NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perseteruan jaksa VS kuasa hukum di pengadilan.

Adimas kembali berujar dengan percaya diri pada dewan hakim. "Harap perbuatan baik ini menjadi pertimbangan dewan hakim, terima kasih sekian pembelaan dari kami"

Arka medecak kan bibirnya meremehkan, jaksa penuntut lain bernama Yusuf yang duduk di sisinya tersenyum, dan menepuk bahu Arka.

"Sabar saja, Hakim ketua takkan membebaskan dia begitu saja" Satu jam setelah pengadilan melakukan penundaan pembacaan vonis terdakwa, maka saat jam menunjukkan pukul dua siang WIB, hakim ketua pak Sigit Purnomo membacakan keputusan dewan hakim, dan di dengarkan oleh seluruh yang hadir di persidangan dengan tanggapan beragam.

Tuntutan tim Jaksa penuntut atas hukuman seumur hidup atau hukuman mati dan penyitaan seluruh harta bergerak dan tak bergerak milik terdakwa pada negara, akhirnya di kabulkan dewan hakim dengan vonis hukuman penjara seumur hidup dan penyitaan harta untuk negara, dan akhirnya Arka si jaksa tampan itu bisa tersenyum puas atas hasil kerja keras nya.

Arkanendra dan dua anggota jaksa lain pak Yusuf dan Andito saling berjabat tangan akrab memeluk satu sama lain, lalu membereskan berkas file nya dimeja, ketika si narapidana Suhendra dibawa oleh petugas lembaga pemasyarakatan dan kepolisian kembali ke dalam jeruji besi untuk tinggal di rumah barunya.

"Kamu kejam!! Tak ada pria di dunia ini yang setega kamu Arkanendra. Sialan! Kamu membuat hidupku hancur hiks" Itu suara benci dan kesal dari putri terdakwa saat menghampiri Arka, dengan tampang ingin menghajar jaksa muda itu, namun wajah Arka yang dingin dan datar saja membuat Maya makin gemas.

"Jika ayah anda bukan lelaki kejam dan brengsek? Dia takkan duduk dipersidangan ini sebagai pesakitan, saya sarankan lebih baik kamu menerima keputusan pengadilan ini dengan lapang dada nona Maya Widiasari"

"Cih saya akan mengajukan banding! Masa bodoh jika nantinya berhadapan lagi denganmu" Adimas yang melihat tingkah bar-bar klien nya memijat dahinya, dan buru-buru menarik lengan gadis cantik itu.

"Kita pergi saja nona Maya, banyak yang melihat di sini, jangan mempermalukan dirimu disini, astaga!"

"Nggak mau!! Pak pengacara dia itu Jaksa brengsek!! Jika saja dia sedikit iba pada ayahku, hiks~ pasti papa ku takkan di hukum seumur hidup!?"

"Ya ampun nona------" Adimas masih berusaha membawa gadis itu menjauh dari jangkauan Arkanendra yang terlihat mulai tersulut emosi.

"Tutup mulutmu! Kamu pikir berapa banyak orang tak berdosa yang mati sia-sia karena ulah ayahmu? Dia seperti lintah penghisap darah, banyak korban mati sia-sia karena obat laknatnya, masih untung vonis pengadilan tadi bukan hukuman mati" Arkanendra berbalik pergi keluar dari ruang persidangan sambil menenteng jubah hitamnya dan bagcasenya, setelah mengucapkan kalimat tajam tadi, bahkan dua jaksa rekan kerjanya sampai melongo kaget, mendengar makian kejam dari Arka tadi.

Saat jaksa tampan itu bermaksud akan naik ke Porsche putih mobilnya di parkiran basement, namun seorang pria dengan setelan jas biru tua menegurnya.

"Permisi pak Arkanendra"

Arka menoleh, mengancingkan jas abu abunya, memasukkan dua tangannya ke saku celana Hitamnya dan memicingkan matanya, gesturnya saat ini terlihat kesal.

"Apa anda ada perlu dengan saya?" Adimas, pengacara muda tak kalah tampan juga itu tersenyum kalem dan mengulurkan tangannya.

"Saya belum memberikan ucapan selamat pada anda tadi, sekali lagi selamat----sudah lama saya tak mendapat lawan hebat di pengadilan seperti anda, anda jaksa yang luar biasa" Arka tersenyum miring, dia sudah lama juga mendengar nama Adimas ini, dan kabarnya malah lulusan hukum dari universitas Colombia Amerika, sepertinya pengacara itu harus mengaku kalah kali ini.

