Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari pintu rahasia : 28
“Kamar siapa?” sambar Aya, tidak jadi menyuap nasi goreng, meletakkan kembali sendok dipinggir piring.
“Kapan?” sambung Abeer, perasaannya mulai cemas.
“Kamarku yang kita tiduri semalam. Entah pukul berapa, tiba-tiba kebelet pengen ke kamar mandi, terus sesudahnya, pas mau balik, aku lihat Anjing mengendus-endus lantai, mencoba membuka pintu,” suara Kanti terdengar seperti orang ketakutan, mendalami peran.
“Terus?” Sambara penasaran, menoleh ke Kanti.
“Kuambil kayu kebetulan ada didekat bangunan samping untuk jaga-jaga. Saat bersamaan, Anjing mulai menyerang, sangat agresif. Aku sempat memukul kakinya. Setelahnya gak tahu, soalnya ada kabut tebal membawanya pergi,” Kanti sengaja menceritakan, akan janggal apabila memilih menyembunyikan hal besar ini.
“Berarti kayu yang bersandar di dinding kamar, bekas kamu pakai memukul Anjing?” Aji bisa menyambungkan cerita temannya.
“Iya.”
“Menurut ibu, bapak, itu hewan biasa atau jadi-jadian?” Ia pandangi polos dengan sorot mata lugu.
Widi terkesan biasa saja, tapi Kanti dapat melihat gesture tidak nyaman meskipun sangat samar. “Sepertinya Anjing liar, mungkin lagi kelaparan, makanya sampai masuk pemukiman warga. Jika makhluk jadi-jadian, pasti saat ini kamu terbaring kesakitan. Mereka sangat kuat.”
“Syukurlah.” Bahu Kanti turun, kelegaan terlihat jelas pada mimik wajahnya. “Aku udah takut banget kalau dia makhluk halus.”
“Sudah, lanjutkan lagi makannya.” Bu Sasmi mengangkat tangkai cangkir, menyeruput teh dengan gaya elegan.
Lewat lirikan mata, tersembunyi di samping wajah Aji, Kanti memperhatikan Lilis yang seperti menahan sakit, sesekali bibirnya meringis, alis berkerut.
Wanita bisu itu makan menggunakan tangan kiri. Sangat fokus pada menu sarapan, enggan mendongak.
‘Apa dia? Kalau dilihat-lihat, Lilis seperti wanita lemah, sangat misterius. Meskipun bisu, terkadang tatapan matanya tajam, ekspresi datar. Belum tentu dirinya yang semalam berusaha masuk kamar,’ analisis batinnya.
Tejo sendiri sangat lahap menghabiskan sepiring nasi goreng, segelas teh hangat. Tidak terganggu oleh gerakan lamban istrinya.
‘Mereka gak seperti pasangan suami istri. Sangat dingin. Tejo kurang perhatian, si Lilis acuh tak acuh. Hubungan yang tidak wajar,’ nilai Kanti.
Kaki Aji menyenggol betis Kanti, lewat matanya, ia memperingati jika si gadis tengah diperhatikan oleh bu Sasmi yang duduk di seberang terhalang meja panjang.
“Bu, keladinya masih mau gak?” sengaja dia beralasan agar bisa menelisik raut wanita bersanggul sederhana.
“Ambil saja. Saya sudah kenyang,” senyumnya tersinggung tipis.
‘Pintar sekali dia memainkan peran. Bukan cuma bu Sasmi, semua penghuni rumah juga aktingnya bagus. Sulit ditebak gesture sama ekspresinya,’ gerutu Kanti kesal sendiri. Diapun mengupas kulit keladi rebus.
Sarapan pagi usai sudah, para mahasiswa dilarang membantu membersihkan piring kotor, ataupun mengelap meja makan. Mereka dimanjakan, seperti seekor sapi sengaja dibuat gemuk sebelum dikurbankan, disembelih.
Hari-hari hanya makan tidur, berkeliling desa yang seperti kampung mati bila pagi sampai menjelang petang.
Lilis menjadi pusat perhatian gadis tulang wangi darah manis. Kendatipun langkahnya biasa saja, tapi terasa berbeda dimata Kanti. Seperti dipaksakan, kaki kiri sedikit diseret.
Kanti, Ahwaya, berdiri di tepi saluran got, mereka memperhatikan pickup yang dikemudikan Tejo keluar dari halaman rumah, lalu pergi ke kebun melewati jalan desa satu jalur.
“Lilis gak ikut?” bisik Aya, di dalam pickup hanya ada bu Sasmi, pak Widi, dan Tejo.
