Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ingin tahu dunia baru
"papi... Aku sama dia itu cuma temenan, kita gak ada hubungan apa-apa"
Jelas Zura.
Jody mengangguk pelan.
"Papi cuma mau memastikan. Kamu juga tahu, dunia kalian beda. Jangan sampai kamu berharap terlalu jauh."
Jody mengusap kepala Zura pelan.
Zura mengangguk pelan, menghela nafas.
Jody menghela nafas lega.
"Cepet masuk, angin malam gak baik"
berdiri dan berjalan keluar dari kamar Zura.
Zura patuh, dia masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon.
Leon masih berdiri di taman belakang rumah, matanya menatap dingin pada rembulan yang bersinar terang, tangannya ia taruh di belakang, nafasnya teratur.
Hari sudah hampir tengah malam, tapi matanya belum mau terpejam.
Kepalanya terus berisik, memutar adegan siang tadi.
Azura marah padanya.
'*tapi bukankah gadis itu tidak pernah baik*?'
Namun entah mengapa, wajah Azura yang hampir menangis terus muncul di benaknya. Perasaan itu membuat dadanya tidak nyaman.
padahal dia sering membuat Arselia menangis, tapi ketika melihat mata Zura tadi, hatinya sedikit berontak melihat gadis itu berlinang air mata.
Kepala Leon menggeleng keras, menyingkirkan wajah Azura dalam kepalanya.
'*aku tidak peduli, gadis itu memang tidak sopan*!'
Dia masih belum terbiasa dengan hal-hal baru.
Baju baru.
Celana baru.
Bahkan suasana baru yang menurutnya, hangat.
Leon belum terbiasa dengan hal itu.
Semenjak kepergian Elvaria, istana tak lagi terasa hangat.
Ayahandanya semakin sibuk mengurus kerajaan. Leonard pun tumbuh dalam kesunyian.
Hal itu Qhilandra lakukan supaya dia sedikit bisa melupakan istrinya.
Zura saat ini tengah bersiap untuk pergi dengan temannya, seperti biasa, dia akan menyelinap keluar tanpa di ketahui orang tuanya.
Dia mengenakan jenas hitam dengan jaket kulit coklat, rambutnya dia ikat tinggi, memakai sepatu bot hitam.
Dia mengubur guling juga bantal oleh selimut.
Dan mematikan lampu kamarnya.
Dia sedikit membuka pintu, di luar sudah gelap dia sedikit mengintip, memastikan tidak ada orang di luar.
Matanya bergerak kesana-kemari di kegelapan.
Setelah di rasa aman, Azura menghela nafas lega.
Keluar kamar dengan amat perlahan, lalu menutup pintu dengan pelan.
Dia menjaga langkahnya supaya tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan keluarganya, terutama maminya.
Leon yang ingin masuk kamar, semua ruangan sudah gelap, dia buat heran dengan siluet seseorang yang berjalan mengendap-endap.
Dahi pemuda itu menyengrit.
'siapa yang pergi diam-diam?'
Batinnya bingung.
Bibir Leon membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. Matanya menatap lurus pada Azura yang turun dengan celingak-celinguk.
Dia berjalan menghampiri gadis itu, dia menunggu di ujung tangga.
Zura sudah akan sampai di bawah.
"Jadi kau ingin pergi malam-malam?"
Tanya Leon datar.
Zura terperanjat, wajahnya shock, dia menutup mulutnya.
Matanya melebar sempurna, nafasnya memburu.
Wajah Zura memerah marah, menatap Leon bengis.
"Lo apaan sih setan?! Ngagetin gue tolol!"
Ucapnya pelan, namun penuh amarah.
Leon menyilangkan kedua tangannya, mengangkat satu alis.
Dalam kegelapan, dia tidak dapat melihat jelas ekspresi wajah Zura.
"Jadi kau akan pergi?"
Tanyanya lagi.
Zura mendengus kesal.
"Siapa Lo nanya-nanya?"
Ucapnya sebal.
Leon mengangguk menyebalkan.
"Mungkinkah orang tuamu tidak tau?"
Tanyanya pelan.
Zura mendelik.
"Terus apa kalau orangtua gue gak tau? Masalah buat Lo?!"
Wajah Leon tetap datar, tapi nada bicaranya penuh ancaman.
"Mungkin aku akan memberi tau mereka"
Zura melotot alisnya menukik.
"Gak usah, ngapain juga?"
Leon mengedikan bahu.
"Mungkin mereka akan khawatir jika tau kau tidak di rumah"
Zura menarik nafas jengah.
"Lo ngerti gak sih? Gue itu lagi keluar diem diem! Kalo ortu gue tau, gue bisa kena ceramah!"
Sahutnya geram dengan gigi gemelatuk.
Leon menghela nafas pelan.
"Tapi mungkin saja mulutku tidak sengaja mengatakan nya,"
Matanya menatap Zura tenang.
