Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 DENIAL
Cklik.
Saklar lampu ruang tamu nyala.
Keenan langsung kaget. Refleks. Kunci rumah di tangannya hampir jatuh.
Di sofa, Netha duduk. Santai. Gelas air putih di tangan. Tapi mata dia... tajam. Nungguin.
“Baru pulang, Mas?” Suaranya lembut. Tapi ada duri di dalamnya.
Keenan ngusap tengkuk. Gugup. “Eh... iya. Tumben belum tidur?”
Netha berdiri. Perlahan. Gerakannya anggun. Sengaja.
Malam ini dia beda. Rambut disanggul asal. Lingerie hitam transparan sampai atas lutut. Paha mulusnya keliatan kontras sama bahan tipis itu. Sengaja dia pakai buat mancing reaksi.
Keenan menelan ludah. Kasar. Matanya gak bisa lepas dari Netha. Jantungnya deg-degan. Bukan karena rindu. Tapi karena bersalah.
Netha jalan mendekat. Senyum smirk di bibir pink-nya. Bibir yang biasa dia cium tiap malam... sebelum semuanya hancur.
“Dari mana, Mas? Kok tumben pulang jam segini?” Netha naruh gelas di meja. Tangannya langsung ngaling ke leher Keenan. Dekat. Terlalu dekat.
Napasa Netha nyapu leher Keenan. Dia ngendus pelan. Mencari.
Deg.
Jantung Keenan copot. Di lehernya masih ada sisa aroma parfum Clara. Manis. Mahal. Bukan parfum dia.
“Ada urusan mendadak, Sayang.” Keenan mundur setengah langkah. Gak nyaman. “Tadi gue ke kantor Om Arsen. Bahas soal kasus lo. Gue minta dia bantu nutup kasus itu lagi, Tha.”
Netha ngangkat satu alis. Senyumnya gak hilang. “Oh... jadi lo jujur sekarang?”
Cup
Dia majuin wajah. Kecup singkat di leher Keenan. Persis di titik yang tadi dia cium. “Ayo ke kamar, Mas. Aku udah siapin air hangat. Mau mandi dulu atau makan?”
Suara Netha manja. Genit. Tapi mata dia... dingin.
Keenan melongo. Otaknya konslet. “Kamu... kamu capek kan hari ini? Keliatan keringetan.”
Deg lagi.
Keenan ngerasa kepergok. Padahal Netha cuma nebak. Tapi tebakan itu pas.
“Mas Keenan?” Netha nepuk pipi Keenan pelan. Bikin dia sadar.
“Ah, iya. Kenapa?” Keenan gagap.
“Kok Ngelamun. Mandi atau makan dulu?”
“Mandi dulu aja.” Keenan buru-buru jawab. Butuh ngilangin jejak.
“Ya udah. Aku siapin makan malam ya.” Netha ngecup kening Keenan. Lembut. “Makasih, Sayang. Udah mau jujur soal Om Arsen.”
Cup.
Keenan ngecup kening Netha balik. Jalan ke tangga. Punggungnya kaku.
Netha ngeliatin sampe Keenan hilang di lantai atas. Begitu gak keliatan lagi, senyumnya luntur. Diganti senyum getir.
Matanya mengembun.
`Parfum perempuan. Jelas. Bukan parfum kantor. Lo bohong, Mas.`
Sebulan lalu kejadian yang sama. Dan sekarang... keulang lagi.
---
*15 menit kemudian. Ruang makan.*
Keenan turun. Udah ganti baju. Kaos + celana pendek rumah. Tapi wajahnya masih tegang.
Netha udah nyiapin gulai kambing. Dagingnya banyak. Asapnya masih ngebul. Wanginya bikin laper.
“Duduk, Mas.” Netha narik kursi buat Keenan. “Aku masak banyak dagingnya. Biar kamu puas.”
Kata ‘daging’ dan ‘puas’ keluar dari mulut Netha dengan intonasi beda. Sengaja.
Keenan glek. Otaknya langsung mikir kotor. Dia geleng cepat. Tepis. “Terima kasih, istriku yang cantik.” Dia kedip sebelah. Coba cairin suasana.
Netha cuma senyum tipis. Hambar.
Di hati Netha, gombalan itu dulu candu. Sekarang... gak ada rasa. Hatinya udah mati rasa. Sejak Keenan pilih Clara sebulan lalu.
