NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27.

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kelas, namun cahayanya tak mampu menerangi suasana hati Bela yang entah mengapa terasa gelap dan berat sejak bangun tidur tadi. Langkah kakinya melambat saat melewati koridor utama sekolah. Biasanya lorong ini penuh suara tawa dan canda, tapi pagi ini suasananya berbeda. Banyak pasang mata yang seolah menatap tajam ke arahnya, lalu berbisik-bisik pelan begitu ia lewat. Ada yang menunjuk-nunjuk diam-diam, ada yang tertawa sinis, dan ada pula yang memandang dengan pandangan penuh rasa ingin tahu bercampur rasa jijik yang tak disembunyikan.

Bela mengerutkan kening, tangannya meremas tali tas punggungnya dengan kuat. Ia tidak paham apa yang sedang terjadi. Hatinya berdebar kencang, firasat buruk yang kemarin sempat hilang kini kembali datang berkali-kali lipat lebih kuat. Saat ia hendak melangkah masuk ke kelasnya, tiba-tiba sekelompok murid perempuan dari kelas sebelah berjalan melewatinya, dan salah satu dari mereka dengan sengaja menabrak bahu Bela cukup keras hingga membuat gadis itu terhuyung ke samping.

"Wah, hati-hati dong, nanti jatuh kasihan. Lagian kalau jalan lihat-lihat dong, jangan melamun terus mikirin hal-hal kotor," ucap gadis itu sambil tertawa bersama teman-temannya, lalu berlalu pergi begitu saja.

Bela terpaku di tempat, dadanya sesak mendengar ucapan itu. Ia menatap punggung mereka yang menjauh dengan bingung dan sakit hati. Hal kotor? maksudnya apa? Pertanyaan itu berputar terus di kepalanya, namun ia tak berani bertanya. Dengan langkah berat, ia akhirnya masuk ke dalam kelas. Begitu melangkahkan kaki masuk, ruangan yang tadinya agak riuh mendadak hening seketika. Semua kepala menoleh ke arahnya, lalu perlahan kembali memalingkan wajah dengan bisik-bisik yang kembali terdengar samar.

Lula yang sudah duduk di bangku mereka, langsung bangkit berdiri dan menyambar tangan Bela dengan sigap, menariknya duduk di sampingnya. Raut wajah Lula terlihat marah, gerah, namun juga penuh kekhawatiran.

"Jangan digubris mereka, Bel. Anggap aja angin lalu," bisik Lula cepat sambil membenarkan posisi duduk sahabatnya.

Bela menatap Lula dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Lu... Lu tau sesuatu kan, La? Kenapa mereka semua ngeliatin gue kayak gitu? Ada apa sih sebenernya? Rasanya kayak gue baru aja ngelakuin kejahatan besar."

Lula menghela napas panjang, menundukkan wajahnya sejenak sebelum menatap Bela lekat-lekat. Ia ingin sekali berbohong, ingin menyembunyikan kebenaran itu agar Bela tidak sakit hati, tapi ia sadar, cepat atau lambat gadis ini harus tahu. "Ada yang nyebar gosip jelek tentang lo, Bel. Isunya... isunya lo sama Pak Arga punya hubungan nggak wajar. Katanya kalian sering ketemuan diam-diam, makan bareng, pulang bareng, dan hal-hal lain yang nggak perlu gue sebutin lagi karena itu semua cuma rekayasa kotor."

Darah Bela serasa berhenti mengalir mendengar penuturan itu. Wajahnya memucat, matanya terbelalak tak percaya. Rasanya ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya menutup mulut untuk menahan isak tangis yang ingin meledak keluar.

"Itu... itu nggak bener La! Lu tau kan kita cuma... kita cuma..." suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan. Rasa sakit itu bukan hanya karena dituduh, tapi karena ia sadar betul siapa pelakunya. Di sudut kelas, dari balik jendela, ia melihat sosok Sela berdiri di sana bersama teman-teman gengnya, menatap ke dalam dengan senyum kemenangan yang sangat jelas terlihat.

"Sel... Sela ya? Dia yang nyebar kan?" tanya Bela lirih, air matanya mulai menetes membasahi pipi. "Dia benci gue? Sebenci itu kah dia sama gue sampe rela ngerusak nama baik gue kayak gini? salah gue apasih La sama dia?"

Lula langsung memeluk sahabatnya itu erat, membiarkan Bela menangis di bahunya. "Ssttt... udah, udah jangan nangis. Salah lo cuma satu, Bel. lo terlalu baik, terlalu tulus, dan terlalu bahagia. Itu yang nggak bisa dia terima. Dia iri, dia dengki, dan dia bakal lakuin apa aja biar lo jatuh. Tapi dengerin gue ya, Bel... kita nggak sendirian. Galang udah siap, Bastian juga udah tau, bahkan Pak Arga juga udah siap ngadepin semuanya. Kita nggak bakal biarin dia menang gampang."

Di saat yang sama, di ruang kepala sekolah, suasana terasa jauh lebih dingin dan penuh ketegangan. Pak Samsul duduk di kursi kebesarannya dengan wajah serius, sementara di hadapannya berdiri Arga dengan tegap, menatap lurus ke arah laki-laki yang menjadi ayah dari penyebab semua masalah ini. Di sudut ruangan, Sela duduk diam di kursi tunggu dengan wajah pura-pura sedih dan khawatir, padahal hatinya melonjak kegirangan. Bu Ratna juga ada di sana, berdiri di dekat jendela sambil berpura-pura sibuk melihat keluar, sesekali melemparkan pandangan sinis ke arah Arga.

"Pak Arga, saya harap kamu paham betul beratnya tuduhan yang beredar ini. Seluruh sekolah sedang membicarakan hal ini. Sebagai kepala sekolah, saya tidak bisa menutup mata begitu saja terhadap kelakuan guru yang diduga menjalin hubungan terlarang dengan murid sendiri. Ini pelanggaran berat, melanggar kode etik, dan bisa merusak nama baik institusi kita," ucap Pak Samsul dengan nada berat dan mengancam, seolah-olah ia sudah memegang kebenaran mutlak.

Arga tidak bergeming. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang membuat Pak Samsul sedikit ragu. "Bapak, sebelum Bapak menghakimi saya berdasarkan gosip dan fitnah, saya minta Bapak ingat satu hal. Sejak saya mengajar di sini, perilaku saya selalu terjaga. Hubungan saya dengan murid-murid saya, termasuk Bela, adalah hubungan profesional dan berlandaskan kepercayaan. Siapa pun yang menyebar berita bohong ini punya tujuan tertentu, dan saya yakin Bapak pun tau siapa dalang di balik semua ini."

Arga melirik sekilas ke arah Sela yang tersentak kaget saat tatapan mereka bertemu. "Bapak membiarkan anak Bapak menyebar kebencian, membiarkan dia mengarang cerita, dan malah menjadikan itu alasan untuk menuduh saya dan menjatuhkan Bela. Bapak pikir orang nggak tau kelakuan Bapak sendiri di sekolah ini? Orang nggak tau apa yang Bapak lakuin sama Bu Ratna di ruangan ini saat jam belajar? Atau uang sogokan yang Bapak kasih ke anak Bapak supaya dia diam lihat kelakuan kotor kalian?"

Suara Arga meninggi di kalimat terakhir, membuat wajah Pak Samsul dan Bu Ratna seketika berubah merah padam ketakutan. Rahasia yang mereka jaga rapat-rapat, ternyata diketahui oleh orang yang paling mereka benci sekaligus paling mereka takuti. Sela yang mendengar itu sampai melongo, tak menyangka ada hal lain yang jauh lebih kotor dari sekadar gosip yang ia buat.

"Kamu... kamu ngomong apa?! Jangan asal tuduh Arga! Kamu pikir kamu siapa berani menuduh saya?!" bentak Pak Samsul, berusaha menutupi rasa paniknya dengan kemarahan. Ia bangkit berdiri, memukul meja kerjanya keras-keras.

"Saya nggak menuduh, Pak. Saya punya bukti. Bukan cuma saya yang tau, tapi Galang, Lula, dan beberapa orang lain yang kebetulan lewat atau melihat langsung. Kalau Bapak mau main kotor, saya siap main lebih kotor. Tapi kalau Bapak masih punya sedikit rasa malu dan tanggung jawab, lebih baik Bapak bereskan anak Bapak sendiri sebelum dia terjatuh lebih dalam karena kebenciannya," balas Arga tak kalah keras, suaranya berwibawa dan tak bisa diganggu gugat.

Di luar ruangan, tepat di balik pintu yang sedikit terbuka, Galang dan Bastian berdiri diam mendengarkan semuanya. Mereka sengaja datang lebih awal dan mengintai dari sana. Galang tersenyum puas mendengar pembelaan Arga. Ia mengisyaratkan pada Bastian untuk bersiap. Saatnya masuk ke dalam dan membalikkan keadaan.

Pintu ruang kepala sekolah didorong terbuka lebar. Galang masuk dengan santai namun berwibawa, diikuti Bastian yang wajahnya terlihat dingin dan penuh kemarahan. Di tangan Galang ada ponselnya yang sedang memutar rekaman suara dan menampilkan layar berisi tangkapan layar pesan-pesan, foto, serta rekaman percakapan dari berbagai sumber.

"Maaf mengganggu Pak, Bu. Tapi kayaknya kita semua perlu dengerin ini," ucap Galang tenang. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kepala sekolah tepat di depan wajah Pak Samsul.

Suara Sela terdengar jelas dari pengeras ponsel itu. Suaranya yang penuh kebencian dan rencana jahat terdengar begitu nyata saat sedang berbicara dengan teman-temannya kemarin sore, merencanakan cara menjatuhkan Bela dan Arga, merencanakan rekayasa cerita di UKS, hingga rencana agar ayahnya mengeluarkan Bela dari sekolah. Tak hanya itu, ada juga rekaman bisikan dari warga sekitar kafe yang melihat jelas bagaimana Sela yang berniat jahat mengikuti mereka.

"Itu... itu rekaman apa ini?! lo dapet dari mana?!" Sela berteriak histeris, wajahnya pucat pasi ketakutan. Ia berlari mendekati meja, ingin merebut ponsel itu tapi ditahan oleh Bastian yang berdiri tegak menghalanginya.

"Dari mulut lo sendiri, Sela. lo terlalu senang ngomong sampai lupa kalau dinding pun punya kuping, apalagi HP yang bisa merekam suara," ucap Bastian dingin, menatap gadis itu dengan pandangan jijik. "gue sebenernya udah capek banget ngadepin tingkah lo. gue kira lo cuma naksir biasa, ternyata lo jahat banget. gue nggak bakal mau sama cewek yang hatinya sehitam itu. Jangan harap gue bakal ngeliat lo lagi, selamanya."

Kalimat Bastian menghancurkan hati Sela lebih hebat daripada apa pun. Di saat yang sama, layar ponsel itu juga menampilkan bukti lain: foto-foto jelas saat Pak Samsul dan Bu Ratna bermesraan di ruangan ini, foto transaksi uang yang diberikan pada Sela, dan keterangan saksi yang menguatkan semuanya. Semua bukti yang dikumpulkan Galang diam-diam selama ini kini terungkap sempurna.

Pak Samsul terhuyung mundur, jatuh kembali ke kursinya. Segala aib, segala kekuasaan, segala rahasia yang ia jaga, semuanya runtuh dalam sekejap mata di depan anaknya sendiri dan orang-orang yang ia anggap rendah. Bu Ratna menutup wajahnya dengan tangan, tak berani menatap siapa pun, rasa malu menelannya bulat-bulat.