Zura turun dari tangga terakhir, rumah sudah gelap, jam sudah hampir tengah malam.
Menatap Leon lelah.
" Lo masuk kamar, dan anggap Lo gak pernah liat gue malam ini, sana!"
Usirnya.
Leon tak bergeming, dia diam di tempatnya.
" Aku tidak akan mengatakannya, tapi aku harus Ikut denganmu"
Sahutnya santai.
Zura menatap sinis, terkekeh pelan.
" Siapa Lo ikut-ikut gue? Anak gue Lo? Ogah banget!"
Tolaknya sinis.
Leon mengangkat bahu acuh.
" Baiklah,tapi aku tidak janji akan melupakan perkataan mu, dan tidak memberi tahu orang tuamu"
Sahutnya enteng.
Zura berdecak kesal, alisnya menukik tajam.
" Ck, Lo ngancem gue?"
Leon menggeleng pelan.
" Terus apa Lo ngomong gitu?"
Tanya Zura.
" Aku ingin ikut dengan mu"
Sahutnya tenang.
Zura mengepalkan tangannya, memperlihatkan nya pada wajah Leon.
" Argh... Ngapain sih? Entar yang ada Lo malu-maluin lagi!"
Ucapnya pedas.
Leon sedikit kesal, tapi demi ikut Azura karna ingin melihat suasana baru, dia membuang semua gengsinya.
"Kalau begitu, aku akan mengatakan semuanya kepada ayahmu."
Leon masih menatap Zura yang kesal.
Azura tak punya pilihan selain mengajak pemuda itu.
" Gue bakal ajak Lo, tapi! Satu syarat, Lo gak boleh ngomong kecuali gue yang nyuruh, ngerti!?"
Ucapnya pelan.
Leon mengangguk pelan.
" Baik. Aku akan diam"
Zura memutar mata, berjalan perlahan menuju garasi, di buntuti Leon di belakangnya yang berjalan tenang.
Azura membuka menggeser pintu garasi dengan pelan, lalu mengeluarkan motor maticnya dengan hati-hati.
Tak lupa menutup kembali pintunya.
Leon di kejauhan mengerutkan kening, karna Zura tidak mengendarai mobil seperti Jody.
Zura mendorong motornya sampai ke luar garasi, jusep dan Rudi sudah tidak ada di pos, bahkan gerbang sudah terkunci.
Untung nya dia mempunyai kunci cadangan yang dia ambil diam-diam.
Dia lalu melihat Leon yang malah diam berdiri menatapnya dari kejauhan.
Zura melambaikan tangannya, Leon mendekat dengan ragu.
Zura kembali menutup gerbang, tak lupa mengunci nya.
Dia menghidupkan motor, lalu naik ke atasnya.
Dia lalu melirik Leon yang malah diam mematung.
Zura berdecak sebal.
" Ngapain masih berdiri? Lo mau ikut kagak?"
Leon mengangguk ragu.
" Aku ikut, tapi. Kau yakin ingin mengendarai benda ini?"
Zura mengangguk.
"Iyalah, terus pake apa? Mobil? Gue gak bisa. Buruan keburu malem"
Leon menggaruk tangannya.
"Ba-bagaimana aku harus duduk?"
Sumpah, dia malu mengatakan itu.
Tapi dia tidak tau cara menumpangi benda ini.
Azura mengangga, menatap Leon tak percaya.
Azura sampai memijat pelipisnya. Baru kali ini dia bertemu orang yang bahkan tidak tahu cara naik motor
"Seriously? Lo gak tau? Tinggal duduk doang kayak gue"
Sahutnya tak percaya.
Leon dengan ragu duduk di belakang Zura, dia duduk dengan kaku, tak tau harus pegangan pada apa.
Zura melirik kaki Leon yang tak menyentuh step, dia lalu menurunkan step belakang dan menyuruh Leon menginjakkan kaki.
"Tapakin kaki Lo di situ, biar gak pegel, pegangan ke pundak gue!"
Titahnya jutek.
Leon patuh, menginjakkan kaki pada step, dan memegang pundak Zura ragu.
" Masih ada ya jaman sekarang orang yang gak tau cara naik motor?"
Ucap Zura sinis.
Zura mengangkat alis, menyadari kaos yang Leon kenakan pendek juga tipis.
"Lo gak pake jaket?"
Leon menggeleng pelan.
"Di sini tidak dingin"
Zura mengangguk pelan, dia mulai melajukan motornya, Leon sedikit terjengkang ke belakang, matanya tertutup dengan alis menukik takut.
Berpegangan erat pada bahu Zura.
"Jika di kerajaan ku, benda Seperti ini sama seperti kuda"
Ucap Leon tiba-tiba.
Zura tak menggubris. Baginya ucapan Leon hanyalah omong kosong.
Sementara Leon menatap lampu-lampu kota yang berlari cepat di depan matanya, seolah memasuki dunia yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Bersambung....