Grep.
Tangan Keenan nyergap pinggang Netha dari belakang. Erat. Dia tarik Netha ke pelukannya.
“Netha...” Napas Keenan di ceruk leher Netha. “Aku kangen.”
Tangan Keenan mulai nakal. Turun ke pinggang. Naik lagi. Nyari celah.
Netha merem. Nahan. Gak mau desah. Gak mau kalah.
“Mas...” Suaranya ketahan. Geli. Tapi bukan geli nikmat. Geli jijik.
“Please, Tha. Aku udah lama puasa. Gak nyentuh kamu sebulan lebih.” Bisik Keenan. Parau. Beneran kangen. Atau cuma nafsu? Netha gak tau.
Keenan muterin badan Netha. Sekarang mereka berhadapan. Kedua tangan Keenan nangkup pipi Netha. Terus cium.
Hmmmppphh.
Netha gak bales. Bibirnya diem. Kaku. Tapi Keenan tetep lanjut. Brutal. Sampai mereka sama-sama kehabisan napas.
"Lepas mas"
Keenan napas ngos-ngosan. “Tha, aku pengen. Aku kangen banget.”
Netha dorong dada Keenan. Kuat. Sampai Keenan jatuh duduk di kasur. Posisi terlentang.
Keenan ngernyit. Bingung. “Apa Maksud kamu?”
Netha pasang wajah memelas. Paling jago. “Maaf, Mas. Bukan gak mau. Tapi keadaan gak berpihak ke kamu malam ini.”
“Keadaan apa?” Keenan duduk. Frustasi.
“Aku datang bulan, Mas.” Netha nunduk. Malu-maluin.
Damnn.
Rasa panas di tubuh Keenan langsung padam. Berganti lemas. Kecewa. “Apes... malam-malam harus mandi lagi.” Gumamnya pelan.
Netha diem. Tapi dalam hati dia ketawa. Kemenangan kecil.
`Rasakan, Mas. Jangan harap gue semudah itu maafin lo.`
Dia belum siap disentuh. Luka sebulan lalu masih berdarah. Dan dia gak bakal kasih Keenan apa yang dia mau... segampang itu.
---
*Jam 23.30. Kamar Netha.*
Keenan udah tidur. Tapi tidurnya gelisah. Muter-muter.
Netha duduk di balkon. Selimut di bahu. Ngeliatin langit Surabaya yang mendung.
HP di tangan. Dia buka IG Ghea. Foto dinner sama Arsen masih ada. Tapi dia gak fokus ke Arsen. Dia fokus ke komentar netizen: `Cieee, pantesan kasus Netha ketutup. Ada orang dalam.`
Jari Netha berhenti.
`Orang dalam? Om Arsen?`
Dia gak mau ngaku. Tapi dadanya sesak. Bukan karena Keenan. Karena rasa curiga.
Tok tok.
Pintu kamar kebuka pelan. Keenan. “Belum tidur?”
Netha kaget. Cepet nutup HP. “Insomnia.”
Keenan duduk di kursi dekat balkon. Jaga jarak. “Gue... gue minta maaf lagi, Tha. Buat semuanya. Termasuk udah minta tolong Om Arsen tanpa bilang dari awal.”
Netha gak noleh. “Maaf lamu udah basi, Mas.”
Keenan diem. Lama. Terus ngeluarin HP. Buka galeri. Foto pernikahan mereka 5 tahun lalu.
“Lihat ini, Tha.” Dia nunjukin layar. “Gue gak bakal ngelepas lo. Gak bakal. Sampai mati pun gue gak bakal cerai.”
Netha baru noleh. Matanya melot. “kamu gila?”
“Gue gila karena lo.” Keenan berdiri. Jalan ke arah Netha. “Gue tau gue brengsek. Gue tau gue nyakitin lo. Tapi lo... lo istri gue. Ibu dari anak gue. Dan gue gak rela lo pergi.”
Netha mundur. “Jadi kamu mau ngurung aku? Kayak tahanan?”
“Kalau perlu, iya.” Keenan nyengir. Senyumnya ngeri. “Gue posesif, Tha. Gue cinta lo dengan cara gue sendiri. Cara yang sakit. Tapi tetep cinta.”
Netha ketawa. Sinis. “Cinta? Cintamu itu penjara, Mas.”
