NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.Rahasia di Balik Sepuluh Tingkat, Bisikan Hutan Jiwa

Suara tawa renyah dan obrolan riuh menggantung di udara asrama nomor tujuh, aroma kayu tua bercampur dengan wangi jeruk yang dibawa angin sore. Sudah hampir setahun berlalu sejak hari pertama mereka bertemu, dan dalam waktu itu, satu hal yang jelas terlihat oleh siapa saja yang memiliki mata: hubungan Xiao Wu dan Xiao Xuan tumbuh semakin dekat.

Gadis itu seolah menemukan tempat ternyaman di sisi pemuda itu—selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi, menggodanya dengan celoteh manja, dan tertawa paling lepas setiap kali Xiao Xuan membalas dengan jawaban yang membuatnya tak berkutik.

Perlakuan lembut dan perhatian diam-diam Xiao Xuan pada Xiao Wu menjadi hal yang biasa, namun hal itu justru menjadi duri tajam yang menusuk hati Tang San setiap harinya.

Bagi Tang San, Xiao Wu adalah saudara perempuan yang dia anggap sendiri, seseorang yang ingin dia lindungi dari segala bahaya dan pandangan asing.

Dan setiap kali dia melihat Xiao Wu duduk di samping Xiao Xuan, wajahnya bersinar bahagia, rasa tidak suka dan kecemburuan merayap perlahan di dada, seolah ada sesuatu yang berharga sedang direnggut pelan-pelan. Namun, dia tak bisa berbuat banyak.

Ingatan hari pendaftaran masih terpatri jelas—saat dia hampir kehilangan kesempatan masuk, dan Xiao Xuan datang membawa bantuan tepat waktu. Meski uang itu sudah dia kembalikan sejak lama, pertolongan di saat paling sulit takkan pernah cukup dibayar hanya dengan koin emas.

Tang San hanya bisa diam, menatap dengan mata gelap, menahan segala rasa tak nyaman yang meluap, tak berdaya menghadapi kedekatan kedua sahabatnya itu.

Di sudut ruangan, Xiao Xuan duduk bersila di atas tempat tidur, napasnya teratur saat dia menenangkan aliran kekuatan di dalam tubuh.

Namun, keningnya sedikit berkerut, konsentrasi yang dibangun perlahan buyar seketika. Dia mengangkat wajah, menatap sepasang mata besar berwarna merah muda yang menatapnya dengan penuh harap, dan ada senyum tak berdaya terbit di sudut bibirnya.

"Ah, Kakak Xiao Wu... kalian berdua ini memang tak ada habisnya ya," ucapnya pelan, suaranya tenang namun terasa lelah setengah berkelakar. "Kenapa harus melibatkan aku juga? Coba lihat saja tatapan mata Adik Kecilmu itu sejak tadi—rasanya kalau aku menjawab salah satu kata saja, dia sudah siap menarik pisau di balik bajunya."

Meski tak terlalu ingin terlibat dalam obrolan ringan mereka, Xiao Xuan tahu betul sifat Xiao Wu; begitu gadis itu sudah memulai pembicaraan, mustahil untuk berhenti sebelum puas.

Dia menghela napas halus, lalu melanjutkan dengan nada datar, "Aku takkan pulang ke Desa Roh Suci dalam waktu dekat. Ada urusan yang harus diselesaikan besok. Baru akan berangkat pulang setelah semuanya selesai."

Sekejap saja, sorot mata Xiao Wu berubah berbinar, seolah ada bintang-bintang jatuh masuk ke dalam manik matanya. Dia melangkah cepat mendekat, wajahnya cerah seolah baru saja menemukan ide paling brilian di dunia.

"Kamu tak mau pulang, berarti mau jalan-jalan kan? Pas sekali! Aku juga belum ada rencana apa-apa, bosan sekali diam di sini. Bagaimana kalau kita pergi keluar berdua? Aku akan menemani kamu, pasti seru sekali!"

Kalimat itu baru saja meluncur dari bibirnya, saat suara Tang San terdengar tegas, memotong percakapan mereka. Pemuda itu meletakkan bungkusan kain di tangannya agak keras, lalu menatap lurus ke arah Xiao Wu dengan serius, nada bicaranya penuh ketidaksetujuan.

"Xiao Wu, kamu seorang gadis. Bagaimana bisa kamu pergi berdua saja dengan seorang laki-laki? Di mana sopan santun dan tata krama yang diajarkan? Itu sama sekali tak pantas dilakukan."

