NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikhlaskan, Allah yang akan Ganti (part 3)

Memasuki ruang keluarga Kepala Desa, serasa disambut oleh aura kepemimpinan yang teduh. Ruangan ini bukan sekadar tempat bernaung, melainkan sebuah simfoni filosofi kehidupan Jawa.

Atapnya yang megah dan menjulang ibarat gunung yang membawa keteduhan, sementara empat Soko Guru mengajarkan keseimbangan dan keteguhan batin. Ukiran rumit pada langit-langit menjadi saksi bisu keanggunan warisan leluhur yang berpadu sempurna dengan kemewahan modern.

Pria senja berambut perak, Raden Sastro, duduk terpekur di bale-bale. Menantunya, Lukman duduk di kursi jengki yang menghadap padanya.

Hening.

Raden Sastro mengambil napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. Alisnya bertaut, menandakan beratnya beban yang dia pikirkan.

"Sampun, Romo. Mohon jangan berpikir terlalu berat untuk Dik Arun. Khawatir mengganggu kesehatan Romo." ucap Lukman hati-hati.

"Piye toh, Man. Semenjak enam bulan lalu, setelah kamu meminang Arun, mengajaknya keluar dari kemelut gelap di hidupnya setelah bercerai dari Toni, kami merasa sudah tenang ...," tangan senjanya yang mulai gemetar saling bertautan di atas lutut.

"Sedari awal, kami berat melepaskan Arun untuk menikah dengan Toni. Banyak perbedaan antara keluarga kami dan keluarga Toni. Namun, mau gimana lagi, Arun sudah terlanjur cinta saat itu." Raden Sastro memijat pangkal hidungnya, lalu melempar pandangan kosong ke arah taman di samping ruang keluarga.

Matanya seakan melihat hari-hari berat saat dia melepaskan putri keduanya menikah dengan Toni, lelaki pilihan hatinya.

"Nyatanya, insting orang tua ini tidak salah juga toh, Man. Arun terluka. Yang salah adalah, kami tidak pernah menanyakan kabar Arunika, setelah dia diboyong Toni ke kota Kertajaya. Yang salah, kami seakan tidak mau tahu penderitaan Arunika, hanya karena kami merasa Arun tidak menurut sama kami," air mata mengalir deras membasahi pipi Raden Sastro. Rasa sakit saat mengetahui anaknya selalu menyimpan sendiri dukanya, membuat dia makin merasa bersalah.

Lukman makin menunduk dalam diam. Berusaha menahan sesak yang menghentak-hentak dadanya.

"Sampai Sekar mengenalkan Arun ke kamu. Lalu, kamu menawarkan hidup bahagia dan hidup yang lebih dihormati dari sebelumnya buat Arun. Bahkan, kamu rela meninggalkan keluargamu, demi bisa menikahi Arun," Raden Sastro memandang lembut ke arah Lukman yang berkali-kali menghapus air mata yang terus menetes.

"Sampai Allah berikan amanah, janin yang suci pada pernikahan kalian. Sesuatu yang tidak Allah berikan pada pernikahan Arun sebelumnya. Haaah..."

Dada Raden Sastro naik-turun dengan tidak teratur, menahan sesak yang mendesak.

"Nyatanya, belum sampai berkembang menjadi janin yang utuh, Allah

pundhut lagi..." ada genangan air di sudut mata tua Raden Sastro. Kepalanya menunduk menekuri lantai.

Hatinya dirundung iba terhadap putrinya, Arunika dan juga menantunya, Lukman. Dia tahu betul, Lukman harus meninggalkan keluarganya, karena memilih menikahi Arun dan memilih pindah keyakinan yang dianut Arun.

Raden Sastro juga tahu, menantunya ini, berusaha sungguh-sungguh dalam mempelajari dan menjalani keyakinan barunya. Bekerja mati-matian untuk membahagiakan dan menepati janji hidup lebih baik yang pernah ditawarkan pada Arun.

Siapa sangka, Yang Maha Memberi Hidup ternyata berkehendak lain. Seakan ujian belum cukup sampai di situ. Hatinya rapuh dan berat, tapi dia harus tetap tegar untuk menguatkan anak dan menantunya.

"Romo ..." suara Lukman memecah keheningan. "Kecewa, iya. Sedih, juga. Tapi, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Allah memilihkan ini untuk kami jalani, untuk kami membuktikan diri, menepati janji. Menjadi manusia yang lebih baik lagi. Yang bisa kami lakukan saat ini, hanya memperbanyak istighfar, sabar, dan tetap ikhtiar. Bukannya begitu nggih, Romo?" ujar Lukman pelan berusaha menenangkan hati mertuanya.

"Iya. Maturnuwun, lè. Terimakasih sudah berkorban banyak untuk keluarga ini, terutama buat Arun," Pak Kades menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan badan bergetar hebat akibat isak tangis yang menyedihkan.

Lukman berjalan cepat menghampiri mertuanya, digenggamnya erat tangan pria senja itu. Diraih kemudian dicium dengan hormat. Pertahanan Raden Sastro runtuh. Ia menarik Lukman ke dalam dekapan hangat, dan kedua lelaki itu makin terisak dalam keheningan yang pecah

"Arun layak mendapatkan ketulusan ini Romo,dia wanita baik..." bisik Lukman di telinga mertuanya.

"Terimakasih... maturnuwun."

Di balik bilik, di samping ruang keluarga, Ibu Arun menangis sesenggukan. Hatinya pun terenyuh mendengarkan luka dua lelaki yang selama ini terlihat baik-baik saja di hadapannya. Siapa yang mengira, bahwa mereka pun punya sisi yang begitu rapuh, yang disembunyikan di tempat paling dalam di hati mereka.

