NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepucuk Surat dan Debar di Batas Senja

Perubahan besar dalam diri seorang Zenix Wang kini menjadi topik hangat yang paling sering dibicarakan di seantero koridor kampus metropolitan. Mahasiswa yang dulunya dikenal semena-mena, kerap bolos kelas, dan selalu memandang rendah aturan, kini telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Meski penampilan luarnya masih mempertahankan gaya khas seorang bad boy dengan rambut cokelat keperakan yang acak-acakan namun keren, anting hitam yang senantiasa menghias telinga kiri, serta tatapan mata tajam yang mengintimidasi ada sesuatu yang melunak dari dalam hatinya. Ia tidak lagi arogan. Tutur katanya kepada dosen jauh lebih sopan, dan ia kini menjadi orang pertama yang duduk di barisan depan kelas untuk menyimak materi perkuliahan dengan dahi berkerut serius.

Sahabat-sahabatnya, terutama Deandra dan Jovanka, sampai berulang kali menggelengkan kepala keheranan. Mereka tahu betul, hidayah tidak langsung yang mengetuk hati Zenix bersumber dari sebuah pondok bambu sederhana di tepi Hutan Sangker. Janji suci untuk memantaskan diri demi seorang gadis berhijab bernama Anisa telah mengubah kompas hidup sang Pangeran Es secara total.

Siang itu, begitu dosen menutup perkuliahan dengan salam, Zenix menjadi orang pertama yang mengemasi buku-bukunya ke dalam ransel. Hari ini adalah hari di mana Kang Maman dijadwalkan kembali ke Desa Beringin Sakti setelah dua hari berada di kota untuk menyalurkan hasil bumi.

Sambil bersandar di meja kelas yang mulai sepi, Zenix buru-buru mengeluarkan selembar kertas putih bersih dan sebuah pulpen hitam dari dalam tasnya. Ia menumpahkan seluruh kerinduan dan janji yang berkecamuk di dadanya menjadi barisan kalimat yang rapi.

> “Assalamualaikum, Anisa.

> Bagaimana kabarmu di pondok? Semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu dari segala marabahaya, terutama saat malam tiba di tepi hutan itu. Aku merindukan ketenangan di sana. Merindukan suara tadarusmu.

> Anisa, aku sudah tiba di kota dengan selamat. Sesuai janjiku padamu dan pada diriku sendiri, aku sudah mulai berubah. Aku fokus pada kuliahku sekarang. Penolakanku pada godaan di sini adalah caraku menjaga kesucian janji kita. Tolong jaga dirimu baik-baik di sana, dan tetaplah menungguku. Aku akan kembali sebagai laki-laki yang siap memimpinmu.

> — Zenix Dirgantara.”

Zenix melipat surat itu dengan sangat rapi, memasukkannya ke dalam amplop putih yang bersih, lalu menyegelnya rapat-rapat. Ia mengembuskan napas panjang, merasakan detak jantungnya berair lebih cepat hanya karena menulis nama gadis itu.

Setelah menggendong tas ranselnya, Zenix langsung bergegas keluar dari area kampus tanpa memedulikan lambaian tangan Jennie dan gengnya yang mencoba mencegatnya di koridor utama. Ia memesan taksi dan langsung meluncur membelah kemacetan kota menuju sebuah area pergudangan logistik di pinggiran kota. Tempat itu adalah kawasan pasar grosir utama, di mana Kang Maman biasanya mengekspor dan menjual seluruh hasil panen dari Desa Beringin Sakti ke para tengkulak kota.

Suasana gudang sangat bising oleh suara mesin truk dan deru langkah para kuli angkut yang memanggul karung-karung besar. Di salah satu sudut parkiran yang agak teduh, mata tajam Zenix langsung mengenali mobil angkutan bak terbuka berwarna merah pudar dengan terpal hitam yang tempo hari membawanya pulang.

Kang Maman terlihat sedang duduk di emperan toko sambil mengibas-ngibaskan topi capingnya untuk mengusir gerah, bersiap-siap untuk menempuh perjalanan pulang ke desa karena seluruh muatannya telah habis terjual.

"Kang Maman!" panggil Zenix dengan suara beratnya yang khas sembari berjalan cepat menghampiri sang sopir.

