Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah Zafran
Waktu berjalan begitu lambat.
Jarum jam di dinding rumah sakit terus bergerak, tetapi bagi Haseena, setiap detiknya terasa seperti satu tahun yang dipenuhi kecemasan.
Koridor ICU masih dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk. Sesekali perawat berlalu-lalang mendorong troli, disusul suara monitor pasien yang samar terdengar dari balik pintu kaca. Namun, tidak satu pun dari suara itu mampu mengalihkan pikiran keluarga kecil itu.
Mereka hanya menunggu.
Menunggu sebuah kabar yang entah akan menjadi harapan atau justru akhir dari segalanya.
Haseena menggenggam tas kecil di pangkuannya erat-erat. Jemarinya mulai memutih karena terlalu kuat mencengkeram.
Di sampingnya, Abah duduk dengan kedua tangan saling bertaut. Bibirnya tak henti bergerak melantunkan doa dalam hati. Sesekali lelaki itu mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis kelelahan.
Tak jauh dari mereka, Zafran kembali mondar-mandir.
Satu putaran.
Dua putaran.
Tiga putaran.
Langkahnya tak pernah berhenti.
"Bang... duduk dulu," lirih Haseena.
Zafran menggeleng.
"Aku nggak bisa diam."
Nada suaranya terdengar berat, seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dadanya.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan, akhirnya Zafran tiba-tiba berhenti dan menghampiri Abah.
"Bah..."
Abah mendongak pelan.
"Aku mau ikut tim pencarian Kak Husna."
Kalimat itu membuat Haseena spontan menoleh.
"Bang..."
"Bah, udah dua minggu." Suara Zafran mulai bergetar "kakak di luaran sana pak, kita gak tau keadaan dia. gimana kalo dia sendiri di hutan itu, kesian kakak pasti ketakutan, dua minggu Kak Husna nggak ada kabar dan aku nggak bisa cuma duduk nunggu."
Abah menghela napas panjang. menatap mata Zafran dengan harapan besar di hatinya
"Kita sudah serahkan ke tim SAR."
"Tapi mereka belum nemuin Kakak!"
"Zafran." Abah berusaha menenangkan Zafran
"Nggak ada yang lebih kenal Kak Husna selain keluarga!" Nada suara Zafran meninggi. "Kalau kita ikut nyari, peluang ketemunya pasti lebih besar!"
Koridor rumah sakit mendadak sunyi. suara Zafran terdengar sampai ujung koridor, Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.
Abah perlahan berdiri.
Tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.
"Kalau kamu pergi..."
"...siapa yang jagain Ibu?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Zafran terdiam.
Dadanya naik turun menahan emosi.
"Tapi Kak Husna juga sendirian di sana, Bah."
Suara itu hampir pecah.
"Kalau memang dia masih hidup, gimana kalau dia lagi nunggu kita? lagian ibu juga pasti seneng kalo tau aku nyari kakak"
"ibu pasti khawatir juga sama kamu Zafran"
Haseena hanya bisa menundukkan kepala, semua kalimat itu menyesakkan Karena jauh di lubuk hatinya... Ia juga memikirkan hal yang sama.
Bagaimana jika Kak Husna memang sedang menunggu mereka?
Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, Abah kembali membuka suara.
"Abah juga pengen nyari Kak Husna."
Suara lelaki itu terdengar lirih.
"Sangat pengen."
"Tapi sekarang..."
"Ibu lebih membutuhkan kita."
Kalimat itu membuat Zafran mengepalkan tangan.
Matanya mulai memerah.
"Jadi..."
"...kita tinggalin Kakak?"
"Bukan."
"Kita berdoa."
Jawaban itu justru membuat sesuatu dalam diri Zafran runtuh.
Berdoa.
Lagi.
Selalu berdoa.
Sementara Kak Husna belum juga pulang.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu ICU, Lalu menatap Haseena yang terlihat sangat tertekan Kemudian kembali memandang Abah.
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa menjadi orang yang paling sendirian di ruangan itu sebelum kemudian Zafran berjalan menjauh tanpa mengatakan apa pun.
Ia berhenti di taman kecil rumah sakit.
Beberapa pohon kamboja berdiri diam diterpa angin sore. Ia menjatuhkan tubuhnya di bangku kayu. Tatapannya kosong. Tanpa sadar, kenangan tentang Kak Husna kembali memenuhi pikirannya.
"Tau nggak, Zaf?"
"Kalau lagi di hutan itu rasanya beda."
"Udara yang kita hirup tuh benar-benar hidup."
"Setiap pohon kayak lagi ngajak kita ngobrol."
Dulu Zafran hanya tertawa mendengar cerita itu.
Kini...
Ia berharap bisa mendengar ocehan itu sekali lagi. Air matanya jatuh tanpa suara.
"Aku nggak bisa diem, Kak..."
"Aku nggak bisa..."
Tangannya meremas rambut sendiri. Kalau ia tetap di rumah sakit...Ia hanya akan menunggu. Kalau ia pergi... Setidaknya ia sedang melakukan sesuatu. Walaupun itu mungkin sebuah kesalahan, keputusan itu perlahan tumbuh. Bukan karena ia tidak menyayangi Ibu atau Bukan pula karena ia ingin meninggalkan Abah dan Haseena Melainkan karena rasa bersalah.
Bagaimana jika benar Kak Husna masih hidup?
Bagaimana jika selama ini Kak Husna terus berharap ada keluarganya yang datang menjemput?
Bagaimana jika...
Hari ini adalah kesempatan terakhir?
Zafran menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku harus pergi."
Kalimat itu nyaris tak terdengar. Namun, tekad di dalam hatinya telah bulat.
Ia bangkit.
Menatap sekali lagi ke arah gedung rumah sakit.
"Lindungi Ibu..."
"...sampai aku pulang bawa Kak Husna."
Tanpa seorang pun menyadarinya Zafran melangkah meninggalkan rumah sakit dan segera pergi menuju rumah.
Menuju sebuah keputusan...
Yang kelak akan mengubah hidup keluarganya untuk selamanya.