Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Harga Sebuah Penyesalan
“Jangan…”
Suara Nayra langsung pecah.
Karena ia tahu tatapan itu.
Tatapan seseorang yang sudah mengambil keputusan.
Dan biasanya…
orang seperti itu tidak bisa dihentikan lagi.
Founder berdiri di depan inti reaktor yang menyala merah terang seperti matahari kecil.
Panasnya gila.
Bahkan dari jauh saja kulit terasa terbakar.
Tapi pria tua itu tetap berjalan mendekat.
Pelan.
Tenang.
Seolah ia akhirnya menerima sesuatu yang sudah lama ia lawan.
“Kau mau ngapain?” bentak Hyren.
Founder tersenyum kecil tanpa menoleh.
“Memperbaiki kesalahan.”
Arsen langsung mengumpat.
“Aku benci kalimat itu. Biasanya diikuti tindakan bunuh diri.”
“Karena memang begitu,” jawab Founder tenang.
“Oke, aku makin benci.”
TRANSFER 86%
Energi di layar terus turun.
Mesin mulai overload.
Retakan muncul di lantai.
Dan inti reaktor makin tidak stabil.
Kalau begini terus—
semuanya tetap akan meledak.
Founder berhenti tepat di depan inti energi.
Cahaya merah menerangi wajah tuanya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia terlihat rapuh.
Bukan monster.
Bukan pemimpin organisasi.
Cuma seorang ayah yang terlalu lama tenggelam dalam penyesalan.
“Aku menghabiskan hidup mencoba melawan kematian.”
Tatapannya kosong menatap inti energi.
“Padahal…”
Tawa kecil pahit keluar dari bibirnya.
“…aku bahkan lupa cara hidup.”
Sunyi.
Tak ada yang bicara.
Karena kalimat itu terlalu berat.
Founder perlahan menoleh ke Nayra.
Tatapannya lembut sekarang.
Aneh sekali melihat pria itu seperti ini.
“Kamu benar.”
Nayra membeku.
“Hah?”
“Kehidupan biasa memang lebih berharga.”
Tatapannya turun sebentar.
“Sayangnya aku sadar terlalu terlambat.”
Deg.
Air mata Nayra kembali turun.
Karena ia bisa mendengar penyesalan asli di suara itu.
Dan entah kenapa…
itu lebih menyakitkan daripada kebencian.
“Jangan lakukan ini,” kata Nayra cepat.
Founder tersenyum kecil.
“Aku sudah terlalu banyak mengambil.”
Napasnya berat.
“Setidaknya biarkan aku mengembalikan sesuatu.”
Hyren langsung berjalan maju.
“Kita cari cara lain.”
“Tidak ada waktu.”
Founder menatap layar.
TRANSFER 88%
CORE COLLAPSE IN 00:51
Kurang dari satu menit.
Mereka benar-benar tidak punya pilihan.
Subject 07 asli tiba-tiba bicara pelan.
“Kamu sedih lagi.”
Founder menoleh perlahan.
Tatapan anak itu sekarang jauh lebih hidup.
Lebih manusia.
Dan justru itu membuat semuanya terasa lebih emosional.
“Aku selalu sedih,” jawab Founder lirih.
“Karena kehilangan anakmu?”
Founder tersenyum tipis.
“Iya.”
Hening.
Lalu Subject 07 asli berkata sesuatu yang membuat seluruh ruangan diam.
“Aku rasa…”
Tatapannya lembut.
“…dia nggak mau kamu jadi begini.”
Deg.
Founder membeku.
Benar-benar membeku.
Dan untuk pertama kalinya…
air mata muncul di matanya.
Tipis.
Namun nyata.
“Aku gagal jadi ayah.”
Suara itu pecah pelan.
Nayra menunduk.
Zavian diam.
Bahkan Arsen berhenti bicara.
Karena tidak ada yang bisa menyangkal rasa sakit dalam suara pria tua itu.
“Aku cuma nggak sanggup nerima kenyataan.”
Founder tertawa kecil hambar.
“Lucunya…”
Tatapannya jatuh ke Subject 07 asli.
“…aku malah menciptakan lebih banyak anak yang menderita.”
Sunyi.
Reaktor berdengung makin keras.
Lampu mulai pecah satu per satu.
Waktu mereka hampir habis.
Founder menarik napas panjang.
Lalu menatap Hyren.
“Setelah aku masuk…”
Tatapannya serius.
“…aktifkan stabilisasi penuh.”
Hyren langsung menggeleng.
“Kalau kau lakukan itu, tubuhmu bakal hancur.”
Founder tertawa kecil.
“Tubuh tua ini memang sudah waktunya selesai.”
“Masih ada jalan lain.”
“Tidak.”
Tatapannya berubah tenang.
“Aku sudah hidup terlalu lama dengan dosa.”
Hening.
Lalu ia memandang Nayra sekali lagi.
“Maaf.”
Kalimat sederhana itu terasa begitu berat.
Begitu terlambat.
Namun tetap tulus.
Sebelum siapa pun sempat menghentikan—
Founder langsung melangkah masuk ke area inti reaktor.
“HEY!” bentak Nayra.
Panas langsung menyambar tubuh pria itu.
Jas hitamnya mulai terbakar di bagian lengan.
Tapi ia terus berjalan.
Alarm meraung liar.
WARNING.
CORE CONTACT DETECTED.
Founder berhenti tepat di depan inti energi.
Tubuhnya mulai gemetar karena panas luar biasa.
Namun ia tetap mengangkat tangannya ke panel manual terakhir.
“Aku titip mereka…”
Tatapannya perlahan kabur.
“…pada kalian.”
Lalu—
BRAKK!
Ia menghantam tuas stabilisasi utama.
Cahaya merah langsung meledak memenuhi ruangan.
DUARRRR!
Semua orang refleks menutup mata.
Gelombang panas menghantam seluruh ruangan.
Dan suara Founder terdengar untuk terakhir kalinya—
“Hiduplah…”
TRANSFER 93%
Energi reaktor mendadak stabil.
Lampu berubah biru.
Mesin kembali berjalan normal.
Tapi area inti sekarang dipenuhi api.
Dan sosok Founder…
sudah tidak terlihat lagi.
Sunyi.
Bahkan alarm terasa jauh sesaat.
Nayra menatap area inti dengan napas tercekat.
Pria itu benar-benar pergi.
Setelah semua kekacauan.
Setelah semua dosa.
Akhirnya ia memilih mengorbankan dirinya sendiri.
Dan entah kenapa…
itu membuat dada Nayra terasa berat.
“Aku nggak ngerti manusia.”
Subject 07 asli berkata pelan.
Tatapannya ke area api.
“Mereka bisa jadi sangat jahat…”
Lalu matanya perlahan turun.
“…tapi juga sangat sedih.”
Nayra menelan ludah.
“Iya…”
“Itu normal?”
“Kurasa begitu.”
Anak itu diam lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Manusia rumit.”
Nayra tertawa kecil sambil menangis.
“Itu benar.”
TRANSFER 95%
Hyren langsung fokus lagi ke panel.
“Ayo… sedikit lagi…”
Zavian masih berdiri di depan kapsul Nayra.
Tangannya tetap menggenggam tangan gadis itu dari celah kecil.
Tak pernah lepas.
Dan Nayra sadar—
cowok ini benar-benar menepati janjinya.
“Zavian.”
“Hm?”
Kalau biasanya suara cowok itu dingin…
sekarang jauh lebih lembut.
Lebih hidup.
Dan Nayra menyukai itu.
“Kalau nanti aku berubah…”
Tatapannya sedikit takut.
“…kamu bakal tetap kenal aku?”
Deg.
Zavian langsung menatapnya serius.
“Aku bakal tetap nemuin kamu.”
Jantung Nayra langsung berdebar lagi.
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Tatapan Zavian tidak goyah sedikit pun.
“Versi mana pun kamu…”
Tangannya menggenggam lebih erat.
“…aku tetap bakal pilih kamu.”
Deg.
Oke.
Nayra resmi ingin menangis sekaligus pingsan.
Arsen muntir matanya.
“Kenapa aku jadi saksi drama cinta di tengah nuklir.”
“Karena hidup benci kamu,” sahut Hyren.
“Fair.”
TRANSFER 97%
Subject 07 asli mulai bercahaya lebih terang sekarang.
Tubuh kecilnya perlahan berubah seperti partikel cahaya.
Nayra langsung panik.
“Hyren!”
“Itu normal!”
“ITU NGGAK KELIHATAN NORMAL!”
“Aku juga nggak yakin!”
“Aku benci ilmuwan!”
“Aku bukan ilmuwan!”
Subject 07 asli menatap tubuhnya sendiri.
“Aku mulai hilang.”
Suara kecil itu tetap tenang.
Dan justru itu yang membuat Nayra makin sedih.
“Jangan ngomong kayak gitu…”
Anak itu menatap Nayra lembut.
“Terima kasih.”
“Hah?”
“Karena ngajarin aku jadi manusia.”
Deg.
Air mata Nayra langsung jatuh deras lagi.
“Aku akhirnya ngerti sekarang.”
Tatapan anak itu perlahan berkabut cahaya.
“Kenapa manusia takut kehilangan.”
Nayra menggigit bibir keras.
Jangan nangis.
Jangan nangis lagi.
Tapi itu mustahil.
“Karena rasanya sakit banget ya.”
Kalimat polos itu langsung menghancurkan semua orang di ruangan.
Bahkan Zavian menutup matanya pelan.
Dan Hyren berhenti mengetik sesaat.
TRANSFER 99%
Reaktor mulai stabil penuh.
Cahaya biru memenuhi ruangan.
Dan tubuh Subject 07 asli mulai benar-benar menghilang sekarang.
Seperti debu cahaya.
“Aku takut.”
Untuk pertama kalinya…
suara anak itu terdengar benar-benar seperti anak kecil.
Rapuh.
Takut.
Dan Nayra langsung tidak tahan lagi.
“Aku di sini!”
Tangannya menekan kaca kapsul.
“Aku nggak bakal lupa kamu!”
Anak itu menatap Nayra.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum paling manusia yang pernah ia punya.
“Jangan nangis terus.”
Deg.
Nayra langsung tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Aku emang gampang nangis…”
“Iya.”
Anak itu tertawa kecil juga.
Dan untuk pertama kalinya…
suara tawanya terdengar bahagia.
Benar-benar bahagia.
TRANSFER COMPLETE.
Seluruh ruangan langsung dipenuhi cahaya putih besar.
Mata Nayra terasa silau.
Tubuhnya seperti ditarik dari segala arah.
Kepalanya dipenuhi ribuan suara dan ingatan.
Terlalu banyak.
Terlalu penuh.
Dan suara terakhir yang ia dengar sebelum semuanya gelap adalah—
“Terima kasih sudah hidup untuk kita berdua.”