Kang Maman mendongak, matanya berbinar mengenali pemuda kota bertubuh tinggi tegap tersebut. "Eh, Mas yang kemarin ya! Waduh, ada apa gerangan Mas tampan main ke pasar kotor begini?" seloroh Kang Maman sambil terkekeh ramah.

Zenix tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang kini jauh lebih sering muncul di wajahnya. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan amplop putih bersih yang kontras dengan suasana pasar. "Kang, saya mau minta tolong. Nanti sore kalau sudah sampai di desa, tolong titipkan surat ini langsung ke tangan Anisa di pondoknya, ya?"

Kang Maman menerima amplop itu dengan hati-hati, melihat nama yang tertera di sana. Senyum penuh pengertian langsung terukir di wajah paruh bayanya. "Oalah... surat toh. Siap, Mas tampan. Pasti Kang Maman sampaikan langsung ke Neng Anisa. Beliau anak baik, pasti senang menerima kabar dari Mas."

Sebelum Kang Maman sempat mengantongi surat itu, Zenix kembali merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang cukup tebal, lalu menyodorkannya kepada Kang Maman.

Kang Maman terkejut, melambaikan tangannya menolak. "Eh, jangan banyak-banyak, Mas! Cuma bawa kertas begini mah gratis juga tidak apa-apa, sekalian Kang Maman lewat jalan pulang."

Zenix menggeleng tegas, dengan lembut menarik tangan Kang Maman dan meletakkan uang itu di atas telapak tangannya. "Tolong diterima, Kang. Ini bukan cuma ongkos titip surat, tapi ini upah uang bensin untuk mobil Akang supaya perjalanannya lancar membelah jalur hutan nanti. Saya sangat berterima kasih atas bantuan Akang selama ini."

Melihat ketulusan dan kesopanan yang luar biasa dari pemuda kota yang aslinya kaya raya itu, Kang Maman akhirnya luluh. Ia mengangguk dengan rasa hormat yang besar. "Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Mas Tampan. Uang bensin ini sangat membantu untuk keluarga di rumah. Kang Maman janji, surat ini akan aman sampai ke tangan Neng Anisa tanpa lecet sedikit pun!"

Setelah memastikan urusannya selesai dan menjabat tangan Kang Maman dengan erat, Zenix berpamitan untuk kembali ke mansionnya. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan hari ini, karena sebagian dari jiwanya kini sedang ikut melaju bersama mobil merah itu menuju desa di seberang hutan.

Sementara itu, beberapa jam kemudian di tempat yang berbeda, sang waktu tampaknya bergerak lebih lambat di Desa Beringin Sakti. Sinar matahari senja berwarna jingga keemasan mulai turun, memayungi deretan pohon-pohon besar di tepi Hutan Sangker. Hawa dingin yang magis perlahan mulai merayap turun dari balik pegunungan.

Di salah satu sudut jalanan batu makadam desa, Anisa tampak sedang berjalan kaki dengan anggun. Gadis itu mengenakan gamis kain berwarna hijau lumut yang dipadukan dengan jilbab instan berwarna hitam yang menutupi dada. Di kedua tangannya, ia mendekap sebuah baskom plastik besar yang berisi tumpukan pakaian bersih milik warga desa yang sudah kering dan rapi setelah selesai ia cuci dan setrika. Menjadi buruh cuci adalah salah satu cara halal yang ia lakukan untuk menyambung hidup dengan mandiri sejak kakeknya tiada.

Meskipun tangannya terasa agak pegal setelah seharian bekerja keras, wajah bersahaja Anisa tetap memancarkan ketenangan. Namun, jika ada yang memperhatikannya dengan jeli, sesekali matanya akan menerawang menatap ke arah jalan setapak menuju kota, teringat akan lambaian tangan seorang pemuda beranting hitam dua hari yang lalu.

Saat Anisa berbelok di persimpangan dekat pohon beringin tua untuk mengambil jalan pintas pulang menuju pondok bambunya, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal dari arah depan.

BRUMMM... KHREEEKK...

Mobil angkutan bak terbuka milik Kang Maman melaju pelan dan mendadak berhenti tepat beberapa meter di depan Anisa. Kang Maman membuka kaca jendela kemudinya, menjulurkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Neng Anisa! Kebetulan pisan kita ketemu di sini!"

