Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macam hewan : 30
“Tidak perlu. Biar saya cari sendiri!” pak Aan melangkah masuk, membuat Abeer dirundung cemas.
Dalam hati, pemuda tambun itu mengumpat. Kenapa selalu dia yang berada di situasi menegangkan seperti ini.
Ketika hampir mencapai ruang makan berbatasan dengan dapur, terdengar suara ketukan kuat. Kedua pria menoleh ke sumber suara, salah satu dari mereka menabrak dinding dikarenakan mundur tanpa melihat belakang.
‘Tadi Lilis dikurung di kamar, kan? Kenapa sudah berdiri disitu?’ beruntung Abeer membatin, bukan menyerukan keterkejutannya.
Sosok misterius tanpa senyum, tatapan dingin, mengacungkan sebuah celurit, berdiri di batas ruang tamu dan bagian tengah hunian besar ibunya.
Entah apa yang dikatakan lewat sorot mata, yang pasti Abeer melihat pak Aan mengangguk, lalu mengambil arit, setelahnya keluar lagi.
Wajah Abeer mengikuti langkah kaki sang pelayan, ketika sudah naik lagi keatas sepedanya, dia berpaling.
HAHH!
Abeer terkesiap, lalu mengusap-usap mata, mengedip segera melotot. ‘Kemana perginya Lilis?’
Entah darimana datangnya keberanian, Abeer berjalan ke kamar paling depan. Ingin memastikan jika penglihatannya asli, bukan mimpi.
“Lah, ini pintunya masih terganjal. Sepertinya aku berhalusinasi, tapi tadi beneran pak Aan bukan sih?” Dia berlari ke pintu depan, menyibak tirai jendela, terlihatlah pelayan paruh baya mengayuh sepeda.
Berakhir Abeer garuk-garuk kepala. Bingung, pusing, menderanya. Rasa takut mulai menguasai, berujung dia berlari ke belakang. Tiba-tiba teringat tugas menjaga sekitar. Kembali duduk di teras samping terhubung dengan ruang makan.
“Mereka ngapain aja sih? Lama bener!” Abeer uring-uringan, dia diserang panik, cemas. “Makin lama tempat ini tambah nyeremin.”
Didalam ruang rahasia, keempat orang yang berusaha mencari bukti, bersamaan menghela napas ringan.
“Sudah aman.” Aji berdiri, dia dan lainnya bersembunyi di samping pintu besi. Tadi sudah merencanakan menyerang jika keadaan mendesak, mereka ketahuan.
Deru napas Kanti seperti orang tersengal-sengal, cukup lama menahan napas.
“Kalau sampai kita berhasil keluar dari tempat aneh ini, gua bakalan ikut casting film horor,” seloroh Sambara, berusaha mencairkan ketegangan serta rasa cemasnya sendiri.
Mereka kembali ke tepi lubang. Kali ini bukan Kanti yang mencoba menarik tali putih kehitaman mengambang di air, tapi Aji.
Pemuda berkaos hitam kotor oleh noda tanah, menarik pelan-pelan ujung tali, lalu dililitkan pada sebelah tangannya. Aji berjongkok.
“Karung?” Aya sampai merunduk, senter kecil dalam genggaman tangan Sambara menyorot ujung karung kain diikat tali yang ditarik Aji.
“Mau diangkat atau dibiarkan?” Aji ragu, perasaannya mulai tidak enak.
“Kalian siap kan akan kemungkinan mengerikan sekaligus mengejutkan?” lirih Kanti, tubuhnya lemas terduduk di lantai.
“Maksudnya?” Aya menaruh curiga, meminta penjelasan.
Masih menahan tali, Aji menatap lekat gadis yang menunduk memandangi karung dalam air. “Ini … ini, bukan seperti yang ada dalam benakku kan, Kanti?”
“Apaan dah? Jangan pakek bahasa kalbu. Ngomong langsung!” Sambara disergap rasa cemas, mulai dapat menebak pemikiran dua orang saling pandang dengan sorot mata pilu.
“Angkat saja. Kalau memang dia … kita beri pemakaman layak. Dia gak pantas diperlakukan keji seperti ini,” putus Kanti berusaha tegar, pelan-pelan berdiri. Tidak peduli celana abu-abu panjang yang dikenakannya kotor, terutama bagian bokong dan lutut.
“Kanti ….” Aya berpindah tempat, memeluk lengan Kanti, ia pun mulai paham, menangis dalam diam.
“Bantu gua, Sambara!”
“Eh, iya ….” santer dimatikan, disimpan dalam saku. Mereka tidak lagi butuh penerangan, sebab sudah terang lewat cahaya suram yang masuk ke area dapur basah tembus hingga ruang rahasia ini.
“Satu, dua, tiga … akhh!” Aji menggeram, karung itu sangat berat.
Pada percobaan kelima, kedua pemuda baru bisa menarik karung dari dalam air, dinaikan ke atas tanah yang langsung basah terkena rembesan air.
“Dingin banget airnya, kayak es batu.” Sambara bergidik, bulu kuduknya merinding saat bersentuhan dengan karung basah sangat dingin.
Mereka saling lirik, seakan tengah berunding siapa yang akan membuka ikatan tali rafia lebar.
Candra Kanti memutuskan untuk maju, diamati dulu karung besar, panjang, yang bisa menampung bobot ratusan kilogram.
“Ternyata ada pemberatnya. Sepertinya batu, supaya karung ini tenggelam, tidak mengapung.” Kanti meraba tonjolan paling bawah, merasakan sesuatu sangat keras.
“Hati-hati,” Aji selalu perhatian ke gadis idamannya.
