Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok misterius
Udara di luar terasa lebih dingin, berbau debu tanah, asap kayu bakar, dan samar-samar bau penyakit yang tak biasa. Bellatrix kembali berdiri di gang sempit yang gelap, jauh dari lampu-lampu minyak yang menerangi jalan utama ibu kota. Ia menyesuaikan kerah jubahnya dan memastikan cadarnya tertutup rapat, sehingga tidak ada satu pun bagian wajahnya yang terlihat selain sepasang mata biru yang berkilau lembut di balik kain.
Meskipun berpakaian sederhana dan berusaha tampil biasa saja, keanggunan yang alami dari dalam dirinya tetap terpancar cara ia berdiri tegak namun tenang, cara ia melangkah ringan tanpa suara, membuat siapa pun yang melihatnya sekilas akan merasa seolah ada cahaya lembut yang menyelimuti sosoknya meski di tengah kegelapan pekat.
Ia berjalan pelan menyusuri jalanan berbatu yang tidak rata. Warga sudah mulai menutup pintu dan jendela rumah mereka, namun masih terdengar suara bisik-bisik cemas dari balik dinding kayu. Ia mendengar percakapan dua orang yang berjalan berpapasan. Tentang pemberontakan yang semakin ganas di utara, harga beras dan garam yang melonjak naik, dan orang-orang yang tiba-tiba jatuh sakit dengan demam yang tak kunjung turun, penyakit yang tidak bisa diobati oleh tabib biasa maupun penyembuh kerajaan.
Hati Bellatrix semakin terasa berat. Ia tahu betul apa penyebabnya. Itu adalah dampak buruk dari sihir hitam yang menyebar perlahan seperti racun ke seluruh negeri, mencemari udara, tanah, dan air yang diminum rakyat kecil.
Bellatrix terus berjalan menuju sebuah gubuk kayu yang sangat sederhana, dindingnya retak di beberapa bagian, dan atap jeraminya sudah banyak yang bolong dimakan usia dan angin kencang. Itulah rumah gadis kecil yang kemarin pernah ia selamatkan.
Dia teringat saat ia melihat tiga orang pria bertubuh besar dan kasar hendak mengganggu anak itu di jalan sepi, dan ia turun tangan menolongnya hingga ketiga pria itu lari ketakutan setelah dia hajar.
Di depan pintu yang terbuat dari papan kasar dan sudah lapuk itu, duduk gadis kecil berusia sekitar delapan tahun itu sendirian. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia lihat, pakaiannya bersih namun bertambal banyak tempat, dan bahunya terguncang hebat karena menangis tanpa suara.
Bellatrix mendekat pelan, berusaha tidak mengejutkan anak itu. "Kenapa kau menangis sendirian di sini, Nak?"
Gadis kecil itu mendongak cepat, menyeka air matanya dengan lengan baju yang tipis. Matanya yang bulat menatap sosok bercadar itu lekat-lekat. Awalnya ia tampak ragu, namun perlahan matanya melebar. Ia mengenali suara itu, mengenali kehangatan yang memancar meski samar dari sosok ini sama persis seperti yang dirasakannya saat diselamatkan kemarin. Ia tahu ini adalah Kakak Hebat yang menolongnya.
"Kakak..." bisiknya pelan, takut suaranya terdengar keras.
Bellatrix segera mengangkat tangan kanannya perlahan, menempelkan ujung telunjuknya tepat di bibirnya di balik cadar memberi isyarat agar anak itu berbisik dan tidak memberitahu siapa pun tentang kedatangannya. Gadis itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya, lalu mengangguk cepat.
"Ibumu sakit kan? Bawa aku masuk ke dalam," ucap Bellatrix lembut sambil menunduk sedikit.
Gadis itu bangkit berdiri gemetar, lalu membukakan pintu gubuk yang berderit pelan. Di dalamnya sangat gelap dan pengap, hanya diterangi cahaya remang dari satu lilin yang hampir habis. Di atas tikar jerami tipis di sudut ruangan, terbaring ibunya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya, dan napasnya terdengar berat serta tersengal-sengal jelas tubuhnya diserang oleh energi gelap sisa sihir hitam yang mencemari lingkungan sekitar.
Bellatrix mendekat perlahan, berjongkok di samping tempat berbaring wanita itu. Tanpa ragu ia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh punggung tangan ibunya yang terasa panas dan kasar.
Seketika itu juga cahaya biru yang sangat lembut namun murni memancar dari telapak tangannya, menyapu bersih energi jahat yang menumpuk di dalam tubuh, menurunkan demam perlahan, dan mengembalikan kekuatan yang hilang. Dalam waktu singkat, napas wanita itu menjadi tenang, wajahnya rileks, dan ia sudah sembuh total.
Bellatrix berdiri perlahan, lalu mengeluarkan kantong kain kecil berisi koin emas yang berat dari saku jubahnya. Ia meletakkannya di tangan gadis kecil itu yang gemetar. "Ini untukmu dan ibumu. Beli makanan bergizi, selimut baru, dan perbaiki rumahmu. Jangan khawatir lagi."