Anisa menghentikan langkahnya, membetulkan dekapan baskom pakaian di dadanya lalu mengangguk santun. "Eh, Kang Maman. Baru pulang dari kota, Kang? Bagaimana jualan hasil buminya, lancar?"

"Alhamdulillah, Neng, habis semua tidak tersisa," jawab Kang Maman riang. Pria itu kemudian merogoh saku kemeja safarinya yang lusuh, mengeluarkan sebuah benda putih yang langsung membuat napas Anisa tertahan sejenak. "Oh iya, Neng. Ini ada titipan penting buat Neng Anisa. Kemarin siang waktu Kang Maman masih di gudang kota, Mas tampan yang tinggi ganteng itu nyamperin Kang Maman sengaja cuma buat nitip ini."

Kang Maman mengulurkan amplop putih bersih yang masih berbau harum wangi parfum kota maskulin khas Zenix.

Jantung Anisa seketika berdesir hebat. Mas Zenix? Nama itu bergema di dalam dinding dadanya, memicu debaran yang begitu kencang hingga tangannya yang memegang baskom mendadak terasa sedikit gemetar. Rasa tidak percaya dan kebahagiaan yang membuncah bercampur menjadi satu.

Dengan gerakan perlahan dan penuh rasa hormat, Anisa menerima surat tersebut, menyelipkannya dengan aman di sela-sela lipatan pakaian bersih di dalam baskom agar tidak kotor. "Ya Allah... terima kasih banyak ya, Kang Maman, sudah repot-repot membawakan surat ini sampai ke desa."

"Sama-sama, Neng. Mas tampan itu juga sopan sekali, tadi ngasih uang bensinnya banyak pisan sampai Kang Maman sungkan. Ya sudah, Kang Maman duluan ya Neng, mau masukin mobil ke garasi. Salam buat mahluk-mahluk pondok!" canda Kang Maman sebelum memacu kembali mobilnya, meninggalkan Anisa yang kini berdiri terpaku di pinggir jalan.

Setelah mobil Kang Maman menghilang, Anisa mempercepat langkah kakinya menuju pondok bambu di tepi hutan. Rasa pegal di kakinya mendadak hilang, digantikan oleh rasa penasaran yang luar biasa. Pikirannya dipenuhi oleh rasa ingin tahu apa yang ditulis oleh pria berkarakter dingin itu di dalam pucuk surat pertamanya?

Sesampainya di halaman pondok yang dikelilingi pagar bunga kuning, Anisa buru-buru masuk, meletakkan baskom pakaian di atas bale-bale bambu, dan segera mengambil amplop putih tersebut.

Duduk di tepi jendela pondok dengan ditemani cahaya temaram sisa senja yang mulai menggelap, Anisa membuka segel amplop itu dengan sangat hati-hati, takut merobek kertas di dalamnya. Detak jantungnya berair semakin liar (deg-degan) saat jemarinya menyentuh tekstur kertas putih dan melihat goresan tinta hitam yang membentuk tulisan tangan Zenix yang tegas namun rapi.

Anisa membaca baris demi baris kata-kata manis perpisahan, komitmen, dan janji setia yang ditulis Zenix dengan penuh penjiwaan. Ketika matanya membaca bagian di mana Zenix menulis, “Penolakanku pada godaan di sini adalah caraku menjaga kesucian janji kita,” kedua pipi Anisa seketika bersemu merah muda di balik jilbab hitamnya. Senyuman paling manis dan tulus terukir di bibirnya. Ada rasa haru yang mendalam mengetahui bahwa pemuda kota yang keras itu benar-benar memegang teguh kata-katanya untuk berubah menjadi lebih baik demi menghormati batasan yang ia minta.

Anisa mendekap surat itu di dadanya, memejamkan mata sejenak seraya membisikkan doa syukur kepada sang Pencipta karena telah mempertemukannya dengan belahan jiwa yang bertanggung jawab. Di dalam hatinya yang paling dalam, keinginan untuk segera mengambil selembar kertas dan membalas surat itu malam ini juga sudah tidak terbendung lagi. Ia ingin memberi tahu Zenix bahwa doa subuhnya tidak pernah putus untuk mengiringi perjuangan pemuda itu di kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!