Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gesekan di Baris Belakang
"Pak! Gue gak mau duduk di depan! Di belakang aja lebih santai!"
Suara protes itu keluar dari mulut Aleyna Rossalind ketika Pak Sutan mulai membacakan denah tempat duduk yang baru. Aleyna yang terbiasa dengan kebebasan jalanan merasa separuh dunianya direnggut jika harus duduk di barisan depan yang langsung berhadapan dengan meja guru.
Pak Sutan menggelengkan kepalanya tegas sembari menunjuk ke arah barisan meja di lajur kiri belakang. "Tidak ada protes, Aleyna. Ini sudah aturan berdasarkan urutan nama depan. Kamu tetap di barisan belakang, tapi bergeser ke lajur kiri. Dan teman sebangkumu adalah... Camellia."
Aleyna mendengus keras. Dia menoleh ke samping kanan, menatap Camellia Putri yang saat ini sedang tersenyum manis ke arahnya seraya melambaikan tangan kecilnya yang halus.
"Hai lagi, Aleyna! Wah, kita ternyata jodoh ya bisa duduk barengan lagi," ucap Camellia dengan suara renyahnya yang menggemaskan, terdengar sangat canggung namun penuh kepalsuan yang rapi.
"Gak usah banyak bacot deh. Angkat tas lo, gue mau lewat," sahut Aleyna blak-blakan dengan nada bicaranya yang serak dan kasar. Dia menyampirkan ransel kulitnya yang penuh coretan grafiti ke bahu, lalu melangkah menuju meja baru mereka di sudut kiri belakang kelas.
Camellia segera menggeser duduknya, memberikan ruang bagi Aleyna dengan gerakan tubuh yang tampak ketakutan, seolah-olah dia sedang menghadapi seorang preman pasar. "Ma-maaf ya... ini tas aku udah digeser kok."
Aleyna menjatuhkan tubuh tegapnya ke atas kursi kayu, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang sangat masam. "Gue gak suka diganggu kalau lagi tidur di kelas. Jadi, lo fokus aja sama urusan lo sendiri, paham?"
"Iya, paham kok. Aku gak bakal ganggu kamu," jawab Camellia lembut, matanya yang bulat besar berkedip polos menatap Aleyna.
Namun, begitu Aleyna memalingkan wajahnya ke arah jendela, senyuman boneka porselen di wajah Camellia langsung meluruh, digantikan oleh tatapan mata yang sangat dingin dan licik. Di bawah kolong meja, jemari kecil Camellia bergerak cepat di atas layar gawai tersembunyinya. Perangkat penyadap wi-fi portabel miliknya yang berada di dalam saku rok seragam mulai menangkap alamat MAC dari ponsel pintar milik Aleyna yang berada di dalam tas ransel.
"Alamat ip target berhasil dikunci," gumam Camellia di dalam hatinya dengan kepuasan seorang peretas jenius.
Camellia melirik ke arah kepalan tangan Aleyna yang bertumpu di atas meja. Kapalan tipis di buku jari Aleyna terlihat sangat jelas dari jarak sekat seperti ini. Camellia tahu, gadis di sampingnya ini memiliki keliaran insting yang sangat tinggi. Jika dia salah langkah sedikit saja dalam memanipulasi data di kelas ini, Aleyna bisa menjadi orang pertama yang mendeteksi ancaman fisik tersebut.
"Hei," Aleyna tiba-tiba menoleh kembali ke arah Camellia secara mendadak, membuat Camellia buru-buru menyembunyikan gawainya ke balik lipatan rok dengan gerakan refleks yang luar biasa senyap.
"K-kenapa, Aleyna?" tanya Camellia, wajah imutnya kembali memasang topeng kepolosan dalam sekejap mata.
Aleyna menyipitkan matanya yang tajam, menatap Camellia dari atas ke bawah dengan pandangan curiga. "Lo tadi ngapain? Tangan lo ngapain di bawah meja?"
"Ah... ini... aku cuma lagi nyari penghapus aku yang jatuh," jawab Camellia terbata-bata penuh kepalsuan, seraya berpura-pura membungkuk untuk mengambil sebuah penghapus karet kecil dari atas lantai marmer. "Ini... udah ketemu kok."
Aleyna mendengus, meskipun naluri jalanannya mengatakan ada yang tidak beres dengan kecepatan gerak tubuh Camellia barusan. "Saran gue, jangan banyak tingkah di depan gue. Gue tahu tipe-tipe anak manja kayak lo yang suka cari gara-gara lewat belakang."
"Aku gak kayak gitu kok, beneran," ucap Camellia dengan mata yang berkaca-kaca buatan, menirukan gestur siswi lemah yang tertindas.
"Terserah lo," sahut Aleyna pendek, kembali memalingkan wajahnya dengan ketegasan yang murni.
Di antara keriuhan kelas X-A yang sibuk mengatur barang-barang di meja baru mereka, barisan paling belakang lajur kiri itu kini menjadi zona netral yang dipenuhi oleh ketegangan tersembunyi. Aleyna dengan keliaran jalanannya yang blak-blakan, dan Camellia dengan kelicikan peretasnya yang bersembunyi di balik senyum boneka. Dua gadis dari dunia bawah tanah yang sama-sama memilih untuk mengasingkan diri, menolak untuk saling mengenal lebih dalam demi menjaga keselamatan rahasia besar yang mereka bawa di hari pertama sekolah ini.