Kanti mengangguk singkat, dia berjongkok, Kedua tangan mulai membuka simpul terikat kencang.
Ahwaya, Aji, Sambara, menahan napas, sangat sulit mengendalikan rasa untuk tidak panik, menjerit.
Lilitan tali sudah terbuka. Sambil menahan perasaan khawatir, mencoba menekan ketakutan, Kanti merenggangkan ujung karung basah, ternyata ada plastik tebal lalu dibukanya lebar-lebar, diturunkan dalam sekali sentakan.
Akhhh!
Aya menjerit sejadi-jadinya. Wajahnya seputih kapas, tubuh menggigil hebat sampai jari telunjuk yang teracung bergetar. “Ma _ yat siapa?”
Bugh!
Sambara jatuh terduduk, sama seperti sang kekasih, dia juga shock hingga tidak mampu mengeluarkan suara.
Aji memejamkan mata, perasaannya sungguh tidak dapat digambarkan kala melihat sosok duduk meringkuk, kepala menunduk. Tubuhnya diikat kain putih seperti pita, bermandikan butiran garam kasar.
Kanti menggigil, seperti seseorang terserang demam tinggi. Ia berlutut, menurunkan lagi karung berikut plastik tebal yang melindungi jasad dari air, sampai memperlihatkan sebuah batu besar sebagai pemberat, berada tepat di samping sepasang kaki kaku, kulitnya masih utuh.
Sebuah ingatan merasuk, mengirim informasi tentang sosok meringkuk kaku memeluk lututnya sendiri. “Dia salah satu Rusa yang kita lihat waktu itu. Seorang gadis remaja malang.”
“Jasadnya diawetkan memakai metode pengasinan (Curing). Seluruh badan direndam garam kasar, dan di dalam sumur itu, dasar airnya sangat dingin, sehingga proses pembusukan berjalan teramat lamban,” sambung Kanti, tatapannya kosong memandang sosok menyedihkan.
Tidak ada keinginan untuk membuka tali yang membelenggu, agar bisa melihat jelas sosok polos, yang tak tampak wajahnya, hanya terlihat kepala berambut panjang terurai, kaki kehilangan dua jari.
“Kakekku seorang tabib, aku dari keluarga berprofesi sebagai tenaga medis, hal seperti ini sering diceritakan mereka,” Kanti mengungkapkan identitas keluarga tanpa dipinta.
“Jadi, beneran aku … aku udah makan daging ….” Aya tidak sanggup melengkapi kalimatnya.
“Benar. Dari awal melihat warna, lalu aroma belum pernah aku cium, sudah menaruh curiga.” Kanti menoleh ke Aya.
“Kenapa lu malah diam, gak ngingetin?!” Sambaran gagal mengendalikan emosi, dia melimpahkan kesalahan ke Candra Kanti, demi menyelamatkan diri dari rasa jijik, perasaan bersalah.
“Apa kalau aku ingetin kamu, kalian bakalan percaya, tidak kan?” Kanti pun dalam kondisi jiwa terguncang, sehingga mudah emosi.
Bugh!
Bugh!
Kepalan tangan Sambara meninju tanah. “Ini udah gak manusiawi, mirip binatang kita dibuatnya.”
Amarahnya menggelegak tertuju pada dalang dibalik peristiwa mengerikan ini. Sorot mata Sambara penuh dendam, dia menyambar parang di atas tanah, lalu berdiri. “Gua bunuh salah satu Iblis itu!”
“Sebelum kamu menyentuhnya, dirimu sudah terpental jauh. Dia bukan manusia yang bisa dengan mudah dilukai. Jika ingin selamat, tahan emosi. Jangan gegabah!” Kanti memperingati.
Sambara berhenti. Buku-buku jarinya memutih menggenggam kepala parang.
“Kecerobohanmu bukan cuma merugikan diri sendiri, tapi juga malapetaka untuk kami, Sambara! Yang harus kita lakukan mencari tempat aman sebelum pergi dari sini!” Candra Kanti mencoba meredam kemarahan pemuda bergeming dengan sorot mata berkobar.
Prang!
Sambara melempar parang ke dinding tembok, dia frustasi. Menjerit sejadi-jadinya, tidak lagi peduli akan sosok yang dikunci di kamar depan.
Sejenak kesunyian sangat kental, sampai dimana Kanti menaikan karung serta plastik, lalu mengikat kembali ujungnya menggunakan batang padi setengah kering.
“Ayo cari jasad teman kita. Aku yakin Mayang juga ada disini, jika gadis ini masih belum disentuh, dijadikan menu santapan, berarti tubuh Mayang seharusnya masih dalam proses pengawetan.” Kanti selesai mengikat ujung karung.
Wajah - wajah pias itu tidak mampu bersuara, mereka terkejut setengah mati mendapati kenyataan mengerikan.
Candra Kanti sendiri bukan tidak shock, takut, hanya lihai menyembunyikan, menekan perasaan, mengedepankan logika agar tidak mati sia-sia tanpa perlawanan, perjuangan mencari jalan keluar dari wilayah bak api neraka, seperti kiamat.
Alat slumbat berujung besi lancip, pipih, yang biasa digunakan untuk mengupas kulit kelapa, diambil Kanti. Dia tertatih seraya menatap sekeliling. Ruangan tersembunyi ini besarnya hampir sama dengan bangunan rumah. Jika dari luar maka terlihat menyatu dengan hunian bu Sasmi.
‘Mayang kamu dimana?’ batin Kanti memanggil nama temannya.
‘Tolong beri petunjuk. Kami mau mengantarmu ke tempat yang layak. Mayang ….’
.
.
Bersambung.
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.
kaya orang linglung