NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi hari di rumah keluarga Alex dipenuhi dengan atmosfer yang begitu panas dan mencekam. Sejak matahari belum sepenuhnya terbit, ruang tamu sudah bising oleh obrolan penuh kedengkian.

Alex yang masih dipenuhi rasa tidak rela setelah dihajar oleh Afrain, duduk dengan rahang mengeras di sofa.

Di sebelahnya, Sisil tak henti-hentinya mengompori sang adik, masih memendam dendam kesumat yang mendalam karena insiden disiram air cucian beras oleh Mbok Mar kemarin sore.

Bukannya sadar diri dan introspeksi atas kelakuan memalukan mereka, Sisil malah terus memprovokasi Alex dengan asumsi-asumsi liarnya.

"Lex, kamu harus mikir deh. Lani itu dulu penurut banget sama kamu. Mana mungkin dia bisa seberani itu sampai cium-cium si Afrain di depan muka Mbok kalau nggak ada apa-apanya? Afrain itu pasti pakai ilmu hitam atau kelicikan buat merebut Lani dari kamu! Dia sengaja mau menginjak-injak harga diri keluarga kita!" ucap Sisil berapi-api, membuat mata Alex semakin menyalang merah.

Mira yang baru keluar dari kamar dengan daster kusutnya merasa telinganya panas mendengar percakapan itu.

Rasa cemburu dan sakit hati membuncah di dadanya melihat suaminya yang masih saja terobsesi mengejar Lani, padahal Lani sudah resmi menjadi istri orang lain.

Dengan nekat, Mira melangkah mendekat dan menyela pembicaraan mereka.

"Mas, kamu itu sudah punya aku! Aku ini istri sah kamu sekarang! Buat apa lagi kamu mengganggu Lani dan mengurusi urusan dia?!" ucap Mira dengan suara bergetar menahan tangis.

Napas Alex memburu mendengar interupsi tersebut.

Ia menoleh dengan tatapan mata yang begitu dingin dan sarat akan kebencian.

"Diam kamu, Mira! Ini semuanya kesalahan kamu!" bentak Alex berang, menunjuk tepat ke wajah Mira yang seketika pucat pasi.

"Kalau saja dulu kamu tidak datang merayu dan menjebakku, aku tidak akan pernah menceraikan Lani! Kamu yang sudah menghancurkan hidupku!"

Tanpa memedulikan air mata Mira yang mulai luruh, Alex merenggut kunci motornya dari atas meja, lalu melangkah lebar ke luar rumah disusul oleh Sisil yang tersenyum puas di belakangnya.

Mereka berdua meninggalkan Mira begitu saja yang menangis tersedu-sedu di lantai ruang tamu, dan segera meluncur membelah jalanan kota menuju ke gedung perusahaan milik Afrain.

Alex dan Sisil datang dengan pakaian super rapi, berlagak seperti orang penting yang memegang kendali atas segalanya.

Begitu menginjakkan kaki di lobby utama perusahaan Afrain yang megah dan berlantai marmer mengilap, mereka langsung berbuat ulah dengan menerobos security gate tanpa kartu akses dan membentak resepsionis yang mencoba menghentikan langkah mereka.

"Maaf Bapak, Ibu, mohon tunjukkan kartu identitas atau surat janji temu terlebih dahulu," ucap resepsionis dengan sopan namun tegas.

"Minggir kamu! Nggak usah sok mengatur ya! Kami mau ketemu bos kamu!" bentak Sisil kasar sambil menepis tangan petugas keamanan yang hendak menghadangnya.

Melihat perhatian orang-orang di lobby mulai teralih pada mereka, Sisil justru sengaja memanaskan suasana.

Ia berdiri tegak di tengah-tengah lobby yang luas itu, lalu berteriak dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.

"Panggil CEO kalian sekarang juga! Bilang pada semua orang di sini, mantan istri dari pria terhormat ini—" Sisil menunjuk Alex dengan bangga, "—sudah menggoda bos kalian yang terhormat itu! Bos kalian itu perebut istri orang!"

Dalam sekejap, atmosfer di lobby megah itu berubah menjadi riuh.

Para karyawan yang kebetulan sedang melintas mulai berbisik-bisik satu sama lain.

Beberapa di antaranya bahkan dengan sembunyi-sembunyi mengeluarkan ponsel mereka dan mulai merekam aksi norak serta memalukan yang dilakukan oleh kakak beradik tersebut.

Sementara itu, Alex berdiri tegak di samping Sisil dengan sisa-sisa kesombongannya yang konyol.

Dagunya terangkat tinggi dan dadanya dibusungkan, merasa dirinya adalah korban paling tersakiti yang dikhianati oleh Lani dan dicurangi oleh kelicikan Afrain.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di mata semua orang yang ada di sana, mereka berdua tak lebih dari sekadar tontonan murahan.