“Sepertinya dia gak enak badan. Tadi kuperhatikan jalannya kesulitan.” Kanti memalingkan wajah, melihat pada dua rumah warga berjarak jauh dari tempatnya berdiri.
“Terus, gimana rencana kamu mau membuktikan tentang itu ….” Aya enggan menyebut daging manusia. Jika teringat, rasa mual langsung menderanya.
“Gampang. Kunci saja Lilis di kamarnya. Tahan handle menggunakan sesuatu selagi kita mencari tempat tersembunyi itu,” usul Kanti santai sekali.
Kedua gadis yang sekarang menjadi akrab itu bergeser ke samping, mereka melihat pak Aan mengayuh sepeda ontel keluar dari hunian bu Sasmi, katanya tadi hendak pergi ke rumah mbah Munah.
Kanti berlari kecil menuju bagian samping bangunan kamar berjejer, disana Abeer, Sambara, dan Aji sudah menunggu.
“Tolong tahan pintu kamar Lilis menggunakan sesuatu. Jangan sampai dia menjadi ancaman kala kita tengah beraksi,” pinta Kanti.
Aji mengiyakan, mencari sesuatu untuk dijadikan ganjalan. Dia dan Sambara mengendap-endap menuju kamar dekat dengan pintu masuk utama hunian luas bu Sasmi.
Handle pintu berbentuk seperti bulan sabit, melengkung separuh, ditahan lonjoran besi berkarat. Ketika dirasa aman, meyakini kalau Lilis tidak akan bisa keluar sebelum pintu dibukakan, kedua pemuda bergegas ke belakang.
***
Keempat mahasiswa memasuki gudang, mencari senjata yang bisa membantu mempermudah proses pencari barang bukti.
Sebuah cangkul, sebilah parang, bahkan alat pengupas kulit kelapa, mereka bawa keluar dari gudang.
“Lu jaga situasi yang bener, Abeer! Nasib kami bergantung sama dirimu!” Aji menepuk pundak pemuda yang mengenakan pakaian serba putih, bagian lengan dan kaki digulung tinggi.
Abeer mendengus, sebenarnya dia enggan, tapi tidak memiliki pilihan lain, dan lagipula penasaran, benar tidaknya pernyataan Kanti tentang daging manusia.
Kanti menabrakkan lengan atas sisi tubuh kanan ke pintu kayu berserat halus. Tidak memerlukan tenaga lebih, sudah berhasil terbuka.
Dia masuk lebih dulu, menatap jeli pada dapur layaknya tahun delapan puluhan – empat tungku terbuat dari bongkahan batu keras, diletakkan pada permukaan tanah liat.
Dapur kotor atau basah itu seperti kebanyakan milik sebuah keluarga pada masanya.
Tumpukan kayu bakar setinggi fisiknya, tertata rapi. Pada dinding tembok batu bata belum diplester tergantung panci, kuali, dan alat masak lainnya.
Ada juga tak piring kayu, dipan digelar tikar, dan tidak ada yang mencurigakan, patut untuk digeledah.
“Mana yang katanya mau buktiin?” sindir Sambara.
Kanti enggan menggubris, ia abaikan pemuda mulai bersikap menyebalkan lagi, lalu meraba-raba permukaan tembok, berjongkok dengan lutut menekan tanah, mengintip bawah kolong amben, dan mencari sesuatu mencurigakan.
'Aku yakin pasti ada yang disembunyikan di dalam ruangan ini?’ Kanti belum juga menyerah, ia kibaskan kedua telapak tangan. Matanya menyipit menatap setiap sudut area masak itu.
Candra Kanti belum menyerah, melangkah pada tumpukan kayu bakar, meneliti saksama sampai pada perbandingan potongan kayu tidak sama.
“Gak ada apa-apanya disini, Kanti.” Ahwaya menyandarkan punggung hingga menyentuh ujung kayu kering.
Eh, eh … Aya terperanjat, hampir saja terjerembab ke belakang ketika tumpukan kayu bakar bergerak.
Kanti menarik tangan Ahwaya. “Ternyata ada sebuah pintu rahasia tertutup tumpukan kayu.”
Sambara, Aji meneliti permukaan pintu jeruji besi layaknya sel penjara.
“Gimana cara masuk ke dalam sana?” Diguncangnya jeruji besi, tapi tidak bergeser sama sekali, sampai Aji menempelkan wajah bagian tengah demi mengintip ke dalam. Sedetik kemudian ekspresinya langsung berubah.
“Apa yang kamu lihat, Ji?”
.
.
Bersambung.
duh pusing aku🤭