seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unit Fenrir
Debu masih memenuhi udara saat pintu baja markas runtuh sepenuhnya.
Potongan logam besar jatuh menghantam lantai dengan suara memekakkan telinga. Percikan listrik menyala di sepanjang dinding, membuat ruangan tampak seperti medan perang.
Pasukan Fenrir berdiri di balik asap.
Delapan orang.
Seluruh tubuh mereka dilapisi armor hitam matte dengan garis cahaya biru di bagian dada dan helm. Senjata plasma mereka langsung terkunci ke arah Alya.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada rasa takut.
Gerakan mereka terlalu rapi untuk disebut manusia biasa.
Di depan mereka berdiri pria bermata mekanik biru yang tadi berbicara.
Tingginya hampir menyamai Reno.
Namun aura keduanya berbeda.
Jika Reno terasa seperti bayangan dingin—
pria ini terasa seperti mesin pembunuh.
“Identifikasi target selesai,” katanya datar.
“Mengonfirmasi keberadaan Elysium Host.”
Hana langsung berbisik panik.
“Kenapa semua orang di tempat ini bicara seperti robot rusak…”
Reno berdiri di depan Alya sedikit.
Gerakannya tenang.
Namun tatapannya berubah tajam.
“Sudah lama tidak bertemu, Darius.”
Pria itu—Darius—miringkan kepala sedikit.
“Subjek R-17.”
Alya langsung menoleh ke Reno.
“R-17?”
Reno tidak menjawab.
Darius melangkah maju perlahan.
“Menarik,” katanya dingin. “Aku tidak menyangka kau masih hidup.”
“Sayangnya aku cukup keras kepala untuk mati.”
Darius mengangkat senjata plasmanya sedikit.
“Aku diperintahkan membawa host Elysium hidup-hidup.”
Tatapannya berpindah pada Reno.
“Sedangkan kau…”
Hening sepersekian detik.
“…boleh dieliminasi.”
Hana langsung menepuk bahu Alya pelan.
“Oke. Aku vote kita kabur sekarang.”
Namun Reno justru tersenyum kecil.
Senyum tipis yang membuat Alya merinding.
“Aku tidak suka diperintah.”
Darius memberi isyarat kecil dengan tangannya.
Dan seketika—
DUA pasukan Fenrir melesat maju dengan kecepatan luar biasa.
“Cepat sekali—!” Hana membelalak.
Namun Reno sudah bergerak lebih dulu.
BRAK!
Ia menendang meja logam ke depan hingga menghantam salah satu pasukan Fenrir.
Sementara tangan satunya menembakkan pistol plasma.
DOR!
Tembakan biru terang mengenai bahu lawan kedua.
Percikan listrik meledak.
Namun—
Pasukan itu tetap berdiri.
“Apa?!” Hana panik. “Mereka tidak tumbang?!”
“Armor neural,” jawab Reno cepat. “Senjata biasa tidak cukup.”
Darius tetap berdiri tenang melihat semuanya.
Seolah ia sudah tahu hasilnya.
Dua anggota Fenrir kembali menyerbu.
Kali ini lebih agresif.
Reno menarik Alya mundur.
“Jangan jauh dariku.”
“Aku bisa bantu!”
“Belum.”
Nada Reno tegas.
Salah satu Fenrir mengayunkan pisau plasma.
SWING!
Reno menghindar tipis lalu menghantam siku lawan.
KRAK!
Gerakannya cepat.
Terlalu cepat untuk manusia normal.
Alya membelalak.
Reno bukan cuma pintar.
Tubuhnya juga sudah dimodifikasi.
Fenrir kedua menembakkan peluru energi.
DOR! DOR!
Reno menarik Hana dan Alya berlindung di balik terminal.
Ledakan kecil menghancurkan dinding belakang mereka.
Hana hampir menangis.
“Aku cuma mau hidup normal dan makan mi instan!”
Darius menatap Reno dingin.
“Refleksmu meningkat.”
“Dan kau makin cerewet.”
