NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi perang

Beberapa hari berlalu sejak Bellatrix sadar kembali. Ia kini berada di Paviliun Putri Mahkota.

Suasana di dalam Paviliun Putri Mahkota perlahan mulai tenang kembali, namun di luar gerbangnya, kesibukan besar mulai terasa menyelimuti seluruh wilayah istana pusat. Pasukan berbaris rapi di halaman luas, perlengkapan perang dibawa keluar dari gudang senjata, dan para prajurit bergerak dengan langkah tegas namun terburu-buru.

Pagi itu, Duke Leonidas masuk ke dalam kamar Bellatrix di paviliun ini. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat serius, namun matanya tetap lembut saat menatap putrinya. Di belakangnya ada Duchess Elara dan Alexander.

"Bella," panggil Leonidas pelan, lalu duduk di tepi tempat tidur dan menatapnya lekat-lekat. "Ayah harus memberitahumu sesuatu yang penting. Ada kabar buruk datang dari wilayah perbatasan utara. Kelompok pemberontak yang sudah lama kami pantau dan coba bina akhirnya memilih jalan salah. Mereka menyerang pos pertahanan resmi, membakar lumbung pangan, dan memutus jalur suplai bagi ribuan rakyat yang tinggal di sana."

Bellatrix duduk tegak sedikit, menatap ayahnya dengan cemas. "Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?"

"Ayah harus tetap berada di ibu kota," jawabnya perlahan, "untuk menjaga kestabilan pemerintahan, melaporkan langsung kepada Kaisar, dan memastikan tidak ada gangguan di dalam negeri saat pasukan utama pergi jauh. Tapi Pangeran Thiago ditunjuk sebagai Panglima Tertinggi untuk memimpin pasukan gabungan ke utara. Dan Alexander... sebagai Duke Muda Volkov, dia wajib membawa pasukan khusus keluarga kita ikut serta menumpas pemberontakan itu dan melindungi rakyat."

Elara duduk di sisi lain tempat tidur, menggenggam tangan Bellatrix pelan. Suaranya terdengar lembut namun menyimpan kekhawatiran yang dalam.

"Bunda dan Ayah akan tetap ada di sini, di istana, dan sering menemuimu di paviliun ini," katanya pelan. "Tapi kau belum boleh bergerak jauh, Bella. Tubuhmu baru saja pulih dari kondisi yang sangat berat. Perjalanan ke medan perang sangat jauh, melelahkan, dan penuh bahaya. Kau butuh istirahat panjang di sini."

Bellatrix terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan ayah dan bundanya demi melindunginya. Namun di dalam hatinya, ia bisa merasakan sendiri kondisi tubuhnya. Kekuatannya kini mengalir stabil, hangat, dan utuh di setiap urat nadi. Tidak ada lagi rasa lelah yang menyiksa, tidak ada lagi rasa pusing saat bergerak. Ia bahkan yakin bisa berjalan jauh atau menggunakan sihir tanpa kesulitan sedikit pun. Tapi ia tidak membantah saat itu juga, hanya mengangguk pelan sambil menyembunyikan apa yang sesungguhnya ia rasakan.

"Baiklah," ucapnya pelan. "Bella mengerti. Kakak harus hati-hati. Dan...Pangeran Thiago juga."

Alexander melangkah maju, menepuk pelan kepala adiknya dengan senyum yang berusaha tenang. "Kakak pasti akan menjaga diri sebaik mungkin, dan juga akan saling menjaga dengan Pangeran Thiago. Kamu tenang saja di Paviliun Putri Mahkota ini, pulihkan tenagamu sepenuhnya. Nanti kalau Kakak pulang dengan selamat, Kakak akan bawakan oleh-oleh bunga es yang hanya tumbuh di lereng gunung utara untukmu."

Setelah mereka semua keluar untuk menyelesaikan persiapan keberangkatan, Bellatrix berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman paviliun. Angin pagi berhembus masuk, membelai rambut birunya yang kini berkilau alami. Ia duduk di kursi empuk di dekat jendela, lalu mulai merenung perlahan, menyusun satu per satu potongan cerita yang dulu ia dengar dari sosok Bellatrix asli di ruang antara dunia.

Dulu, saat jiwanya masih berada di dunia modern, ia pernah membaca sebuah novel fantasi yang alurnya sangat mirip dengan apa yang ia jalani sekarang. Ia selalu berpikir bahkan setelah pertama kali datang ke sini bahwa apa yang ia alami hanyalah mimpi panjang, atau sekadar nasib dirinya yang terlempar masuk ke dalam isi cerita buku yang pernah ia baca. Ia pikir kisah ini hanya fiksi yang ditulis orang lain, di mana dia hanyalah karakter tambahan yang tidak terlalu penting.

Namun kini, setelah berbicara panjang lebar dengan jiwa aslinya, setelah menyatu dengan semua ingatan, rasa sakit, dan harapan yang tersimpan di sana, ia paham satu hal yang sangat mengubah cara pandangnya. Ini bukan cerita buatan orang lain. Ini adalah kisahnya sendiri.