Memanfaatkan kelalaian sekretaris baru yang sedang lengang di mejanya, Alex dan Sisil dengan cepat menyelinap masuk ke dalam lift khusus dan menuju ke lantai atas.

Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, Alex melangkah lebar tanpa memedulikan tatapan bingung dari staf yang ada di sana.

BRAAAK!

Pintu ruangan kerja Afrain yang kokoh didobrak kasar oleh Alex hingga menghantam dinding.

Di dalam ruangan yang luas dan ber-AC sejuk itu, ternyata Afrain tidak sendirian.

Ia yang sudah kembali bekerja dengan setelan jas rapinya, sedang duduk di sofa ruang kerja sambil menyuapi Lani makan siang dengan begitu mesra.

Lani tersenyum manis menerima suapan itu, memperlihatkan kedekatan sepasang suami istri yang baru saja menikah.

Pemandangan yang begitu hangat dan penuh kasih sayang itu seketika langsung membakar emosi Alex dan Sisil sampai ke ubun-ubun.

Sisil yang matanya sudah memerah karena geram langsung maju beberapa langkah dan menunjuk-nunjuk wajah Lani dengan kasar.

"Heh Lani! Sadar diri kamu! Kamu itu wanita mandul, cuma mau menguras harta Pak Afrain kan?! Nggak usah sok kecentilan di sini!" teriak Sisil berapi-api, meluapkan seluruh kedengkiannya.

Sementara itu, Alex dengan napas memburu maju mendekati meja kerja Afrain.

Ia mencengkeram erat pinggiran meja kayu jati yang mewah itu, lalu menatap Afrain dengan pandangan penuh dendam sambil melayangkan ancaman kosongnya.

"Frain! Kembalikan Lani kepadaku atau rahasia

bisnismu akan hancur di tanganku! Aku tidak main-main!" ancam Alex dengan suara menggelegar, mencoba menggertak CEO di hadapannya itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya.

Afrain sama sekali tidak panik. Ia justru meletakkan sendok makan siangnya dengan tenang, kemudian bangkit berdiri dari sofa.

Dengan gerakan yang sangat protektif namun anggun, ia menarik Lani dan menyembunyikannya di balik punggungnya, memastikan istrinya aman dari jangkauan Alex dan Sisil.

Tatapan matanya yang tadi hangat saat bersama Lani, seketika berubah sedingin es—sebuah sorot mata tajam yang sanggup membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa nyali mereka menciut.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Alex, tangan Afrain bergerak perlahan menekan tombol intercom di mejanya.

"Keamanan, segera bawa tim legal ke ruangan saya sekarang. Juga kerahkan seluruh tim keamanan bersenjata untuk mengamankan lobby dan lantai ini," ucap Afrain dengan suara datar namun penuh otoritas.

Ternyata, sejak Alex dan Sisil menerobos masuk ke lobby, Afrain sudah menyadari kedatangan mereka.

Ia telah memantau setiap detik tindakan norak mereka melalui CCTV yang terintegrasi langsung ke ruang kerjanya.

Semua umpatan Sisil, aksi dorong mereka, hingga pendobrakan pintu telah terekam secara live sebagai bukti kuat untuk laporan pencemaran nama baik, pengrusakan fasilitas, dan perbuatan tidak menyenangkan.

Afrain melangkah maju, mendekati Alex yang mulai tampak pucat saat mendengar suara langkah sepatu bot tim keamanan yang mulai bergemuruh di lorong menuju ruangannya.

Afrain berhenti tepat di depan wajah Alex, lalu berbisik tajam, "Kemarin kamu berani menyentuh istriku di rumahku. Hari ini kamu mengotori perusahaanku dengan kebencianmu yang menjijikkan itu."

Afrain menatap tepat ke manik mata Alex, suaranya rendah namun penuh penekanan yang menusuk jantung.

"Kamu pikir kamu siapa bisa mengancam seorang Afrain? Kamu dan aku sangat berbeda, Alex. Jangan pernah ukur kesabaranku dengan standar rendah yang kamu miliki."

Tepat saat itu, pintu ruangan yang tadi didobrak kembali terbuka lebar, kali ini bukan oleh perusuh, melainkan oleh barisan tim keamanan bersenjata yang siap mengamankan situasi.

Wajah Sisil yang tadi garang mendadak pucat pasi, sementara Alex mematung dengan mulut ternganga, baru menyadari bahwa kali ini ia benar-benar telah membangunkan singa yang selama ini diam.

"Seret mereka keluar sekarang," perintah Afrain tegas tanpa belas kasihan sedikit pun.

Tanpa menunggu komando kedua, petugas keamanan langsung bertindak cepat.

