Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelematkannya
"Pasti emosinya membludak tadi......." gumam Asido di kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, tapi belum benar-benar bisa beristirahat. Pikirannya kembali melayang ke beberapa waktu lalu, pada hari yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Hari ketika ia melihat Nowela berada dalam kondisi yang sangat terpuruk.
"Dok, pulang sendiri?" tanya Yani.
"Iya," jawab Asido singkat.
"Emm..... Bisa nebeng kan?"
Asido belum sempat menjawab, temannya sudah datang menghampiri, Santi.
"Jadi kan Yan?" tanyanya tiba-tiba.
Yani menyipit tipis, memberi tanda agar dia diam.
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti maksud Yani.
"Kalian mau kemana?" tanya Asido.
"Eh pak Dokter." sapa Santi seperti baru sadar ada dokter itu di sana.
"Mau nongkrong dulu, Pak Dokter..... Biasa....." ucapnya santai.
Asido mengangguk.
"Bapak dokter boleh juga sekalian ikut." tawar Santi santai.
"Kalian saja dulu," jawabnya.
Yani memutar bola matanya lalu menghela napas panjang, tanda kekesalan yang mulai memuncak.
"Ya sudah kalau begitu, saya duluan...." Ucap Asido tersenyum tipis.
"Yan, saya duluan ya......" lanjutnya pada Yani.
Asido meninggalkan mereka di sana, meninggalkan Yani dengan rasa kekesalannya.
"Ayok, Yan....." Ajak Santi.
"Pergi aja sendiri!!!" bentak Yanti langsung pergi.
Santi benar-benar heran dengan reaksi temannya itu.
"Gimana maksudnya?" tanyanya sendiri.
Santi berdiri diam dengan tatapan yang berpindah-pindah, dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Sementara Yanti sudah pergi menjauh dari lorong itu meninggalkannya sendiri.
"Langsung pulang aja lah ya....." ucap Asido sendiri.
Niatnya ingin nongkrong, minum kopi di cafe biasanya. Tapi entah kenapa ada rasa malasnya yang tiba-tiba datang.
Motornya terus melaju, dan Asido menikmati perjalanan pulangnya itu.
Di pertengahan jalannya, motor Asido sedikit oleng. Motornya terasa berat.
"Astaga...... Kenapa ini?" ucap Asido heran.
Asido meminggirkan motornya untuk memastikan nya.
"Akh!!! Sial!!" Sembur Asido. "Kenapa harus sekarang sih???"
Ternyata ban belakang motornya bocor. Asido menghembuskan napas panjang lalu menuntun motornya ke pinggir jalan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari bengkel terdekat. Namun anehnya sejauh mata memandang, tak ada satu pun bengkel yang terlihat.
"Aneh....... Tempat ini rame tapi sama sekali gak ada bengkel."
Saat itulah perhatiannya tertarik pada sesuatu. Asido mendongak ke atas. Dari bawah jalan itu, ia melihat seseorang sedang memanjat pagar jembatan.
"Eh, Itu ngapain?" tanyanya heran.
Ia menyipitkan mata, berusaha memastikan apa yang dilihatnya. Namun semakin lama diperhatikan, semakin jelas bahwa perempuan itu memang hendak memanjatnya.
Sebuah pikiran buruk melintas di benak Asido. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
"Jangan-jangan......"
Ia menatap perempuan itu sekali lagi. Semakin lama diperhatikan, semakin besar rasa khawatir yang memenuhi dadanya.
"Astaga!! Bagaimana ini?"
Asido bingung harus berbuat apa. Namun satu hal pasti, ia tidak bisa hanya diam di tempat.
Tanpa pikir panjang, ia meninggalkan motornya di pinggir jalan dan berlari secepat mungkin menuju jembatan itu.
Napasnya memburu, ia terus memaksa diri untuk berlari.
"Tunggu!!!" teriaknya.
Ia bahkan tidak mengenal perempuan itu. Namun melihat seseorang dalam keadaan seperti itu membuatnya tidak sanggup dan tidak mungkin membiarkannya begitu saja.
Perempuan itu memasang wajah datar saat menatap ke bawah. Dari kejauhan, ekpresinya tampak tenang, nyaris tanpa emosi. Namun air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat.
Ia tidak menyeka satu pun dari air mata itu. Seolah sudah terlalu lelah untuk peduli. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu. Kesedihan itu begitu jelas terlihat.
"Sebentar......." ucap Asido pelan sambil berjalan mendekat.
Perempuan itu hanya diam. Pandangannya kosong.
