Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manipulasi Sang Mantan
Mansion pagi itu terasa seperti sebuah bangunan yang kehilangan pelindung utamanya.
Sejak subuh, Elvano telah meninggalkan kediamannya demi menghadiri pertemuan darurat para tetua klan di markas distrik utara.
Absennya sang Bos menciptakan celah keamanan yang tak terlihat, sebuah momentum yang rupanya telah diintai dengan sangat cermat oleh sepasang mata penuh ambisi dari luar sana.
Alice duduk di sofa beludru ruang tamu utama, menatap kosong ke arah taman melalui jendela kaca yang besar.
Sinar matahari pagi yang cerah sama sekali tidak mampu mengusir mendung yang menggelayuti wajahnya yang kian pucat.
Di atas meja di hadapannya, secangkir teh jahe hangat untuk meredakan mual paginya masih mengepulkan asap tipis, tak tersentuh.
Keheningan itu pecah seketika saat pintu jati di ujung ruangan terbuka.
Langkah sepatu hak tinggi berbahan sol keras mengetuk di atas lantai marmer, menciptakan gema yang seketika membuat bulu kuduk Alice meremang.
Viona melangkah masuk dengan angkuh yang dipaksakan.
Hari ini ia mengenakan setelan blazer satin hitam dengan potongan dada rendah yang ketat, dipadukan dengan kacamata hitam berbingkai besar yang segera ia turunkan ke ujung hidungnya saat melihat Alice.
Di belakangnya, seorang pelayan senior tampak melangkah dengan wajah ragu dan cemas.
"Nona Alice, maafkan saya..." bisik pelayan itu dengan suara bergetar.
"Nyonya Viona memaksa masuk dengan alasan ada perhiasan masa lalunya yang tertinggal di laci kamar rias atas..."
Viona mengibaskan tangan kanannya yang dihiasi kuteks merah darah, mengusir pelayan itu dengan gestur merendahkan.
"Keluar. Aku bisa mencari barangku sendiri. Lagipula, aku ingin menyapa... penghuni baru mansion ini."
Begitu pelayan itu mundur dengan membungkuk takut, pandangan Viona langsung terkunci pada sosok Alice.
Sepasang matanya yang tajam berkilat penuh permusuhan, memindai Alice dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
Ia melangkah mendekat, lalu dengan lancang mendudukkan diri di sofa tunggal tepat di hadapan Alice, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan gestur penuh kuasa.
Alice menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang mendadak menggila.
Mengingat janji yang ia buat pada dirinya sendiri semalam, Alice menegakkan punggungnya.
Ia menolak untuk terlihat ringkih. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menatap balik wanita di hadapannya dengan sorot mata hazel yang diusahakan tetap tenang dan datar.
"Barang-barang Anda dari masa lalu harusnya sudah dibersihkan oleh para pengawal tujuh tahun lalu, Nyonya Viona," ucap Alice, suaranya terdengar dingin dan stabil, meski di dalam dadanya seolah ada badai yang siap meledak.
"Jika Anda butuh sesuatu, Anda bisa meminta Kaiven atau para penjaga untuk mencarinya, bukan datang ke mari saat Tuan Elvano sedang tidak ada."
Viona terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang terdengar sangat sinis dan menyayat telinga.
Ia melepas kacamata hitamnya dan meletakkannya di atas meja marmer dengan dentingan kasar.
"Kau cukup berani juga untuk ukuran seorang wanita tawanan yang beruntung," cemooh Viona, senyumnya penuh akan racun manipulasi.
"Kau pikir dengan mengandung anak di rahimmu itu, kau otomatis menjadi nyonya di rumah ini? Jangan naif, Alice. Kau tidak tahu apa-apa tentang Elvano. Kau tidak tahu bagaimana pria itu berpikir."
Viona mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan tangan yang dipenuhi perhiasan mahal.
"Biar kubuka matamu yang buta itu. Kau tahu mengapa Elvano mendadak memperlakukanmu seperti ratu setelah tahu kau hamil? Mengapa dia melamarmu dengan cincin warisan klan? Apakah kau benar-benar berpikir itu karena cinta?" Viona tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"Oh, kasihan sekali. Kau hanyalah sebuah alat, Alice."
Kata "alat" itu menghantam dada Alice seperti sebuah godam yang tak terlihat.
Namun, Alice tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang dingin.
Ia mencengkeram gaunnya sendiri di bawah lipatan tangan untuk menyembunyikan jemarinya yang mulai bergetar hebat.
"Tuan Elvano telah melakukan tes medis, dan dia menerima anak ini," balas Alice, mencoba menggunakan fakta medis sebagai perisainya.
