"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Ya!, aku yang membuang nya ke tempat sampah, semua ini ku lakukan untuk mu Caca, ini karena ketidak adilan kakek mu, dia ingin mewariskan seluruh perusahaan kepada putra dari om mu itu!" ujar tuan muda Arifin.
Bianca menatap kearah papah nya dengan raut wajah kecewa.
"Caca tidak mengerti isi pikiran papah!, Caca kecewa pah!, seharus nya dahulu, sewaktu mengetahui sikap kakek seperti itu, papah buru buru berusaha berdiri sendiri, bekerja keras seperti kakek waktu muda nya, bukan malah terlena dengan harta warisan, apalagi dengan menghalalkan segala cara, seandainya dahulu papah begitu, sekarang pasti sudah memiliki perusahaan yang besar juga, yang mungkin mampu bersaing dengan kakek" ucap gadis cantik itu.
Tuan muda Arifin menatap kearah putri nya dengan wajah tidak senang, "semua yang kulakukan itu untuk mu Caca!, sekarang kau malahan membela kakek mu dan menyalahkan papah!" bentak nya.
"Sudah lah mas!, kenapa harus marah marah!, nanti tensi darah mu naik lagi, sudahlah, kalau kau memang menginginkan harta milik papah, kenapa tidak pakai politik halus saja?" tanya Mona istri tuan muda Arifin menengahi perdebatan anak beranak itu.
Tuan muda Arifin mendelik kearah istri nya, "akal licik apa lagi yang keluar dari otak mu itu Mona?, dulu kau suruh aku menculik putra Irfan, sekarang apa lagi?" tanya tuan muda Arifin kesal karena usulan istrinya sembilan tahun yang lalu, ternyata gagal.
"Kenapa tidak kau nikahkan Caca dengan putra di Irfan itu?, dengan begitu tujuh puluh persen perusahaan itu menjadi milik mereka berdua, sisa nya yang tiga puluh persen itu tidak lagi memiliki kekuatan apa apa mas" ujar bu Mona laksana bom menghantam hati tuan muda Arifin.
Tuan muda Arifin tertawa terbahak-bahak, hingga air mata nya keluar dari sudut kedua matanya.
"Ha, ha, ha, ha!, ternyata akal la ciku masih berfungsi Mona!, ku kira sudah mampet saluran nya, ha, ha, ha, ha!" tawa tuan muda Arifin memecah kesunyian siang itu.
"Apa pah?, apa mah?, kalian ingin menjodohkan aku dengan putra Om Irfan yang baru berusia empat belas tahun itu?, kalian tidak salah kah?, kalian masih waras atau sudah sedeng sih?" protes Bianca.
"Ha, ha, ha, ha!, tidak ada kegilaan dalam hal ambisi Caca!, usulan mamah mu itu, adalah usul yang paling smart selama dia menjadi istri papah mu ini, pokok nya kau harus menikah dengan putra om mu itu Ca!" ujar tuan muda Arifin masih tertawa terbahak-bahak.
"Tidak!… Caca tidak setuju pah!, selisih usia sepuluh tahun bukanlah hal enteng pah!, lagi pula, jangan kan mencintai nya, Caca kenal saja tidak!, nanti orang orang akan menertawai Caca pah, dikira Caca ini wanita pedofil pah!, pokok nya Caca tak mau!" tolak gadis cantik itu.
"Kau boleh menolak, tapi keluar dari keluarga Hanggada, kau hanya boleh membawa pakaian yang melekat di tubuh mu saja, seluruh sumber keuangan mu papah sita, terserah kau mau pergi kemana, yang penting jangan di kota ini!" teriak tuan muda Arifin berdiri, lalu melangkah kedalam kamar tidur nya.
Bianca menangis tersedu sedu, menatap kearah mamah nya, "mah!, kenapa setiap mamah punya usul ke papah, selalu mengorbankan orang lain, tidak kah mamah kasihan kepada ku, aku ini putri tunggal mu mah!" ratap nya.
"Itu usul terbaik bagi kita semua Ca!, dari pada papah mu bentrok dengan adik nya sendiri, mending ber besanan saja, kau jangan memandang diri mu sendiri, tapi pandanglah keluarga besar Hanggada!" rayu bu Mona pada putri nya itu.
"Tapi aku tidak mencintai nya mah!" bantah Bianca.
"Cinta?, Cinta Ca?, kau pikir manusia bisa hidup senang hanya modal cinta saja?, cinta itu akan tumbuh dengan sendiri nya Ca!, lihat mamah dengan papah!, dahulu, jangan kata cinta cintaan, kenal saja tidak!, sekarang lihat, mamah senang bahagia" ujar bu Mona berusaha membujuk putri nya itu.
Sementara itu, di tempat kediaman tuan besar Baskoro, nampak pria tua itu sedang berbincang bincang dengan Carla istri nya.
"Pah!, keputusan mu tadi apa tidak bisa di rubah lagi?" tanya Carla menggenggam tangan tuan besar Baskoro.
"Tidak mah!, keputusan ku itu sudah final, seharus nya memang Arifin dan Irfan yang dapat bagian fifty fifty, tetapi selama ini, kulihat mereka tidak memiliki inisiatif untuk maju, hanya berharap dari harta warisan saja, aku punya uang banyak, bisa buat modal usaha, tapi kedua nya seperti orang tidur yang sedang asik bermimpi, sudah sangat sering, aku menyuruh mereka membangun usaha sendiri dibawah naungan Hanggada group, tapi kedua nya tak menggubris ku, sekarang jangan salahkan aku jika yang dapat bagian, adalah cucu cucu kita saja mah!" sahut tuan besar Baskoro.
Carla menari nafas nya dalam dalam, terasa berat setiap tarikan nya. Dia tahu bara perpecahan telah tersulut diantara kedua orang putra nya.
"Tapi pah!" ucapnya lembut, "kita telah menciptakan bara perpecahan diantara kedua orang putra kita pah, di penghujung usia kita ini, haruskah kita melihat pertikaian antara dua saudara memperebutkan harta warisan?, ayah, nyeri rasa dada mamah bila memikirkan hal itu?, di sisa sisa usia tua ini, perpecahan yang harus ku lihat" air mata berlinang di pipi nya yang mulai tampak beberapa kerutan itu.
Tuan besar Baskoro menarik wanita itu kedalam pelukan nya, membiarkan air mata nya mengalir membasahi dada nya.
"Maafkan papah mah!, papah membawa masalah di hari tua kita!" ucap nya sambil mencium pipi wanita yang sudah empat puluhan tahun mendampingi nya itu.
Wanita tua itu mengangkat wajah nya, menatap mata sang suami, "tidak!, tidak sayang!, ini bukan salah mu, kau benar sayang, ini hanya takdir kita, kita harus berusaha mengatasi masalah ini dengan tenang, agar tidak ada yang merasa dirugikan, bukankah begitu sayang?" suara lembut sang istri, mampu meredakan hati tuan besar Baskoro.
"Ya sayang!, hanya caranya seperti apa?" tanya pria tua itu sambil memeluk tubuh istri nya erat.
"Langkah pertama, kita harus mengenal cucu laki-laki kita itu, setelah itu, baru kita pikirkan tindakan kita selanjut nya" uduk dari Carla, meredam kegalauan hati nya.
Sementara itu, pada sore Sabtu itu, Kaenan dan Syarif sedang duduk di sebuah warung bakso.
Tadi beberapa puluh menit yang lalu, kedua nya gajian setelah bekerja selama enam hari, masing masing mereka menerima enam ratus ribu rupiah.
Kini sebagai wujud rasa bahagia mereka, kedua nya sepakat merayakan nya dengan makan bakso di pinggir jalan.
"Rencana nya mau beli apa Kae?" tanya Syarif.
"Beli keperluan dapur, sisa nya ditabung mas" sahut Kaenan.
"Sama!, aku juga mau menabung, sisa dari belanja keperluan rumah" ujar Syarif.
"Kita beli beras masing masing lima kilo ya mas" usul Kaenan.
"Iya, itu bagus, aku juga mau beli kuota internet" ujar Syarif.
"Mas punya handphone juga?" tanya Kaenan heran.