Gadis itu menatap koin emas itu, lalu menatap sosok bercadar dengan mata berbinar penuh air bahagia, namun Bellatrix kembali memberi isyarat diam. Sebelum anak itu sempat mengucapkan terima kasih panjang lebar, tubuh Bellatrix perlahan berubah menjadi kabut air yang berkilau, lalu lenyap seketika dari gubuk itu tanpa meninggalkan jejak.
Bellatrix tidak kembali ke paviliun saat itu juga. Hatinya tergerak untuk berkeliling lebih jauh. Sepanjang malam itu, ia bergerak diam-diam menggunakan teleportasi, berpindah dari satu rumah ke rumah lain di pemukiman warga miskin. Ia menyembuhkan anak yang batuk tak henti, kakek yang kakinya bengkak karena racun dingin, hingga ibu menyusui yang lemas tak berdaya. Setiap kali ia menyentuh mereka, rasa sakit itu hilang seketika digantikan rasa sejuk dan tenang.
Ia juga meninggalkan bantuan di tempat yang tepat. Beras dan obat-obatan di meja dapur, koin di bawah bantal(yang ia ambil dari cincin ruang), atau memperbaiki atap rumah yang bocor dengan sihir air yang membeku lalu menyatu kuat seperti batu. Semuanya dilakukan saat penghuni rumah sedang tidur nyenyak, sehingga tidak ada satu pun yang tahu siapa sosok misterius bercadar itu.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, langit berubah warna menjadi jingga pucat. Bellatrix akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sekali lagi ia membayangkan kamar di Paviliun Putri Mahkota, dan sekejap kemudian ia sudah berdiri kembali di tempat ia berangkat tadi. Ia melepas cadar dan jubahnya, menyimpannya kembali di tempat sembunyi rahasia, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Ia masih mempertahankan penutupan koneksi batinnya, belum berniat membukanya kembali. Ia ingin langkahnya malam ini tetap menjadi rahasia kecilnya sendiri, bukti bahwa ia mulai berani berjalan sesuai suara hatinya, melindungi rakyatnya tanpa harus selalu terikat pada pandangan orang lain atau takdir yang belum ia pahami sepenuhnya.
Matahari sudah naik tinggi saat Bellatrix berbaring sebentar di atas tempat tidurnya. Tubuhnya tidak terasa lelah sedikit pun justru hatinya terasa jauh lebih ringan, seolah beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat. Ia tidak lagi merasa seperti orang yang hanya diam menunggu perintah atau takut salah langkah.
Siang harinya, Bunda Elara datang berkunjung seperti biasa. Ia membawa nampan berisi sup hangat dan roti empuk, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus punggung tangan putrinya.
"Kamu terlihat lebih cerah hari ini, Bella," ucap Elara lembut, menatap matanya lekat-lekat. "Ada sesuatu yang berubah, bukan?"
Bellatrix tersenyum tipis, tidak berani menceritakan apa yang dilakukannya semalam, namun tidak bisa menyembunyikan rasa damai di wajahnya. "Aku hanya mulai mengerti apa yang harus aku lakukan, Bunda. Tidak lagi merasa bingung sendirian."
Elara mengangguk penuh pengertian. "Itu hal yang paling indah. Ingatlah, kasih sayang dan keberanian tidak pernah salah arah, meski kamu melakukannya dalam diam."
Mereka menghabiskan waktu bersama sambil bercerita tentang hal-hal kecil.
Sore harinya, Duke Leonidas datang dengan wajah yang sedikit lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Ia membawa laporan terbaru dari medan perang.
"Ada kabar baik, Bella," ucapnya sambil membuka gulungan kertas. "Pasukan kita berhasil menahan laju pasukan pemberontak di perbatasan utara. Dan yang paling penting. Jejak sihir hitam yang selama ini menyokong mereka mulai melemah secara tiba-tiba. Seolah ada sesuatu yang membersihkan udara di sekitar ibu kota, sehingga aliran energi gelap tidak bisa lagi mengalir lancar ke arah sana."
Bellatrix menahan napas pelan. Ia tahu itu bukan kebetulan. Semalam saat ia menyembuhkan orang-orang yang terkena dampaknya, ia juga secara tidak sadar membersihkan jejak energi gelap yang menempel di tanah dan udara sekitar pemukiman dan ternyata efeknya menjalar lebih jauh dari yang ia kira.
"Syukurlah, Ayah," jawabnya pelan, menundukkan pandangan agar tidak terlihat senyum bangga yang tersembunyi. "Semoga mereka bisa segera pulang dengan selamat."
Leonidas menatapnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya mengangguk pelan. "Kamu benar. Semoga perang ini segera berakhir. Dan kau... tetaplah di sini dengan aman. Ini permintaan Ayah."
"Aku janji akan berhati-hati," jawab Bellatrix lembut.
Ia tidak membohongi siapa pun. Ia hanya tidak menceritakan semuanya.
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