Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Hari Spesial Di Tahun1987
Usai sudah masa putih biruku di pertengahan 1987 saat kotaku sedang terik menyengat di tengah hari dan dingin menggigil pada penghujung malamnya.
"Berapa NEM-mu Jul ?" tanyaku setelah pengumuman kelulusan yang barusan dibagikan.
"Empat puluh delapan," jawab Juli senang, "kamu berapa Pras ?" Dia berbalik menanyakan NEM-ku.
"Wah kamu hebat, Aku cuma empat puluh tiga," jawabku.
Ada enam mata pelajaran yang kami tempuh di Ebtanas. Tentu saja nilai Juli cukup tinggi, rata-rata delapan.
"Menurutku kamu pasti diterima di SMA Dua," ujarku lagi.
"Nilaimu juga lumayan Pras. Tapi gak ngaruh dengan piagam sepakbola mu. Sudah pasti kamu juga diterima di sana." Juli mengomentari NEM-ku.
Tentu saja kami sangat senang dengan pencapaian yang diperoleh. Setidaknya kerja keras belajar bersama di rumah Juli terbayar sudah.
"Eh, kita ke SMP Firman yuk," Aku mengajak Juli ke SMP Firman. Tak sabar mengetahui hasil ujian kawan sepakbolaku itu.
"Ayo, kalau dia berhasil lulus dengan nilai yang tinggi, sudah pasti kita akan bareng di SMA Dua," ujar Juli sambil bergegas mengikutiku.
Tidak seperti Aku yang kebetulan ikut menjuarai turnamen sepakbola bareng tim SMP-ku, sekolah Firman yang dibelanya gagal di final setelah kalah tipis melawan tim-ku.
Satu gol ku membuat SMP Firman hanya menjadi juara dua. Piagam yang diperoleh Firman juga tak cukup untuk membuatnya otomatis diterima di SMA Dua, kecuali nilai rata-rata NEM-nya di atas enam setengah.
"Paling tidak nilai NEM Firman harus tiga puluh sembilan Jul," kataku saat berjalan ke arah sekolah Firman.
"Pasti dia bisa. Memang untuk Bahasa Inggris Firman agak kurang, tapi matematika dan IPA-nya kuat loh," sela Juli.
Aku membenarkan omongan Juli. Sejak Firman bergabung belajar bersama kami, dia memang agak payah di pelajaran Bahasa Inggris. "Moga-moga aja nilai Bahasa Inggrisnya gak hancur," kataku sambil tertawa.
Yang kuingat tentang masa-masa belajar bersama Juli dan Firman dulu tentulah urusan bisnis barang loak yang sejenak kami hentikan mendekati Ebtanas.
Di situlah Aku semakin tahu tujuan Bapak memaksa kami menabung saat bisnis versi kami sedang kencang-kencangnya.
"Untung bapakmu menyuruh menabung Pras. Jadi aku bisa lebih fokus ke urusan ujian nasional. Paling tidak aku masih ada uang buat tambahan belanja ibuku selama kita berhenti merongsok," kata Firman saat itu.
Firman-lah yang paling merasakan anjuran Bapak. Uang recehan yang ditabungnya toh berguna juga untuk menggantikan uang bapaknya yang tak bisa menarik becak jika kebetulan becak bapaknya rusak atau bocor bannya.
"Tuh bocahnya malah kelihatan !" Juli menunjuk ke arah bocah yang sepertinya sedang bergegas menuju sekolah kami.
Aku mengayunkan telapak tanganku. Melambai menarik perhatian Firman yang kulihat tersenyum lebar ke arah kami.
"Sepertinya doa kita terkabul Jul," kataku senang sambil terus memperhatikan Firman yang semakin dekat.
***
"Ahahaha ... Aku lulus !" Setengah berteriak Firman menari-nari di depanku.
"Wah .... Selamat !" Aku ikut senang mendengar perkataannya. "NEM-mu bagaimana Man ?" tanyaku kemudian.
"Alhamdulilah .... Empat puluh satu Pras, cukup buat diterima di SMA Dua," ujarnya lagi masih dengan kegembiraan yang membuncah.
"Wah kita bisa satu sekolah." Juli ikut berbagi kegembiraan. "Kita ke kantor yuk. Buka kas kita buat merayakannya," sambungnya.
"Kas ?" Aku mengernyitkan kening mendengar ucapan Juli.