Apa yang dulu ia baca di buku hanyalah potongan kecil, bayangan samar dari kenyataan yang sesungguhnya terjadi.

Semua orang di sini Ayah, Bunda, Kakak, Thiago, para prajurit, rakyat biasa mereka bukan sekadar tokoh di atas kertas. Mereka bernapas, merasakan sedih dan bahagia, berkorban, dan mencintai dengan nyata. Semua takdir, semua kesalahan, dan semua harapan yang ada di sini adalah bagian dari hidupnya sendiri, bukan imajinasi penulis mana pun.

Ia teringat bagaimana dulu ia menjauh dari keluarganya. Ia berpikir bahwa dengan menutup diri, dengan menjaga jarak yang jauh, ia bisa melindungi mereka dari bahaya kekuatannya sendiri. Ia takut jika terlalu dekat, ia akan meledak tanpa sadar dan menyakiti orang-orang yang paling ia cintai. Tapi kini ia sadar sepenuhnya bahwa menjauh justru menyakiti mereka lebih dalam. Itu membuat Ayah dan Bunda bingung, merasa tidak dibutuhkan, dan membuat mereka cemas setiap saat. Itu membuat Kakak merasa ada tembok tinggi antara dirinya dan adiknya. Bahaya tidak selalu datang dari kebersamaan, tapi kesepian dan ketidaktahuan sering kali melukai hati lebih parah daripada luka fisik.

"Ayah, Bunda, Kakak..." bisiknya pelan pada angin yang berhembus di taman. "Maafkan aku yang dulu berpikir sendirian. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi menyembunyikan perasaanku. Aku tidak akan lagi pergi menjauh supaya kalian aman. Aku akan menyayangi kalian dengan sepenuh hati, dan aku akan melindungi kalian dengan caraku sendiri bersama kalian, bukan sendirian."

Ia juga teringat pesan terakhir Bellatrix asli. Kekuatannya sangat besar, cukup kuat untuk meratakan benteng dan mengubah bentuk daratan jika tidak dikendalikan.

Tapi kini ia paham, kekuatan itu bukan kutukan. Ia bisa menjadi perisai yang paling kokoh, sumber penyembuhan yang paling lembut, dan pelindung bagi semua orang yang ia sayangi. Ia hanya perlu berani memilikinya, dan berani berjalan bersama orang-orang yang mampu menyeimbangkannya.

 

Menjelang siang, suara terompet panjang terdengar dari halaman utama istana tanda bahwa pasukan sudah siap berangkat. Suara itu terdengar samar namun jelas hingga ke Paviliun Putri Mahkota, membuat suasana di sekitar paviliun yang tenang menjadi terasa lebih hening.

Bellatrix berdiri di balik tirai jendela paviliun yang menghadap ke arah jalan keluar istana. Dari sini ia bisa melihat sebagian barisan pasukan yang sudah berjejer rapi. Ribuan prajurit berdiri tegak, baju zirah mereka berkilau terkena sinar matahari, dan bendera kerajaan serta bendera keluarga Volkov berkibar gagah ditiup angin.

Di barisan depan, Thiago sudah mengenakan baju zirah perak yang kokoh namun tetap anggun. Di permukaannya terukir simbol keempat elemen. Air yang beriak, tanah yang kokoh, angin yang berputar, dan api yang menjulang, namun lambang api berwarna merah menyala adalah yang paling besar, paling menonjol, dan menyebar di seluruh bagian dada serta bahu, seolah menjadi inti yang menyatukan semuanya. Tangan kanannya memegang gagang pedang panjang yang terselip di pinggang, jari-jarinya mencengkeram erat seolah masih memegang sesuatu yang tidak terlihat. Ia menoleh sekali ke arah kompleks kediaman ini, seolah matanya bisa menembus tembok paviliun dan mencari sosok yang ia kenal. Namun tidak ada siapa pun yang keluar dari gerbang paviliun.

Bellatrix sebenarnya sudah siap. Ia bisa berlari turun, berjalan keluar, berdiri di pinggir jalan untuk mengucapkan selamat jalan dan doa agar mereka pulang dengan selamat. Ia tahu tubuhnya sudah sehat sempurna, tidak ada rasa sakit, tidak ada kelemahan yang tersisa. Tapi ia ingat pesan tegas ayahnya: "Kau belum boleh keluar dari paviliun, Bella. Istirahatlah dulu."

Ia tidak ingin membangkang saat ini. Ia tidak ingin membuat mereka khawatir sebelum berangkat ke medan perang yang penuh ketidakpastian. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran tambahan bagi Ayah yang harus menjaga ibu kota, bagi Thiago yang memimpin ribuan nyawa, apalagi bagi Kakak yang pertama kalinya memimpin pasukan keluarga sendiri sebagai Duke Muda.

Jadi ia hanya berdiri diam di balik tirai yang tipis, menahan keinginan untuk melangkah keluar. Matanya menatap tajam ke arah sosok Thiago, lalu ke arah Alexander yang duduk tegak di atas kuda putihnya.

Tak lama kemudian, Thiago mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai tanda siap berangkat. Suaranya terdengar tegas dan jelas hingga ke kejauhan.

"Berangkat!"

1
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!