Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: AMBANG BATAS AMBISI GIDEON
Malam itu berlalu tanpa tumpahan darah, meski Axel harus menahan pegal di kedua lengannya karena sepanjang malam "dikunci" oleh dua perempuan terkuat di akademi. Reynarda bersikeras tidak mau kembali ke kamarnya dan memilih terlelap sambil mendekap lengan kiri Axel, sementara Elysia tetap nyaman meringkuk di sisi kanannya, menikmati kesunyian yang dalam.
Esok paginya, suasana di lorong utama Gedung Teori Akademi Pentagon terasa berbeda. Bisik-bisik terdengar di setiap sudut. Ratusan pasang mata taruna tertuju pada Axel dengan tatapan yang bercampur antara iri, benci, dan rasa tidak percaya.
Seorang staf kebersihan kelas bawah yang tidak memiliki bakat sihir tiba-tiba diangkat menjadi Asisten Pribadi Khusus. Ia bahkan tinggal satu atap dengan Silver Aegis Reynarda, dan kini dirumorkan menjadi "pawang" bagi Archmage Elysia. Bagi para taruna berdarah bangsawan yang sudah bertahun-tahun mencoba menarik perhatian kedua gadis tersebut, kenyataan ini terasa seperti tamparan keras di wajah mereka.
"Lihat sampah itu. Berani sekali dia berjalan di lorong ini dengan kepala tegak," bisik seorang taruna tingkat dua yang mengenakan seragam mewah.
"Aku dengar dia menggunakan sejenis ramuan pemikat terlarang dari pasar gelap," timpal yang lain.
Axel memilih untuk tidak memedulikan semua gunjingan tersebut. Pandangannya tetap lurus pada panel transparan yang melayang di sampingnya, memeriksa grafik fluktuasi emosi Reynarda yang berjalan beberapa langkah di depannya.
> ### [ DASHBOARD MANAJEMEN SANITY ]
> * Reynarda Vance: 46% [Stabil - Mode Siaga]
> * Elysia Whisperwind: 42% [Stabil - Istirahat di Menara Penyihir]
> * Status Lingkungan: Tingkat Kebencian Sosial di Radius 10 Meter: 85% [Tinggi]
"Rey," Axel berbisik lirih dari belakang. "Sepertinya hawa membunuh dari murid-murid di sekitar kita bisa memicu penurunan Sanity-mu. Apa tidak sebaiknya aku berjalan agak jauh?"
Reynarda menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia berbalik, membuat rambut peraknya mengibas dengan anggun. Mata birunya yang tajam menyapu seluruh koridor, membuat para taruna yang tadi bergosip langsung menunduk ketakutan.
"Siapa pun yang berani menyentuh atau menatap asistenku dengan niat buruk, akan langsung berhadapan dengan pedangku," ucap Reynarda dengan suara lantang yang bergema di seluruh lorong. Ia kemudian menatap Axel, dan seketika tatapannya melembut—pemandangan yang membuat beberapa taruna hampir jantungan. "Jangan jauh-jauh dariku, Axel. Tugasmu adalah di sampingku."
Sebelum Axel sempat menjawab, suara tepuk tangan sarkastik terdengar dari ujung koridor.
Prok. Prok. Prok.
"Sungguh pemandangan yang mengharukan. Sang Perisai Kekaisaran sampai merendahkan dirinya demi melindungi seonggok sampah tak berbakat."
Kerumunan taruna langsung terbelah, memberi jalan bagi seorang pemuda bertubuh tinggi dengan seragam ksatria berlapis emas. Wajahnya tampan namun penuh keangkuhan, dan di dadanya tersemat lencana bintang tiga—simbol taruna jenius peringkat teratas di tahun ketiga.
Gideon de Valkyrie.
Ia adalah putra dari keluarga marsekal kekaisaran, pria yang selama ini digadang-gadang oleh pihak gereja suci sebagai tunangan paling ideal untuk Reynarda.
[Ding! Mendeteksi Karakter Rival: Gideon de Valkyrie.]
[Tingkat Permusuhan Terhadap Host: MUTLAK (100%)]
Gideon melangkah maju, menatap Axel seolah-olah pemuda itu adalah kecoak yang menjijikkan. "Reynarda, seluruh petinggi akademi tahu kau sedang mengalami gangguan jiwa akibat kelelahan sihir. Tapi membiarkan rakyat jelata tak berdaya ini mengotori nama besarmu sebagai obat penenang? Ini adalah penghinaan bagi Kekaisaran."
Reynarda langsung meletakkan tangan kanannya di gagang pedang. "Jaga bicaramu, Gideon. Axel berada di bawah perlindungan langsung Kepala Sekolah dan Divisi Medis."