"Ya .... Uang bagianmu, uang jatah jajan Christ dan Dion adikmu kutabung sesuai permintaan bapakmu Pras. Dari awal aku memang sudah merencanakannya untuk sesuatu yang spesial seperti hari ini."
Tak kuduga, kawan Cina-ku itu ternyata penuh kerahasiaan. Selama ini dia tak pernah menyinggung apa yang disebutnya kas kantor versi dirinya.
Tentu saja setelah mendengar penjelasan Juli tentang uang kas yang dimaksud, Aku dan Firman tak sabar mengetahui peruntukannya.
"Yang jelas kita hitung dulu jumlahnya. Aku tak pernah mencatatnya secara tertulis. Tapi menurutku sih jumlahnya cukup lumayan," kata Juli.
"Kamu kok se-detail itu Jul." Kini Aku mengomentari kerahasiaan bisnis yang selama ini kami jalani.
Jujur saja, walau Juli dan Firman dari awal sudah mengatakan posisi diriku di urusan bisnis perloakan itu, niatku dari awal memang hanya sekedar membantu mereka. Sama sekali tak ada di pikiranku tentang hasil yang didapat.
Apalagi Bapak sedari awal memang melarangku untuk menerima imbalan dari Juli dan Firman.
"Jangan sekali-kali kamu terima uang dari mereka Pras, jika niatmu dari awal memang untuk membantu. Nanti pada saatnya kamu akan tahu apakah mereka benar-benar kawan sejatimu sebagai balasan apa yang kamu lakukan terhadap mereka." Kata-kata Bapak masih jelas terekam di benakku ketika suatu saat Bapak menyinggung dua kawan-ku itu.
Dan kini, Aku sepertinya mulai mendapat jawaban dari perkataan Bapak dulu. Sudah saatnya jendela pengetahuanku berkenalan dengan apa itu yang disebut kawan sejati ....
***
"Tiga ribu enam ratus lima puluh perak." Firman menambahkan kepingan uang logam limapuluh rupiah ke tumpukan recehan yang tadi dihitungnya.
"Wah lumayan juga kas kita," timpal Juli.
"Ok... jalankan rencanamu, jika ini memang hari yang spesial," kataku ke arah Juli.
Tak banyak omong, dia mengambil dua ribu perak dari tumpukan itu lalu diberikannya ke Firman. "Nih buat daftar SMA-mu Man," ucap Juli.
"Aduh jangan ... jangan .... Aku sudah ada uang buat urusan daftar." Firman tegas menolak uang yang diberikan Juli.
"Sudah Man .... Tak baik menolak rejeki. Simpan saja dulu, barangkali nanti kamu membutuhkannya." Tak mau apa yang direncanakan Juli terganjal penolakan Firman, Aku tegas memintanya mau menerima pemberian Juli.
Cukup lama dua kawan dekatku itu memperdebatkan persoalan peruntukan uang tadi.
"Kalau kamu tak mau menerimanya. Anggap saja bisnis kita selesai di hari ini."
Mendengar kata-kata Juli, akhirnya Firman mau menerimanya.
"Kalian baik banget. Entah bagaimana aku membalasnya," kata Firman setelah Juli memasukkan uang recehan tadi ke dalam tanya.
"Jadi sah ya .... Bisnis kita tetap jalan," seru Juli dengan gembira.
"Saaaaah.... Akuuuur .... !" ujarku sambil mengetok meja kayu di depanku.
"Sisanya kita belikan ayam jago bapakmu Man. Nanti malam kita bakar di rumahmu," kata Juli lagi menyinggung rencana berikutnya.
Sejak sering ke rumah Firman. Rupanya Juli juga tahu bapak Firman senang memelihara ayam. Walau cuma beberapa ekor, tapi itu juga tabungan bapak Firman. Biasanya sih dijual untuk memperbaiki becaknya.
Tentu saja mendengar rencana Juli berikutnya, Aku sangat mendukungnya.
Diantara kami bertiga, Firman-lah yang menurutku paling patut merayakan hari spesial ini. Dan entah bagaimana, Juli pintar merahasiakan apa yang ada di kepalanya selama ini.
"Baiklah jika itu memang kemauan kalian. Ajak bibi Yanti dan adikmu ya Pras nanti malam." Kali ini sepertinya Firman ingin berbagi hari spesialnya dengan siapa saja yang pernah membuatnya terkesan.
***
*loak : barang bekas yang masih bisa dijual.
*Ebtanas : Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional