benar akan mengirim kamu ke Amerika dan tinggal bersama kakak kamu Revan, kamu lebih baik di sana agar bisa terarah, kesabaran Papa sudah habis!" tegas Angga tidak memberi toleransi apapun kepada putranya dan sementara mawar hanya geleng-geleng kepala yang pasti juga sebagai ibu sudah capek berurusan dengan sekolah karena Alfian.
"Mulai besok kamu akan diantar jemput oleh supir, pulang sekolah tidak ada keluyuran ke mana-mana, langsung pulang dan belajar di rumah!" tegas Angga
"Pa!"
"Kenapa? kamu masih mau memakai mobil kamu yang sudah hancur itu? kamu pikir itu tidak dibeli dengan uang hah," sahut Angga.
Karena tawuran itu mobil Alfian harus menjadi korban, Alfian tidak bisa membela diri dan hanya bisa terlihat pasrah.
Bersambung...