NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Asing di Tanah Tak Berjejak

*"Jika kita benar-benar orang asing, kenapa saat kau menatapku, rasanya seperti aku sedang menatap cermin yang menyimpan rahasia yang bahkan tidak berani aku akui pada diriku sendiri?"*

Aku menatap pria di depanku. Pakaiannya lusuh, penuh dengan robekan yang sudah mengering, dan meski dia tidak ingat siapa dirinya, ada aura ketenangan yang sangat kontras dengan tatapan tajamnya yang menyelidik. Kami berdiri di tengah hutan rimba yang tidak kukenal, dikelilingi oleh pepohonan raksasa yang batangnya berlumut hitam. Tidak ada suara sihir yang berdenyut di udara, tidak ada detak jantung yang aneh, tidak ada beban takdir yang menghimpit. Hanya ada suara gesekan dedaunan dan napas kami yang beradu.

Pria itu—yang kutahu bernama... siapa? Namanya tersangkut di tenggorokanku. Dia menatap tangannya sendiri, memperhatikan bekas luka bakar di lengannya yang anehnya terlihat seperti pola rasi bintang yang samar.

*"Aku tidak tahu,"* jawabnya pelan, suaranya berat namun menenangkan. *"Tapi ada satu hal yang aku yakini, Marie. Meskipun namaku mungkin hilang ditelan debu, tanganku ini... tanganku tahu cara memegang senjata. Dan hatiku—entah kenapa—terasa seperti telah lama menunggu untuk menemukan seseorang untuk dilindungi."*

Dia tidak tahu bahwa aku bisa merasakan hal yang sama. Meskipun aku tidak memiliki ingatan, ketika dia berdiri di dekatku, ketakutanku berkurang drastis. Ada sebuah koneksi instingtual yang lebih dalam daripada sekadar logika. Kami adalah dua kepingan teka-teki yang dipaksa terpisah, namun entah bagaimana, gravitasi di antara kami masih bekerja.

*"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"* tanyaku, mencoba mengalihkan rasa cemas yang mulai tumbuh. *"Kita tidak punya bekal, tidak punya ingatan, dan tempat ini... tempat ini terasa sangat asing. Kau tidak merasa bahwa hutan ini terlalu diam? Tidak ada burung, tidak ada serangga..."*

Dia menoleh ke sekeliling, matanya menyipit. Dia benar. Hutan ini terlalu mati.

*"Kita bergerak ke arah matahari terbenam,"* putusnya tegas. *"Instingku mengatakan bahwa jika kita tetap diam di sini, kita akan menjadi sasaran empuk bagi sesuatu yang sedang mengawasi kita dari balik pepohonan itu."*

Kami mulai berjalan. Aku tidak tahu berapa lama kami menyusuri jalur setapak yang samar-samar tertutup semak berduri. Setiap langkah yang kami ambil terasa seperti perjuangan. Kulitku yang semula mulus kini tergores, dan pria di sampingku—yang kuputuskan untuk kupanggil 'J' sampai kami menemukan nama aslinya—terus memimpin jalan dengan kewaspadaan yang luar biasa.

Saat hari mulai gelap, kami menemukan sebuah reruntuhan bangunan batu yang tertutup tanaman rambat. Bangunan itu tampak seperti sisa-sisa kuil, namun ukurannya tidak masuk akal untuk manusia biasa. Di dindingnya terdapat ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan orang-orang memegang bola cahaya—sihir. Melihat ukiran itu, kepalaku mendadak berdenyut hebat.

*"Marie, kau tidak apa-apa?"* J segera menahan tubuhku saat aku oleng.

*"Ukiran itu..."* suaraku gemetar. *"Aku merasa... aku pernah melihatnya. Bukan sebagai ingatan, tapi sebagai perasaan. Sesuatu yang sangat panas, sangat kuat, dan sangat menyakitkan."*

J menatap ukiran itu dengan tatapan yang sama. *"Sihir. Aku ingat kata itu. Sihir bukan hanya kekuatan, itu adalah kutukan. Entah bagaimana, aku tahu itu."*

Tiba-tiba, suara retakan ranting di belakang kami membuat kami berdua tersentak. J menarikku ke balik pilar besar, tangannya memberi isyarat agar aku tetap diam. Dari balik kegelapan hutan, muncul sekelompok pria berpakaian kulit binatang, wajah mereka dicorengi cat perang. Mereka bukan tentara Dewan Langit yang rapi, mereka terlihat seperti penduduk lokal yang keras. Salah satu dari mereka membawa tombak yang ujungnya terbuat dari logam tajam.

*"Aku mencium aroma orang luar,"* suara salah satu dari mereka menggeram, suaranya kasar seperti batu yang saling bergesekan. *"Baunya seperti sisa-sisa cahaya."*

Mereka adalah pemburu. Dan dari cara mereka bergerak, mereka tidak berniat menanyakan arah jalan pulang.

*"Dengar,"* bisik J ke telingaku. *"Saat aku memberi aba-aba, lari ke arah barat. Jangan menoleh, jangan berhenti. Aku akan menahan mereka."*

*"Tidak! Kita lari bersama!"* bisikku keras.

*"Lihatlah mereka, Marie! Mereka punya senjata. Aku tidak punya apa-apa selain tanganku kosong. Aku harus menciptakan celah untukmu."*

*"Tidak!"* aku mencengkeram lengan bajunya. *"Jika kita kehilangan satu sama lain di tempat asing ini, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku bisa merasakannya. Kalau kita harus mati, kita mati bersama."*

J menatapku, matanya yang obsidian tampak melunak. Dia tidak punya waktu untuk mendebatku. Para pemburu itu semakin mendekat, sudah mengendus lokasi kami di balik pilar.

J mengambil sepotong kayu tajam dari tanah. *"Kalau begitu, bersiaplah. Aku tidak tahu teknik apa yang kuingat, tapi tanganku... tanganku siap untuk bertarung."*

Saat pemburu pertama muncul di balik pilar, J bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia tidak menggunakan gerakan kasar, melainkan teknik yang sangat efisien—sebuah tendangan ke lutut diikuti dengan hantaman telapak tangan ke tenggorokan. Itu adalah gerakan yang lahir dari ribuan jam latihan yang terlupakan.

Pemburu itu jatuh, namun lima orang lainnya segera mengepung kami.

*"Cari cahaya itu!"* teriak pemimpin mereka. *"Bawa mereka kepada Tetua. Darah mereka bisa membuka Gerbang Keheningan!"*

Mereka menyerang sekaligus. J bertarung seperti seekor singa yang terluka, namun meski dia sangat terampil, dia kalah jumlah. Aku mencoba membantu dengan melemparkan batu dan apapun yang bisa kuraih, namun aku merasa tidak berguna.

*Sihir...* pikirku frustrasi. *Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan apapun? Jika aku benar-benar memiliki sisa energi, kenapa tidak bisa kupanggil?*

Salah satu pemburu berhasil melumpuhkan J dengan pukulan gagang tombak di kepalanya. J ambruk ke tanah, dan sebelum aku bisa berteriak, tombak sudah mengarah ke leherku.

*"Bawa mereka,"* pemimpin itu memerintahkan.

Kami diseret melalui hutan yang gelap, diikat dengan tali kasar yang terbuat dari akar pohon. Perjalanan itu terasa sangat panjang. Akhirnya, kami tiba di sebuah desa yang tersembunyi di dalam kawah besar. Rumah-rumah mereka dibangun dari tengkorak hewan raksasa dan batu-batu hitam. Di pusat desa, berdiri sebuah altar yang mengeluarkan aroma logam yang tajam.

Seorang wanita tua dengan jubah dari kulit ular mendekat. Dia memiliki mata yang putih sepenuhnya, buta secara fisik, namun tatapannya terasa menembus jiwaku.

*"Kalian akhirnya datang,"* suaranya melengking. *"Pewaris yang kehilangan cahayanya, dan Penjaga yang kehilangan pedangnya. Kalian pikir kalian bisa lari dari takdir dengan menghapus ingatan kalian di Sumur Kehampaan?"*

J mencoba bangkit meski darah mengalir di pelipisnya. *"Siapa kau? Dan kenapa kau berbicara seolah kau mengenal kami?"*

Wanita itu tertawa, suara tawa yang memenuhi kawah tersebut. *"Aku adalah penjaga sejarah yang terlupakan. Nama kalian tidak ada lagi di buku sejarah dunia ini, karena kalian telah menghapusnya. Tapi, kalian tidak bisa menghapus bekas luka di tubuh kalian. Kalian adalah Marie dan Julius, dua orang yang menghancurkan tatanan sihir murni demi ego kalian sendiri."*

Marie. Julius. Nama-nama itu... entah kenapa terasa pas di lidahku.

