Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
...----------------...
Dua hari setelah perpisahan dengan Liona, dunia seakan berhenti berputar. Setiap kali aku menatap cermin, bayangan masa depanku yang suram terus menghantui. Sore ini, cuaca di luar rumah terlihat mendung, seolah alam sedang bersiap menyaksikan kehancuran hidupku. Aku berdiri di depan pintu utama rumah keluarga Albian, menarik napas dalam-dalam. Tekadku sudah bulat. Aku harus jujur.
Begitu pintu terbuka, hiruk-pikuk kehidupan khas keluarga Albian langsung menyambutku. Di ruang tamu, Kak Andra sedang mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinga.
"Iya, Pak untuk proyek di Surabaya itu, saya mau laporan final nya ada di meja saya besok pagi. Jangan sampai ada kesalahan teknis lagi," ucap Kak Andra dengan nada tegas nan dingin.
Di sofa lain, Kak Zalya sedang sibuk dengan makeup nya. Dia sedang mencoba lipstik merah menyala, bersiap untuk pergi bermain dengan teman-teman sosialitanya. Sementara itu, di sudut ruang, Kak Hendra dan Ellisya sedang terlibat dalam permainan kartu yang panas.
"Kartu gue nih, El! rasain nih ha ha ha ha ha, poker! Lu kalah lagi," teriak Kak Hendra kegirangan.
"Ih, curang! Kak Hendra pasti ngintip kartu aku! Udah lima game aku kalah terus, ini mah bukan main, tapi pembantaian!" protes Ellisya dengan wajah cemberut.
Aku berjalan masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa yang kosong. Tak satu pun dari mereka menyadari kehadiranku. Fokus mereka masih pada kesibukan masing-masing.
"Kak, lu sampe kapan di sini?" tanyaku mencoba basa-basi pada Kak Hendra.
"Minggu depan gue balik Bandung, tugas kuliah gue belum kelar. Kenapa? Lu mau usir gue?" jawab Kak Hendra sambil tetap fokus mengacak kartu.
"Gila, Kak Hendra jago banget! Dari lima game tadi, aku gak menang sekali pun. Kakak pake dukun apa sih?" celetuk Ellisya kesal sambil melempar kartunya ke meja.
Aku menarik napas panjang, meremas jemariku yang berkeringat. "Kak, gue mau ngomong sesuatu."
"Ngomong aja, gausah basa-basi, gue lagi tanggung nih," ucap Kak Hendra tanpa menoleh.
"Hmm... gu... gue hamilin anak orang, Kak." ucap ku dengan nada pelan yang gugup
Hening.
Keheningan itu terasa lebih mencekam daripada badai. Kak Andra mematikan sambungan teleponnya dengan perlahan, lalu menoleh padaku dengan tatapan yang sulit diartikan. Kak Zalya yang sedang memulaskan lipstik justru tidak sengaja menggoreskan warna merah itu meleset jauh sampai ke pipinya, membentuk garis merah aneh seperti bekas luka. Kak Hendra menjatuhkan tumpukan kartunya ke lantai, dan Ellisya hanya melongo dengan mata bulatnya yang menatapku horor.
"HAAAAHHHHHHHHH!"
Teriakan keempat saudaraku memecah kesunyian dengan sangat kompak, seolah-olah mereka sedang latihan paduan suara.
Kak Andra langsung bergerak secepat kilat. Dia menarik kerah bajuku dengan satu tangan yang kokoh, membuat kakiku hampir terangkat dari lantai. Kak Zalya menyusul, dia menghampiriku sambil menunjuk-nunjuk dengan tangan yang masih memegang lipstik, membuat pipinya yang tercoret itu terlihat makin horor.
"Arka! Lu beneran ngomong apa tadi?! Lu hamilin Liona?! Gue udah bilang jangan main-main sama anak orang!" teriak Kak Zalya histeris.
"Tenang dulu, tenang! Kalian salah paham, gue gak hamilin Liona!" teriakku panik.
"Lah, terus yang lu bilang barusan apaan? Lu hamilin kuntilanak?!" sahut Kak Zalya dengan nada tinggi.
"Gausah bercanda, Arka. Hal ini gak boleh dijadiin bahan bercandaan!" ujar Kak Hendra yang kini berdiri di depanku, wajahnya mengeras.
"Gak ada yang lucu sama sekali. Jelasin semuanya sekarang, atau gue beneran bikin lu gak bisa punya keturunan lagi," ancam Kak Andra dengan suara dingin yang sangat mengintimidasi.
Aku menggigil. "Iya, iya! Lepasin dulu kerah gue, Kak! Gue jelasin!"
Kak Andra melepaskanku dengan kasar. Aku merapikan baju dan menunduk. "Gue emang gak hamilin Liona. Tapi gue hamilin perempuan yang baru gue kenal satu malam. Dia... dia cuma perempuan biasa tanpa status yang jelas. Gue bahkan gak tau dia tinggal di mana awalnya."
Hening.
Seisi ruangan terdiam lagi. Detik berikutnya, sebuah hantaman keras mendarat di pipi kiriku dari tinju Kak Andra. Belum sempat aku oleng, Kak Hendra menjatuhkan tubuhku ke lantai dan menindihku, memberikan pukulan-pukulan ringantapi tetap sakit ke bahuku, sementara Kak Zalya malah sibuk menendang kakiku sambil berteriak.
"Lu bego apa dongo, hah?! Lu hamilin Liona yang jelas-jelas cewek berstatus aja udah goblok, lah ini lu hamilin cewek yang gak lu kenal asal-usulnya, dasar bloon!" teriak Kak Zalya sambil menendang bokongku.
"Ampun, Kak! Sakit!" jeritku sambil meringkuk di lantai.
"Lu beneran cowok apa bukan, sih? Harusnya lu pake pengaman!, gue aja yang lebih tua dari lu masih main kartu sama anak SMP!, lu tuh mikir gak si?" tambah Kak Hendra sambil menjitak kepalaku.
Ellisya, adik bungsu kami, hanya berdiri di sudut ruangan sambil menutup hidungnya. "Ih, Kak Arka jijik banget. Aku gak mau peluk Kakak lagi!"
Setelah aku benar-benar babak belur, Kak Andra menyuruhku duduk kembali di sofa dengan tatapan tajam. Kak Zalya mulai menginterogasi seperti polisi di kantor hukum.
"Namanya siapa? Kuliah di mana? Pekerjaannya apa? Keluarganya kayak gimana? Dia ngerayu lu pake apa sampai lu mau nidurin dia?" tanya Kak Zalya bertubi-tubi.
Aku menjawab semuanya dengan pasrah, menceritakan tentang Astrid, tentang kondisinya, dan tentang betapa biasanya dia dibanding lingkungan kami.
"Terus, lu udah punya rencana buat ke depannya?" tanya Kak Andra dingin.
"Buat sekarang, rencana gue mau tanggung jawab atas kesalahan gue, Kak."
"Ya emang harus tanggung jawab! Lu kan cowok, bukan banci! Tapi lu mikir gak?, emang Ayah bakal suka denger lu hamilin cewek yang asal-usulnya bahkan gak jelas di mata keluarga Albian?" suara Kak Andra semakin berat.
Aku terdiam. Membayangkan Ayah yang perfeksionis mengetahui hal ini membuat nyaliku menciut.
"Baru kepikiran kan lu?" Kak Zalya mendorong kepalaku dengan telunjuknya. "Makanya, sebelum ngelakuin sesuatu tuh dipikir pake otak, jangan pake nafsu doang!"
"Oke buat sekarang gini aja, tolong semuanya Denger ya," Kak Andra mengambil napas panjang. "Jangan kasih tahu Ayah atau Ibu dulu. Besok malam, bawa cewek itu makan malam di sini. Gue mau liat cewek kayak gimana yang bisa bikin adik gue sebodoh ini."
"Gue setuju," sambung Kak Hendra. "Kita harus nilai orangnya dulu. Kalo emang dia punya kelebihan, setidaknya kita bisa bantu cari alasan buat Ayah nanti."
"Besok malam, jangan sampe gak dateng!" tegas Kak Zalya.
Malam itu aku benar-benar hancur. Tubuhku sakit, hatiku lelah, tapi aku harus menjalankan misi ini. Aku segera membuka ponsel dan mengirim pesan pada Astrid.
(Chat)
Arka: "Strid, lu lagi apa?"
Astrid: "Baru selesai beresin rumah. Kenapa, Ka? mau ngajak main yaa?"
Arka: "Besok malam lu bisa ke rumah gue? Kakak kakak gue pengen ketemu lu buat makan malam."
Astrid: "Hah? Maksudnya? Kakak-kakak lu? Gue kan cuma cewek biasa, Ka. Gue takut nanti mereka marah atau ngerendahin gue..."
Arka: "Gue bakal ada di sana. Gue udah jelasin semuanya ke mereka. Mereka cuma pengen kenal lu, bukan mau makan orang. Tolong, ya? Cuma lu yang bisa bantu gue buat ngejelasin ke Ayah nantinya."
Astrid: "...Oke. Gue usahain dateng. Tapi jangan tinggalin gue sendirian di sana ya!"
Arka: "Pasti. Makasih Astrid beasok jam 7 malem gue jemput lu di rumah."
Aku menaruh ponselku. Besok adalah hari penentuan. Aku tidak tahu apakah ini akan menjadi awal dari perdamaian atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar bagi keluarga Albian dan Astrid. Namun satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan Astrid sendirian menghadapi mereka semua.
...----------------...