“Penjara yang gue bangun berdua sama lo.” Keenan makin dekat. “Dan gue gak bakal buka pintunya buat siapapun. Termasuk Om Arsen.”
Netha kaget. “kenapa?... kamu takut aku deket sama dia?”
Keenan ngangguk. Matanya merah. “Gue tau lo curiga sama dia. Gue juga curiga, Tha. Tapi gue janji... gue gak bakal biarin dia nyentuh lo.”
Netha nepis tangan Keenan. “Lepasin aku mas.”
“Tidak.” Keenan makin erat. “Lo gak bakal kemana-mana. Lo tetap di sini. Sama gue. Sama Queen. Titik.”
Netha berontak. “aku benci sama kamu mas!”
“Gue tau.” Keenan malah ketawa. “Tapi benci juga bentuk cinta, Tha. Dan gue bakal terima benci lo... asal lo tetep di samping gue.”
Dia lepas Netha. Jalan ke pintu. Sebelum keluar, dia bilang, “Tidur!. Besok kita ke kantor pengacara. Gue mau ubah semua aset atas nama lo. Biar lo gak bisa pergi kemanapun tanpa gue.”
Braak. Pintu ketutup.
Netha duduk lemas di lantai balkon. Napasnya ngos-ngosan.
"Dia makin gila. Makin ngontrol. Dan dia memang udah ngaku minta tolong ke Arsen.`dan itu... lebih bahaya dari selingkuh." gumam netha pelan
---
*Besok paginya. Ruang Tamu Rumah Netha.*
Tok tok.
Suara ketukan keras di pintu.
Netha baru bangun. Rambut berantakan. Dia jalan ke pintu. Buka.
Kurir. “Paket atas nama Nyonya Kimira Janetha.”
Netha nerima. Amplop coklat. Tebal.
Dia nutup pintu. Buka amplop di sofa.
Isinya: Surat panggilan dari kepolisian. `Terlapor: Kimira Janetha. Kasus: Penganiayaan.`
Tangan Netha gemetar.
“Apa... apa ini?” Gumamnya.
HP-nya bunyi. Nomor gak dikenal.
Netha angkat. Ragu. “Halo?”
Suara berat di seberang. “Nyonya. Jangan panik. Ini dari tim hukum Yudhistira Group. Kami disuruh Bapak Arsen untuk bantu Nyonya.”
Netha langsung matiin.
`Tim hukum Yudhistira? Om Arsen? Lo udah minta tolong dia, Mas. Kenapa dia masih ikut campur?`
Dia lempar HP ke sofa. Jalan ke kamar. Kunci pintu. Duduk di lantai. Peluk lutut.
`Kenapa dia bantu gue? Apa maunya? Utang budi?`
Netha denial. Dia gak mau mikir Arsen punya niat baik. Di kepalanya cuma ada satu: `Pasti ada udang di balik batu.`
---
*Siangnya. Kamar Netha.*
Keenan masuk. Bawa makanan. “Tha, makan dulu. Lo dari pagi gak keluar kamar.”
Netha angkat kepala. Matanya bengkak. “aku dapet surat panggilan polisi, Mas.”
Keenan kaget. Amplop jatuh dari tangannya. “Apa? Surat apa?”
Netha nyodorin. “Ini. Kasus penganiayaan Clara dibuka lagi.”
Keenan baca. Wajahnya merah padam. “Sialan! Clara bangsat!”
Dia ngebanting surat itu. “Gue udah bilang dari awal ke lo, Tha. Gue minta tolong Om Arsen buat nutup kasus ini! Kenapa masih jalan?”
Netha nyipit. “Iya, aku tau lo minta tolong dia. kan kamu udah cerita ”
Keenan sadar. “Iya... gue minta dia bantu. Tapi gue gak ada utang budi sama dia! Gue bayar dia! Mahal!”bohong keenan
Netha ketawa. Kering. “Bayar? Atau utang budi, Mas?”
“Gak ada utang budi!” Keenan bentak. “Lo jangan mikir yang aneh-aneh, Tha! Gue suami lo! Gue yang harus lindungin lo! Bukan dia!”
Netha berdiri. “Terus kenapa tim hukum dia yang nelpon aku pagi tadi?”
