Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kantin utama Baskara Group terletak di lantai tiga. Biasanya, tempat ini adalah zona bebas stres bagi para karyawan untuk melepas lelah sembil menyantap nasi rames atau soto ayam. Namun, siang ini, atmosfer di kantin mendadak berubah mencekam sekaligus mendebarkan, mirip seperti karpet merah di cademy Awards yang salah tempat.
Penyebabnya hanya satu. Raditya Baskara dan Kirana Larasati baru saja melangkah masuk secara berdampingan.
Kirana tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan profesional, topeng andalannya selama lima tahun bekerja di perusahaan ini. Namun, tangannya yang memegang dompet kecil terasa sedikit berkeringat. Di sampingnya, Radit berjalan dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahannya, senyum tipis menghiasi wajahnya seolah-olah dia sedang menikmati liburan di pantai, bukan sedang menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata.
"Eh, beneran dong! Foto yang di grup chat itu benaran nyata!"
"Lihat deh, Pak Radit jalannya nempel banget sama Bu Kirana"
"Gila, Sekretaris Kaku kita akhirnya meleleh juga di tangan si Bos?"
Bisik-bisik itu terdengar samar di antara dentingan sendok dan garpu, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Kirana yang tajam.
"Radit" bisik Kirana tanpa mengubah arah pandangnya dari stan makanan. "Semua orang melihat kita. Bisa tolong jaga jarak minimal tiga puluh senti nggak?" lanjutnya
"Nggak bisa, Sayang. Kan sudah kubilang, kita sedang melakukan organic marketing" ucap Radit santai setengah berbisik di dekat telinga Kirana yang langsung membuat beberapa staf wanita di meja pojok memekik tertahan. "Kalau kita jalannya jauhan kayak orang marahan, nanti gosipnya malah berubah jadi kita putus. Aku belum siap menjanda sebelum menikah" lanjutnya terkekeh.
"Kosakata Anda makin hari makin sembarangan" ucap Kirana ketus, dia mencoba mengabaikan debaran aneh di dadanya akibat hembusan napas Radit yang terlalu dekat.
Mereka akhirnya berhenti di depan stan bakso urat. Radit memesan dua porsi mangkuk besar lengkap dengan tetelan, lalu dengan sigap mengeluarkan dompetnya untuk membayar sebelum Kirana sempat membuka tasnya.
"Sudah kubilang, kan? Hari ini aku yang traktir" ucal Radit sambil mengedipkan sebelah mata pada bibi penjual bakso, yang langsung tersenyum salting.
Mencari meja kosong di kantin yang penuh sesak adalah tantangan tersendiri, namun entah bagaimana, begitu Radit dan Kirana berjalan membawa nampan mereka, sebuah meja yang strategis di tengah ruangan mendadak 'dikosongkan' dengan secara sukarela oleh karyawan divisi pemasaran yang buru-buru pindah tempat.
Mereka pun duduk berhadapan. Kirana segera membersihkan sendok dan garpu menggunakan tisu, sementara Radit langsung sibuk meracik mangkuk baksonya.
"Satu sendok sambal... dua sendok... tiga sendok... empat sendok"
Kirana menatap horor pada kuah bakso Radit yang perlahan berubah warna menjadi merah pekat seperti lava gunung berapi.
"Radit, kamu punya rapat koordinasi dengan Dewan Komisaris jam dua nanti. Apa Anda yakin mau menantang maut dengan sambal sebanyak itu?" tanya Kirana.
"Kirana, hidup itu harus berani mengambil resiko. Sama seperti bisnis, makan bakso tanpa sambal yang menantang itu hambar" ucap Radit dengan filosofis sembari mengaduk kuahnya dengan semangat. "Lagipula, ini penawar stres setelah melihat stroller bayi kiriman Ibu tadi" lanjutnya.
Kirana mendengus pelan, namun tidak bisa menahan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Itu adalah senyuman tulus pertama yang Kirana tunjukkan di tempat umum sejak drama pacaran kontrak ini dimulai. Dan sialnya bagi Radit, dia menangkap momen langka itu tepat waktu.
Radit menghentikan tangannya yang memegang sendok. Dia menatap Kirana lekat-lekat.
"Kenapa melihatku seperti itu? Ada sisa bedak yang luntur kah?" tanya Kirana, dia merasa salah tingkah ditatap seintens itu di tengah kantin yang ramai.
"Nggak. Cuma... kamu kalau tersenyum begitu kelihatan jauh lebih cantik. Serius deh" ucap Radit, suaranya mendadak melunak, dia seperti kehilangan nada usilnya ang biasanya selalu mendominasi. "Kamu harus lebih sering tersenyum, Kirana. Jangan cuma dipasang kalau lagi presentasi laporan tahunan" lanjutnya.
Wajah Kirana seketika memanas. Dia buru-buru menunduk dan menyendok kuah baksonya sendiri untuk menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.
