Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nabrak Motor
Pandangan Gilang mengedar ke seluruh sudut halaman parkir Star Gemilang dengan perasaan berkecamuk. Bella dan mobil miliknya menghilang, ditambah nomer ponsel Bella yang tak bisa dihubungi membuatnya makin senewen.
Datang ke kantor calon mertuanya dengan membawa masalah membuatnya sangat malu. Dia tak tahu akan memberi alasan apa pada Pak Satria dan Ibu Hani atas sikap Bella yang kabur dengan mobilnya.
Beberapa menit sebelumnya...
Bella menatap Gilang hingga siluet pria itu menghilang di balik pintu kaca lobby kantor Star Gemilang. Mulutnya terus mengutuk pria itu, yang dengan sengaja meninggalkannya diparkiran, hanya karena Gilang tidak ingin dirinya berduaan dengan Jimmy di kantor.
Bella mendengus kasar. Secara tak sengaja pandangannya mengarah pada kunci mobil yang tergantung di kemudi. Sedetik kemudian senyum jahat terlihat di sudut bibirnya.
"Oke, Bos! Kau rasakan pembalasanku!" Bella bergeser posisi duduk di belakang kemudi, mulai menyalakan mesin mobil milik Gilang dan mengemudikannya keluar, meninggalkan kantor papanya. Sebelumnya ia sempat menon-aktifkan ponselnya, agar Gilang kebingungan jika mencarinya.
"Dia pasti kalang kabut kalau tahu aku membawa kabur mobilnya." Dengan terkekeh, Bella membayangkan ekspresi kesal Gilang, karena ia lancang membawa mobil tanpa izin. "Biarkan saja, biar tahu rasa!" Bella terus mengumpat, mengutuk Gilang, menganggap kecemburuan Gilang akan kedekatannya dengan Jimmy tidak beralasan.
Sambil mengendarai mobil Gilang, mata Bella mengedar di sekeliling jalan yang ia lalui. Dia ingin berulah, sebisa mungkin membuat Gilang kelabakan, hingga pandangannya tertuju pada dua orang pria yang duduk di warung, di tepi trotoar sambil memainkan kartu.
Melihat tampang mereka yang keras dan menyeramkan, berpakaian asal dengan celana jeans yang robek, serta tatto di tangan dia pria itu, Bella menduga mereka adalah para preman yang tak punya pekerjaan tetap.
Otak Bela berpikir, menemukan suatu ide yang akan membuat Gilang kelabakan dan dia butuh orang-orang itu untuk membantunya.
Tak ada rasa takut sedikitpun di hati Bella melihat penampilan mereka, dia segera menepi ke bahu jalan dan turun dari mobil.
Kehadiran Bella tentu saja menarik perhatian dua pria itu, hingga mereka memusatkan pandangan ke arah Bella.
"Permisi, Pak. Saya butuh bantuan Bapak-bapak ini, apa Bapak bisa bantu saya?" tanya Bella lalu merogoh tasnya untuk mengambil dompet. "Bapak tenang saja, nanti saya beri uang untuk Bapak-bapak semua." Bella membuka dompetnya, menarik semua uang kertas seratus ribu yang ada di dalamnya. Entah berapa jumlah pastinya, mungkin sekitar tiga jutaan, lalu menyodorkan kepada pria-pria di hadapannya.
Disodorkan uang dalam jumlah banyak tentu saja membuat dua pria itu tersentak, merasa kaget hingga saling berpandangan. Mereka pengangguran dan hanya bekerja serabutan, tentu saja ditawarkan uang sebanyak itu mata mereka langsung berbinar.
"Mbaknya butuh bantuan apa dari kami?" Salah satu pria berkepala botak langsung menanyakan, bantuan apa yang dibutuhkan Bella dengan sangat ramah, tentu saja karena uang yang disodorkan Bella menjadi penggerak hingga mereka antusias.
"Kami siap membantu, Mbak. Sebutkan saja, apa yang bisa kami bantu?" Pria berambut gondrong ikut menyahuti.
"Saya ingin ngerjain pacar saya, Pak. Pengen tahu dia itu sebenarnya peduli sama saya atau nggak?" Bella menjelaskan bantuan apa yang ia butuhkan dari pria-pria bertampang sangar itu.
Pria berkepala botak terkekeh mendengar ucapan Bella. "Owalah, cuma itu, Mbak? Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya kemudian.
Bella menolehkan pandangan pada motor yang terparkir di tepi warung para pria berkumpul. Tangannya lalu menunjuk ke arah motor itu.
"Itu motor siapa, Pak?" tanya Bella melihat salah satu motor yang tak terpasang plat nomer.
"Saya, Mbak." Pria berambut gondrong menjawab sambil mengusap tengkuk, karena motornya tak lengkap sesuai aturan., "Memangnya kenapa, Mbak?" tanyanya kemudian.
