NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Memulai Perburuan

Setelah urusan dengan Dinda selesai dan ketenangan perlahan kembali tercipta di sekolah maupun di rumah, Claudia atau lebih tepatnya Zerrin mulai mengarahkan seluruh perhatian dan tenaganya pada tujuan yang lebih besar dan mendesak: membalas pengkhianatan dan merebut kembali apa yang menjadi haknya.

Malam itu, ia duduk di ruang kerjanya yang kini telah diubah menjadi tempat yang lebih privat dan aman. Tidak ada lagi buku pelajaran yang menjadi fokus utamanya; di atas meja terbentang peta wilayah, catatan tentang struktur organisasi Klan Felix, serta informasi yang berhasil ia kumpulkan secara diam-diam melalui jaringan bisnis keluarga Ramirez dan koneksi rahasia yang masih tersisa dari masa lalunya.

“Marco Vareza… kau duduk di atas takhta yang kau curi, tapi kau tidak akan pernah merasa aman selama aku masih bernapas,” gumamnya pelan, matanya menyala tajam memancarkan tekad yang membara.

Dari data yang berhasil ia peroleh selama beberapa minggu terakhir, gambaran situasi mulai terlihat jelas. Setelah kematiannya yang dianggap sebagai kecelakaan, Marco dengan cepat mengambil alih kendali. Ia menggunakan pengaruhnya, uang, dan kekerasan untuk menekan mereka yang ragu, serta mengangkat orang-orang yang setia kepadanya ke posisi penting. Namun, seperti yang ia duga, kekuasaannya tidak kokoh.

Banyak anggota inti lama yang masih mengingat bagaimana Zerrin memimpin dengan keadilan, kekuatan, dan rasa hormat yang tidak pernah bisa dipaksakan. Mereka diam saja bukan karena setia, melainkan karena takut dan tidak memiliki bukti yang cukup untuk melawan Marco. Bagi mereka, Zerrin Atalea Felix sudah mati, dan melawan pemimpin baru berarti mengorbankan nyawa dan masa depan keluarga mereka.

Namun satu masalah terbesar menghadang di depan mata: identitasnya.

Bagaimana mungkin ia mendatangi mereka dan berkata, “Aku adalah Zerrin Queen mafia yang mati dua tahun lalu, jiwaku berpindah ke tubuh gadis remaja bernama Claudia Ramirez”? Pasti mereka akan menganggapnya gila, penipu, atau bahkan mata-mata yang dikirim oleh klan saingan untuk memecah belah kekuatan mereka. Jika ia salah melangkah, bukan hanya rencananya gagal, tapi ia bisa diburu dan dibunuh sebelum sempat membuktikan kebenarannya.

“Ini bukan masalah kekuatan atau strategi, ini masalah kepercayaan,” pikir Zerrin sambil memijat pelipisnya. “Mereka mengenal sosok Zerrin sang Queen mafia yang tinggi, berwibawa, dan memiliki tatapan yang bisa membaca pikiran orang lain. Bagaimana aku bisa meyakinkan mereka bahwa jiwa yang sama ada di balik wajah muda ini?”

Ia tahu bahwa kata-kata saja tidak akan cukup. Ia butuh bukti yang tidak bisa dibantah bukti yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan orang-orang yang paling dekat dengannya, rahasia yang tidak pernah tertulis di dokumen apa pun, dan cara berpikir serta bertindak yang hanya dimiliki oleh pemimpin sejati Klan Felix.

Langkah pertama yang ia ambil adalah mencari tahu siapa saja yang masih setia dalam diam, dan siapa yang sudah benar-benar menjadi kaki tangan Marco. Ia tidak bisa sembarangan mendekat; satu kesalahan kecil bisa membuat seluruh rencananya hancur.

Melalui jaringan informan yang ia bangun secara perlahan menggunakan keahlian yang dimilikinya, ia berhasil mendapatkan nama-nama kunci. Salah satunya adalah Tuan Han, pria berusia sekitar 60 tahun yang menjabat sebagai penasihat utama klan selama tiga generasi. Ia adalah orang yang paling dipercaya oleh ayah Zerrin, dan kemudian oleh Zerrin sendiri. Ia tidak terlibat langsung dalam urusan kekerasan, namun suaranya memiliki bobot yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Sampai sekarang, ia masih memegang posisinya, namun kabarnya ia sering berbeda pendapat dengan Marco dan lebih sering memilih diam.

“Tuan Han… jika ada satu orang yang bisa membuka jalan bagi kebenaran, dialah orangnya,” batin Zerrin. “Ia mengenalku sejak aku masih kecil, ia tahu cara pikirku, kebiasaan-kebiasaan kecilku, dan rahasia-rahasia keluarga yang tidak diketahui siapa pun di luar lingkaran sempit.”

