Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15
Malam harinya, suasana makan malam kali ini sedikit berbeda. Ada penambahan orang di antara keluarga nya Ali. Dewa menyambut kakek jun dengan begitu baik dan ramah. Bahkan dia langsung menyuruh istrinya meletakan rebusan singkong itu, di piring nya kakek jun. dia berpikir, pasti pak jun saat ini sedang menahan lapar.
"Bu, berikan singkong itu untuk pak jun terlebih dulu, setelah itu baru anak anak." kata dewa dengan tulus nya.
Karena pak jun merupakan tamu nya, dia begitu menghormati pak Juna. Dia juga merasa kasihan dengan beliau. Apalagi kata anak nya bahwa pak jun ini sudah lupa arah pulang ke rumah nya sendiri.
"Berikan saja kepada anak anak mu dulu nak dewa, aku bisa mengambil nya nanti."
"Tidak kakek, benar kata ayah. Kakek pasti saat ini merasa lapar kan. Aku dan adik ku bisa menunggu giliran." kata Ali dengan tersenyum tulus.
Satu hal yang kakek jun rasakan, walapun rumah ini sederhana. Dan makanan di hadapan nya juga begitu sederhana, tapi kehangatan keluarga ini benar benar sangat mahal. Dia tersenyum tipis ke arah Ali dan keluarga nya.
"Anak ini benar benar sangat sopan sekali. keluarga ini benar benar mengalami kesulitan ekonomi." gumam nya yang merasa iba dengan keluarga Ali yang hanya memakan singkong sebagai pengganti nasi.
hangat, tawa kebahagiaan di wajah keluarga Ali benar benar membuat kakek jun kagum. Mereka sama sekali tak mengeluh, bahkan anak anak nya begitu semangat memakan singkong rebus itu, seolah itu makanan dari restoran bintang lima.
"Terima kasih ya Bu, perut dinda akhirnya kenyang dan tidak menahan lapar lagi saat tidur." ucap gadis kecil itu dengan wajah berbinar polos.
Hati kakek jun benar benar terenyuh mendengar nya. seberapa sulit ekonomi mereka, sampai harus menahan lapar di malam hari. Tak sadar dia bahkan mengeluarkan air mata nya secara spontan.
"Sama sama nak, doakan ibu dan ayah ya. semoga sehat dan bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian. maafkan ibu ya nak, masih belum bisa memberikan kalian nasi."
"Tidak apa apa Bu, Ali begitu menyukai singkong rebus buatan ibu."
percakapan ibu dan anak itu, langsung terdengar di telinga nya kakek jun. Sedari tadi dia hanya diam sambil mendengarkan ucapan mereka. Tak lama dewa datang membawakan segelas kopi Hitam untuk nya.
"Pak, ini silahkan di minum." ucap dewa tersenyum tipis ke arah kakek jun.
"Nak dewa, tidak perlu repot repot. bapak benar benar merasa sungkan dengan keluarga kalian yang begitu baik."
"Tidak perlu sungkan pak, saya sama sekali tak keberatan adanya bapak di rumah ini. Saya justru bangga dengan putra saya pak, dia begitu perduli dengan orang yang sedang mengalami kesulitan. bapak ga perlu khawatir, saya akan mencari informasi tentang keluarga bapak ya. untuk sementara, bapak tinggal saja dulu di gubuk kami."
"Terima kasih banyak nak, dewa. tanpa bantuan Ali, mungkin saat ini bapak sudah entah berada di mana."
"Ayo pak, silahkan di minum, keburu dingin. Kopi nya nanti tidak enak di nikmati saat air nya sudah dingin."
Kedua nya mengobrol singkat, dan kemudian kakek jun langsung beristirahat di kamar milik Ali dan tidur bersama Ali. Sebab kamar yang mereka miliki hanya 2. Sedangkan Dinda tidur bersama dengan kedua orang tua nya.
Saat memasuki kamar nya Ali, kakek jun melihat beberapa kertas dan coretan yang di pajang di dinding papan milik Ali.
"Wow, lukisan gambar kamu bagus sekali nak." puji kakek jun yang kagum dengan lukisan gambar pesawat itu.
"Gambar ini lukisan pertama ku kakek,saat itu Bu guru menyuruh kami melukis sebuah gambar bebas, dan saat itu juga aku tak ada pensil warna, jadi sahabat ku Denis, meminjam kan nya untuk ku. gambar ini, juga yang membuat aku bisa mengenal sahabat ku Denis. Dia orang pertama yang mau meminjamkan barang nya kepada ku." ucap Ali begitu antusias saat membahas tentang sahabat nya itu.
memang benar, denis lah orang pertama yang mau berteman dengan nya. semua orang bahkan menjauh dari nya, sebab dia adalah orang miskin. Tapi denis, begitu baik menganggap nya teman, tanpa sekali pun menghina nya.
"Sangat hebat, teman mu juga sangat luar biasa. Semoga kalian berdua menjadi anak yang sukses. Kakek yakin, kamu akan menjadi orang hebat di masa depan nanti." kakek jun senang saat mendengar Ali begitu antusias menceritakan tentang teman nya.