______

Tatapannya kosong mengarah keluar jendela ruang rawat inap di Puskesmas. Jejak air mata masih kentara di kedua pipinya.

"Ikhlaskan, Mbak! Allah akan ganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik..." suara lembut namun tegas terdengar oleh telinga Arunika.

Arunika menoleh ke asal suara. Azra berdiri di ambang pintu. Menatap teduh ke arahnya. Arunika kembali menangis dan merentangkan kedua lengannya, seketika Azra menghambur dalam pelukan Arunika. Menangis, itulah yang ingin mereka lakukan saat ini. Menangis tanpa interupsi.

"Ternyata, mbakmu ini masih terus diuji, Zra."

"Karena Allah Tahu, Mbak selalu lulus ujian, dan selalu naik level. Betulkan, Mbak?" Azra memberikan senyuman lesung pipinya untuk Arun.

Arun ikut tersenyum, memeluk Azra lebih erat, "Rindu senyummu, Nduk"

"Hm... Mbak Arun, "panggil Azra lembut. Azra sengaja memanggil nama itu. Dia tahu betul, sejak perceraian badai itu, kakaknya tidak pernah mau lagi mendengar nama 'Runi'. Nama itu telah mati terkubur masa lalunya yang kelam bersama Toni.

"Lalu... kenapa nggak ke sini? Kenapa nunggu sakit dulu, baru lihat senyum manisku?" Azra memasang bibir cemberut pada Arunika.

Arunika tertawa kecil, jemarinya mengusap sisa air mata di pipi. "Mungkin langit belum kasih kode buat kita ketemu sebelumnya, Zra. Takutnya kalau ketemu pas Mbak lagi senang, Mbak lupa bagi-bagi pelukan buat kamu."

Mereka berdua tertawa lepas dengan sisa-sisa air mata yang mengalir. Beban di pundak Arunika seolah meluruh seketika, tergantikan oleh kehangatan perhatian dan pelukan dari adik angkatnya.

"Lhaaa, siapa ya tadi yang katanya butuh dihibur?"

Suara lantang dari arah pintu membuat keduanya menoleh bersamaan.

Sekar berdiri di sana sambil berkacak pinggang.

Tak ayal, Arun dan Azra tersenyum melihat Sekar yang berdiri di pintu sambil memanyunkan bibirnya ke samping kanan dan kiri.

"Sudah pulang, Kar? Katanya jam 2, ini sudah jam 3, Sekar. Macet atau nyangkut di mana? Emang dasar yaa, si jam karet," ejek Azra sambil menjulurkan lidah.

"Eh... kamu ya. Mentang-mentang selalu on time, pakai ngatain orang jam karet," Sekar mendekat sambil menyeringai jahil. "Sudah lama nggak digelitikin ya kamu. Kangen digelitikin yaaa?" tangan Sekar bergerak lincah menggelitik perut Azra, sampai gadis itu menggeliat-geliat di pelukan Arunika.

"Ampuun... ampun, Sekar. Sudah... sudah... aku mau ngompol ini. Sudaah..." rengek Azra, refleks kakinya menendang ke arah Sekar.

"Eh!"

Sekar sempat terhuyung ke belakang. Dengan sigap Azra menangkap tangan Sekar, "Maaf... maaf. Kamu sih. Keseleo tidak?" tanya Azra sambil memutar-mutar tubuh Sekar.

"Enggak Azra. Sudah jangan diputar-putar lagi. Pusing aku!" Sekar mencengkeram lengan Azra sambil melotot. Yang dipelototin hanya nyengir kuda, merasa tak bersalah.

Arunika tersenyum melihat tingkah kedua adiknya. Sejenak dia lupa dengan peristiwa yang baru saja menguras emosinya.

"Bagaimana urusan klienmu hari ini, Kar?" tanya Azra setelah mereka berdua duduk.

"Kar ... Kar ... Kar ... kamu tu ya Az, kalau manggil selalu, Kar. Nggak enak banget dengernya. Orang ngira aku tikar," omel Sekar pada Azra dengan ekspresi wajah bersungut-sungut.

Arunika tergelak mendengar protesnya Sekar.

"Lhaaa, masih mending toh dari pada aku panggil Sek ... Sek .... Gimana, Sek urusan kliennya, lancar?" Azra menggoda lagi sambil menahan senyum.

"Mboh wis karepmu!" rutuk Sekar dengan wajah judes-nya.

Arunika tersenyum, "Sudah ... sudah. Gimana urusan klienmu, Dik?" tanyanya menengahi.

"Alhamdulillah lancar, Mbak. Minggu depan tinggal tanda tangan kontrak," jawab Sekar sambil menjulurkan lidahnya ke arah Azra.

Azra kembali tertawa, hingga mata hazelnutnya tertutup dan lesung pipinya keluar dengan manis.

Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan di pintu.

Berbarengan mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Ada Yanto di sana -yang mengantar Dokter Azra- berangkat dari Dusun Teduh tadi.

"Ada apa, Mas Yanto?" tanya Azra

"Ada petugas dari Dinas Kesehatan, mencari Dokter Azra. Bu Dokter ditunggu di kantor Bapak Kepala" ujar Yanto sopan.

Azra mengernyit. Dia menoleh pada kedua wanita di sebelahnya, meminta izin. Mereka berdua mengangguk dan tersenyum. Dokter Azra bergegas.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!