"Ada!, handphone seken, dikasih Niken kemarin dulu, Niken nya beli baru, handphone itu lho yang berlogo apel dimakan codot" sahut Syarif.
"Waaaoooo!, berarti sudah jadian ya mas?" tanya Kaenan.
"Enggak ah, sama seperti kami, saat dikasih kak Aisyah , apa kamu jadian?" Syarif balik bertanya.
"Ya enggak sih mas, dia hanya kasihan kepada ku, itu pula salah satu alasan aku tidak ingin tinggal bersama Abi dan ummi di pesantren, aku tidak ingin dikasihani, aku ingin orang lain menerima ku seperti mas, menerima tanpa ada embel embel rasa kasihan" sahut Kaenan.
"Nah! Itu pula yang terjadi dengan ku, awal nya Niken memanggil ku, dia bilang papah nya baru saja membelikan handphone baru untuk nya, sebagai hadiah ulang tahun nya, nah handphone lamanya masih baik, mau di jual, tidak seberapa harga nya, dari pada mubazir, lebih baik dikasihkan kepada ku, katanya" ....
Begitulah, rasa persaudaraan diantara Syarif dan Kaenan semakin hari, semakin erat. Apalagi setiap malam nya, Syarif belajar mengaji pada Kaenan.
Kaenan bahagia melihat saudara angkat nya itu mau belajar mengaji, meskipun merayap dari awal, dari iqro.
Hari berganti minggu, dan Minggu pun berganti bulan. Tak terasa, sudah beberapa bulan Kaenan hidup bersama Syarif, senasib sepenanggungan besama, saling berbagi suka duka berdua.
Syarif adalah anak yang cerdas, dulu masuk SMA karena beasiswa prestasi.
Hubungan nya dengan Niken yang baru berusia tujuh belas tahun, dan baru duduk di kelas sebelas, naik ke kelas dua belas SMA pun semakin akrab.
Gadis cantik itu sering minta bantuan Syarif dalam hal mata pelajaran sekolah, maupun mengerjakan pe er nya.
Bahkan mang Hamit sendiri, nampak tidak mempermasalahkan kedekatan putri nya dengan Syarif.
Kini Kaenan mendapatkan kerja tambahan, selesai magrib, mengajar anak anak sekitar mengaji di mushola, hingga waktu isya tiba.
Enam bulan pun berlalu tanpa terasa, hingga pada suatu sore, saat Kaenan dan Syarif baru tiba dari proyek tempat mereka bekerja.
Sesampainya di depan pondok, dia melihat sebuah mobil Pajero sport, parkir di depan pondok itu. Di samping mobil, terlihat dua orang pria paruh baya berdiri menatap kearah mereka.
"Yang manakah diantara kalian berdua yang bernama Kaenan?" tanya salah seorang pria sambil menatap tajam kearah kedua nya.
Jantung Kaenan tiba-tiba berdetak kencang, bayang bayang kenangan pahit melintas di ingatan nya. Terlalu banyak kepahitan hidup yang di alami nya, sehingga membekas di lubuk hatinya.
"Yang mana diantara kalian yang bernama Kaenan?" kembali pria itu mengulangi pertanyaan nya, kali ini dengan nada sedikit meninggi, seakan akan kesabaran nya sudah mulai habis.
"A… ada apa kau mencari Kaenan?" tanya Syarif sambil turun dari motor.
kedua orang pria paruh baya itu tidak menjawab apapun, hanya mengedarkan pandangan nya ke sekitar tempat itu, lalu beralih ke arah Syarif dan Kaenan bergantian.
"Yang mana diantara kalian yang bernama Kaenan?" ulang pria paruh baya itu untuk ketiga kali nya, seakan dia tidak ingin ditanya apa apa, hanya Syarif dan Kaenan saja lah yang punya hak jawab, bukan hak tanya.
"A… ada apa kalian mencari Kaenan?" dengan melupakan rasa takut nya, Syarif mengulangi pertanyaan nya.
Kedua orang pria itu tidak menjawab, hanya tatapan matanya saja yang semakin membulat, menatap kearah Syarif dan Kaenan.
...****************...
*Wah ada apa lagi ya?, jangan jangan ada masalah lagi tuh.*