Xiao Wu memutar bola matanya, lalu mengibaskan tangan ke arah Tang San dengan ekspresi tak peduli dan sedikit kesal.

"San Kecil, kenapa kamu jadi begitu kuno sih? Kita kan masih anak-anak, apa yang bisa terjadi? Lagipula, bukannya aku juga sering jalan berdua sama kamu? Kenapa baru sekarang kamu sibuk mengatur-ngatur, dulu diam saja?"

"Kamu beda kalau sama aku... Aku..." Tang San berusaha menjelaskan, namun kata-kata terasa macet di tenggorokan. Dia menoleh tajam ke arah Xiao Xuan, tatapannya penuh peringatan dingin, seolah berkata: berani sekali kamu mengiyakan, dan aku takkan membiarkanmu pergi selangkah pun.

Di dalam hatinya, Tang San merasa yakin—karena pernah hidup dua kali, dia paham betul cara bergaul dan menjaga jarak dengan perempuan. Tapi Xiao Xuan? Di matanya, pemuda itu hanyalah bocah yang pandai bersembunyi dan cerdik saja.

Bagaimana jika dia memanfaatkan kepercayaan Xiao Wu? Bagaimana jika dia berniat buruk pada gadis yang tak tahu apa-apa itu? Pikiran itu membuat rasa curiganya makin menebal, takut hal buruk menimpa orang yang ingin dia lindungi seumur hidup.

Xiao Xuan menatap Xiao Wu dengan kening sedikit terangkat, terkejut mendengar ajakan yang tiba-tiba itu. Diam sejenak, dia menenangkan pikirannya yang sempat terkejut, lalu menggeleng pelan dengan nada tegas namun lembut.

"Tak bisa, Xiao Wu. Tempat yang akan kutuju bukan tempat main-main. Sangat berbahaya kalau kamu ikut."

"Hah? Yu Kecil, kamu meremehkan aku ya?" Xiao Wu menegakkan tubuh, dadanya yang mulai sedikit berkembang terangkat bangga, wajahnya penuh percaya diri. "Sekarang aku sudah menjadi Master Roh tingkat enam belas lho! Bahaya apa sih yang berani menggangguku? Kalau pun ada masalah, siapa tahu malah aku yang akan melindungimu, kan? Ayo bilang saja, kamu mau ke mana?"

Dia menatap tajam, takkan mundur sebelum mendapatkan jawaban jelas. Xiao Xuan menghela napas panjang, menyadari rencananya untuk berangkat diam-diam saat semua teman sekelas sudah pulang kini hancur sepenuhnya.

Awalnya dia berniat pergi ke Hutan Perburuan Jiwa seorang diri, mencari Binatang Roh yang cocok untuk mendapatkan cincin roh pertamanya. Tapi melihat ekspresi Xiao Wu yang bersikeras, dia tahu tak ada jalan lain selain bicara terus terang.

Senyum pahit tersungging di bibirnya.

"Aku berencana pergi ke Hutan Perburuan Jiwa."

"Hutan Perburuan Jiwa?!" Suara Xiao Wu melengking kaget, matanya membelalak lebar. "Untuk apa kamu ke sana?!"

"Untuk mencari dan mendapatkan cincin roh, apa lagi?" jawab Xiao Xuan santai, seolah itu hal yang paling wajar di dunia. "Kamu pikir aku ke sana untuk sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan?"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Obrolan riuh lenyap seketika. Semua mata tertuju padanya—mulai dari teman sekelas yang sedang berkemas, hingga Tang San yang sedari tadi menatapnya dengan curiga.

Wajah Tang San yang tadinya dingin dan penuh peringatan kini berubah menjadi kaku, matanya memancarkan ketidakpercayaan yang mendalam.

Apa yang baru saja dia dengar? Cincin roh? Itu berarti... Xiao Xuan sudah mencapai tingkat sepuluh kekuatan roh?

"Kamu... kamu sudah sampai tingkat sepuluh?!" Tang San melangkah maju tanpa sadar, suaranya sedikit bergetar karena keterkejutan. "Bagaimana mungkin? Bukankah saat pendaftaran kamu hanya memiliki satu tingkat kekuatan roh bawaan? Guru selalu bilang, orang dengan bakat dasar rendah butuh bertahun-tahun, bahkan belasan tahun, baru bisa mencapai batas sepuluh tingkat. Tapi kamu... baru satu tahun berlalu!"