Namun mendekati Tuan Han tidaklah mudah. Ia tinggal di kediaman terpencil yang dijaga ketat, dan Marco pasti mengawasi setiap gerak-geriknya. Jika Zerrin mendatangi tempat itu secara terang-terangan sebagai Claudia Ramirez, gadis kaya biasa dari kota lain, pasti akan menimbulkan kecurigaan besar.

Ia butuh alasan yang masuk akal, dan cara bertemu yang tidak menarik perhatian.

Selama beberapa hari berikutnya, Zerrin membagi waktunya dengan sangat cermat. Di siang hari, ia tetap menjalani peran sebagai Claudia Ramirez — mengikuti pelajaran, menjaga hubungan baik dengan keluarga, dan memastikan tidak ada yang mencurigai perubahan besar yang sedang ia rencanakan. Di malam hari, ia berubah menjadi ahli strategi dan penyelidik, merencanakan setiap langkah dengan perhitungan yang matang.

Ia juga mulai mempelajari kembali setiap detail kecil yang menjadi ciri khas dirinya sebagai Zerrin. Cara ia memegang pena, cara ia melipat tangan saat berpikir, kalimat-kalimat yang sering ia ucapkan, serta kebiasaan-kebiasaan yang hanya diperhatikan oleh orang-orang yang sangat dekat dengannya. Ia sadar, saat nanti saatnya tiba, ia harus bisa membuktikan identitasnya bukan hanya dengan cerita, tapi dengan kehadiran dan tindakan yang sama persis seperti yang mereka kenal.

Sementara itu, di sisi lain, Marco Vareza sedang menikmati kekuasaannya, namun hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sering terbangun di tengah malam dengan perasaan tidak nyaman, seolah ada mata yang mengawasinya dari kegelapan. Ia tahu bahwa banyak orang tidak menyukainya, dan ia selalu merasa bahwa kematian Zerrin terlalu mudah dan terlalu cepat. Ada suara dalam hatinya yang terus berbisik: “Dia belum benar-benar pergi.”

Karena rasa takut itu, Marco memperketat pengawasan, membatasi akses ke dokumen rahasia, dan menyingkirkan siapa saja yang dianggap berpotensi membahayakan posisinya. Tanpa disadari, tindakannya yang semakin sewenang-wenang justru membuat ketidakpuasan di dalam klan semakin memuncak kondisi yang sangat menguntungkan bagi rencana Zerrin.

Dua minggu kemudian, Zerrin merasa sudah cukup siap. Ia menyusun rencana pertemuan dengan Tuan Han melalui jalur yang sangat aman. Ia mengirimkan pesan singkat yang disampaikan melalui perantara yang tidak mengetahui identitas pengirimnya, berisi kode rahasia yang hanya dipahami oleh dirinya dan Tuan Han saja kode yang digunakan saat mereka berkomunikasi tentang hal-hal paling penting dan berbahaya.

Isi pesan itu sederhana namun mengandung makna mendalam: “Angin yang pernah membawa kabar baik, kini kembali membawa kebenaran. Temui aku di tempat pertemuan lama saat bulan purnama tiba.”

Tempat pertemuan lama itu adalah sebuah rumah kayu kecil di pinggir danau yang sering dikunjungi Zerrin dan Tuan Han untuk membicarakan hal-hal pribadi jauh dari pengawasan orang lain. Lokasinya terpencil, dan hanya mereka berdua yang mengetahui jalan masuk yang aman.

Malam itu, saat bulan purnama bersinar terang di langit, Zerrin pergi dari rumah dengan alasan akan mengunjungi perpustakaan umum untuk mengerjakan tugas sekolah. Ia menggunakan kendaraan yang disewa secara diam-diam, mengendarainya sendiri menuju lokasi yang ditentukan. Jaraknya cukup jauh, memakan waktu hampir empat jam perjalanan, namun ia tidak merasa lelah , hanya rasa tegang dan antisipasi yang mengisi hatinya.

Sesampainya di rumah kayu itu, suasana terasa sunyi dan dingin. Hanya terdengar suara angin yang berhembus di antara pepohonan dan riak air danau. Ia mematikan lampu kendaraan, lalu berjalan masuk dengan langkah tenang namun siap siaga. Ia tahu, jika ini adalah jebakan, ia harus siap menghadapi bahaya apa pun.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang lambat namun mantap mendekat. Pintu rumah kayu terbuka perlahan, dan muncul sosok pria tua dengan janggut yang memutih, mengenakan jas tebal dan membawa tongkat kayu. Matanya yang keriput namun tetap tajam langsung menatap sosok Claudia yang berdiri di dalam ruangan remang itu.