Darius mengangkat tangannya.
“Lumpuhkan mereka.”
Empat pasukan Fenrir bergerak bersamaan.
Markas sempit itu langsung berubah kacau.
Reno menendang salah satu kursi logam hingga menghantam kepala lawan, lalu meraih senjata plasma musuh dan menembak balik.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Satu Fenrir berhasil menangkap lengan Reno.
Yang lain langsung menghantam perutnya.
BUKK!
Reno terlempar keras ke dinding.
“Agh—”
Alya refleks maju.
“Reno!”
“Jangan mendekat!” bentaknya.
Namun pasukan Fenrir lain sudah mengarah pada Alya.
“Target ditemukan.”
Mereka bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Alya mundur panik.
Napasnya memburu.
Jantungnya berdetak keras.
Dan lagi—
suara sistem mulai muncul di kepalanya.
> Sinkronisasi emosi meningkat.
Aktivasi Elysium: 31%.
Lampu ruangan berkedip liar.
Semua layar hologram menyala sendiri.
Hana menoleh panik.
“Oh tidak… jangan bilang mode anehnya aktif lagi…”
Fenrir hampir menyentuh Alya—
Saat tiba-tiba—
BZAAAAATTT!!
Gelombang listrik biru meledak dari tubuh Alya.
Seluruh ruangan terguncang.
Pasukan Fenrir terpental keras.
Bahkan Darius mundur setengah langkah.
Hening.
Asap tipis memenuhi udara.
Alya sendiri tampak syok.
“A-apa yang…”
Tangannya bercahaya samar biru.
Panel logam di sekitar mulai error.
Drone maintenance berputar liar.
Dan seluruh sistem markas berbunyi bersamaan.
WARNING.
UNKNOWN NEURAL OVERRIDE DETECTED.
Darius menatap Alya tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya—
ekspresinya berubah.
Tertarik.
“Jadi benar…”
Reno perlahan berdiri sambil menyeka darah di bibirnya.
“Jangan lihat dia seperti eksperimen.”
Darius mengabaikannya.
Tatapannya tetap pada Alya.
“Sinkronisasi di atas prediksi.”
Alya mundur pelan.
Ia takut.
Namun bersamaan dengan itu—
ada sensasi lain.
Kekuatan.
Aneh.
Hangat.
Dan memabukkan.
Seolah sistem di sekitar tunduk pada pikirannya.
Lampu menyala saat ia panik.
Layar bergerak saat emosinya berubah.
Dan sekarang—
bahkan pasukan elit Zenith terpental hanya karena ledakan emosinya.
“Alya.”
Suara Reno membuatnya kembali sadar.
“Fokus.”
Alya menatap tangannya gemetar.
“Aku… tidak sengaja…”
“Aku tahu.”
Darius melangkah maju lagi.
Armor hitamnya mengeluarkan suara mekanik kecil.
“Kau tidak mengerti apa dirimu sebenarnya.”
Reno langsung berdiri di depan Alya.
“Aku bilang mundur.”
“Kenapa?” Darius bertanya datar. “Karena kau takut dia tahu kebenarannya?”
Mata Reno menyipit.
“Kau tidak tahu apa pun.”
“Oh, aku tahu cukup banyak.”
Darius menunjuk Alya.
“Elysium bukan proyek AI biasa.”
Suasana mendadak sunyi.
Hana bahkan berhenti panik sesaat.
Darius melanjutkan:
“Elysium dibuat untuk menciptakan evolusi manusia berikutnya.”
Tubuh Alya membeku.
“Apa…?”
“Manusia yang mampu menyatu langsung dengan jaringan digital.”
Tatapan mata mekaniknya bersinar redup.
“Bukan menggunakan teknologi.”
“…melainkan menjadi teknologi itu sendiri.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Alya berdiri.
Reno menggertakkan giginya.
“Diam.”
Namun Darius terus bicara.
“Dan kau, Alya Arkhana…”
“…adalah satu-satunya subjek yang berhasil hidup.”