“Karena... karena gue minta dia standby!” Keenan megang bahu Netha. “Gue gak mau lo ngerasa berutang sama dia! Gue gak mau lo deket sama dia! Titik!”
Netha dorong tangan Keenan. “Lepasin aku mas sesek!”
Keenan lepas. Tapi matanya tajam. “Kalau lo nerima bantuan dia... berarti lo pilih dia daripada gue.”
Netha diem. Napasnya berat. “Gue gak pilih siapa-siapa, Mas. Gue cuma mau selamat.”
Keenan ketawa. Pahit. “Selamat? Sama dia? Dia paman gue, Tha. Dia gak bakal nolong lo gratis. Pasti ada maunya.”
Netha ketawa juga. “Terus lo? Lo nolong gue gratis? Setelah semua yang lo lakuin?”
Tampar.
Plak.
Keenan diem. Pipi merah.
Netha jalan keluar kamar. “aku mau ke kantor polisi. Sendiri.”
Keenan narik lengan Netha. “Gak boleh! Gue yang anter! Gue udah janji dari awal bakal urus ini sama lo!”
“Lepas!” Netha teriak. “aku capek diatur! Dan aku capek kamu bohong soal Om Arsen!”
Keenan gak lepas. “Kalau lo keluar rumah ini tanpa gue... gue anggap lo udah gak mau jadi istri gue lagi.”
Netha berhenti. Noleh. Matanya basah. “bodoh amat.aku emang udah gak mau, Mas. Sejak kamu pilih Clara. Dan sejak kamu mikir gue bakal jatuh ke pelukan paman lo sendiri.”
Braak.
Keenan lepas. Mundur selangkah. Kayak ditusuk.
Netha jalan keluar. Tanpa noleh.
---
*Sore. Kantor Polisi.*
Netha duduk di ruang pemeriksaan. Sendiri.
Penyidik: “Nyonya, bisa jelaskan kejadian sebulan lalu?”
Netha narik napas. “Saya khilaf, Pak. Saya emosi karena suami saya selingkuh dengan korban.”
Penyidik nulis. “Ada bukti provokasi dari korban?”
Netha diem. Ingat chat Clara yang dikirim tim hukum tadi pagi.
Dia geleng. “Tidak, Pak. Saya salah. Saya siap tanggung jawab.”
Penyidik angkat alis. “Yakin? Karena kami dapet info ada bukti baru yang meringankan Nyonya.”
Netha kaget. “Bukti apa?”
Penyidik nunjukin print chat Clara: `Keen, gue sengaja mancing Netha. Biar dia emosi. Biar lo milih gue.`
Netha bengong. `Siapa yang ngirim ini? Om Arsen?`
Penyidik tutup map. “Kasus ditunda. Kami butuh bukti lebih kuat. Nyonya bisa pulang dulu.”
Netha keluar. Bingung. Lega. Tapi curiga.
Di luar kantor polisi, Keenan udah nunggu. Basah kuyup. Dari tadi dia nunggu di mobil. Gak berani masuk.
“Tha...” Keenan buka pintu mobil. “Masuk. Gue anter pulang. Gue udah bilang dari awal gue yang urus ini.”
Netha masuk. Diam.
Sepanjang jalan, gak ada yang ngomong.
Sampai rumah, Netha baru buka suara. “Mas. Siapa yang kirim bukti itu ke polisi?”
Keenan diem. Terus bohong lagi. “Gue gak tau, Tha. Mungkin tim hukum gue. Atau... mungkin Om Arsen.”
Netha natap Keenan lama. Terus turun dari mobil. “Gue gak percaya lo lagi, Mas. Lo udah bohong dari awal.”
Dia masuk rumah. Kunci pintu.
Keenan di luar. Hujan lagi. Dia gedor pintu. “THA! BUKA! GUE MOHON! GUE SUDAH JUJUR SOAL OM ARSEN!”
Netha di dalam. Denger. Tapi gak buka.
Dia duduk di lantai. Pegang surat panggilan itu.
`Siapa yang nolong gue? Om Arsen? Tapi gue janji gak bakal ketemu dia dulu.`
Dan untuk pertama kalinya... Netha mikir: `Gue harus cari tau. Sebelum gue makin terjebak sama dua laki-laki ini.`
Tapi dia tetap denial. Tetap curiga. Dan tetap gak mau ngaku kalau hatinya mulai goyah.
To be continued...