Alex dan Sisil diseret paksa oleh empat satpam bertubuh kekar, masing-masing memegangi lengan mereka dengan cengkeraman besi yang tak bisa dilawan.

"Lepaskan aku! Dasar satpam-satpam sialan! Kalian tidak tahu siapa saya, hah?!" jerit Sisil histeris dengan suara melengking di sepanjang koridor lift.

Suaranya semakin pecah saat salah satu sepatu hak tingginya copot dan tertinggal di lantai atas, memaksanya berjalan pincang sambil terseret-seret.

Sementara itu, Alex sudah kehilangan semua kata-kata.

Ia hanya bisa tertunduk malu dengan wajah merah padam.

Seluruh keberanian dan kesombongan yang ia bawa dari rumah menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa kehancuran yang teramat sangat.

Hukuman sosial yang sesungguhnya dimulai saat mereka dipaksa melewati lobby utama.

Di bawah sorot lampu kristal yang megah, ratusan karyawan perusahaan sudah berkumpul dan berbaris rapi di kanan-kiri.

Alih-alih merasa iba, lobby itu justru dipenuhi oleh cemoohan, bisik-bisik tajam, dan tawa meremehkan yang ditujukan langsung pada kakak beradik itu.

Beberapa karyawan bahkan dengan sengaja menyorotkan kamera ponsel mereka ke wajah Alex yang tertunduk, mengabadikan momen di mana harga diri pria itu hancur lebur di depan publik untuk selama-lamanya.

Mereka benar-benar diusir layaknya sampah yang mengotori gedung mewah tersebut.

Sementara kegaduhan di bawah berangsur-angsur mereda, atmosfer di ruangan atas kembali diselimuti oleh keheningan yang menenangkan.

Lani melangkah mendekat ke arah suaminya yang masih berdiri tegak di dekat meja kerja.

Tanpa ragu, Lani langsung memeluk erat tubuh bidang Afrain, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup konstan dan menenangkan.

"Terima kasih, Mas..." bisik Lani lirih, memejamkan matanya dengan penuh rasa syukur.

Air mata haru hampir saja menetes di sudut matanya, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena ia merasa begitu dihargai.

"Terima kasih karena selalu menjadi perisai yang kokoh untukku."

Afrain tersenyum lembut, membalas pelukan istrinya dengan tak kalah erat dan mengusap punggung Lani dengan penuh kasih sayang.

"Sama-sama, Sayang. Sudah menjadi tugasku untuk melindungimu dari siapa pun yang berniat menjatuhkanmu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu takut lagi pada masa lalumu."

Afrain melonggarkan sedikit dasinya, lalu menangkup wajah Lani dengan kedua tangannya yang hangat.

Senyumnya kini berubah menjadi senyum jail yang penuh arti.

"Sayang, setelah nanti siang penandatanganan kontrak kerja sama dengan PT Wijaya selesai, bagaimana kalau kita langsung bersiap-siap?" tanya Afrain, menatap lekat kedua mata istrinya.

"Aku mau mengajakmu bulan madu ke Jepang."

"Jepang?" Lani membelalakkan matanya, terkejut sekaligus tidak percaya.

"Mas yakin? Mas kan baru saja sakit. Memang badan Mas sudah kuat untuk perjalanan jauh?"

Afrain terkekeh pelan melihat kepanikan di wajah cantik istrinya.

Ia memajukan wajahnya, berbisik tepat di telinga Lani dengan nada suara yang rendah dan menggoda, "Aku sangat yakin. Lagipula, tujuanku ke sana adalah untuk membuat Afrain junior. Kalau untuk urusan itu, tenagaku sudah pulih seratus persen."

"Mas..." Wajah Lani seketika merona merah sampai ke leher.

Ia memukul pelan dada bidang Afrain karena malu, membuat suaminya itu tertawa renyah.

Namun, sedetik kemudian gurat kecemasan kembali membayangi wajah Lani.

Kata-kata hinaan dari Alex dan Sisil tadi mendadak terngiang kembali di kepalanya, menggores rasa percaya dirinya.

"Tapi, Mas. Kalau nanti ternyata aku..." Lani menunduk, suaranya bergetar menahan perih di dada.

"Kalau aku tetap tidak bisa..."

"Syuttt, sudah jangan diteruskan," potong Afrain dengan cepat.

Ia meletakkan satu jarinya di bibir Lani, menghentikan kalimat menyakitkan yang hendak diucapkan istrinya.

Afrain membawa Lani kembali ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah ingin mengusir semua rasa tak aman yang menghantui pikiran wanita itu.

"Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang bodoh di luar sana. Aku tahu kamu bisa mengandung anakku, Sayang. Dan kalaupun Tuhan punya rencana lain, kamu tetaplah takdir terindah dalam hidupku. Sekarang, fokus saja pada kebahagiaan kita, ya?"

Lani menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah suaminya.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!