"Hei....." panggil Asido dengan hati-hati.
Suaranya terdengar ragu. Ia bahkan tahu harus mengatakan apa kepada orang itu. Namun melihatnya menangis sendirian membuatnya semakin tidak tega untuk pergi begitu saja.
"Sudah tidak ada gunanya lagi AKU HIDUP !!" teriak perempuan itu dengan suara bergetar.
Mendengar kalimat itu, jantung Asido seakan berhenti sesaat. Rasa khawatir yang sejal tadi mengganggunya kini berubah menjadi panik.
"Bukan..... Bukan...." ucap Asido menggeleng.
Perempuan itu mengangkat kakinya, Asido tidak berpikir panjang lagi. Ia langsung berlari menghampirinya.
"Tunggu!!!"
Dengan spontan, ia meraih lengannya dan menariknya dari posisi itu. Mereka terjatuh bersamaan. Perempuan itu terjatuh di dada Asido.
"Akh!!"
Punggung Asido lebih dulu membentur permukaan jalan. Sesaat ia meringis menahan sakit. Sementara perempuan itu jatuh tepat di dadanya.
"Kamu siapa??" tanya perempuan itu langsung berdiri menjauh.
"Tenang.....!! Tenang.....!!" Ucap Asido saat melihat ekspresi perempuan itu.
Napas perempuan itu semakin tidak beraturan.
"Hei.... Hei, tenang!!" ucap Asido mulai mendekat.
Perempuan itu semakin mundur dengan langkah gemetar.
"Kamu...... Kamu mau apa?? Kamu siapa?" tanyanya.
Asido menyadari bahwa ada sesuatu pada jiwa perempuan itu.
"Oke... Oke..... Tenang dulu. Aku bukan orang jahat. Aku juga nggak kenal kamu siapa. Tapi yang pasti AKU PEDULI." ucap Asido menenangkan.
Perempuan itu menggeleng, tak percaya akan apa yang didengarnya.
"Nggak..... Ngak...."
Langkahnya terus mundur, berusaha menjauh dari Asido. Kali ini gerakannya tergesa membuat suasana semakin menegangkan.
"Hei, tenang dulu." Kata Asido, berusaha mendekat tanpa membuatnya merasa terancam.
Perempuan itu menunduk. Bahunya bergetar hebat.
"HIDUPKU SUDAH HANCUR......" gumamnya.
Asido semakin khawatir. Ia tidak tau apa yang terjadi dalam hidup perempuan itu, tetapi ia bisa melihat betapa dalam luka yang sedang ditanggungnya.
"Apapun masalahnya, pasti ada jalan keluarnya......" ucap Asido.
Tangis perempuan itu semakin keras. Tubuhnya bergetar hebat. Dan tepat saat itu...
"Akh......!!!"
Tanpa sengaja ia terjatuh ke bawah.
"Hei!! Ayok naik, " Ucap Asido menahan tangan perempuan itu.
"Ngak......lepasin!! AKU MAU MATI." teriaknya sambil terisak berusaha melepaskan tangannya.
"Sudah..... Sudah." ujar Asido dengan napas memburu. "Kamu aman."
Asido menarik tangan perempuan itu sekuat tenaga. Dan akhirnya berhasil. Mereka terjatuh untuk kedua kalinya dengan posisi yang sama. Bedanya, perempuan itu memeluk Asido.
Perempuan utu itu berusaha berdiri. Kakinya tampak goyah. Asido refleks menahannya agar tidak terjatuh. Perempuan itu mencoba bertahan, tetapi lututnya melemah.
Dan.......Bruk!!!
Perempuan itu terjatuh dalam pelukan Asido.
Asido membawa perempuan itu ke kliniknya. Menunggunya sampai sadar.
Perempuan itu membuka matanya dan melihat wajah Asido di dekatnya.
"Kamu.......?" ucap perempuan itu pelan.
"Minum dulu," katanya sambil menyerahkan segelas air hangat.
"Terimakasih"
Perempuan itu langsung menerimanya.
Ia menatap Asido cukup lama. Ia baru sadar bahwa ia tidak tahu nama orang yang menolongnya itu.
"Aku Asido...." ujar Asido sambil menarik kursi ke dekatnya.
"Nowela," jawabnya lirih tapi mengangkat tangannya.
Asido tersenyum tipis, tak menyangka orang di depannya itu adalah orang yang baru ia selamatkan. Dengan cepat, Asido menerima tangan itu.
"Senang kenal kamu, Nowela......"