Ia adalah Tuan Han.

Tuan Han tertegun melihat gadis muda yang berdiri di depannya. Ia mengharapkan kedatangan seseorang yang mengenal kode rahasia itu, bukan seorang gadis remaja yang terlihat asing baginya. Rasa curiga segera muncul di hatinya, dan tangannya perlahan memegang gagang senjata yang tersembunyi di balik jasnya.

“Siapa kau? Dan bagaimana kau mengetahui kode serta tempat ini?” tanya Tuan Han dengan suara rendah namun tegas, tidak menyembunyikan kewaspadaannya.

Zerrin menatap pria tua itu dalam-dalam, matanya berkaca-kaca sebentar mengingat masa lalu, namun segera digantikan oleh tatapan tegas dan wibawa yang sudah sangat dikenal oleh Tuan Han selama puluhan tahun. Ia tidak langsung menjawab dengan pengakuan yang mengejutkan, melainkan mulai berbicara dengan nada bicara, irama, dan pilihan kata yang persis seperti kebiasaan Zerrin.

“Tuan Han, apakah kau masih ingat saat aku berusia lima belas tahun, dan aku memutuskan untuk mengganti jalur distribusi barang agar menghindari daerah rawan meskipun itu berarti menambah biaya perjalanan tiga kali lipat? Kau berkata aku terlalu berhati-hati, tapi aku menjawab: ‘Keuntungan yang didapat dengan risiko yang tidak perlu hanyalah utang yang harus dibayar dengan nyawa suatu hari nanti’.”

Tuan Han tertegun. Matanya melebar, dan tangannya yang memegang gagang senjata perlahan melemah. Kalimat itu, kejadian itu, hanya diketahui oleh mereka berdua saja , tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, bahkan tidak ada catatan tertulis apa pun.

Namun ia masih ragu. Bagaimana mungkin kalimat itu keluar dari mulut gadis muda ini?

“Mungkin kau mendengar cerita itu dari seseorang,” gumam Tuan Han, namun nadanya sudah tidak setegas tadi.

Zerrin menggeleng pelan, lalu melanjutkan, kali ini membahas hal yang lebih pribadi dan rahasia. “Lalu ada rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh ayahku sendiri. Saat aku jatuh sakit parah tiga tahun sebelum kematianku, dokter mengatakan aku tidak akan bertahan lebih dari seminggu. Kau yang membawakan ramuan dari tabib tua di pegunungan, dan aku berjanji kepadamu bahwa jika aku sembuh, aku akan memastikan keturunan keluargamu akan selalu mendapatkan perlindungan dan posisi terhormat selamanya. Apakah kau ingat janji itu, Tuan Han?”

Kali ini, tubuh Tuan Han bergetar hebat. Matanya terbelalak penuh ketakutan sekaligus kebingungan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia melangkah mendekat perlahan, menatap wajah Claudia dengan pandangan yang mencoba menembus ke dalam jiwanya.

“Tidak mungkin… itu hanya kami berdua yang tahu. Tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya. Siapa kau sebenarnya?” tanyanya dengan suara bergetar namun tetap dengan tatapan tajam nya yang seolah-olah dapat menembus jantung.

Zerrin menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata pria tua itu, mengeluarkan seluruh wibawa dan kehadiran yang selama ini ia miliki sebagai pemimpin klan.

“Aku tahu ini terdengar mustahil, Tuan Han. Aku tahu rasanya tidak masuk akal untuk dipercaya. Tapi dengarkanlah aku baik-baik. Nama yang tertera di dokumen kematianku memang Zerrin Atalea Felix, dan tubuh yang dikuburkan memang tubuhku yang lama. Namun jiwa dan kesadaranku tidak mati. Melalui cara yang tidak dapat aku jelaskan secara logika, aku terbangun di dalam tubuh gadis ini Claudia Ramirez dua hari setelah kematianku. Semua ingatan, semua keahlian, semua rahasia, dan rasa sakit karena pengkhianatan itu tetap ada di dalam diriku.”

Ia melanjutkan dengan nada yang semakin tegas, “Aku tidak datang ke sini untuk bermain-main atau menipu. Aku datang karena klan ini sedang berada di tangan orang yang tidak pantas, yang membunuh pemimpinnya sendiri dan memimpin dengan rasa takut dan keserakahan. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku, dan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan Marco.”

