Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.efek kupu kupu
Gua meregangkan otot-otot badan gua yang kaku. Di luar jendela, matahari sore kota Seoul mulai tenggelam, tapi di dalam kamar kosan gua, suasananya makin panas.
Jinho masih belum beranjak dari kursinya. Tangannya gemeteran pas megang mouse, nge-scroll artikel demi artikel yang muncul di situs komunitas game terbesar di Korea, *Inven*.
"Gila... ini beneran efek kupu-Kupu," gumam Jinho, matanya gak lepas dari layar. "Lu gak cuma bikin Viper malu, Bro. Lu baru aja ngebuka borok skema industri *streaming* mereka."
Gua jalan ke arah kasur, lalu ngelempar badan gua ke atas kasur tipis yang udah kempes. "Maksud lu?"
"Lihat nih." Jinho muter monitornya biar menghadap ke gua.
### **[HOT ISSUE] Analisis Mekanik 'SwordGod77': Apakah Batas Level di 'Warlords of Myth' Sudah Tidak Berguna?**
* **[Komentar Terpopuler - 14,201 Likes]:** Selama ini kita dibohongin sama para *streamer* besar yang bilang kalau mau menang harus beli item *pay-to-win* seharga ratusan juta won. Hari ini, seorang pemula level 2 ngebuktiin kalau *pure skill* dan *refleks* itu di atas segalanya. Viper_V keliatan kayak badut yang cuma modal dompet tebal.
* **[Komentar - 9,804 Likes]:** Manajemen LFG baru aja ngerilis statistik pertandingan resmi. Kecepatan reaksi *SwordGod77* ada di angka 0.05 detik. Itu setara—bukan, bahkan lebih cepat dari rekor atlet e-Sports nomor satu dunia saat ini! Ini orang sebenernya siapa sih?!
Gua cuma tersenyum tipis ngeliat postingan itu. *0.05 detik?* Itu mah karena tubuh virtual level 2 gua ngebatasin pergerakan gua. Di kehidupan masa lalu, gua bahkan bisa nebas anak panah yang lepas dari jarak satu meter tanpa perlu ngelirik.
"Tapi Bro, ada berita buruknya," Jinho tiba-tiba masang muka serius, cengirannya ilang total.
"Apaan? Manajemen LFG mau nge-ban gua?" tanya gua santai.
"Bukan. Justru karena lu viral, grup chat babak penyisihan lu langsung dirombak total sama algoritma sistem buat naikin *rating* siaran," Jinho nge-klik sebuah bagan turnamen baru yang muncul di layar. "Untuk pertandingan lusa, lu dipindahin ke **'Grup Neraka'**."
Gua menaikkan sebelah alis gua. "Grup neraka?"
"Iya. Di sana isinya bukan *streamer* amatir atau kreator konten ecek-ecek lagi. Lu bakal satu grup sama **'WhiteKnight'**, mantan kapten tim nasional e-Sports Korea yang baru aja pensiun dan mutusin buat jadi *streamer* penuh waktu. Level karakternya udah mencapai batas maksimal wilayah pemula, level 60, dan dia megang predikat pertahanan terbaik di server."
Jinho natap gua dengan pandangan khawatir yang sangat tulus. "Viper emang toxic dan mainnya kasar, tapi WhiteKnight itu beda kelas, Bro. Dia itu monster taktis. Gaya mainnya kalkulatif banget, gak bakal kemakan provokasi kayak Viper."
Gua bangkit dari kasur, jalan mendekati meja kerja gua yang berantakan. Gua ngeliat ke arah *gear* VR *second* yang kemarin hampir bikin otak gua meleleh akibat efek kejang saraf.
Mantan kapten tim nasional? Pertahanan terbaik?
Darah *Sword God* di dalam diri gua rasanya kembali bergejolak, jauh lebih hebat daripada pas gua denger nama Viper kemarin. Ini dia yang gua cari. Lawan yang punya otak, bukan cuma modal bacot dan item mahal.
"Jinho," panggil gua tenang.
"N-Napa, Bro?"
"Buka toko item game sekarang. Sisa duit saweran satu juta won yang dikasih netizen tadi... kita abisin semuanya buat beli satu hal."
Jinho melongo, buru-buru megang dahi gua. "Lu kagak gila, kan? Lu mau beli item *pay-to-win* juga? Tapi kan akun lu baru level kecil, statnya gak bakal kuat make item dewa!"
Gua nepis tangan Jinho sambil tersenyum lebar—senyuman yang biasa gua keluarin di kehidupan lalu pas gua nemu lawan yang sepadan di medan perang.
"Siapa yang bilang gua mau beli item dewa? Gua mau lu beli **seratus bilah pedang besi biasa** yang paling murah di toko, terus masukin semuanya ke dalam *inventory* gua."
"Hah?! Buat apa pedang sampah sebanyak itu?!" Jinho bener-bener gak paham sama jalan pikiran gua.
Gua natap layar monitor yang nampilin foto profil WhiteKnight dengan zirah perisai raksasanya.
"Pedang besi biasa punya *durability* yang ampas. Sekali benturan sama perisai kelas berat, pedang itu pasti bakal langsung patah," ucap gua dingin. "Kalau satu pedang cuma bertahan buat tiga tebasan... maka gua cuma perlu bawa seratus pedang buat ngelepasin tiga ratus tebasan tanpa henti sampai perisai dewa miliknya itu hancur berkeping-keping."
Gua ngepalin tangan gua erat-erat.
"Lusa nanti, gua bakal tunjukin ke kapten tim nasional itu... gimana cara sejati mematahkan sebuah pertahanan."