"Pak Samsul, Bu Ratna. Saya rasa sekarang Bapak lebih perlu khawatir sama posisi Bapak sendiri, jabatan Bapak, dan masa depan Bapak, daripada sibuk menuduh orang lain yang tidak bersalah," kata Arga pelan namun menusuk tepat ke ulu hati. "Bapak beruntung kalau kami masih mau diam soal ini dan nggak bawa ke jalur hukum atau lapor ke dinas pendidikan. Tapi syaratnya satu: berhenti ganggu Bela, berhenti ganggu saya, dan biarkan kami semua hidup tenang. Dan untuk Sela... berhenti bikin ulah, atau kamu yang bakal keluar dari sekolah ini dengan cara yang paling memalukan."

Hening menyelimuti ruangan itu. Tidak ada lagi bantahan, tidak ada lagi keberanian untuk marah. Kekuatan yang selama ini mereka bangun dengan kebohongan dan kekuasaan, hancur lebur oleh kebenaran dan persahabatan yang kuat.

Di luar ruangan, di koridor yang kini sudah sepi karena jam pelajaran sudah dimulai, Bela masih berdiri diam menunggu. Matanya memerah karena menangis, namun dadanya terasa lega saat melihat pintu terbuka. Arga keluar lebih dulu, berjalan mendekati gadis itu dengan senyum lembut dan lega. Di belakangnya, Galang dan Bastian menyusul dengan wajah puas, sementara Pak Samsul, Ratna, dan Sela keluar dengan kepala tertunduk dalam, tak berani menatap siapa pun, terlihat kecil dan kalah sepenuhnya.

Arga berdiri tepat di depan Bela, mengusap sisa air mata di pipi gadis itu dengan lembut. "Udah ya? Semuanya udah beres. Kejahatan mereka ketahuan, fitnahnya hilang, dan nggak ada lagi yang berani nyakitin kamu."

Bela menatap Arga, lalu menoleh ke arah Galang dan Bastian yang tersenyum meyakinkan. Rasa sedih, takut, dan sakit hatinya perlahan berganti dengan rasa syukur yang luar biasa. Ia tidak sendirian. Ia punya sahabat sejati, punya orang yang berjuang untuknya, dan punya cinta yang tulus yang berani berdiri tegak melawan badai sebesar apa pun.

"Makasih... makasih banyak ya semuanya," ucap Bela lirih sambil tersenyum di sela-sela isak tangis bahagianya. "Gue pikir gue bakal hancur sendirian, ternyata kalian semua ada di sini."

Galang tertawa tengil, merangkul bahu Bela. " Apasih yang ngga buat lo Bel. " sambil mengedipkan satu mata.

Arga melihat Galang merangkul Bela hanya melotot, - sabar Ga sabar, lo ngga bakal kalah sama bocah ingusan- suara hati Arga.

Lula tersenyum lalu dia diam diam mengabari seseorang.

Lula:

* masalah tikus satu beres, tinggal tikus satu lagi. kalo dia macam macam langsung habisi aja.*

(-) :

* oke.*

Matahari pagi yang tadinya tertutup awan kelabu kini bersinar cerah kembali, menerangi koridor sekolah itu dengan cahaya keemasan. Badai fitnah dan kebencian telah berlalu, meninggalkan pelajaran berharga bagi semua orang. Bela dan Arga kembali menatap satu sama lain, jarak di antara mereka semakin menipis, rasa percaya tumbuh kembali lebih kuat dari sebelumnya. Perjuangan memang belum selesai sepenuhnya, tapi kini mereka tahu satu hal pasti: selama mereka saling menjaga dan memegang teguh kebenaran, tak ada rintangan apa pun yang mampu merobohkan mereka.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!