Hening total.
Napas Alya terasa berat.
Sementara suara di kepalanya semakin jelas.
> Host utama terdeteksi.
Sinkronisasi meningkat.
Membangun koneksi inti.
“Aku bukan monster…” bisiknya pelan.
Darius menatapnya.
“Itu tergantung bagaimana dunia melihatmu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.
Karena Alya tahu—
itulah yang sedang terjadi sekarang.
Zenith.
Siswa-siswa.
Semua orang.
Mereka sudah mulai takut padanya.
Dan ketakutan manusia…
selalu berubah menjadi kebencian.
Tiba-tiba terminal utama menyala sendiri.
Layar besar memunculkan siaran lain.
Namun kali ini—
bukan Kaizer.
Melainkan aula Zenith.
Dan di layar itu…
muncul wajah Alya.
Foto identitas akademinya.
Dengan tulisan merah besar:
TARGET PRIORITAS LEVEL S.
Hana langsung membelalak.
“Mereka serius sekarang?!”
Suara siswa terdengar di latar siaran.
“Itu Alya…” “Dia berbahaya?” “Katanya dia penyebab sistem rusak…”
Wajah Alya perlahan memucat.
Reno melihat perubahan ekspresinya.
Dan ia tahu—
ini yang Kaizer inginkan.
Tekanan.
Ketakutan.
Dorongan emosi.
Agar Elysium bangkit lebih cepat.
“Alya,” kata Reno pelan. “Jangan dengarkan mereka.”
Namun sulit.
Terlalu sulit.
Karena suara-suara itu terus masuk ke kepalanya.
Takut.
Curiga.
Benci.
Dan inti Elysium merespons semuanya.
Lampu kembali meledak.
Kali ini lebih keras.
BZAAAT!
Seluruh sistem markas mati sesaat.
Darius langsung menyadari sesuatu.
“Dia kehilangan stabilitas.”
Reno juga sadar.
Sial.
Kalau sinkronisasi terus naik—
Alya bisa kehilangan kendali sepenuhnya.
Dan mungkin…
menghancurkan seluruh area ini.
Reno langsung membuat keputusan.
“Kita pergi sekarang.”
Hana langsung mengangguk cepat.
“YA. SETUJU.”
Namun Darius mengangkat tangannya.
Pasukan Fenrir langsung membentuk formasi.
Mereka menutup seluruh jalan keluar.
“Tidak ada yang pergi.”
Reno menatap mereka dingin.
Lalu perlahan…
ia mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya.
Bentuknya seperti kapsul hitam.
Darius langsung mengenalinya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
mata mekaniknya sedikit melebar.
“Tidak mungkin…”
Hana menoleh bingung.
“Itu apa?”
Reno tersenyum tipis.
“Rencana cadangan.”
Lalu—
Ia menekan tombolnya.
SEKETIKA seluruh lantai markas bergetar hebat.
Alarm baru berbunyi keras.
SELF-DESTRUCT SEQUENCE ACTIVATED.
Hana menjerit histeris.
“RENO KAU PSIKOPAT!”
Darius langsung bergerak cepat.
“Tangkap mereka!”
Namun terlambat.
Reno menarik tangan Alya.
“Lari!”
Panel lantai terbuka otomatis.
Lorong gelap muncul di bawah mereka.
Tanpa ragu Reno melompat turun sambil menarik Alya dan Hana bersamanya.
Detik berikutnya—
BOOOOM!!
Ledakan besar mengguncang markas rahasia itu.
Api dan cahaya biru memenuhi ruangan.
Pasukan Fenrir terpental.
Sementara lorong bawah tanah menelan Reno, Alya, dan Hana ke dalam kegelapan Zenith.
Dan jauh di atas sana…
di suatu ruangan tersembunyi—
Kaizer melihat semuanya lewat layar hologram.
Senyumnya perlahan melebar.
“Bagus sekali,” bisiknya pelan.
“Bangunlah lebih cepat, Alya.”