"Bisa nggak Bapak pecahin lampu sen-nya, Pak? Sedikiiiittt aja. Seolah-olah ditabrak mobil yang saya pakai. Kalau uang yang kasih kurang untuk biaya service, nanti Bapak minta penggantian sama pacar saya. Minta aja banyak, Pak! Jangan tanggung-tanggung! Dia pasti akan kasih!" Bella menjelaskan rencananya kepada pria itu dan apa yang harus dilakukan mereka serta meyakinkan mereka agar mau membantunya.
"Nanti saya akan telepon pacar saya. Saya akan bilang kalau saya nabrak motor Bapak dan Bapak minta ganti rugi. Nanti bapak pura-pura marah-marah ke saya biar dia dengar." Bella lanjut menjelaskan, agar rencananya berjalan lancar.
Kedua pria itu saling bertatapan, merasa heran dengan rencana Bella yang mereka anggap konyol.
"Din, cewek ini waras nggak?" Pria berambut gondrong bertanya pada pria berkepala botak. "Keliatannya kayak orang kaya, tapi permintaannya aneh," sambungnya masih terheran dengan permintaan Bella.
"Namanya juga cewek, Wan. Kalau nggak aneh, bukan cewek namanya. Lagi pula kita dapat uang banyak!Sudahlah, kita ikuti aja permintaannya!" Pria berkepala botak mempengaruhi temannya menuruti semua permintaan wanita yang baru mereka kenal itu
"Gimana, Pak? Boleh, nggak?" Karena kedua pria itu hanya berbisik, tak segera menjawab permintaannya, Bella pun kembali bertanya, menunggu jawaban pasti.
"I-iya, Mbak. Kami akan bantu!" sahut Pria berambut gondrong.
"Ya sudah, Bapak pecahkan lampu sen motor Bapak sekarang!" Perintah Bella pada pria berambut gondrong, "Bapak, tolong kasih sedikit goresan di mobil saya! Biar kelihatan habis nabrak motor itu!" Kepada pria berkepala botak pun, Bella memberi arahan.
"Baik, Mbak!" Kedua pria itu bergegas melakukan tugasnya masing-masing.
Setelah apa yang diminta Bella selesai, Bella mengaktifkan kembali ponselnya yang tadi sengaja dia non-aktifkan agar Gilang kelabakan.
"Nanti kalau panggilan saya terhubung, Bapak marah-marah, ya!" Bella kembali mengingatkan tugas pria itu.
"Oke, Mbak!" Pria berambut gondrong menjawab.
"Cewek memang mahluk teraneh di bumi, Wan. Makanya gue nggak betah nikah, karena banyak maunya, tobat cemburunya." Pria berkepala botak kembali berbisik pada temannya
Sementara jari Bella menari dengan lincah di layar ponsel, mencari riwayat panggilan dengan Gilang dan segera menyambungkan percakapan.
"Halo, kamu di mana, Bella?"
Ketika panggilan telepon terhubung dan Bella belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, suara Gilang langsung terdengar dengan emosi yang tertahan.
"Pak, maaf, mobil Bapak nabrak motor orang." Dengan nada lirih Bella melapor pada Gilang, sementara ekor matanya melirik pada pria berambut gondrong sambil menganggukkan kepala satu kali, memberi isyarat supaya pria itu mulai beraksi.
"Mbak harus ganti rugi motor saya ini!"
"Makanya kalau nggak bisa nyetir nggak usah belagu bawa mobil!"
Kedua pria itu bergantian menghardik Bella sesuai permintaan wanita itu.
"Bella, kamu di mana? Siapa pria tadi?" Berbeda dengan kalimat pertama, nada bicara Gilang kali ini terdengar khawatir, apalagi dia mendengar ada suara pria yang memarahi Bella.
"Saya di depan Baby Shop dekat lampu merah, nggak jauh dari kantor Pak Satria, Pak. Orangnya minta ganti rugi, tapi saya nggak bawa uang, apa Bapak bisa kemari?" Bella berbicara dengan nada seolah ia ketakutan, bertentangan dengan isi hatinya yang tertawa bersorak.
"Ya sudah, kamu tunggu di sana! Jangan ke mana-mana! Saya akan menyusul ke sana! Tut tut tut ..." Sambungan telepon mereka seketika terputus, Gilang menutup sepihak, karena Ingin secepatnya menyusul Bella.
"Panik nggak, tuh!?" Bella tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil mengerjai Gilang, sebagai balas dendam atas perlakuan Gilang yang mengabaikannya di halaman parkir kantor Star Gemilang.
"Bapak-bapak keren banget aktingnya!" Bella mengangkat ibu jarinya, merasa puas atas kerjasama mereka, memberi pelajaran pada Gilang.
"Sama-sama, Mbak. Kami juga terima kasih karena dikasih uang sama Mbak," jawab pria berambut gondrong.
"Nanti kalau pacar saya datang, Bapak minta ganti rugi lagi! Pasti dia akan beri." Penuh keyakinan di hati bella, Gilang akan bersedia membayar ganti rugi kepada dua orang itu demi menyelamatkannya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
lanjuut😄
maju terus Gilang😁