seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
senyum yang hilang
Ruangan rahasia itu sunyi.
Hanya suara dengungan mesin lama dan cahaya hologram biru yang bergerak perlahan memenuhi udara. Alya berdiri diam di depan layar besar, matanya terpaku pada foto lama yang baru saja ia temukan.
Ayahnya.
Dan Reno kecil.
Dalam foto itu, Reno terlihat sangat berbeda dibanding sekarang.
Wajahnya masih kecil dan pucat, rambut hitamnya sedikit berantakan, dan di lengannya masih terlihat kabel neural menempel. Namun yang membuat Alya terdiam adalah ekspresi anak itu.
Ia tersenyum.
Senyum kecil yang polos.
Hangat.
Dan sangat jauh dari Reno yang sekarang.
“Aku belum pernah lihat dia seperti itu…” bisik Alya pelan.
Tanpa sadar, hatinya terasa sesak.
Reno yang kini dikenalnya selalu dingin, tenang, dan seperti menjaga jarak dari seluruh dunia.
Namun foto itu membuktikan bahwa dulu…
Ia pernah menjadi anak biasa.
Alya perlahan menyentuh layar hologram.
“Ayah…”
Pintu otomatis di belakangnya terbuka pelan.
Reno masuk sambil membawa dua botol minuman energi.
Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat layar yang dibuka Alya.
Ekspresinya berubah sesaat.
Bukan marah.
Melainkan seperti seseorang yang melihat kenangan lama yang ingin ia lupakan.
“Kau menemukan folder itu,” katanya pelan.
Alya menoleh.
“Ini kamu?”
“Ya.”
Suasana kembali hening.
Reno berjalan mendekat lalu berdiri di samping Alya. Tatapannya jatuh pada foto lama itu cukup lama.
“Aku bahkan hampir lupa wajahku dulu.”
Nada suaranya terdengar aneh.
Lebih pelan dari biasanya.
Alya menatapnya hati-hati.
“Ayah sering datang menemuimu?”
Reno mengangguk kecil.
“Arman satu-satunya orang di laboratorium yang memperlakukanku seperti manusia.”
Mata Alya mulai panas lagi.
Ayahnya benar-benar orang baik.
“Dia selalu membawa makanan diam-diam,” lanjut Reno pelan. “Kadang buku. Kadang permainan kecil.”
Senyum kecil tipis muncul di wajahnya.
“Dia bahkan pernah dimarahi karena membiarkanku keluar melihat hujan.”
Alya ikut tersenyum samar membayangkannya.
Namun senyum itu cepat menghilang saat Reno melanjutkan:
“Sebagian peneliti tidak suka padanya.”
“Karena Ayah menolak eksperimen?”
“Ya.”
Tatapan Reno berubah gelap.
“Mereka menganggap emosi adalah kelemahan.”
Suasana ruangan terasa lebih berat.
Hana yang sejak tadi rebahan di sofa akhirnya duduk tegak.
“Oke,” katanya pelan. “Semakin lama aku dengar tentang Zenith lama, semakin aku yakin tempat ini benar-benar gila.”
Reno tidak membantah.
Ia justru berjalan ke terminal utama lalu mengetik sesuatu di layar hologram.
“Aku sedang mencoba melihat pergerakan sistem keamanan.”
Alya masih memperhatikan foto itu.
“Ayah menyelamatkanmu…”
Reno berhenti beberapa detik sebelum menjawab:
“Dia mencoba.”
Jawaban itu membuat Alya menoleh.
“Maksudmu?”
Reno menatap layar di depannya tanpa ekspresi.
“Malam kehancuran laboratorium… Arman membantuku kabur.”
Suasana langsung hening.
“Namun kami terpisah saat ledakan terjadi.”
Alya menggenggam tangannya perlahan.
“Dan sejak itu kamu tidak pernah melihatnya lagi.”
Reno mengangguk kecil.
“Tapi aku yakin dia merencanakan sesuatu sebelum menghilang.”
Tatapannya perlahan jatuh pada kalung di leher Alya.
“Termasuk meninggalkan inti Elysium padamu.”
Tubuh Alya sedikit menegang mendengar kata itu lagi.
Inti Elysium.
Ia masih sulit menerima semuanya.
“Aku masih tidak mengerti bagaimana benda seperti itu bisa ada di tubuhku.”
“Karena itu bukan benda biasa.”
Reno membuka file hologram lain.
Diagram neural manusia muncul di udara.
“Inti Elysium adalah kode neural hidup.”
Alya mengernyit bingung.
“Bahasa mudahnya?”
“Itu seperti sistem AI yang menyatu dengan kesadaran manusia.”
Hana langsung mengangkat tangan.
“Maaf, itu masih bukan bahasa mudah.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Reno hampir terlihat ingin tertawa kecil.
“Hm.”