"Aku tidak berbicara tentang hukum akademi, Reynarda. Aku berbicara tentang kehormatan," Gideon tersenyum licik. Ia tahu tidak bisa menyerang Axel di dalam area akademi tanpa alasan legal. Namun, matanya melirik gulungan kertas misi yang sedang dipegangnya.
"Kebetulan sekali," Gideon mengangkat gulungan itu. "Dewan Akreditasi Hunter baru saja menurunkan misi wajib tingkat-B untuk taruna tahun ketiga besok pagi. Pembersihan sarang Shadow Wolf di pinggiran Hutan Kelam. Sebagai perwakilan kelas, aku berhak memilih staf pendukung untuk urusan logistik."
Gideon menunjuk wajah Axel dengan jarinya yang dihiasi cincin permata. "Kau, sampah. Kau dipanggil bertugas sebagai staf logistik lapangan besok pagi. Mari kita lihat, apakah 'aura penenang' milikmu bisa menyelamatkan nyawamu sendiri dari taring monster saat tidak ada Reynarda yang melindungimu."
"Gideon! Jangan bertindak lancang!" aura emas Reynarda mendadak meledak, menekan seluruh ruangan hingga beberapa meja kayu di dekat mereka retak. Sanity-nya berkedip turun ke angka 41%. Ia tidak akan membiarkan siapa pun membawa "jangkar jiwanya" ke medan perang yang berbahaya.
Namun, sebelum Reynarda melangkah maju untuk menghajar Gideon, sebuah tangan dengan lembut menggenggam pergelangan tangannya.
DEG.
Sentuhan dingin Axel secara instan menyerap letupan aura merusak milik Reynarda, menstabilkan bar merahnya kembali ke angka 45%.
Axel melangkah maju, berdiri sedikit di depan Reynarda. Ia menatap Gideon dengan ekspresi tenang, tanpa rasa takut sedikit pun yang biasanya diperlihatkan oleh staf kelas bawah. Di mata Axel, Gideon hanyalah sekerat daging sombong yang tidak sadar bahwa ia sedang bermain api di dalam gudang mesiu.
"Jika ini adalah perintah resmi dari Dewan Akreditasi untuk staf logistik, saya tidak punya alasan untuk menolak, Tuan Muda Gideon," ucap Axel dengan nada datar yang sopan, namun terselip sedikit kesan meremehkan yang sangat samar.
Gideon menyipitkan matanya, merasa kesal karena tidak melihat ada kepanikan di wajah Axel. "Bagus. Jangan terlambat besok pagi. Atau kau akan dieksekusi dengan hukum militer karena desersi."
Gideon berbalik dan berjalan pergi bersama para pengikutnya sambil tertawa mengejek. Ia mengira telah berhasil menjebak Axel ke dalam perangkap maut di luar akademi, di mana Reynarda tidak bisa ikut campur karena aturan misi yang terpisah.
Setelah Gideon menjauh, Reynarda langsung membalikkan tubuh Axel dan mencengkeram kedua bahu pemuda itu dengan panik. "Kenapa kau menerimanya, Axel?! Hutan Kelam itu sangat berbahaya! Gideon sengaja melakukan ini untuk membunuhmu di luar pengawasan akademi!"
Axel hanya tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah jendela di bagian atas koridor. Di sana, di puncak Menara Penyihir yang menjulang tinggi, sesosok wanita berambut perak salju sedang duduk di ambang jendela. Ia menatap ke arah mereka dengan mata hijau zamrud yang berkilat dingin—Elysia rupanya sejak tadi mengawasi dari kejauhan.
"Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri, Rey," bisik Axel pelan pada Reynarda. "Aku justru mengkhawatirkan Gideon."
Axel melirik panel sistemnya yang tiba-tiba memunculkan kalkulasi risiko baru.
[Pemberitahuan Sistem: Target Pendukung Harem (Elysia Whisperwind) telah mendengar rencana misi luar lapangan.]
[Sanity Elysia: 42% -> 39% (Mulai terpicu oleh niat membunuh terhadap Gideon de Valkyrie).]
[Catatan Risiko: Jika Host mengalami cedera fisik di atas 5% selama misi, potensi 'Amukan Dua Heroine' akan aktif secara simultan, memicu kehancuran total klan Valkyrie.]
Axel menghela napas panjang. Gideon mengira sedang membawa seekor domba lemah ke sarang serigala. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja mendaftarkan seluruh keluarganya ke dalam daftar kehancuran massal hanya karena berani menyentuh asisten pribadi dari dua Villainess terkuat di dunia.