"Sialan, apa ini juga bagian dari akting?" batin Kirana panik. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan itu jelas bukan karena efek sambal.
Untuk mengalihkan suasana yang mendadak canggung, Kirana berdeham keras.
"Ehem. Ngomong-ngomong soal Ibumu... kamu benar-benar akan bicara pada beliau nanti malam? Aku tidak bercanda tentang stroller itu, Radit. Jika staf humas melihatnya, berita ini bisa bocor ke media eksternal, dan saham perusahaan bisa terpengaruh hanya karena rumor pernikahan kamu" ucap Kirana.
Radit menghela napas, menyuap sebutir bakso ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya pelan.
"Iya, aku tau. Aku akan ke rumah Ibu sepulang dari kantor nanti. Aku akan bilang kalau kita mau fokus mematangkan hubungan dulu tanpa tekanan. Tapi..." Radit menggantung kalimatnya, menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Bagaimana kalau Ibu justru meminta tanggal pasti? Kamu tahu sendiri, ibuku tidak bisa diulur-ulur dengan jawaban diplomatis ala korporat" lanjutnya.
Kirana terdiam. Pertanyaan Radit menyentuh titik realitas yang selama ini dia coba hindari. Kontrak mereka hanya berlaku untuk enam bulan. Lalu, apa yang terjadi setelah enam bulan itu berakhir? Apakah mereka akan membuat skenario 'putus karena ketidakcocokan' dan membiarkan Sofia Baskara patah hati?
Baru saja Kirana hendak menjawab, drama sesungguhnya hari itu dimulai.
"Uhuk! Uhuk... Huk!"
Radit tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan kasar. Wajahnya yang semula tampan mendadak berubah warna menjadi merah keunguan. Matanya melotot, dan tangannya bergerak panik meraih gelas es teh manis di sampingnya. Dia meminumnya dalam satu tegukan rakus, namun tampaknya rasa pedas dari lava sambal tadi sudah terlanjur mengunci tenggorokannya.
"Uhuk! Air... Kirana... air..." ucap Radit dengan suara parau yang nyaris habis.
"Kan sudah aku bilang" ucap Kirana panik. Naluri protektifnya atau mungkin naluri sekretaris yang tidak mau bosnya mati konyol karena bakso seketika mengambil alih.
Kirana berdiri, merebut gelas kosong Radit, lalu berlari cepat ke stan minuman tanpa memedulikan pandangan heran dari seluruh isi kantin. Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, dia kembali dengan sebotol besar air mineral dingin dan segelas susu cair hangat yang dia minta dari stan kopi.
"Minum susunya dulu! Susu bisa menetralkan rasa pedas dari cabai" ucap Kirana tegas, mirip seperti seorang ibu yang sedang mengomeli anaknya.
Radit menerima gelas susu itu dengan tangan gemetar dan meminumnya sampai habis, lalu menyusulnya dengan setengah botol air mineral. Setelah beberapa menit yang menegangkan, napas Radit perlahan mulai teratur, meskipun bibirnya kini terlihat sedikit bengkak dan memerah akibat sengatan cabai.
"Kamu... Mau membunuhku atau menyelamatkanku?" ucap Radit sambil bersandar lemas di kursi sambil menyeka keringat di dahinya dengan tisu yang disodorkan Kirana.
"Aku menyelamatkanmu dari berita utama besok pagi. 'CEO Baskara Group Tewas Terkena Serangan Sambal di Kantin Sendiri'. "ucap Kirana, napasnya juga agak memburu karena panik tadi. dia kembali duduk, namun tangannya masih bergerak reflek merapikan helaian rambut Radit yang berantakan karena keringat.
Tindakan spontan Kirana itu membuat Radit tertegun. Sentuhan lembut jemari Kirana di dahinya terasa begitu nyata, hangat, dan sama sekali tidak terasa seperti tindakan yang tertulis di dalam pasal kontrak mana pun.
Ratusan karyawan di kantin yang sejak tadi menonton drama 'penyelamatan' itu seketika meledak dalam bisik-bisik yang jauh lebih heboh. Kali ini, tidak ada lagi yang meragukan hubungan mereka. Cara Kirana panik dan cara Radit menatap Kirana setelahnya adalah bukti nyata yang tidak bisa di bantah lagi oleh divisi hukum sekalipun.
Radit perlahan meraih pergelangan tangan Kirana, menghentikan gerakan tangan wanita itu di dekat wajahnya, lalu tersenyum tipis, kali ini tanpa ada binar usil, yang ada hanya ketulusan yang murni.
"Terima kasih, Kirana" ucap Radit pelan. "Kamu memang selalu bisa diandalkan. Dalam hal apa pun" lanjutnya.
Kirana menarik tangannya perlahan, menatap Radit dengan perasaan campur aduk antara rasa malu, kesal, dan sesuatu yang mulai tumbuh di sudut hatinya yang paling dalam. Sesuatu yang dia tahu... Akan membuat kontrak pacaran ini menjadi jauh lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan.