Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Akulah Pemenangnya
Jovian kembali ke ruang keluarga dengan wajah yang berusaha dibuat tenang. Jejak air mata itu telah hilang, namun sorot matanya masih menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.
Tak lama kemudian, keluarga Michelle berpamitan pulang. Pelukan, senyum, dan ucapan selamat kembali terdengar memenuhi ruangan.
"Hati-hati di jalan ya," ucap Sifa sambil mengantar mereka hingga ke teras.
"Besok kita lanjut bahas vendor dekorasi," sahut Michelle ceria sebelum masuk ke mobil.
"Iya," jawab Jovian singkat, memaksakan seulas senyum.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil menghilang di balik gerbang yang kembali tertutup. Rumah itu kembali sunyi.
Di ruang keluarga kini hanya tersisa Jovian, Bimo, Sifa, dan Jihan.
Bimo menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu berdeham pelan. "Oh ya, Jo." Jovian menoleh. "Berhubung kamu dan Michelle akan segera bertunangan, Papa sudah mengambil satu keputusan."
"Keputusan apa, Pa?" tanya Jovian sambil mengernyit kening.
"Besok pagi Papa akan memberhentikan Jena dari jabatannya sebagai sekretarismu."
"Pa!" Suara Jovian meninggi tanpa bisa ia tahan. Semua orang langsung menoleh ke arahnya. "Apa maksud Papa?" tanyanya dengan napas mulai memburu. "Kenapa Papa masih terus menjahati Jena? Bukankah semua yang Papa inginkan sudah terjadi? Aku sudah memilih Michelle. Hubunganku dengan Jena juga sudah berakhir. Kenapa Papa masih ingin menghancurkan hidupnya?"
Tatapan Bimo berubah tegas. "Papa tidak sedang menjahatinya."
"Lalu keputusan yang barusan Papa bilang apa ... kalau bukan menjahati dia?"
"Itu permintaan Pak Mario Suroso," jawab Bimo membuat Jovian terdiam. Rahangnya mengeras."Beliau tidak ingin kamu bekerja setiap hari bersama mantan kekasihmu. Papa juga bisa memahami kekhawatiran itu."
"Tapi, Pa ..."
"Selain itu," lanjut Bimo tenang, "Papa juga tidak mau melukai hati Michelle. Sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga ini. Perasaannya juga harus kita jaga."
Jovian menggeleng pelan. "Jena sudah kehilangan aku, Pa. Sekarang Papa juga mau mengambil pekerjaannya?" Suaranya mulai serak. "Kalau dia berhenti kerja ... dia mau dapat penghasilan dari mana?"
Bimo mengembuskan napas panjang. "Papa sudah menyiapkan pesangon untuknya."
"Pesangon?"
"Iya. Jumlahnya cukup besar. Anggap saja sebagai penghargaan atas sembilan tahun pengabdiannya mendampingimu."
"Pa ..." Kepala Jovian menggeleng berat.
"Papa rasa itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi itu bukan solusi!" sahut Jovian. "Yang Jena butuhkan itu pekerjaan, bukan uang yang suatu saat pasti habis."
Bimo tetap bergeming. "Jena perempuan yang pintar. Papa yakin dia bisa mencari pekerjaan lain."
Jovian mengepalkan kedua tangannya. "Tapi, Pa-"
Belum sempat ia melanjutkan, Jihan menyela dengan nada santai. "Udahlah, Mas."
Jovian menoleh kesal.
"Nggak usah dipikirin lagi."
"Apa maksudmu?"
"Mas kan sekarang udah punya Kak Michelle yang cantik, kaya, pintar, dan ... pokoknya wanita sempurna. Ngapain masih sibuk ngebelain cewek miskin kayak Jena?"
"Jihan!" bentak Jovian.
Jihan sedikit tersentak, tetapi tetap memasang wajah tak peduli. "Aku cuma ngomong yang sebenarnya. Sewot amat." Ia mendelikan mata.
Sifa kemudian ikut angkat bicara. "Jihan benar, Jo." Jovian menatap ibunya tak percaya. "Mulai sekarang fokuslah pada Michelle. Dia calon istrimu. Jangan sampai sikapmu malah membuat Michelle kecewa atau merasa tidak dihargai." Ucapan itu keluar lantang. "Kalau kamu terus memikirkan Jena," lanjut Sifa lembut namun tegas, "Rumah tanggamu nanti tidak akan pernah tenang."
Jovian memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa semakin sesak. Ia ingin membela Jena. Ingin mengatakan bahwa perempuan itu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Namun setiap kata yang hendak keluar seolah tertahan di tenggorokannya. Karena pada akhirnya ... orang yang paling menyakiti Jena bukanlah kedua orang tuanya. Melainkan dirinya sendiri.
Jovian hanya bisa menundukkan kepala. Ia benar-benar kehilangan kata-kata saat menghadapi keluarganya. Ia sungguh tak berdaya. Akhirnya setelah menunduk cukup lama, Jovian melangkah gontai menuju kamarnya.
Ia menaiki tangga dengan pelan. Setiap undakan yang ia injak, seolah menjelma menjadi pisau tajam yang menghantam telapak kakinya. Rasa nyerinya sampai menembus ulu hati. "Jena." Ia berhenti sejenak di tengah-tengah. Lalu tak lama, ia kembali melangkah hingga undakan tangga itu habis.
Jovian menggapai daun pintu, membukanya pelan. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu sambil memejamkan mata. Napasnya terasa berat. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Kedua tangannya mencengkeram rambut sendiri kuat-kuat, seolah ingin melampiaskan semua kekacauan yang berkecamuk di dalam kepalanya. "Arrgh ..." erangnya lirih.
Semuanya terasa menyesakkan. Pertunangan yang terus dipersiapkan. Keputusan ayahnya memecat Jena.
Dan bayangan perempuan itu yang tak juga mau pergi dari benaknya.
Beberapa saat kemudian, Jovian mengangkat wajah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku celana, lalu mengambil ponselnya.
Ia membuka galeri. Jemarinya bergerak cepat memasukkan kode untuk membuka sebuah folder rahasia yang selama ini tak pernah diketahui siapa pun.
Di dalamnya hanya ada satu album.
Album itu berisi puluhan foto Jena yang diam-diam ia simpan selama sembilan tahun terakhir.
Ada foto Jena yang sedang tersenyum malu saat pertama kali bekerja dengannya.
Foto ketika mereka menikmati kopi di sebuah kafe sederhana.
Foto Jena yang tertidur di mobil saat pulang lembur.
Hingga foto candid favoritnya ... Jena yang sedang tertawa lepas sambil menatap langit sore.
Jovian berhenti pada foto terakhir. Ia mengusap layar ponselnya perlahan, seolah sedang membelai pipi perempuan yang begitu dicintainya. "Bodohnya aku ..." bisiknya serak. "Kalau memang akhirnya seperti ini ... kenapa dulu aku membuatmu percaya bahwa kita akan bersama selamanya?"
Setitik air mata kembali jatuh mengenai layar ponsel. Ia tersenyum pahit. "Jena ... kalau saja waktu bisa diputar kembali ..." Kalimat itu terhenti di bibirnya. Ia tahu, penyesalan tak akan mengubah apa pun.
Jovian menggenggam ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Maafkan aku ..." bisiknya lirih. "Aku gagal mempertahankan cinta kita." Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Jena di layar. Di balik folder rahasia itu, tersimpan kenangan yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.
Kini, kenangan itu hanya menjadi pengingat bahwa cinta yang telah ia jaga selama sembilan tahun ... hancur oleh pilihan yang ia buat sendiri.
***
Michelle baru saja selesai mandi. Ia mengenakan gaun tidur berbahan satin berwarna krem, lalu naik ke atas ranjang. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang yang empuk, sementara jemarinya lincah memainkan ponsel. Senyum puas tak pernah lepas dari bibirnya.
Satu per satu foto yang diambil saat acara makan malam tadi ia pilih, lalu diunggah ke media sosial. Ada foto saat Jovian menggenggam tangannya. Foto dengan keluarga besar, hingga potret mereka yang tampak tersenyum serasi.
Michelle menatap unggahan itu beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Akhirnya ..." gumamnya puas. "Sebentar lagi aku dan Jovian benar-benar akan meresmikan hubungan ini." Ia menyandarkan kepalanya ke bantal. "Papi memang hebat." Senyumnya semakin lebar. "Papi benar-benar bisa membuat Om Bimo menekan Jovian sampai menerima pertunangan ini." Michelle kemudian terdiam sejenak.
Bayangan wajah Jena yang pucat saat mendengar pengumuman pertunangannya dengan Jovian tadi kembali terlintas di benaknya. "Kasihan juga si Jena," ujarnya lirih, sebelum akhirnya terkekeh pelan.
Namun rasa iba itu hanya bertahan sesaat.
Detik berikutnya, seringai kemenangan kembali menghiasi wajahnya. "Jena ... Jena. Kamu benar-benar menghabiskan sembilan tahun hidupmu cuma buat menjaga jodohku." Michelle tertawa pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Harusnya dari dulu kamu sadar diri. Di dunia ini, keluarga kaya biasanya memang mencari menantu yang sepadan. Status, pendidikan, pergaulan, dan latar belakang keluarga sering kali jadi pertimbangan." Ia menatap foto-fotonya bersama Jovian tadi dengan penuh kebanggaan. "Dan lihat sekarang ... akulah pemenangnya." Ia menyimpan ponsel lalu bertepuk tangan. "Yang berdiri di samping Jovian adalah aku. Bukan gadis miskin seperti kamu, Jena. Hahahaha ...!" Tawa puas penuh kemenangan itu keluar dari bibir Michelle, menggema memenuhi setiap penjuru kamar.
yg di incer sifa buat jihan...
.cocok kan
q gk sekuat itu...sempat terpuruk,masih ada cinta didasar hati tp udah iklas...mesti rmh tgg mereka hancur datang ingin kembali,bagi q cukup kita bkn barang dibuang lalu mo dipungut mending sendiri menikmati sendiriqn...aaa jd ingat deh
😥🤭 moga ttp pd pendirian menjauh💪Authour...Alhamdulillah panjang banget salam sehat🙏