Ia mengubah diagram hologram.
“Bayangkan otak manusia seperti jaringan komputer.”
“Oke…”
“Elysium adalah program yang bisa berkembang bersama pemiliknya.”
Mata Alya perlahan membesar.
“Jadi… benda itu tumbuh bersamaku?”
“Kurang lebih.”
Alya langsung teringat semua kejadian aneh dalam hidupnya.
Kadang ia bisa merasakan sesuatu sebelum terjadi.
Kadang teknologi di sekitarnya error saat emosinya tidak stabil.
Dan simulasi AI di Zenith…
Yang gagal membaca dirinya.
“Astaga…” bisik Hana pelan. “Ini benar-benar seperti film sci-fi.”
Namun ekspresi Reno tetap serius.
“Masalahnya, inti itu belum sepenuhnya aktif.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Kalau aktif sepenuhnya?”
Reno diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan:
“Aku tidak tahu.”
Suasana langsung dingin lagi.
“Ayahmu menghentikan proyek sebelum tahap akhir selesai,” lanjut Reno. “Tidak ada data lengkap tentang apa yang akan terjadi.”
“Itu tidak membuatku tenang sama sekali.”
“Aku tahu.”
Tiba-tiba alarm kecil berbunyi dari terminal utama.
Beep. Beep.
Reno langsung menoleh cepat.
Ekspresinya berubah tajam.
“Mereka mulai menyisir area bawah.”
Hana langsung panik lagi.
“Kenapa hidup kita tidak bisa tenang lima menit saja?!”
Reno memperbesar peta hologram akademi.
Beberapa titik merah bergerak menuju area maintenance.
“Mereka menemukan jalur servis tadi.”
Alya menelan ludah.
“Mereka mendekat ke sini?”
“Ya.”
Suasana mendadak tegang kembali.
Namun kali ini berbeda.
Bukan hanya ketakutan.
Ada sesuatu yang lain.
Kemarahan kecil mulai muncul di dada Alya.
Ia lelah terus berlari.
Lelah terus dianggap monster.
“Aku tidak mau kabur terus,” katanya pelan.
Reno dan Hana langsung menoleh.
“Alya?” Hana terdengar khawatir.
Alya menggenggam tangannya erat.
“Aku bahkan belum melakukan apa pun.”
Tatapannya perlahan berubah lebih kuat.
“Tapi semua orang sudah memutuskan aku ancaman.”
Reno memperhatikannya diam-diam.
“Aku tidak akan terus sembunyi seperti ini.”
Suasana hening beberapa detik.
Lalu Reno berkata pelan:
“Bagus.”
Alya sedikit terkejut.
“Hah?”
“Kalau kau terus takut, mereka akan semakin mudah mengendalikanmu.”
Tatapan Reno tajam namun tenang.
“Kaizer ingin kau panik.”
“Kenapa?”
“Karena emosi kuat bisa membangunkan inti Elysium lebih cepat.”
Tubuh Alya langsung menegang.
“Jadi selama ini dia sengaja memancingku?”
“Ya.”
Hana langsung kesal.
“Aku resmi membenci pria itu.”
Namun sebelum mereka bisa berdiskusi lebih jauh—
Seluruh lampu markas tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu…
Gelap total.
Hana langsung menjerit kecil.
“Oke, aku BENCI kalau lampu mati!”
Sistem utama offline.
Suara AI terdengar dingin dari speaker.
Penyusupan jaringan terdeteksi.
Reno langsung berdiri.
“Tidak mungkin…”
Lalu layar hologram utama menyala sendiri.
Satu wajah muncul di sana.
Kaizer.
Senyumnya tipis seperti biasa.
“Selamat malam lagi.”
Reno langsung mendecih tajam.
“Bagaimana dia menemukan tempat ini?!”
Kaizer tersenyum santai.
“Reno, Reno…”
Tatapannya menyapu ruangan.
“Kau benar-benar berpikir bisa bersembunyi dariku?”
Hana langsung berdiri di depan Alya refleks.
“Aku serius mulai trauma lihat wajahnya.”
Namun Kaizer mengabaikannya.
Tatapannya kini fokus pada Alya.
“Sudah waktunya berhenti bermain sembunyi-sembunyi.”
“Aku tidak akan ikut denganmu,” balas Alya cepat.
“Bukan aku yang akan membuat keputusan itu.”
Kaizer mengangkat tangan sedikit.
Dan seketika—
Seluruh dinding markas menampilkan gambar yang sama.
Siaran langsung aula utama Zenith.
Ratusan siswa berkumpul di sana.
Dan di tengah aula…
Direktur Adrian berdiri dengan wajah serius.
Jantung Alya langsung berdegup aneh.
“Apa yang dia lakukan…?”
Kaizer tersenyum tipis.
“Zenith akhirnya membuat keputusan.”