"Tentu saja dia menerimanya! Pria mana yang tidak akan melompat kegirangan saat divonis mandul seumur hidup lalu tiba-tiba ada rahim subur yang berhasil dibuahi?" serang Viona, matanya menyipit kejam, meluncurkan kalimat manipulasi utama yang telah ia persiapkan.
"Elvano melakukan semua itu hanya demi memuaskan ambisinya. Dia ditekan oleh kakeknya, sang bos terdahulu, dan para tetua klan yang menuntut adanya pewaris sah agar takhta Salvatore tidak jatuh ke tangan sepupu-sepupunya yang gila. Elvano hanya memanfaatkan rahim suburmu demi menyenangkan sang kakek dan mengamankan posisinya sebagai penguasa tertinggi!"
Viona bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mengitari sofa tempat Alice duduk, mengitari mangsanya yang telah terpojok.
Suara sepatunya terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi ketenangan jiwa Alice.
"Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu sendirian di meja makan semalam hanya demi menemani anakku, Kenzo, di rumah sakit," bisik Viona tepat di dekat telinga Alice, suaranya berubah menjadi desisan ular yang mematikan.
"Cinta sejati Elvano... rasa bersalahnya, gairahnya, dan masa lalunya yang paling indah, semuanya tetap ada padaku. Tujuh tahun kami berpisah, dan lihat bagaimana dia menatap Kenzo sore itu? Dia goyah, Alice. Dia mengabaikanmu karena darah jauh lebih kental daripada air."
Viona kembali berdiri di depan Alice, menatap perut Alice yang masih rata dengan pandangan penuh kemenangan.
"Begitu hasil tes DNA Kenzo keluar dalam beberapa hari lagi dan membuktikan dia adalah putra sulung Elvano, posisimu akan kembali ke tempat semula. Kau hanya akan menjadi wanita simpanan yang melahirkan anak kedua. Elvano akan membayarmu, mengambil bayimu, dan membuangmu keluar dari pintu mansion ini karena klan Salvatore hanya membutuhkan satu ratu... dan ratu itu adalah aku, wanita yang memiliki sejarah legal bersamanya."
Setiap kalimat yang keluar dari bibir merah menyala Viona berhasil menembus dinding pertahanan yang baru saja Alice bangun semalam.
Kata-kata itu menusuk ulu hatinya sangat dalam, mengoyak luka lama tentang posisinya yang semula hanya seorang tawanan.
Manipulasi Viona terasa begitu nyata karena didukung oleh fakta bahwa Elvano mengabaikannya.
Pikiran Alice yang sedang tidak stabil akibat hormon kehamilan mulai membenarkan ucapan wanita ular itu.
Apakah benar... Elvano hanya membanggakanku karena rahimku? Karena aku bisa memberikannya penerus yang diinginkan kakeknya? batin Alice menjerit histeris, menyisakan rasa perih yang teramat pekat di dadanya.
Namun, di tengah rasa sakit yang menghancurkan jiwanya, Alice menolak untuk menangis di depan musuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengunci air matanya di sudut mata, lalu bangkit berdiri dari sofa dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
Ia menatap Viona lurus-lurus dengan tatapan mata hazel yang tajam, walau tubuh ringkihnya di balik gaun katun itu sebenarnya sedang bergetar hebat.
"Jika tujuan Anda ke mari hanya untuk membual dan memamerkan hasil tes DNA itu, Nyonya Viona, maka Anda telah membuang waktu Anda," ucap Alice, suaranya bergetar tipis namun penuh akan ketegasan.
"Silakan keluar dari mansion ini sebelum saya memerintahkan para pengawal untuk menyeret Anda keluar. Urusan Anda adalah dengan Tuan Elvano, bukan dengan saya."
Viona sempat tertegun melihat perlawanan Alice yang di luar ekspektasinya.
Namun, sedetik kemudian, senyum licik kembali mengembang di wajahnya.
Ia tahu, meski Alice bersikap tegap di depannya, kata kata bualannya yang ia tanamkan telah berhasil merusak fondasi mental wanita muda itu.
"Nikmati sisa hari-harimu di ranjang Elvano, Alice," ucap Viona santai sembari meraih kacamata hitamnya dan memakainya kembali.
"Karena sebentar lagi, tempat itu akan kembali menjadi milikku."
Viona berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dengan tawa kemenangan yang tertahan.
Begitu sosok wanita berbaju hitam itu menghilang di balik pintu utama, seluruh kekuatan di kaki Alice mendadak lenyap.
Tubuhnya merosot kembali ke atas sofa, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah tak terbendung.
Ia membekap mulutnya sendiri, meratapi kata-kata Viona yang kini mulai menari-nari kejam di dalam kepalanya, menghancurkan sisa-sisa rasa percaya yang pernah ia miliki untuk Elvano.
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