Tuan Han berdiri membeku, pikirannya berputar kencang mencoba memproses informasi yang luar biasa ini. Di satu sisi, akal sehatnya menolak percaya , bagaimana mungkin seseorang bisa berpindah tubuh? Di sisi lain, setiap kata, setiap ingatan, dan terutama tatapan serta cara bicara gadis ini… semuanya persis seperti sosok Zerrin yang ia kenal dan hormati selama bertahun-tahun. Bahkan cara ia melipat tangannya di depan dada, cara ia menyipitkan mata saat berpikir, adalah kebiasaan yang tidak pernah ia lupakan.

“Jika kau benar-benar dia… maka tunjukkanlah hal yang hanya Zerrin yang bisa lakukan,” ujar Tuan Han perlahan, dengan suara yang hampir berbisik. “Berikanlah bukti yang tidak bisa disangkal lagi.”

Zerrin mengangguk. Ia tahu ini adalah momen penentu. Ia tidak bisa hanya mengandalkan cerita; ia harus membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan dan pemahaman yang sama persis dengan pemimpin klan itu.

Malam itu, selama lebih dari dua jam, Zerrin berbicara. Ia membahas masalah-masalah internal klan yang saat ini sedang terjadi, memberikan solusi yang jauh lebih baik dan tepat daripada apa yang telah dilakukan Marco. Ia mengingatkan kesalahan-kesalahan strategis yang dibuat oleh ayahnya, serta keputusan-keputusan yang pernah ia ambil dan alasannya. Ia bahkan menyebutkan lokasi tempat penyimpanan harta cadangan klan yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuan Han saja, yang tidak pernah disentuh sejak ia meninggal.

Setiap kalimat yang diucapkan membuat ketegangan di hati Tuan Han semakin berkurang, digantikan oleh rasa kaget dan keyakinan yang perlahan tumbuh. Ia melihat di depan matanya bukan lagi seorang gadis remaja, melainkan jiwa pemimpin yang sama yang selama ini ia layani.

Akhirnya, saat Zerrin selesai berbicara, Tuan Han menundukkan kepalanya perlahan, sangat dalam, sebagai tanda penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada pemimpin sejati. Air matanya jatuh membasahi lantai kayu.

“Tuhan sungguh bekerja dengan cara yang tidak terduga,” ujarnya dengan suara terisak namun penuh keyakinan. “Aku tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi, tapi aku mengenal pemimpinku. Aku mengenal cara pikirmu, kebijaksanaanmu, dan rahasia-rahasia yang hanya kita miliki. Jiwa Zerrin Atalea Felix memang belum mati… dia hanya terbungkus dalam bentuk yang berbeda.”

Ia mengangkat kepalanya kembali, matanya kini bersinar dengan tekad yang baru. “Aku percaya padamu, Queen. Apa pun yang kau butuhkan, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Marco telah membawa klan ini ke jalan yang salah, dan kami semua menunggu saat di mana kebenaran akan kembali.”

Zerrin merasakan beban berat yang tergantung di pundaknya perlahan terangkat. Ini adalah langkah paling krusial yang berhasil ia lalui. Ia telah mendapatkan orang yang paling berharga sebagai sekutu dan jembatan menuju kepercayaan anggota lainnya.

“Terima kasih, Tuan Han,” ujarnya dengan nada lembut namun tetap berwibawa. “Ini baru permulaan. Perjalanan kita tidak akan mudah. Banyak orang yang akan meragukan, banyak yang akan menentang, dan Marco tidak akan tinggal diam jika ia mendengar ada ancaman baru. Tapi selama kita memiliki kebenaran dan kesetiaan di pihak kita, kita akan menang.”

Ia melangkah mendekat dan menepuk bahu pria tua itu. “Kita akan bekerja diam-diam. Kumpulkan mereka yang masih setia dalam hati, tapi jangan bertindak terburu-buru. Biarkan Marco merasa aman dan lengah, hingga saatnya tiba untuk menjatuhkannya dari takhta yang ia curi.”

Malam itu, saat mereka berpisah, jalan yang sebelumnya terasa gelap dan penuh ketidakpastian kini mulai terlihat jelas. Zerrin telah menemukan sekutu pertamanya, dan benih kepercayaan telah ditanamkan. Ia tahu, masih ada banyak rintangan yang harus dilalui, namun untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh baru ini, ia merasa yakin bahwa ia bisa kembali menjadi pemimpin yang sesungguhnya, dan membalas pengkhianatan yang telah merenggut nyawanya sebelumnya.

Di tengah kegelapan malam, sebuah aliansi baru telah terbentuk, dan perang untuk merebut kembali kekuasaan Klan Felix baru saja dimulai.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!