"Mungkin nasib saya hari ini sedikit beruntung, hehehe nama anda sangat populer di kantor saya, jadi sepertinya ini hanya faktor keberuntungan saya saja, terima kasih sikap anda jauh lebih sopan dari klien anda tadi" Adimas menyunggingkan senyum tipisnya dan mengangguk pelan, memasukkan juga satu tangannya ke saku celana.

"Maaf sebesarnya sejak bertemu di pengadilan selama tiga hari ini, kita belum bisa mengobrol di santai seperti ini"

"Ah benar juga, apa ingin mengundang saya untuk secangkir kopi?" Adimas terkekeh mengangguk menunjuk mobil Mercedes Benznya yang berwarna merah terparkir tak jauh dari mobilmu Arka.

"Itu mobil saya, silahkan di ikuti jika tak keberatan, mengobrol dengan secangkir kopi sepertinya tak buruk kan?"

"Eum baiklah, tapi hanya bisa sekitar satu jam karena saya ada kepentingan lain nya"

"Boleh tak masalah, ayo pak Arka!"

Dua pria tampan itu masuk ke mobil masing masing, dan membawa kendaraan mereka keluar dari parkiran basement ke jalan raya besar di depan gedung megah pengadilan.

"Sok cari muka ckck bilang saja jika kau tak puas karena kalah di pengadilan tadi, Adimas dasar pengacara sombong?" Arkanendra bermonolog sambil menyetir mobilnya, kesal setelah mengobrol dengan pengacara muda itu dan menikmati secangkir kopi, di salah satu cafe yang dia bilang miliknya dan cukup membuat Arka kesal mengumpat dalam hati.

"Cih sombong, jika memang mau naik banding akan ku layani kamu, enak saja menyindir ku jika kemenanganku tadi hanya faktor keberuntungan"

****

Flashback on.....

kejadian setengah jam lalu yang membuat Arka kesal*

"Ah sepertinya klien ku berencana untuk mengajukan banding atas kasus ayahnya" Arka yang tengah menikmati kopi vanilla lattenya dari cupnya tersenyum sinis, mau ke mana pun dia siap meladeni wanita itu.

"Silahkan saja, pada akhirnya kebenaran dan keadilan yang akan menang kan, hukum itu tak pandang bulu, mau kaya ataupun berkuasa jika bersalah dia akan mendapatkan hukuman"

"Itu adalah tuntutan profesiku, terlepas dari salah atau benar jalan hidup ku, aku tetap di takdirkan untuk membela tersangka kan"

"Iya benar...kita memiliki tanggung jawab masing masing dalam profesi ini"

Adimas menatap lawan bicaranya yang tengah meneguk kopinya.

"Apa anda dan Bu Maya pernah menjalin hubungan berpacaran dulu? Dia cerita jika anda mantan kekasihnya" Arka langsung terlonjak kaget, dia meletakkan cangkirnya dan mendengus sinis.

"Pasti dia yang mengatakan padamu? apa saja yang sudah dia ceritakan?"

"Eum begitulah lumayan banyak bahkan dia sempat percaya diri jika anda masih menyukainya, sebelum persidangan dia pernah memohon padamu dan mengajak negosiasi, agar anda mau mengasihani ayah nya"

"Dia salah jika memohon padaku, apalagi jika berpikir aku masih menyukainya, dia hanya mantan kekasih aja, tak lebih....."

"Ah iya memang benar, itu hanya khayalan bodohnya saja-----" Mata Arka berkedip-kedip saat Adimas tersenyum sinis juga.

"Seharusnya dia mempercayai kemampuan pengacaranya dan karena tingkah bodohnya itu rasanya saya terlihat tak berguna kan?"

"Maksudmu apa pak Adimas??"

"Minum kopi siang ini sebenarnya adalah undangan saya untuk bertemu lagi di pengadilan Mahkamah Agung, mungkin butuh waktu sebulan untuk penyelidikan ulang kasus ini dan permohonan banding, jadi sampai jumpa di persidangan nanti, pak jaksa" Arka langsung berdiri dari kursinya, menyambar kontak dan jasnya karena kesal, dan lebih baik pergi dari cafe itu.

"Saya ada keperluan lainnya, sampai jumpa jika begitu, terima kasih traktiran kopinya" Adimas yang mendekap lengannya tersenyum miring, sepertinya aura dingin dan datar wajah pak jaksa tak sepenuhnya benar, Eko Arkanendra Widjaya bisa emosi juga ternyata.

Flashback off------

Apa Adimas dan Arkanendra akan menjadi lawan seimbang, mungkin saja bisa Adimas juga menyukai Nayyara.

1
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!