"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan sang pelindung
Tepat pukul tujuh malam, terdengar bunyi klik halus dari arah pintu utama penthouse. Kode akses biometrik telah terbuka, menandakan sang pemilik takhta telah tiba di rumah.
Rayyan melangkah masuk dengan setelan jas yang kini sudah dilepas, menyisakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya yang semula tampak lelah dan dingin setelah menuntaskan rapat direksi, seketika melunak begitu matanya menangkap sosok Aira yang sedang duduk bersandar di sofa balkon kamar utama.
Rayyan berjalan mendekat tanpa suara. Dia tidak langsung membersihkan diri, melainkan langsung berlutut di samping sofa tempat Aira bersandar.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Sayang," ucap Rayyan lembut, meraih tangan kanan Aira lalu mengecup punggung tangannya dengan takzim.
Aira tersenyum hangat, mengusap rahang tegas suaminya dengan jemari mungilnya. "Tidak lama kok, Rayyan. Aku juga baru selesai mandi. Kamu pasti lelah sekali ya?"
"Lelahku hilang begitu melihatmu dan anak kita aman di sini," sahut Rayyan dengan suara rendah yang menenangkan.
Pria itu kemudian menggeser posisinya, menempelkan telinga kirinya langsung ke atas perut buncit Aira yang berbalut daster sutra tipis. Tangan besarnya mengusap permukaan perut itu dengan gerakan melingkar yang sangat protektif. "Bagaimana? Apa jagoan papa menendang lagi sore ini?"
Seolah mengerti sapaan sang ayah, perut Aira kembali memberikan kedutan kecil yang tepat mengenai pipi Rayyan. Sentuhan magis itu membuat Rayyan terkekeh pelan—sebuah tawa tulus yang hanya bisa didengar oleh Aira di dalam ruangan ini.
"Dia benar-benar menyapaku," bisik Rayyan dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru dan bahagia. Dia mendongak, menatap lekat ke dalam manik mata Aira. "Dengar, Aira. Aku tahu Sandra mungkin sedang merencanakan sesuatu setelah apa yang dia dengar di kantor tadi. Haris sudah mulai mengawasi setiap pergerakannya secara rahasia. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun, mengerti? Cukup fokus pada kesehatanmu dan dedek bayi."
Aira mengangguk pelan, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlindungan Rayyan yang begitu rapat membuatnya merasa sangat beruntung. "Aku percaya padamu, Rayyan. Aku tidak takut lagi."
"Bagus," Rayyan bangkit berdiri lalu mengecup puncak kepala Aira dengan penuh kasih. "Sekarang, aku akan mandi sebentar. Setelah itu, kita makan malam bersama. Bi Sumi bilang dia memasak sup iga herbal kesukaanmu."
Aira menatap punggung tegap suaminya yang melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan lega. Di balik dinding kaca penthouse yang kokoh ini, badai dan intrik yang sedang disiapkan oleh Sandra di luar sana terasa begitu jauh. Di dalam dekapan kekuasaan dan cinta Rayyan, Aira tahu bahwa masa depannya dan sang buah hati telah berada di tangan yang paling aman.
Aroma gurih dari sup iga herbal yang dimasak Bi Sumi telah memenuhi ruang makan penthouse yang elegan. Aira sudah duduk di salah satu kursi makan yang empuk, menanti suaminya selesai membersihkan diri. Tidak berselang lama, Rayyan keluar dari kamar dengan penampilan yang jauh lebih segar, mengenakan kaus rumahan santai berwarna hitam dan celana kain panjang. Rambutnya yang sedikit basah disisir acak ke belakang, menampilkan kesan kasual namun tetap luar biasa tampan.
Rayyan mengambil posisi duduk tepat di sebelah Aira, bukan di ujung meja utama seperti layaknya seorang kepala rumah tangga yang formal. Dia ingin selalu dekat dengan istrinya.
"Wajahmu sudah terlihat lebih segar. Nafsu makanmu bagaimana malam ini?" tanya Rayyan sembari menyendokkan nasi hangat dan potongan iga yang empuk ke dalam piring Aira.
"Sangat baik, Rayyan. Baunya enak sekali," jawab Aira dengan mata berbinar. Sejak memasuki usia kehamilan empat bulan, mual paginya memang sudah jauh berkurang, digantikan dengan rasa lapar yang datang lebih sering.
Rayyan tersenyum puas melihat Aira mulai menyuap makanannya dengan lahap. Di sela-sela denting sendok dan garpu, keheningan yang nyaman menyelimuti mereka berdua, hingga akhirnya Rayyan membuka suara dengan nada yang sedikit lebih serius.
"Aira, mengenai besok di kantor," ucap Rayyan, membuat Aira menghentikan kunyahannya sejenak dan menoleh. "Sandra pasti akan mengawasimu dengan cara yang berbeda. Dia tahu statusmu, tapi dia tidak tahu kalau kita sadar dia sedang menguping."
Aira menelan makanannya perlahan, lalu mengangguk. "Aku tahu. Justru karena dia mengira ini adalah rahasia yang dia curi, dia pasti akan mencari celah untuk menjatuhkanku tanpa membuatmu curiga, kan?"
"Benar," tatapan mata elang Rayyan menajam. "Dia gadis yang licik, tapi dia cukup bodoh karena meremehkan instingku. Besok, aku sengaja mengatur agar dia tidak terlalu sering berada di lantai eksekutif supaya dia tidak bisa menekannya secara langsung. Namun, jika dia menemuimu di divisi audit atau di mana pun... jangan ragu untuk menekan tombol darurat di ponselmu yang sudah terhubung dengan Haris."
Aira menyentuh punggung tangan Rayyan yang berada di atas meja, mencoba menenangkan suaminya yang mendadak kembali memancarkan aura protektif yang ketat. "Aku akan berhati-hati, Rayyan. Aku bukan lagi Aira yang lemah yang bisa diusir begitu saja seperti kemarin. Sekarang, ada dedek bayi yang harus kujaga, dan ada kamu yang berdiri di belakangku."
Mendengar penuturan tegas dari bibir manis istrinya, hati Rayyan berdesir hangat. Dia membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam erat jemari mungil Aira, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Pernikahan kita mungkin terdaftar secara rahasia di atas kertas negara kemarin, Aira. Tapi posisimu di hidupku adalah mutlak. Siapa pun yang mencoba mengusik ketenanganmu, mereka harus bersiap menghadapi kehancuran total," janji Rayyan malam itu di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, menegaskan bahwa permainan yang sedang disiapkan oleh Sandra tidak akan pernah berakhir baik bagi asisten pribadi tersebut.