Pemuda itu bingung, hatinya bergemuruh hebat. Selama ini dia memegang teguh setiap kata yang diajarkan oleh Guru Yu Xiaogang, menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.

Namun kenyataan di hadapannya seolah petir yang menyambar segala keyakinan itu. Apakah teori Gurunya salah? Tidak, mustahil. Tapi kalau teori itu benar, bagaimana mungkin Xiao Xuan bisa secepat ini? Kebingungan dan keraguan perlahan merayap masuk ke dalam pikirannya, membuatnya serba salah.

Xiao Xuan mengangkat bahu dengan santai, wajahnya tampak polos seolah tak tahu apa-apa—alasan yang sudah dia siapkan matang-matang sejak lama akhirnya terpakai juga.

"Aku juga tak tahu pasti. Mungkin saja rohku mengalami mutasi? Rasanya sejak awal, peningkatan kekuatanku memang berjalan lebih cepat dibandingkan orang lain. Aku kira itu hal biasa saja."

Dia tahu benar, di dunia ini, anggapan bahwa tingkat kekuatan bawaan menentukan nasib seumur hidup sudah tertanam terlalu dalam di benak semua orang.

Walaupun dia mencapai tingkat sepuluh dalam waktu singkat, orang hanya akan menganggapnya keberuntungan mutasi, dan tetap berpikir bahwa batas tertinggi yang bisa dia capai hanyalah Grandmaster Roh.

Hal itu membuatnya aman dari kecurigaan berlebihan, sekaligus menjaga rahasia kekuatan aslinya tetap tersembunyi.

"Wah! Hebat sekali, Xiao Xuan! Selamat ya!"

Terdengar seruan riuh dari teman-teman sekelas. Wang Sheng yang sedianya akan segera pindah ke akademi tingkat menengah, bertepuk tangan sambil tersenyum lebar, wajahnya penuh kekaguman.

"Pantas saja aku merasa ada yang aneh sepanjang tahun ini. Kamu terlalu pandai menyembunyikan kemampuanmu ya? Kalau bukan karena Xiao Wu yang bertanya, apa kamu berencana memberitahu kami baru setelah cincin rohmu ada di tangan?"

Semua orang tertawa dan ikut memberi selamat, suasana kaget tadi perlahan berubah menjadi hangat dan penuh kekaguman.

Xiao Xuan hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat. Memang benar rencananya begitu. Diam-diam berangkat, diam-diam pulang. Namun karena sudah terlanjur ketahuan, tak ada ruginya lagi. Lagipula, sebentar lagi saat sekolah dimulai kembali, hal ini pasti akan terungkap juga.

Xiao Wu yang tadinya bersemangat ingin ikut, kini diam sejenak, memproses semua yang dia dengar. Dia tak terlalu paham seluk-beluk peningkatan kekuatan roh seperti Tang San, tapi dia tahu betul apa arti Hutan Perburuan Jiwa.

Dia menampar bahu Xiao Xuan pelan, matanya berbinar kagum, lalu mengangguk-angguk pelan.

"Wah, hebat kamu. Aku tak menyangka kamu sudah sekuat ini," puji singkatnya, namun nada suaranya sedikit berubah. Dia tak lagi membahas ajakan pergi berdua.

Sebagai makhluk yang berhubungan erat dengan alam dan binatang roh, Xiao Wu paham betul bahaya yang tersembunyi di dalam hutan itu. Di sana, binatang roh liar mengeram dengan naluri buasnya.

Dia sendiri hanya tingkat enam belas—masih terlalu lemah untuk menjamin keselamatan diri sendiri, apalagi membantu orang lain. Dan lebih dari itu... dia tak sanggup membayangkan jika harus melihat salah satu jenisnya sendiri diburu demi kekuatan.

Meski polos dan ceria, akal sehatnya berkata cukup. Ikut pergi ke sana bukanlah ide yang bijak, dan dia takkan membiarkan dirinya menjadi beban atau penyebab hal buruk terjadi.

Dia hanya berdiri diam, menatap wajah tenang Xiao Xuan, dan dalam hati kecilnya, rasa khawatir mulai tumbuh perlahan, menyatu dengan perasaan yang entah sejak kapan mulai tumbuh begitu dalam di hatinya.

Di kejauhan, angin sore berhembus masuk lewat jendela terbawa suara gemerisik daun, seolah membawa bisikan samar dari Hutan Perburuan Jiwa tempat yang esok hari akan menjadi saksi langkah pertama Xiao Xuan menuju jalan yang jauh lebih panjang dan berbahaya.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!