*"Apa yang akan kalian lakukan pada kami?"* tanyaku, meski tubuhku gemetar hebat.

*"Kami tidak akan membunuh kalian,"* wanita itu mendekat, jarinya yang kurus menyentuh dadaku. *"Itu terlalu mudah. Kami akan membiarkan kalian hidup di dunia ini, dunia yang sudah melupakan apa itu sihir. Tapi ingat satu hal: setiap kali kalian mencoba untuk mengingat, rasa sakit dari masa lalu akan datang untuk menagih hutang. Dan suatu hari nanti, saat ingatan itu kembali sepenuhnya, kalian harus memilih: apakah kalian akan kembali menjadi monster yang kalian dulu, atau kalian akan membiarkan diri kalian binasa demi kedamaian dunia?"*

Dia memberi isyarat, dan para pemburu itu melepaskan ikatan kami, namun mereka meninggalkan kami di tengah kawah yang gelap.

*"Pergilah,"* perintahnya. *"Cari jawaban kalian di reruntuhan Ibukota Kuno di utara. Jika kalian bisa sampai di sana tanpa saling membunuh karena rasa benci, mungkin—hanya mungkin—kalian akan selamat."*

Setelah mereka pergi, kami berdiri di tengah kawah, sendirian. Suasana menjadi sangat hening. J menatapku, dan kali ini, tatapannya tidak lagi ramah. Ada kebencian yang mendadak muncul, sebuah refleks dari ingatan yang mulai bangkit.

*"Kau,"* suaranya dingin, sangat berbeda dari yang tadi. *"Aku ingat sesuatu. Aku ingat kau adalah alasan kenapa aku harus menderita selama ini. Kau adalah beban yang harus kujaga, yang seharusnya kubiarkan mati di tangan Syndicate."*

Jantungku berhenti. Kebencian di matanya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan tombak manapun.

*"Dan aku ingat,"* balasku dengan suara bergetar, *"...aku ingat bahwa kau adalah orang yang memanipulasiku. Kau tidak pernah mencintaiku, Julius. Kau hanya menginginkan jantung ayahku."*

Kami berdua berdiri di sana, di bawah langit malam yang tidak memiliki bintang. Hubungan yang tadinya terasa manis, kini hancur karena ingatan yang kembali secara sepihak dan penuh kebencian. Kami terdampar di dunia yang asing, tanpa kekuatan, tanpa sekutu, dan yang paling parah... kami mulai mengingat alasan kenapa kami dulu saling menghancurkan.

J membuang muka, berjalan menjauh ke arah utara. *"Jangan ikuti aku, Marie. Kalau kau tetap di dekatku, aku tidak bisa menjamin aku tidak akan membunuhmu saat aku ingat sepenuhnya siapa diriku."*

Aku ditinggalkan sendirian di tengah kawah gelap. Aku harus memilih: mengejarnya untuk menuntut penjelasan, atau berjalan ke arah yang berlawanan dan mencoba memulai hidup baru tanpa dia.

Tiba-tiba, tanah di bawah kakiku mulai bergetar. Bukan karena sihir, melainkan karena sesuatu yang besar sedang bangkit dari bawah kawah. Sesuatu yang bukan manusia. Sesosok makhluk yang terbuat dari besi tua dan rantai—penjaga desa ini yang selama ini tertidur.

Makhluk itu meraung, suaranya membuat desa itu porak-poranda. Julius menoleh, dia melihat makhluk itu, lalu menatapku yang terdiam di tengah kawah.

*"Marie!"* dia berteriak, bukan karena benci, tapi karena naluri lama yang masih ada. *"Lari!"*

Tapi makhluk itu sudah melompat, menutupi jalan kami dengan bayangannya yang raksasa.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!